
Setelah selesai di dunia drucless, Zael dan Nalesha kembali ke dunia manusia. Mereka keluar dari air terjun dalam keadaan basah.
"Kita sudah dua hari berada di dunia drucless, tapi di dunia manusia baru tengah hari," kata Nalesha dengan pandangan tertuju ke langit. Matahari tepat berada di atas kepala mereka.
"Setelah melihat sendiri dunia drucless, bagaimana menurutmu?" Tanya Zael.
"Sangat jauh dari yang kubayangkan. Sejujurnya tempat itu memang lebih menakutkan. Apalagi saat malam tiba. Aku benar-benar masih merinding sampai sekarang." Nalesha menunjuk lengannya.
"Kau bahkan tidak melihat apa-apa. Barusan kita sangat beruntung, karena tidak ada makhluk apa pun yang lewat," ucap Zael.
"Iya, kita beruntung. Tapi, jika kita membangun rumah di sana asalkan mengunci pintu dan jendela dengan rapat, aku rasa kita akan aman," ujar Nalesha.
Zael menghela napas berat. "Makhluk-makhluk di dunia drucless tidak butuh pintu dan jendela untuk masuk ke rumah. Mereka bisa masuk ke rumahmu lewat ventilasi, cerobong asap, lubang kunci, bahkan tanah."
"Benarkah?" Tanya Nalesha.
Zael menghentikan langkahnya. Dia menatap Nalesha. "Jika kau menganggap dunia manusia itu menakutkan bagimu, apalagi dunia drucless. Para drucless yang punya kekuatan pun terkadang takut dengan makhluk-makhluk itu. Aku tidak pernah berharap sedikit pun kau tinggal di dunia drucless. Itu sangat berbahaya. Hari ini aku mengajakmu ke sana karena aku ingin menunjukkan betapa menakutkannya tempat itu."
Nalesha menunduk. "Aku mengerti."
Zael mengangguk.
Sementara itu, Dio sudah kembali dari Bali. Dia menjalani aktivitasnya seperti biasa di San Entertainment.
__ADS_1
Ponselnya terus berdering. Pria itu mendengus kesal. Haikal menoleh. "Matikan ponselnya, Dio. Kita sedang briefing untuk acaramu nanti."
Dio mematikan ponselnya. Sementara di seberang sana, Arinda tampak sedih, karena Dio selalu menolak panggilannya.
Malam harinya, Dio datang dengan ekspresi kesal. Dia mengetuk pintu rumah Arinda. Tak lama kemudian, Arinda membuka pintu. Pria itu tampak terkejut melihat perut Arinda yang buncit.
"Apa itu?"
Arinda menunduk. "Aku hamil."
Dio tampak syok. Dia masuk meskipun masih terkejut. "Bagaimana bisa kau hamil?"
"Sebenarnya aku ingin menceritakannya padamu, tapi aku takut kau marah," ucap Arinda.
Arinda menatap Dio. "Aku tidak pernah berhubungan dengan siapa pun kecuali denganmu."
"Lepaskan bajumu," ucap Dio sambil berlalu ke kamar mandi.
"Apa?" Arinda menatap pintu kamar mandi yang tertutup.
"Kau mengerti maksudku, Arinda. Aku menginginkanmu," ujar Dio dari dalam kamar mandi.
Saat Dio keluar dari kamar mandi, dia melihat Arinda yang masih berpakaian. "Kenapa masih memakai baju?"
__ADS_1
Arinda menatap pria itu. "Aku mau kau menikahiku."
"Apa?"
"Kau tidak akan menikahiku meskipun aku sedang mengandung anakmu?" Tanya Arinda.
"Aku tidak menyuruhmu hamil, aku ingin kau melayaniku. Biasanya kau tidak merengek seperti ini!" Bentak Dio.
"Kau menyalahkanku setelah apa yang kulakukan untukmu?!" Arinda tak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Bukankah kita sama-sama menginginkannya? Kenapa kau hanya menyalahkanku?" Gerutu Dio.
"Aku bersembunyi dari masyarakat karena mereka menganggapku wanita yang hina. Aku juga menjaga aibmu dari publik, aku bahkan tidur denganmu saat kau datang, kau...."
"Sekarang kau mempermasalahkannya? Ya, sudah kita akhiri semua ini," Dio memotong ucapan Arinda.
"Seharusnya para fans-mu tahu kau sangat brengsek!" Teriak Arinda.
Dio mendorong Arinda hingga tersungkur ke ranjang. "Kau tidak lebih dari pelampiasan hasratku, Arinda. Aku sudah bilang dari awal kalau hubungan kita sebatas itu."
...🌳🌳🌳...
^^^16.42 | 24 April 2021^^^
__ADS_1
^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^