
Special POV Andreas
*
*
*
Sebagai seorang yang terlahir dalam sala satu ras superior. Hidupku bisa dikatakan nyaris sempurna walaupun tidak memiliki kemampuan atau keistimewaan khusus seperti tiga ras lainnya. Bisa tidur nyenyak di malam hari, berjalan-jalan bebas di siang hari, selalu memiliki makanan yang tersedia meski tak semewah para bangsawan dan berparas lumayan. Tak ada yang lebih baik dari kehidupan sederhana cenderung membosankan ini. Usiaku sembilan belas sekarang yang mana dalam pandangan umum sudah mulai harus mencari pendamping.
Namun sampai sekarang aku belum menemukan yang sesuai keinginan. Bukannya aku pemilih cuma belum saja mendapatkan yang satu pemikiran. Tembok besar bening yang mengelilingi wilayah manusia bersinar menyilaukan saat diterpa matahari. Itu agak menggangu dan aku berharap itu akan menghilang suatu hari nanti. Sungguh mengapa manusia tidak membuat yang lebih sederhana saja? Mengapa harus yang menyakiti mata begitu?
Aku ingin sekali mengutarakan protes mengenai itu tapi tak pernah terlaksana. Aku tak cukup nyali dalam menyuarakannya. Biar bagaimanapun dinding mengkilat yang menyakitkan mata itulah yang melindungi kedamaian ras kami. Jika tidak ada itu maka ras manusia pasti sudah musnah. Yah walau sebagai bayarannya kami harus menyerahkan beberapa liter darah para ras makhluk pucat.
Seperti biasa aku berjalan menuju tempat mencari nafkah. Bermandikan sengatan matahari dan awan Siprus. Aku baru saja berbelok saat tak sengaja menghantam tubuh seseorang. Ia langsung terjatuh dan aku meminta maaf.
Rupanya itu Zouya rekan sesama pelayanku yang baru masuk Minggu lalu. Ia bertugas di bagian pencatatan uang.
"Kau tidak apa-apa?" Aku bertanya cemas, ia agak keras saat jatuh tadi.
"Yah, tidak apa-apa." Suaranya sangat lembut saat menjawab. Ia berdiri merapikan pakaian dan balas menatap.
__ADS_1
Zouya punya mata yang sangat indah hijau bulat dan jernih tapi sayang sekali ia tak pernah memperlihatkan wajah di balik cadarnya. Namun aku tahu dan memaklumi alasannya. Kurasa aku pun akan melakukan hal serupa jika berada di posisinya.
"Kau ingin ke pasar?" Aku menatap keranjang kosong di tangannya.
"Iya, beberapa bahan sudah habis."
"Kalau begitu mari kuantar."
Zouya adalah gadis yang sangat baik, lembut, dan pintar. Ia secara keseluruhan memiliki kepribadian yang mencerminkan gadis idaman. Satu-satunya kekurangan dalam dirinya hanyalah wajah berkerut mengerikan di balik cadarnya.
Kami berjalan bersama di antara banyaknya orang yang sedang melakukan aktifitas. Berbicara banyak sambil sesekali mengomentari kelakuan orang-orang. Hari itu berlangsung sempurna hingga matahari tergelincir. Gelap baru memulai langkah saat tiba-tiba dinding penahan terkoyak. Awalnya retakan kecil lalu hancur berantakan. Orang-orang berlarian panik menghindari serpihannya yang berjatuhan. Beberapa yang tak sempat menghindar langsung tertusuk dan berdarah.
Dalam satu hari semua menjadi kacau balau, percikan perseteruan terjadi di mana-mana. Tuntutan pada pihak dewan pun untuk segera mencari jalan keluar pun semakin menjadi-jadi hingga menyebabkan pergesekan. Ketidakpuasan membuat beberapa pihak nekad mencari sumber mata air di luar area dinding. Lalu di sanalah bencana sebenarnya dimulai.
Saat ras kami dalam keadaan sekarat para penyihir menyerang dengan mantra mematikan mereka. Para makhluk pucat tak bisa membantu banyak karena semakin menipisnya jumlah makanan mereka akibat perang. Hanya dalam satu Minggu ras manusia punah.
Mereka yang selamat di paksa menjadi budak, aku dan Zouya adalah dua diantaranya. Selama berhari-hari pasca perang kami terus menerima hari-hari menyedihkan, melayani para penyihir. Lebih dari sekedar dipaksa jadi budak beberapa bahkan menjadi kelinci percobaan. Dalam bayang-bayang ketakutan orang-orang menjadi lebih egois dan melakukan segala cara untuk bertahan.
Aku sendiri berpura-pura memiliki kecacatan agar dibuang dari subjek percobaan. Namun Zouya gagal karena wajahnya buruk orang-orang secara sukarela memberikannya. Aku nyaris menjadi bagian dari orang-orang brengsek itu dan membiarkan Zouya begitu saja. Namun ketika memori mengenai kebersamaan kami menghantam aku diliputi rasa malu dan marah yang besar. Dalam hari-hari berat yang tak ada satupun orang yang bisa dipercaya. Zouya adalah satu-satunya rekanku. Pada akhirnya nuraniku terbuka dan bersedia menjadi kelinci percobaan menggantikan dirinya.
"Dreas, jangan lakukan ini. Kau seharusnya tidak menggantikanku."
__ADS_1
Zouya sempat memprotes tapi aku meyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja.
"Kau adalah satu-satunya keluargaku sekarang dan aku tidak ingin kehilangan lagi."
Seluruh keluargaku meninggal dalam perseteruan dan hanya menyisahkan aku. Saat ini hanya Zouya satu-satunya yang tersisa karena itu aku tidak ingin kehilangannya. Bahkan jika harga dari kebebasan Zouya yang harus kubayar adalah sebuah kehidupan di dalam neraka.
Selama menjadi kelinci percobaan, tiada hari yang kulewati tanpa rasa sakit. Entah itu datang dari ramuan, mantra sihir, atau hal-hal lain. Satu-satunya yang membuatku bertahan adalah bola mata hijau jernih yang berlinangan air mata milik Zouya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana dirinya jika tidak kugantikan. Ia pasti sangat menderita dan aku merasa senang karena sudah menyelamatkannya dari penderitaan.
Setelah berhari-hari mengalami penyiksaan aku akhirnya dibebaskan. Namun itu bukanlah jenis kebebasan yang seperti bayanganku itu adalah neraka dalam bentuk lainnya. Aku tidak tahu apa yang terjadi satu hal pasti adalah kini aku memiliki wujud lain. Hewan liar bergigi runcing yang para penyihir panggil dengan nama Shifter.
Aku adalah satu dari sepuluh orang yang berhasil melewati percobaan. Sebagai budak kami harus mengikuti perintah tuan bahkan jika itu adalah hal menjadi monster tak berjiwa. Pembantaian demi pembantaian kami lakukan pada para pembangkang yang menolak tunduk di bawah kuasa ras penyihir. Ketika menolak maka mereka menggunakan keluarga atau siapapun yang dekat dengan kami sebagai ancaman.
Jika saja tidak ada Zouya yang terus mengingatkan aku tentang jati diri. Kupikir aku benar-benar akan menjadi Monster. Tanganku sudah terlalu banyak merampas nyawa dan bermandikan darah. Terkadang aku muak dan ingin berhenti tapi Zouya lah yang menjadi taruhannya.
Aku tidak tahu sejak kapan jadi begitu bergantung pada keberadaanya. Namun satu hal pasti demi dirinya aku akan melakukan apapun. Kupikir menjadi monster adalah masa paling kelam dalam hidupku tapi nyatanya itu baru awal. Seperti senja yang baru akan mengawali malam.
"Dreas ..." Tepukan pelan di bahu menarikku dari lamunan masa lalu. Mendongkak aku menemukan Valdus. Wajahnya muram seolah apa yang ingin ia katakan selanjutnya adalah hal menyedihkan.
"Kami berhasil menemukan jejak, Azu." Ada Jedah tarikan napas berat. "Di tengah jurang di Utara wilayah blue eclipse pack. Apa kau ingin memeriksanya sekarang?"
TBC.
__ADS_1