THE PENANCE 2 : PREGNANT

THE PENANCE 2 : PREGNANT
TP2 - 14


__ADS_3

"Caritahu dia dari agensi mana. Kita akan datang malam ini juga untuk bertamu ke agensi itu," ucap Zega.


"Kita? Malam-malam begini?" Tanya Andy sambil melihat lebih detail profil Dio.


"Kita polisi, untuk apa merasa tidak enak bertamu ke perusahaan hiburan?" Ucap Gunawan.


"Aktor dan aktris bekerja sampai larut. Jika tidak ada di perusahaan, mereka mungkin sedang di lokasi syuting," kata Marla.


"Oh, ayolah, jangan sungkan. Bukankah kalian pernah menghadapi penjahat internasional?" Ujar Zega.


"Dia berasal dari San Entertainment." Andy tampak terkejut.


"Apa?" Zega menarik kursi Andy dan melihat ke layar. Andy terkejut, karena kursinya terpundur ke belakang.


Gitta juga melihat ke layar. Wajah kedua polisi wanita itu menutupi layar komputer membuat polisi lain tidak bisa melihatnya.


"Emm... bukankah Senior Zega dari keluarga San, apa Senior mengenali pemiliknya?" Tanya Bayu hati-hati.


Gitta dan Zega saling pandang.


"Tentu kami tahu pemiliknya, tapi jangan berharap lebih. Keluarga San tidak menyukai polisi," kata Zega sambil mengalihkan pandangannya.


Gitta mengangguk. "Itu benar. Ini akan lebih sulit, karena kami berasal dari keluarga San. Seseorang yang bukan dari keluarga San harus menginterogasi aktor ini."


Marla memutar bola matanya.

__ADS_1


Pada akhirnya para polisi itu pergi bersama-sama ke gedung San Entertainment menggunakan mobil APV. Di perjalanan, mereka terlibat percakapan.


Marla tampak berpikir. "Untuk apa aktor itu pergi ke rumah Arinda? Apakah dia punya hubungan spesial dengannya?"


"Mungkin dia adalah ayah dari bayi yang dikandung oleh Arinda. Bukankah saksi bilang kalau Arinda sedang mengandung?" Ucap Gitta.


Zega mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berpikir keras. "Anehnya wanita bernama Arinda itu tidak terlihat dibawa keluar oleh pria ini. Jadi, wanita itu pasti masih di daerah perumahan."


Arghi mengangkat tangan. "Senior."


"Kau ada pendapat?" Tanya Zega.


"Mungkinkah Arinda dibunuh? aktor itu mungkin memasukkan jenazahnya ke bagasi mobil," ujar Arghi.


"Itu bisa jadi, kita harus mencaritahu motifnya."


"Senior, mungkin saja aktor itu membunuhnya dan menguburnya di suatu tempat," ujar Bayu.


"Kau benar juga, tapi kita sudah menggeledah rumah dan daerah perumahan itu," kata Zega.


Gunawan yang menyetir juga berpendapat, "Senior, mungkinkah aktor itu menyewa pelayanan dari Arinda?"


Gitta tampak berpikir. "Pelayanan semacam apa, senior Gunawan?"


"Kau tidak tahu? Wajar, sih, kau yang termuda di antara kami. Maksudku aktor itu membayar Arinda untuk berhubungan intim," kata Gunawan tanpa beban.

__ADS_1


Mendengar itu, Zega akan menjitaknya, tapi Gunawan sedang menyetir. "Mulutmu ini."


Gunawan terkekeh kecil. "Kan, Gitta yang nanya. Aku hanya menjawab pertanyaannya."


Sesampainya di San Entertainment, Zega keluar dari mobil. "Kita sudah sampai, 3 orang ikut denganku."


Gunawan, Arghi, dan Marla turun dari mobil mengikuti Zega. Sementara Andy, Bayu, dan Gitta menunggu di mobil.


Zega menemui resepsionis sambil menunjukkan lencananya dan surat perintah penyelidikan. "Nona, kami dari kepolisian dan ingin mencari seorang aktor yang bekerja di agensi ini, namanya Aldio Fajar."


Resepsionis itu tersenyum ramah. "Maaf, apakah sudah membuat janji sebelumnya?"


Zega menatap wanita itu tanpa memberikan jawaban. Resepsionis itu mengangkat kedua alisnya.


"Kami polisi yang tidak perlu membuat janji, karena surat perintah penyelidikan ini lebih kuat kedudukannya," ucap Zega.


"Maaf, tapi Anda tidak bisa melakukan ini. San Entertainment akan menuntut kepolisian jika memaksa bertemu tanpa membuat janji. Sebelumnya perusahaan kami tidak pernah terlibat dengan kepolisian," kata Resepsionis.


"Begitukah?" Zega menunjukkan KTP-nya.


Resepsionis itu tampak terkejut melihat nama belakang Zega.


...🌳🌳🌳...


^^^16.32 | 24 April 2021^^^

__ADS_1


^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^


__ADS_2