The Guardian

The Guardian
Malam serangan


__ADS_3

Apa? Aku merasa saraf telingaku menjadi macet seketika. Dreas tidur di sini? Di kamar ini? Bersamaku? Aku menarik napas dalam mencoba untuk tidak menarik kesimpulan terlalu cepat. Bisa jadi ia tidur sambil duduk atau di lantai kan. Pengertian tidur di sini tidak serta merta di tempat yang sama kan. Namun untuk lebih jelasnya aku masih perlu mengonfirmasi dari orang yang bersangkutan secara langsung.


"Maksudmu, di sini?" Tanyaku ragu-ragu menunjuk ranjang batu menunggu jawaban dengan jantung yang bergemuruh.


Ekpresi Dreas tidak mengalami banyak perubahan seolah pertanyaanku hanya seperti mengapa labirin ini gelap. Ia hanya mengangkat memandangiku heran.


"Ya, apa yang salah dengan itu?" Balasnya kelewat santai.


Berbanding jauh dengan responku yang sebaliknya.


Ha! "Kau ..." Telunjukku tanpa ampun menudingnya tapi pikiranku terlalu banyak dipenuhi kata-kata saking tak percayanya. Dreas benar-benar sudah kelewatan.


"Apa kau sadar dengan yang kau lakukan?" Suaraku agak meninggi tersulut emosi. "Dreas kau tidak bisa melakukan itu, bahkan jika ini kamarmu atau wilayahmu. Kau tidak boleh tidur bersama dengan seorang gadis secara sembarangan."


Aku mendorongnya menjauh secara refleks berdiri menjulang menutupi wajahnya dari cahaya obor. Kemarahanku mungkin tidak menakutkan baginya tapi aku tidak peduli. Aku perlu meluapkannya sekarang. Pria ini bukan hanya suka seenaknya ia lebih dari itu. Ia brengs*k dan tak tahu diri.


Demi ramuan pahit nenek. Mengapa Dewi bulan menciptakan makhluk seperti ini? Apakah ia tidak tahu hanya pasangan yang boleh tidur di ranjang yang sama? Tidakkah ada yang mengajarinya? Atau minimal menghalanginya.


Sekarang masuk akal, pantas saja malam hari di tempat ini tidak sedingin seharusnya dan perkataan Valdus waktu itu? Tampak seolah ia tahu persis bagaimana aku tidur dan mengejeknya. Itu berarti mereka semua tahu tapi membiarkannya. Dasar para penjaga kurang ajar.


"Tentu saja aku tahu, lalu apa masalahnya? Kau itu ..."


Kata-kata Dreas terpotong oleh suara geraman para ROUGE yang tiba-tiba menggema di kegelapan. Itu datang dari seluruh penjuru seakan mereka tengah merayakan sesuatu.


"Apa yang terjadi?"

__ADS_1


Dalam samar cahaya obor aku menyaksikan mata gelap Dreas melebar sementara rahangnya mengetat. Ekpresinya serta merta di penuhi kemarahan dan niat membunuh. Ia berlari secepat kilat.


"Tetap di sini," katanya dengan nada panik tertahan.


"Tunggu! Apa yang terjadi? Kau harus memberitahuku."


Aku segera berlari mengejarnya di dalam keremangan obor. Langka Dreas nyaris tak terdengar saking cepatnya ia berlari. Para ROUGE tidak mungkin tiba-tiba menggeram tanpa alasan. Mungkinkah ada serangan?


Saat aku mencapai pintu keluar rahasia. Tenda penampungan tampak dibanjiri oleh bayangan hitam dari para dark ROUGE menyambutku. Mereka seperti asap gelap yang mengamuk tak terkendali mengoyak, mengigit, apapun yang bernapas. Beberapa WARRIOR yang ada sedang bertarung selagi menahan mereka agar tak menyerang para tabib. Sisanya sudah terkapar tanpa daya di tanah.


Dark ROUGE, sang penghancur, dia di sini? Kalau begitu yang tadi bukan sekedar mimpi. Ia benar-benar datang. Apakah dia marah karena aku tidak mau menuruti perintahnya? Apakah ini hukuman karena aku mengabaikannya?


Aku menahan napas ngeri saat menyaksikan seorang WARRIOR yang terpelanting ke tanah. Di kerumuni makhluk itu, ia mengerang kesakitan mencoba melawan sebisanya. Sebagain besar tubuhnya sudah tercabik oleh dark ROUGE sementara tak ada satu pun dari rekannya yang bisa membantu. Mereka juga dalam kesulitan yang sama.


Jauh ke Utara aku menyaksikan GUARDIAN yang tidak kebagian tugas membantu di perbatasan sedang melawan mereka. Sala satunya pasti Dreas tapi yang membuatku tak habis pikir adalah fokus mereka tampaknya hanya menghabisi dark ROUGE yang mencoba menyerang Selena. Mereka tidak peduli pada Shifter lain.


"Azu!"


Panggilan itu memecah konsentrasiku dari mengerikan menoleh aku mendapati Ralyne berlari kencang kemari. Napasnya tak beraturan dan wajahnya yang ekspresi yang biasanya polos itu agak panik.


"Kita harus menyelamatkan diri."


Tanpa menunggu persetujuan, ia langsung mengambil lenganku menariknya menjauh. Kami menerobos kegelapan kosong malam meninggalkan perang yang sedang berkecamuk di belakang.


"Kita harus memanggil bantuan!" Suaraku teredam angin hingga hanya terdengar seperti dengungan nyamuk.

__ADS_1


Di belakang suara berisik rumput terinjak, patahan ranting, dan geraman terdengar, dan benar saja. Beberapa makhluk itu mengejar kami.


"Mereka datang."


Aku terlalu panik melihat jarak kami yang semakin dekat hingga tak menyadari bahwa Ralyne telah bertransformasi ke dalam wujud serigalanya. Ia menyenggol bahuku yang mana berarti memintaku naik kepunggungnya.


Aku sangat takut sebenarnya tapi makhluk yang mengejar kami lebih menakutkan. Kupaksakan diri duduk di punggungnya mencengkram erat bulu-bulu pirang lembutnya. Ralyne dalam wujud serigalanya melolong nyaring selagi berlari kencang menerobos kegelapan hutan.


Aku sangat kagum pada adikku itu, ia memang lebih muda dari segi usia tapi sudah bisa mendapatkan wujud serigalanya. Hal yang cukup langka mengingat biasanya para Shifter hanya akan berubah saat berusia tujuh belas.


"Mereka tampaknya menyerah," kataku menarik napas lega. Ketika tak mendengar tanda-tanda keberadaan para dark ROUGE di belakang. Ralyne mungkin tidak menjawab tapi aku tahu ia juga merasakan hal yang sama. Terbukti dari larinya yang agak melambat.


Namun ternyata aku salah. Mereka entah bagaimana muncul dari sela-sela pepohonan mengepung kami. Ralyne menggeram penuh peringatan bersiap dalam mode tempur kukira tapi makhluk itu bergeming. Ia mengelilingi kami seakan mengejek posisi kami yang terpojok. Satu dari mereka melompat ganas menyerang serigala Ralyne.


Untungnya Ralyne bisa menghindar tetap waktu. Ia berhasil memukul mundur beberapa di antara mereka tapi dengan aku yang harus dilindunginya. Ia tampak kesulitan terlebih kami benar-benar kalah dalam jumlah.


"Ralyne!" Pekikku panik saat melihatnya terkena serangan.


Sala satu makhluk itu menggigit kakinya membuat tubuh serigala Ralyne di paksa mundur. Kegelapan yang hanya di sinari cahaya bulan sabit membuat pandangan terbatas. Aku tak tahu kalau di belakang kami itu jurang dan saat Ralyne mencoba menghindari serangan berikutnya dengan melompat. Kami praktisnya jatuh ke dalam jurang.


Ralyne dalam wujud serigala mendeking saat gravitasi menarik tubuhnya. Ia berguling tanpa henti menabrak apapun dan beberapa kali tersangkut di akar, ranting, maupun batu, sebelum akhirnya benar-benar jatuh. Posisiku sendiri tak kalah memprihatinkan. Tergantung pada sebuah akar pohon.


"Ralyne!" Teriakku panik tapi hanya keheningan yang menjawab.


Sebenarnya aku tidak dalam situasi yang bagus untuk mengkhawatirkan orang lain terutama ketika geraman dark ROUGE terdengar di atas sana sedangkan tanganku sangat licin oleh keringat. Aku yakin itu akan lepas dalam beberapa detik ke depan dan benar saja. Peganganku melemah dan tubuhku tertarik kebawah tanpa bisa melakukan apapun.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2