
Perang besar usai. Tapi sisah-sisah dari pertempuran itu masih terasa hingga sekarang. Khususnya bagi mereka yang kemarin harus kehilangan anggota keluarganya. Kesedihan nampak jelas menyelimuti mereka.
Sama seperti keluargaku. Kematian Jaiden membawa mereka ke dalam kubangan kesedihan yang dalam. Walaupun mereka bersikap seolah-olah semuanya baik-baik saja. Nyatanya ada lubang yang mengangah di dalam masing-masing diri kami. Lubang yang kian hari kian membesar. Raga mungkin mampu di tutupi dengan topeng. Tapi tidak dengan jiwa.
"Azu!" Panggil Jaxon saat kami berpapasan di tangga. Ia menatapku ragu, kaget, seakan yang berdiri dihadapannya ini hantu. "mau kemana?"
Sepeninggal Jaiden, rumah menjadi sangat kacau. Mom menjadi sangat pendiam. Dad sendiri memilih menghabiskan waktu seharian di tempat ia bekerja. Alison, ia memutuskan untuk tinggal di rumah pasangannya, Brian.
Aku, jangan di tanya, tidak ada kata yang mampu menggambarkan bagaimana keadaanku waktu tahu kebenaran itu. Aku mengurung diri seharian di kamar selama berhari-hari, memecahkan semua barang-barang dan berteriak sambil menangis sampai suaraku habis.
Di antara semua keluargaku, akulah yang paling merasakan sakit akan kehilangannya. Tumbuh besar bersama membuatku menghabiskan waktu lebih sering dengan Jaiden yang otomatis membuatku memiliki lebih banyak kenangan di banding yang lain. Dan itu sangat menyiksaku. Aku membenci diriku sendiri karena jadi penyebab kematian Jaiden. Hanya Jaxon satu-satunya anggota keluarga masih bisa berpikir waras.
"Aku perlu menghirup udara segar." kalau tidak aku bisa jadi benar-benar gila.
"Azu." Aku benci tatapan itu. Sorot mata mengasihani seakan aku makhluk paling menyedihkan di dunia.
"Aku baik-baik saja Jax," kataku memberi tekanan pada kata baik-baik saja. "ada hal yang ingin aku lakukan."
"Apakah ini soal ..." Ia menutup mulutnya.
"Bukan." aku menghela napas lalu melangkah keluar. Tidak ingin membahas hal yang di maksudkan Jaxon.
Selepas menghindari Jaxon, aku terus saja melangkah dan begitu sadar tau-tau sudah berada di hutan.
"Sungguh kejutan yang luar biasa bisa melihatmu di sini."
Aku tidak menoleh. Menahan diri agar tidak melontarkan kata-kata balasan atau minimal mendengus sinis. Emosiku sedang tidak stabil dan aku tak ingin ambil resiko berdebat dengannya.
"Aku juga tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini." akhirnya aku menjawab setelah keheningan selama beberapa menit itu.
Itu suatu kejujuran. Aku tersadar dari luka berat akibat pertempuran itu di dua minggu setelahnya. Dan dari sejak pertama aku membuka mata, belum ada satu pun orang yang kutemui selain keluargaku, termasuk Dreas dan komplotannya. Mereka menghilang seolah ditelan bumi.
"Kau kelihatan baik." Ia terdengar ragu saat mengatakannya.
Ya aku tidak memungkiri itu. Keadaan, terutama pikiranku sudah lebih baik dari sebelumnya. Setidaknya aku sudah tidak histeris seperti orang gila lagi. Meskipun begitu, fisik ku masih belum sembuh total, bekas dari pertempuran itu masih nampak di tubuhku. Dan kadang aku juga masih merasakan sakit di sekujur tubuh sampai terbawa mimpi.
"Apa kau tidak ingin bertanya soal Dreas?"
Aku mengatupkan rahang. Gelenyar kekecewaan menumpuk di dadaku. Aku selalu menghindari topic ini di rumah. Dan tidak berminat membahas nya di sini. Tapi ada yang janggal. Intonasi suara Selena tidak seperti biasanya dan aku mendeteksi kepahitan di dalamnya.
"Tidak! " Bohong. Sebagian dari diriku memang merasa sangat marah, kecewa, pada Dreas atas tindakan pengecutnya. Pergi di saat aku dalam keadaan terburuk. Bahkan tidak meninggalkan satu jejak pun. Namun meski begitu, aku tau dengan baik bagian terdalam, inner wolfku, merindukannya, menginginkan nya.
Entah ini karena ikatan mate atau benar-benar kerinduan alami, aku tidak yakin.
"Dia yang memutuskan untuk pergi dariku." Aku mengatur suaraku agar sedingin mungkin. Menunjukan seberapa besar ketidakpedulian ku pada mereka lagi.
Berita menghilangnya para GUARDIAN menyebar dan jadi perbincangan panas di kalangan para shifter. Ketidakjelasan sebab di balik itu semua yang jadi pemicunya. Berbagai spekulasi pun bermunculan. Beberapa orang beranggapan jika mereka pergi karena tujuan mereka sudah tercapai. Ada juga yang mengatakan para alpha mengusir mereka.
Dan yang terburuk adalah cap buruk sebagai pembawa bencana kini melekat pada GUARDIAN.
Secara garis besar itu benar. Akar dari semua perseteruan dengan para ROUGE kegelapan itu memang bersumber dari mereka.
"Aku ingin menunjukan sesuatu padamu..," Selena menghela napas, berat. "setelah itu kau bebas membuat keputusan."
"Aku tidak tertarik," balasku dingin.
"Bahkan jika ku bilang ini menyangkut Dreas?"
Aku membalik badan, melempar tatapan tajam. Selena juga sama, ia menatapku sengit. Hubungan kami sampai kapanpun tidak akan pernah menemui kata damai. Bahkan jika tidak ada Dreas yang jadi sumber masalah. Baik aku maupun Selena sama-sama memiliki sifat tak mau kalah. Hanya penampilan luar saja yang beda. Aku akui, ia sangat ahli dalam memanipulasi keadaan hingga orang berpikir dia gadis baik dan lembut.
"Well! Yah, aku salah karena menginginkan Dreas, tapi tidakkah kau ingin tau kebenarannya? apakah hanya sebatas itu ikatanmu dengannya. kau ..."
"Selena, jangan lupakan tujuan awal kita."
Killian muncul di belakang Selena, Ia memakai jubah lengkap dengan tudung yang menutupi kepalanya. Matanya yang tadi menatap Selena kini beralih padaku.
"Kau mau ikut suka rela atau di paksa?"
Nostalgia.
Rasanya baru kemarin aku mengunjungi tempat ini. Tempat yang jadi awal dari semua kerumitan ini. Penjara labirin.
"Untuk apa kita kesini?" Aku tidak bisa menutupi rasa penasaranku. "Kupikir kalian sudah meninggalkan pack untuk selamanya."
Tempat ini masih sama, ruangan pengap, membosankan, dengan lorong-lorong gelap dan teralis besi yang menjadi pembatas antar cell. Bahkan tahanannya pun masih berada di tempat masing-masing.
Killian di depan mendengus. "Seharusnya."
Seperti saat pertama kemari. Para tahanan yang mendiami cell menatap benci kearahku, seolah ingin melumatku jadi daging rebon.
__ADS_1
"Well! Apa itu berarti ada sesuatu yang menghambatnya?"
"Sudah jelaskan," katanya dingin, tegas. Kentara sekali kalau dia tengah menahan amarah.
Setelah berjalan dalam keheningan panjang. Kami akhirnya tiba di lantai tahanan khusus. Tempat di mana aku pertama kali bertemu Dreas.
Aku membuka mulut hendak bertanya tapi Killian mendahului.
"Masuklah!"
Aku tidak segera menuruti perkataannya.
"Apa yang ingin kau tunjukan?"
"Jawabannya ada di dalam."
Aku menatap Killian curiga. "kau merencanakan sesuatu?"
Killian tidak menjawab. Ia mengisyaratkan ku untuk segera membuka pintu. Pintu dengan tanda silang yang waktu itu di peringatkan Warren.
Benakku mulai membayangkan isi dari ruangan itu. Dan yang tampak lebih buruk dari apa yang kupikirkan. Meski pencahayaan nya minim, tapi mataku bisa melihat dengan jelas isi ruangan.
Di dalam sana Dreas setengah terduduk. Di masing-masing kedua pergelangan tangannya terikat rantai yang menyambung ke atap ruangan. Tubuhnya penuh luka cambukan, wajahnya tertunduk.
Alih-alih berteriak histeris, aku malah tertegun, diam dengan tubuh beku. Pikiranku blank seketika. Hatiku terenyuh melihatnya. Sesuatu dalam diriku membeliak sedih.
Apa yang terjadi?
Pertanyaan itu terlintas di benakku. Perlahan kulangkahkan kakiku mempertipis jarak di antara kami.
"Dreas," lirihku dengan suara bergetar.
Ikatan mate itu sesuatu yang membingung kan. Sampai hari inipun aku tetap tak memahaminya. Bagaimana bisa Segala kemarahan dan kekecewaanku atas sikap tak bertanggung jawabnya Sirna hanya karena melihat kondisinya yang sangat menyedihkan ini.
"Kenapa dia bisa jadi begitu?" Aku menoleh, menatap Killian dengan bendungan air di kelopak mata.
Killian menghela napas, ia melirikku sekilas lalu kembali menatap Dreas. "Itulah yang akan terjadi jika seorang shifter di pisahkan dari matenya."
"Tidak ada yang meminta ia pergi dariku."
"Yah, tapi keadaan memaksa untuk ia melakukan itu."
"Itu kejadian yang sebenarnya Azu, meski beberapa tetua dan Alpha Josep menolak. Tetap tidak merubah keputusan Alpha lain." Killian menatap langit-langit ruangan, aku tidak bisa melihat jelas ekpresinya kerena terhalang tudung jubah. "Tapi yang sebenarnya adalah kami memang tidak ingin menetap."
"Kenapa?" Susah payah aku menjaga suaraku agar tetap tenang.
"Karena tempat kami bukan di sini. Bagaimanapun kami harus kembali ke sana, tempat di mana kami di lahirkan. Selain itu kesalahan kami fatal Azu. Kami memanfaatkan kalian untuk kepentingan pribadi."
"Tetap saja, harusnya para Alpha mempertimbangkan kontribusi kalian selama menjadi GUARDIAN."
"Kontribusi dalam menghilangkan nyawa para shifter maksudmu?" Killian terkekeh miris.
"Jadi kalian akan pergi?" Kerongkongan ku serasa menelan buntalan empedu saat mengatakannya.
"Yah, harusnya tapi .." Ia melirikku. "Dreas menolak, ia bersikeras untuk tetap tinggal. Ia mengamuk, menerobos perbatasan dan melukai beberapa anggota pack. Para Alpha menangkapnya lalu menahannya di sini."
Aku menggigit bibir, mencegah isakan yang sudah di ujung tenggorokan. Hatiku berdenyut, sementara kelopak mataku mulai basah merasa malu pada diri sendiri. Bagaimana mungkin dengan mudahnya aku menghakimi Dreas, mengecapnya jahat tanpa tau sebesar apa usahanya dalam mempertahankan ikatan ini.
"Kami tak bisa membantu, karena sekarang status kami ROUGE. Seandainya pun kami masih menjadi GUARDIAN, itu tetap tak akan mengubah keadaan. Saat ini hanya kau yang bisa membuatnya tenang."
Satu lagi, kesialan yang harus kuhadapi dalam hidupku. Setelah Jaiden, sekarang aku terancam berpisah dengan Dreas.
"Setelah tenang, lalu apa?" Aku menatap Killian bersama linangan air mata. "kalian akan membawanya pergi? Bagaimana dengan ku?"
Killian maju, menghampiriku, membawaku ke dadanya. Aku berontak, tapi lengan kekarnya menahanku lebih kuat.
"Kami harus, kecuali.... Kau mau ikut menjadi ROUGE bersama kami."
Aku menangis kencang, mencengkram erat jubah depan Killian. Mulutku membuka tetapi yang keluar hanyalah isakan tangis.
"Kami tidak akan memaksa, tapi pikirkanlah." Killian mengangkat wajahku, mengusap lelehan air mata di pipiku.
"Pilihan macam apa itu?" suaraku setengah teredam isakan.
"Kau bisa memikirkannya Azu, sekarang kita keluarkan Dreas dari sini, sebelum para alpha menyadarinya."
Aku pergi menjauh begitu Dreas berhasil kami bawa keluar. Aku berlari tanpa pasti, memikirkan semua kata-kata Killian. Menjadi ROUGE? Itu pilihan terburuk dari yang terburuk. Semua shifter tau bagaimana kehidupan werewolf yang di labeli ROUGE. Kejam, liar, kasar, di kamus hidup mereka hanya ada kata membunuh.
Dan sekarang apa? Aku harus meninggalkan keluargaku, kehidupan normalku, dengan segala kesenangannya demi bersama Dreas? Aku tidak bisa.
__ADS_1
Kami baru saja kehilangan Jaiden, dan aku tidak ingin membuat keluargaku lebih sedih lagi.
Bagaimana mungkin aku di minta memilih di antara keluargaku dan mateku. Aku duduk berjam-jam, mempertimbangkan segala kemungkinan sebelum membuat keputusan.
Hari sudah senja saat Dreas menemukanku, meringkuk di relung sebuah pohon.
"Kau tidak harus pergi." kakiku ditarik hingga selonjoran kemudian Dreas meletakkan kepalanya di sana. Tampilannya sudah lebih baik dari sebelumnya.
"Bagaimana denganmu?"
"Aku juga akan tetap tinggal," sahutnya tanpa beban, ia menutup matanya." tentu saja tidak di dalam pack, aku akan berada di perbatasan jadi kau bisa menemuiku setiap hari."
Itu gagasan yang bagus, mereka hanya tidak boleh memasuki wilayah pack sedangkan aku bisa keluar. Tapi ...
"Konyol sekali Dreas. Apa kita harus menjadi kucing, mencuri sembunyi-sembunyi hanya untuk bertemu satu sama lain?"
"Itu bagus juga. Bukannya kau suka melanggar peraturan?" ia membuka mata mengerling. Sebuah senyum tipis melengkung di bibirnya.
Aku pasti akan memukulnya kuat, jika seandainya ia tidak sedang terluka.
"Selama itu tidak menjaukanku dengamu, aku tidak keberatan."
Aku menggigit bibir, memalingkan pandangan. "Kenapa kau begitu keras kepala. Akan jauh lebih mudah jika seandainya kau pergi."
"Yah, awalnya rencana kami memang begitu. Kami akan pergi setelah misi selesai."aku meringis mendengar kata misi darinya. "tapi kemudian aku bertemu denganmu dan itu nyaris menghancurkan rencana kami."
Dreas menyamankan posisinya, kemudian melanjutkan ceritanya. "Kau tau, Valdus menganggapku gila saat kukatakan jika aku merasakan sesuatu pada sala satu anggota pack. Dan aku begitu frustasi untuk membuktikan pada mereka karena waktu itu kupikir kau sudah mati."
"Mati?" dahiku berkerut.
Dreas membuka mata, menatapku dalam. "yah, kau melompat kedalam laut ..." Mataku melebar, mengingat moment nekat itu. Jadi yang waktu itu dia.
"aku memikirkannya berhari-hari hingga tanpa sadar kehilangan kendali. Aku tersadar beberapa hari kemudian di dalam cell tahanan. Dan pagi berikutnya aku bertemu denganmu di insident pengeroyokan itu."
Aku diam, mendengarkan cerita Dreas sembari bernostalgia ke masa lalu.
"aku tidak memiliki kata yang bisa menggambarkan bagaimana bahagiannya aku saat itu. Tapi yang lainnya berpikir lain, mereka, minus Landon, menganggap kau sebuah ancaman, terlebih ketika Selena menolak membantu kami."
"jadi, soal Selena itu memang di sengaja," gumamku kesal. Hell! Sialaan sekali mereka. Pantas saja, selama tinggal bersama, tidak ada satupun yang berada di pihakku, selain Landon.
"yah, mereka tau aku tak kan pernah menolak jika berurusan dengan si anak bulan. Jadi mereka memanfaatkannya, tapi kau terlalu tangguh, bahkan Kaden saja mengakui, ia kewalahan menghadapimu. Dan pada akhirnya semua yang mereka lakukan sia-sia."
Aku geli, nyaris meluncurkan tawa saat memikirkan ekpresi kewalahan Kaden. Pasti sangat lucu.
"kupikir itu akhir dari segalanya, tapi ketika semua terbongkar, semuanya jadi rumit. Para alpha mengusir kami."
"Seandainya aku tidak ada kau pasti akan pergi kan." hanya membayangkan saja, aku sudah merasa seakan nyawaku ditarik keluar, apalagi kalau sampai kejadian.
"Yah, tapi, aku hanya punya kau Azu dan aku tak ingin kehilangamu." Ingat hal apa yang paling aku hindari dari Dreas? Sorot matanya. Netra gelap yang selalu berhasil meruntuhkan dinding perasaanku. Dan detik inipun sama.
"Dreas, aku sudah membuat keputusan."
Aku tidak suka Selena, itu jelas. Aku ingin mencakarnya, sangat, tapi untuk kali ini, aku pun harus mengakui serta berterima kasih, meski hanya di dalam hati. Ia sudah membantu mempertemukan aku dengan Dreas, bahkan nekat melawan ayahnya demi membebaskan Dreas.
"Aku tidak tau harus mengatakan apa padamu," Dreas menggenggam tangan Selena. "kau sangat baik, dan kuharap kau akan segera bertemu dia yang memang di ciptakan untukmu."
"Kalau begitu tetap di sini," rajuk Selena. Membuatku ingin melaksanakan niatku yang tertunda lama, yaitu mencakarnya.
"Kau yakin dengan pilihan ini?" Ralyne menatapku setengah kesal. Ia jelas tak menyukai ideku.
"Aku sudah memikirkannya dengan baik, dan keputusan ini sudah berdasarkan pertimbangan yang matang."
Ralyne merengut, ia menatap permusuhan pada Dreas. "Jangan buat aku menyesal karena sudah memintamu datang."
Yah, aku memang meminta Selena untuk mengajak serta Ralyne. Saat ini, hanya dia yang bisa membantuku.
"aku benci kau," ia menatap Dreas sengit. "harusnya yang mati itu kau, dasar ROUGE."
Bisa kurasakan hawa tersinggung dari mantan anggota GUARDIAN yang lain karena perkataan Ralyne.
Aku menjitak kepalanya, lalu memeluknya erat untuk terakhir kali. "aku akan menemuimu lagi suatu saat nanti."
Aku tersenyum sedih pada Ralyne yang mulai menangis, lalu melompat kepunggung serigala Dreas.
Yah, keputusanku adalah mengikuti Dreas menjadi rouge. Ini mungkin terkesan egois, juga akan semakin menambah kesedihan keluargaku. Namun, mom punya dad yang akan menghiburnya, Alison sudah bersama Brian, tinggal Jaxon. Ia laki-laki yang kuat dan suatu hari nanti, ia juga akan membangun keluarganya.
Satu-satunya hal yang membuatku sakit adalah Jaiden, tapi mungkin juga sekarang ia jauh lebih bahagia di alam sana.
Aku menoleh, menatap Selena dan Ralyne untuk terakhir kali sebelum menghilang di kegelapan hutan.
__ADS_1
The End.