The Guardian

The Guardian
Kenyataan pahit


__ADS_3

Setelah terbiasa melihat kegelapan beberapa waktu terakhir. Ada sensasi menyenangkan tersendiri saat bermandikan cahaya. Akhirnya aku bebas juga. Mataku menatap langit-langit ruangan, menyusuri pola abstrak plafon berwarna coklat yang di desain berbentuk susunan pagar memanjang sampai ke beranda depan.


Lukaku berdenyut lagi. Namun aku masih enggan bahkan sekedar begerak jadi kubiarkan saja, nanti akan hilang dengan sendirinya pikirku lelah. Posisiku masih sama seperti awal berbaring lurus di sofa. Sementara Ralyne sedang ada di dapur pondok. Ia tengah memasak entah apa.


Kami berencana untuk pergi ke rumah Ralyne tapi di luar sana sedang hujan deras memaksa kami menunda keinginan.


"Hanya ini makanan yang tersedia." Ralyne meletakkan nampan berisi daging panggang kering dan sebuah minuman hangat yang terlihat lezat.


"Ini lebih dari cukup. Akhirnya bisa menikmati makanan normal lagi," kataku riang menyantap makanan.


Tekstur dagingnya sudah agak keras tapi masih enak. Setidaknya makanan ini masih layak ketimbang bubur aneh yang diberikan padaku sewaktu tinggal di penampungan.


"Paman Josep pasti sedang mencarimu sekarang."


Ralyne mengangkat pandangan dari buku yang ia baca. Menatapku sekilas lalu kembali membaca. Ia tampak tidak peduli dengan perkataanku. Ah, aku lupa ia tidak terlalu akrab dengan sang ayah.


"Buku apa yang kau baca?"


Aku berusaha mencairkan suasana yang mendadak suram. Ralyne agak sensitif dan mudah marah jika menyinggung Alpha Josep.


"Buku dongeng, tapi aku tidak bisa membacanya."


"Kenapa?" Tanyaku beringsut mendekat. Mataku mengamati sampul buku yang terlihat tua itu. "Coba sini kulihat."


Aroma debu langsung menyengat hidungku saat lembaran pertama di buka. Sudut ujungnya sudah robek pun lembaran dalamnya tapi tulisannya masih bisa dibaca meski beberapa terpotong.


"Dulu sekali, jauh di masa lalu, ketika dunia yang disebut soul of land masihlah sebuah daratan utuh ... " Dahiku berkerut, kalimat sisahnya terpotong sampai akhir. Aku lalu membalik ke halaman kedua dan sama hanya beberapa bait kata yang masih bisa di baca.


"Ketika semua ras hidup dengan tangan bergandengan. Masa itu disebut zaman emas," kataku membacakan tulisan yang tertera.


Kata-katanya memang seperti permulaan buku dongeng pada umumnya tapi bagaimana bisa Ralyne tidak bisa membacanya. Bagiku itu sama saja dengan buku pelajaran lainnya.


"Kau bisa membaca itu?" Suara Ralyne agak shock.


"Ya, ini sama saja seperti buku lainnya. Sebuah dongeng tentang negeri asing kurasa." Aku tidak mengerti mengapa Ralyne harus bereaksi seperti itu. Matanya menyipit menatapku curiga.


"Azu, itu bahasa kuno. Bahkan kakek saja kesulitan membacanya."

__ADS_1


Ha! Aku mengedip perlahan menatap Ralyne lalu buku yang kupegang secara bergantian. Ralyne jarang bercanda jadi kali ini juga tidak.


"Tapi ..."


"Tidak apa-apa. Malah bagus kalau kau bisa membacanya. Bisa tuliskan isinya di kertas lain? Aku ingin tahu apa yang dikatakan buku itu. Sepertinya menarik."


"Oke!"


Aku mengangguk setuju mengambil pena dan buku kosong di sala satu rak. Aku mencatat setiap kalimat yang bisa dibaca menuliskannya secara berurutan dari tiap halaman. Sampai ada lembaran terakhir saat aku melihat simbol yang terasa familiar. Namun di mana aku pernah melihatnya?


"Mana hasilnya?" Ralyne menggeser posisiku merebut kertas yang sudah terisi salinan buku. Sesaat dahinya berkerut seolah tulisan di sana sangat rumit. "Apakah sudah semua?"


"Masih ada beberapa halaman lagi. Tapi kurasa itu saja dulu." Tanganku agak pegal. Selain itu ada hal aneh yang kurasakan saat membaca buku itu. Otakku entah bagaimana bisa menggambarkan baik kejadian di dalam buku. Seolah aku benar-benar ada di sana dan untuk beberapa alasan aku merasa takut.


"Ya sudah." Ralyne tidak memaksa matanya kembali mengamati tulisan dan membacanya dengan cukup nyaring.


"Itu adalah era paling damai sepanjang sejarah soul of land saat di mana seluruh ras hidup dalam kemakmuran.


Lembah hijau nan subur. Sungai jernih yang mengalir lembut.


Kota-kota yang dihiasi kerlipan lentera emas.


Anak-anak yang berlarian bermain bebas.


Dunia yang sempurna untuk ditinggali.


Dunia ideal yang melahirkan kehidupan baru. Mereka yang tercipta dari persilangan dua ras. Ras campuran.


Pada awalnya semua berjalan baik-baik saja sampai di sebuah kota kecil di timur kerajaan. Sebuah percikan api yang tak sengaja menyala oleh perselisihan, membesar hingga meluas ke seluruh kerajaan.


Perpecahan yang menjadi mula era kekacauan pun terjadi penyihir, vampire, elf, dan manusia memisahkan diri dalam kelompok masing-masing.


Membangun barrier untuk melindungi kemurnian ras mereka menyebabkan anak-anak yang berdarah campuran terlantar.


Mereka yang ditinggalkan tanpa perlindungan kehilangan identitas, terpaksa menjadi pengemis atau budak untuk bertahan hidup.


Bertahun-tahun kemudian penindasan semakin menjadi-jadi bahkan diperparah oleh dijadikannya mereka sebagai kelinci percobaan.

__ADS_1


Dalam sebulan ribuan anak-anak berdarah campuran meregang nyawa tanpa daya. Mereka tunduk pasrah di bawah perintah ke empat ras lainnya yang berkuasa.


Beberapa yang cukup pandai bersembunyi di tempat-tempat gelap. Sisahnya berpura-pura menjadi bagian sala satu ras.


Puluhan tahun berlalu tanpa ada perubahan. Sekelompok darah campuran menemukan sebuah daratan tak bertuan di ujung Utara terluar benua soul of land.


Sebuah daratan yang seluruh tanahnya berwarna hitam. Tanah kegelapan tempat di mana para iblis bersemayam.


Di sanalah semua bermula. Kebencian yang menggelapkan hati para ras campuran dimanfaatkan oleh penghuni tanah kegelapan untuk menebarkan kekacauan.


Mereka meneror seluruh benua dengan kekuatan kegelapan.


Mengambil hijaunya tanah para elf.


Menaburkan racun pada sungai para manusia.


Membakar habis sarang para vampire.


Menyisipkan mantra pemanggil iblis pada buku-buku para penyihir.


Ras penyihir yang telah dikendalikan kegelapan memulai Era kekacauan kedua.


Pertempuran terjadi hampir di seluruh benua soul of land. Ras manusia menerima kerusakan paling cepat.


Kerajaan besar yang hampir menguasai separuh benua dimusnahkan hanya dalam satu Minggu.


Diikuti ras vampire, yang membutuhkan darah manusia sebagai makanan utama.


Lalu ras elf yang harus merelakan lembah subur mereka membangun pertahanan terakhir di sebuah bukit di timur soul of land.


Era kegelapan di mulai. Selama bertahun-tahun manusia tersisa menjadi budak para penyihir dijadikan kelinci percobaan.


Penyatuan dua jiwa yang bertentangan melahirkan ras baru yang disebut Shifter ... Azu ini." Mata Ralyne melebar menatapku ngeri.


"Aku tahu, tapi biarkan aku berpikir sejenak," kataku mendadak pusing.


Aku berpegangan erat pada pinggiran meja sementara pikiranku menjadi kacau. Setiap bait dari kalimat yang dibacakan Ralyne kembali terngiang dan aku masih sulit mempercayainya.

__ADS_1


Itu bukan buku dongeng. Itu buku sejarah, sejarah dunia kami.


Tbc.


__ADS_2