THE PENANCE 2 : PREGNANT

THE PENANCE 2 : PREGNANT
TP2 - 07


__ADS_3

Nalesha dan Zael berdiri di bukit melihat pemukiman penduduk drucless dari kejauhan. Tampak beberapa drucless beraktivitas seperti biasa. Tapi, ada juga beberapa drucless yang masih menjadi batu. Zael tampak sedih. Nalesha mengusap punggung Zael.


"Kau pasti bisa menyelesaikan misi ini dengan segera," hibur Nalesha.


"Aku yang salah, tapi orang-orang yang kucintai terkena dampaknya," ucap Zael.


Nalesha mengerti dengan perasaan Zael. Dia juga merasa sedih untuk pria itu.


"Aku merasa senang melihat beberapa dari mereka kembali menjalani kehidupan seperti semula." Zael tersenyum.


Mereka berdua menaiki perbukitan yang lebih tinggi dan beristirahat sebentar. Matahari yang redup kembali muncul menyinari dunia drucless.


"Ini sudah pagi? Rasanya seperti sore," gumam Nalesha.


Zael menunjuk ke depan. "Kau lihat bangunan itu?"


"Apakah itu istana?" Tanya Nalesha.


"Itu kerajaanku yang juga berubah menjadi batu," kata Zael.


"Besar sekali, apa nama kerajaanmu?" Tanya Nalesha.


"Ventalla," jawab Zael.


"Nama yang indah." Nalesha tersenyum.

__ADS_1


Zael memetik buah berwarna biru muda dan memberikannya pada Nalesha. "Kau pasti lapar."


"Apa aku bisa memakannya?" Tanya Nalesha.


Zael mengangguk. "Buah ini aman. Di sini, kau hanya bisa memakan buah berwarna putih, biru muda, hijau muda, dan kuning pucat."


"Bagaimana dengan warna lainnya?" Tanya Nalesha sambil menerima buah tersebut.


"Ada lebih buah yang bisa dimakan oleh bangsa manusia, tapi kau tidak akan ingat dengan warnanya, karena ada beberapa warna yang tidak ada di dunia manusia," jawab Zael.


"Begitu, ya." Nalesha memakan buah tersebut. "Rasanya sangat lezat. Ini seperti...."


Zael juga memakan buah yang sama. Dia menatap Nalesha yang tampak berpikir.


"Aku tidak bisa menjelaskan rasanya seperti apa, tapi ini manis dan... bagaimana cara menjelaskannya, ya?" Nalesha tampak kebingungan sambil terus memakannya.


Setelah melihat keadaan di wilayah Kerajaan Ventalla, Nalesha dan Zael berjalan menyusuri pantai.


Nalesha melihat ada yang bergerak-gerak di tengah lautan. Dia menujuk ke arah sana. "Lihat, itu ada yang putih besar bergerak. Apa itu bison? Tapi, kenapa di tengah lautan?"


Zael menoleh ke arah yang ditujuk oleh Nalesha. "Itu Guma. Hewan besar seperti beruang kutub, tapi memiliki gading seperti gajah, dan memiliki tanduk seperti rusa."


Nalesha mencerna ucapan Zael. "Sangat... luar biasa."


"Bangsa drucless menganggap guma sebagai salah satu hewan yang paling besar dan paling agresif di dunia drucless. Biasanya Raja-Raja akan membuat sayembara untuk para Pangeran dan Raja dari kerajaan lain untuk menaklukan guma dan bagi yang menang akan menikahi seorang putri yang cantik," kata Zael.

__ADS_1


Nalesha menatap Zael. "Kau pernah mengikuti sayembara tersebut?"


Zael mengangguk. "Tapi, aku tidak berhasil menaklukan guma."


"Aku tidak percaya." Nalesha menggeleng.


"Tanyakan pada Arnav," ucap Zael.


"Memangnya ada lagi hewan yang lebih besar dari guma?" Tanya Nalesha.


"Lihat ke atas," suruh Zael.


Nalesha menggeleng dengan ekspresi takut. "Nanti aku terkejut."


"Tidak hanya hewan darat dan laut. Hewan yang terbang pun ada yang sebesar bus," ucap Zael.


Terdengar suara dari langit. Nalesha menggeleng. "Pulang saja, yuk!"


Angin berhembus kencang saat burung besar lewat mengepakkan sayapnya. Nalesha berteriak kaget. Dia melihat burung bersisik dengan leher panjang itu bertengger di dahan pohon.


"Be-besar sekali." Nalesha memeluk lengan Zael.


...🌳🌳🌳...


^^^15.32 | 24 April 2021^^^

__ADS_1


^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^


__ADS_2