
Zael bercermin. Dia memakai mantel punggung berwarna ungu gelap seperti biasanya. Pria itu merindukan penampilannya yang dulu. Terdengar suara pintu kamarnya diketuk.
Zael membuka pintu dan melihat Nalesha memakai pakaian yang lengkap seperti akan mendaki gunung bersalju.
"Ada yang ingin kutanyakan," ucap Nalesha.
"Apa itu?" Tanya Zael.
"Yang kutahu, manusia tidak boleh masuk melewati benteng perbatasan dunia drucless. Aku takut kau mendapat masalah yang lebih buruk lagi karena membawa seorang manusia cantik ke dunia drucless," kata Nalesha.
Zael melipat kedua tangan di depan dada. "Ada cara yang bisa membuatmu terlihat seperti drucless sungguhan."
Nalesha terlihat penasaran. "Benarkah? Bagaimana caranya?"
Zael menatap Nalesha. "Kau harus melakukan hubungan intim dengan pria drucless. ****** pria drucless akan membuat darahmu tidak dikenali. Para drucless akan mengira jika kau adalah gadis dari bangsa drucless."
Mendengar itu kedua pipi Nalesha memerah. "Memangnya tidak ada cara lain? Kenapa harus melakukan itu? Dia bicara vulgar sekali, dasar tidak punya malu."
"Ada cara lain." Zael memasang ekspresi berpikir. "Kau harus punya tanda kepemilikan drucless di lehermu agar bisa menjadi bagian dari bangsa drucless."
"Memiliki tanda kepemilikan di sini?" Nalesha menunjuk lehernya. Zael mengangguk.
"Bukankah itu salah ritual pernikahan bangsa drucless?" Nalesha menatap curiga pada Zael.
__ADS_1
"Oh, kau sudah tahu rupanya," ujar Zael.
Nalesha mencubit perut Zael. "Kau mau menipuku?"
"Tidak, jadi sekarang kau mau bagaimana?" Tanya Zael.
Nalesha mengalihkan pandangannya kemudian berlalu menaiki tangga. "Kalau tidak ada cara lain yang lebih manusiawi, aku tidak ikut."
"Kau yakin tidak ikut?" Tanya Zael. "Aku sudah menyiapkan gaun untukmu."
Langkah Nalesha terhenti di depan anak tangga. "Gaun?"
"Kau hanya perlu mandi dan meminum air suci dari air terjun itu untuk menyamar menjadi bangsa drucless," kata Zael.
Beberapa hari yang lalu Arnav membawa beberapa liter air dari air terjun portal menuju dunia drucless dan dimasukkan ke bak mandi. Jadi, Nalesha bisa mandi air suci di kamar mandi. Setelah itu, dia memakan gaun yang diberikan Zael.
"Gaun macam apa ini? Kenapa ini seperti selembar kain yang dililitkan ke tubuh?" Nalesha melihat beberapa bagian tubuhnya yang tidak tertutupi. Belahan dada, paha, perut, dan punggungnya terekspos begitu saja.
Nalesha menelepon Zael. Pria itu sedang duduk di ruang tengah menunggu Nalesha. Ponselnya berdering. Dia mengangkat panggilan dari gadis itu.
"Kenapa?" Tanya Zael.
"Kau serius menyuruhku memakai selembar kain? Ini tidak terlihat seperti gaun. Ini seperti pakaian ******," gerutu Nalesha.
__ADS_1
"Lalu kau mau memakai pakaian bangsa manusia?" Tanya Zael.
Tidak ada jawaban.
Karena Nalesha menolak memakai gaun terbuka itu, Zael menyuruhnya memakai jubah dan mantel punggung yang biasa dipakai oleh pria drucless.
Nalesha bercermin sambil memainkan mantel punggungnya yang berwarna ungu gelap seperti milik Zael.
"Aku seperti Superman," ucap Nalesha antusias seperti anak kecil.
Zael menghela napas berat. "Dengan pakaian itu, kau pria drucless."
Nalesha menoleh pada Zael. "Pria? Wajah seimut dan secantik ini seorang pria?"
"Kalau kau mau menjadi wanita, kau harus memakai gaun yang tadi," gerutu Zael.
"Oke, oke, aku pakai yang ini saja," kata Nalesha.
...🌳🌳🌳...
^^^16.34 | 24 April 2021^^^
^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^
__ADS_1