THE PENANCE 2 : PREGNANT

THE PENANCE 2 : PREGNANT
PROLOGUE


__ADS_3


(Pangeran Zael)



(Nalesha)


...🌳🌳🌳...


Pangeran Zael menatap air terjun di depannya. Pria itu tampak sedih. Dia melangkah dan memasuki air terjun di. Pangeran Zael tiba di dunia drucless.


Dia melihat ke sekeliling. Sinar matahari yang redup menyinari sisi lain dari dunia itu. Setelah melewati perjalanan yang cukup jauh, dia tiba di sebuah wilayah di mana para penduduk dan pemukimannya patung dari batu.


Seolah itu adalah mahakarya seorang pemahat berbakat. Nyatanya itu adalah penduduk drucless di Kerajaan Ventalla yang membeku lalu menjadi batu karena kutukan Dewi Amiles.


Pangeran Zael tampak merasa bersalah. Dia terus berjalan dan sampailah di istana batu. Istana yang awalnya adalah istana emas itu kini menjadi batu. Pangeran Zael masuk dan melihat para prajurit dan pelayan kerajaan juga berubah menjadi batu.


Pangeran Zael melihat patung batu berdiri di depan singgasana. Dia adalah Ratu Ventalla, ibunya. Wanita itu berdiri dengan ekspresi sedih. Tangan kanannya terentang ke depan seolah sedang menghentikan seseorang.


Pandangan Zael teralihkan pada patung anak kecil di dekat tangga. Gadis kecil itu tampak memegang bunga.


Pangeran Zael menghampirinya. "Zienna."


Pria itu mengambil kaca dan meletakannya di depan patung adiknya, Zienna. Mata Pangeran Zael berubah menjadi jingga. Lewat cermin tersebut, Pangeran Zael bisa melihat Zienna yang tampak normal layaknya drucless.

__ADS_1


"Kakak, kenapa lama sekali? Aku pegal jika berdiri begini terus," kata Zienna sambil cemberut.


Pangeran Zael tertawa sambil menangis. "Tunggu sebentar lagi, ya. Dunia manusia lebih lambat dari yang kau bayangkan."


Zienna tampak sedih. "Begitukah? Baiklah, aku akan menunggumu, Kak. Karena kakakku ksatria yang paling hebat di dunia ini."


Pangeran Zael tersenyum.


...🌳🌳🌳...


Nalesha berlari secepat yang dia bisa. Gadis itu masuk ke hutan di perbatasan kota. Beberapa kali dia jatuh dan berusaha bangkit kemudian lari lebih cepat. Tampaknya ada beberapa orang yang mengejarnya.


Dengan napas terengah-engah, Nalesha berhenti untuk sesaat. Dia mendongkak menatap langit yang sudah gelap. Dia tidak bisa menyalakan senter HP, atau orang-orang yang sedang mengejar itu akan menemukannya.


Gadis itu mengendap dan tiba-tiba dia terperosok ke dalam lubang. Mendengar suara dari kejauhan, orang-orang berjas itu segera mencari asal suara tersebut. Tapi, mereka tidak menemukan apa-apa.


Hari mulai pagi. Nalesha membuka matanya dan melihat ke sekeliling. Banyak sekali jamur di sekitarnya. Dia mendongkak ke atas.


"Semalam aku terjatuh di sini? Ah, benar, ini sudah pagi." Nalesha mencoba naik ke atas dengan menarik akar pohon yang menggantung ke bawah lubang itu.


"Untung saja tidak ada jebakan di bawah sini." Nalesha menghela napas lega. Dia melihat ke sekitarnya. Hanya ada pohon dan rerumputan setinggi pinggang.


"Apa aku benar-benar berada di tengah hutan?" Nalesha berjalan menyusuri hutan. "Aku harus menemukan portalnya. Pasti ada di sini. Para pendaki itu bilang, mereka menemukan portal itu di sini."


Dia kembali ke tempat semula berkali-kali. "Kenapa aku harus bertemu dengan lubang ini lagi?"

__ADS_1


Sampai hari kembali gelap pun Nalesha tidak menemukan jalan keluar. "Di mana portal itu berada?"


Nalesha menyalakan senter ponselnya. Dia menyorot ke sekeliling. Hutan sudah gelap total. Gadis itu tampak ketakutan.


"Ah, aku benci situasi seperti ini. Kenapa aku tidak mati di rumah saja, ya?" Nalesha mendengar suara-suara aneh. Dia menyorotkan senter ponselnya ke sumber suara, tapi tidak ada apa-apa.


Dia mendengar suara serigala yang biasa terdengar tengah malam. Nalesha menelan saliva. Kali ini dia mendengar suara geraman. Ada banyak pasang mata melihat padanya dari balik semak belukar.


Nalesha menyorot ke arah semak belukar. Kedua matanya terbelalak melihat beberapa serigala berjalan mengendap ke arahnya.


"Oh, tidak!"


...🌳🌳🌳...


Pria bermantel punggung ungu berjalan tenang. Matanya yang berwarna jingga terang seperti matahari menatap tajam. Dia berjalan melewati portal bercahaya hijau.


Cahaya matahari di alam yang berbeda itu bersinar lebih terang. Pria bermantel ungu menutupi wajahnya dengan tangan kiri. Dia melihat ke sekeliling. Banyak hewan-hewan dan tumbuhan di sana. Pria itu mengedarkan pandangannya.


Terdengar suara teriakan minta tolong, jeritan, dan deru napas yang tiba-tiba muncul entah dari mana. Pria itu menganggukkan kepala lalu menghilang entah kemana.


...THE PENANCE 2 : PREGNANT...


...By Ucu Irna Marhamah...


...🌳🌳🌳...

__ADS_1


__ADS_2