
Detik berlalu dalam ketegangan yang mencekam. Lama kami hanya bisa terpaku, menunggu dalam kecemasan. Hingga akhirnya rintihan para roh menghilang, bersamaan dengan lenyapnya gerbang kematian.
"Apa itu wajah aslinya?"
Fokusku kini tertuju pada kepompong hitam di yengah altar. Tempat di mana bibi Arella berada. Detik selanjutnya, gumpalan kepompong itu terbuka menampakan sesosok gadis. Tubuhnya semampai, dibalut dengan gaun hitam panjang. Rambut hitam, lurus, sepinggangnya melambai-lambai tertiup angin.
Ah, mereka benar-benar kembar, seperti aku dan Alison. Satu-satunya yang bisa dijadikan pembeda hanyalah warna yang menaungi mereka. Soul of moon nyaris seluruhnya putih.
Mata berwarna coklat gelapnya terlihat kosong, menyorot hampa pada kami yang berdiri di hadapannya.
"Majulah, Azu. Sambutlah kematian yang akan kuhadiahkan padamu!"
Segera setelah pernyataan perangnya berkumandang. Para serigala dari kedua pihak bergerak maju melebur dalam pertempuran sengit. Bunyi geraman yang disertai lolongan nyaring memecah keheningan malam.
Dalam beberapa detik saja. Aroma karat yang bercampur dengan bau busuk menyengat menyebar di udara malam.
"Azu, jangan gegabah. Jika terjadi sesuatu padamu, harapan untuk memusnahkan makhluk itu akan sirna."
Aku meluncur bebas ke kanca pertempuran. Menulikan telinga dari peringatan Kaden di belakangku. Bertarung tanpa persiapan matang itu memang berbahaya, tapi menunggu lebih lama hanya akan membuat bertambah banyaknya korban berjatuhan.
Aku harus bisa menghancurkan jantungnya sebelum red moon memasuki fase sempurna. Red moon atau dalam dunia werewolf di sebut sebagai bulan darah. Satu dari tiga fase bulan yang memiliki peranan penting bagi keberlangsungan hidup para werewolf.
Berbeda dengan dua fase lainnya. Moment bulan darah bisa dikatakan sebagai malam malapetaka. Sinar merah yang menaungi sang penguasa malam pada fase bulan darah merupakan kelemahan terbesar para werewofl. Lebih dari racun, effect cahaya merah pada malam blood moon bisa menyebakan kematian. Untuk alasan itulah, parah werewolf sangat menghindari terpaan sinar merah pada malam ini.
Aku memekik kaget, melompat mundur ketika cakaran sala satu ROUGE hampir mengenai wajahku. Beruntung, sebuah tangan sudah lebih dulu menembus tubuhnya tepat di bagian jantung. Aku menarik napas lega sejenak lalu menoleh pada si pemilik tangan.
"Dreas!" seratus persen aku pasti akan melompat padanya kalau saja situasinya tidak sedang dalam perang.
Dreas melirikku marah, sangat, tapi sepertinya ia tidak punya cukup waktu untuk mengaplikasikan kemarahannya itu karena intensitas serangan musuh makin gencar.
"Tidak bisakah kita membuat rencana dulu?" Kaden muncul di belakangku. Matanya menatapku geram, tapi seperti Dreas, dia juga tidak memiliki waktu untuk memarahiku lebih. Terima kasih pada ROUGE kegelapan yang sudah memberinya banyak kesibukan.
__ADS_1
Meninggalkan kedua GUARDIAN yang sedang sibuk menghalau ROUGE kegelapan itu. Aku bergerak maju, menyelinap di antara tubuh-tubuh gagah para serigala.
Dalam penyelinapanku, tak jarang aku menemui hambatan. Beberapa kali aku harus berhenti hanya untuk menghindari para WARRIOR yang tengah bergulat dengan ROUGE kegelapan. Terkadang aku juga terpaksa harus melayangkan tinjuan untuk mengusir moncong ROUGE kegelapan yang nyaris mengoyak tubuhku.
"Thanks!" kataku pada Landon. Ia baru saja melenyapkan ROUGE kegelapan yang menghalangi jalanku.
"Dreas pasti marah," katanya di selah-selah kegiatan mencopot jantung ROUGE kegelapan. "Omong-omong kenapa kau tidak berubah saja? Kupikir melawan dengan wujud serigala akan lebih mudah."
"Buluku terlalu indah untuk di kotori makhluk menjijikan ini," balasku sembari mengerutkan dahi jijik.
Tak perlu kuberitahu bahwa alasan sebenarnya karena aku tidak suka warna buluku sendiri.
"Kau sendiri kenapa tidak berubah?"
"Kami tidak bisa, Azu. Jiwa serigala kami sudah hilang sejak lama."
Jadi itu alasan mengapa para GUARDIAN tak pernah bertarung dalam wujud serigala. Mereka sejatinya bukan lagi Shifter seutuhnya. Itu agak menyedihkan tapi ...
"Tapi yang tadi? Dan Dreas ..."
Aku masih tidak mengerti, rasanya tubuh Landon yang kukoyak nyata, tapi melihat ekpresi sedihnya. Aku mutuskan untuk tidak membahas lebih lanjut.
"Bagaimana dengan kemampuan seperti Kaden?"
Sejujurnya aku masih penasaran soal kekuatan para GUARDIAN. Sejauh ini hanya Kaden saja yang sudah memperlihatkan kekuatannya.
"Kekuatanku tidak cocok untuk pertarungan." Wajah kotornya melukiskan sebuah senyum manis. "Hanya kemampuan Dreas yang bisa berguna saat pertempuran. Itulah kenapa kami menumpukan penjagaan padanya."
Aku melirik Dreas di kejauhan. Sekumpulan kabut tipis meliuk-liuk di sekeliling tubuhnya. Kabut tipis itu kemudian bergerak menyebar ke arah tempat di mana beberapa ROUGE kegelapan berdiri. Selanjutnya kabut tipis Dreas menyelubungi tubuh mereka dan tiba-tiba saja para ROUGE kegelapan itu luruh menjadi cairan.
Aku pernah melihat benda itu sebelumnya, tapi tak ada waktu untuk memikirkannya sekarang.
__ADS_1
"Aku tidak tau kalau Dreas punya kemampuan membuat juice oli." Kaden tertawa kecil saat aku mengatakan itu.
"Lalu kenapa tidak digunakan sejak tadi?" protesku. "Bukankah itu akan sangat membantu."
"Blue moon membatasi kemampuan kami, Azu. Kau tidak lupa kan kami sebenarnya hasil ciptaan para penyihir." Landon mengusap sisa cairan yang menciprati wajahnya.
Aku menatap kagum pada Landon. Dalam situasi genting begini, ia masih bisa tersenyum tanpa beban, seakan mencopot jantung ROUGE kegelapan itu hanya permainan sepeleh.
''Harusnya kau tidak ikut bertarung.'' Killian setengah memprotes. ''Bisa gawat kalau kau tumbang duluan sebelum menghancurkan jantung makhluk itu.''
"Kau akan menjamin hal itu tidak terjadi." Lalu kembali berlari menyelinap di tengah kerumunan para serigala.
Aku menerobos kedepan menatap lurus pada makhluk yang saat ini juga tengah menatapku dari kejauhan. Segaris senyum tipis menghiasi bibir biru pucatnya.
Beberapa rencana untuk melenyapkan nya sudah terpikirkan olehku, hanya tinggal merealisasikan nya saja.
Karena terlalu fokus dalam membuat rencana aku sampai tidak menyadari serudukan ROUGE kegelapan dari arah belakang. Tubuhku terjungkal kedepan kemudian mencium tanah. Seakan menambah kesialanku. Aku jatuh tepat di kubangan darah yang sudah bercampur dengan sisa cairan ROUGE kegelapan.
Bau busuk yang menyengat seketika menusuk indra penciumanku. Aku nyaris saja kehilangan kesadaran. Sumpah demi apapun baunya sungguh menjijikan.
"Payah!" komentar bernada datar itu sontak membuatku melotot. Hanya ada dua orang yang memiliki nada sedatar itu. Berhubung Jaxon masih dalam perawatan.Tak di ragukan lagi yang barusan berbicara itu adalah Valdus.
"Tadi itu kecelakaan," elakku, mendengus, tapi tak urung juga menyambut uluran tangannya.
Aku mengusap cairan yang menciprati wajahku kasar. "Aku tak akan berterima kasih."
"Tidak masalah," Valdus angkat bahu acuh. "Anggap saja sebagai penebus kesalahanku sebelumnya." tambahnya kemudian.
Enak saja.
"Majulah," katanya mendorong punggungku. "Aku ada di belakangmu."
__ADS_1
Meski masih merasa kesal, tapi tak bisa kupungkiri kata-kata Valdus barusan membuatku senang. Dia satu-satunya orang yang tidak melarangku, malah dengan begitu pengertiannya mau melindungiku.
TBC.