THE PENANCE 2 : PREGNANT

THE PENANCE 2 : PREGNANT
TP2 - 23


__ADS_3

Dio mengelap tubuhnya yang dipenuhi kotoran manusia, begitu pun dengan Haikal yang menyetir.


"Kita bakar saja mayatnya," kata Dio.


"Tidak, membakar manusia membutuhkan waktu yang lebih lama," sanggah Haikal.


Zael yang berdiri di dahan pohon melihat mobil Haikal yang melaju di jalanan. "Apa lagi rencana mereka? Aku dan Nalesha harus membuat naskah cadangan."


Haikal dan Dio membawa mayat Arinda yang sudah membusuk itu ke rumah Haikal. Di sana, Haikal mengaduk semen sementara Dio membawa tong besar dan memasukkan tubuh Arinda ke dalam tong. Haikal menuangkan semen ke tong besar itu. Mereka membawanya ke dermaga dan membuang tong tersebut ke laut.


Sementara itu, para polisi langsung mendatangi apartemen Dio. Zega menelepon Arghi dan Marla.


"Dengar, kalian pergi ke San Entertainment sekarang juga. Cari Dio dan managernya."


"Siap!"


Zega dan yang lainnya tiba di apartemen Dio, tapi tampaknya pria itu tidak ada di sana. Begitu pun di San Entertainment. Arghi dan Marla menelepon Zega.


"Senior, pria itu tidak ada di sini," kata Arghi.


Zega tampak berpikir. Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki. Mereka berempat menoleh, ternyata Dio yang datang. Pria itu sangat terkejut melihat para polisi di rumahnya. Dia berdehem pelan kemudian menghampiri mereka.

__ADS_1


"Apa yang kalian lakukan di apartemenku?" Tanya Dio.


Di dalam, Zega dan Dio pun berbincang. Gitta, Bayu, dan Andy berdiri di belakangnya.


"Kau dari mana barusan?" Tanya Zega curiga.


Dio tertawa. "Kau bukan pacarku, kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu?"


Zega menatap Dio dengan serius. Dio segera mengubah ekspresinya menjadi serius juga.


"Hari ini adalah hari ulang tahunku. Aku merayakannya dengan managerku. Jika tidak percaya, kalian bisa menghubunginya untuk meminta kesaksian" kata Dio.


Haikal dipanggil ke apartemen Dio. Sehingga interogasi dilakukan di sana.


Dio dan Haikal saling pandang.


"Kami hanya berdua saja. Kami meminum tequila," jawab Haikal.


"Berdua saja? Kalian gay?" Selidik Zega.


"Kau bilang apa?!" Dio tampak marah.

__ADS_1


"Waktu itu kau bergumam dan mengatakan kalau aku lesbian. Aku tidak lesbian, tapi kau yang gay," ucap Zega.


Dio mendecih. "Aku bukan gay, aku menyukai wanita."


Zega menatap curiga kepada kedua pria itu. "Kau yakin? Kau menyukai wanita dan berhubungan intim dengannya lalu membunuhnya dan membuangnya ke pembuangan tinja agar bau busuk dari mayatnya tersamarkan oleh bau kotoran manusia. Dan barusan kalian pergi ke tempat pembuangan tinja untuk membawa mayat dari dalam sana lalu memindahkannya entah kemana."


Haikal dan Dio terkejut dalam diam. Tapi, kali ini Dio yang menjawab, "Kau bicara apa? Kami akan menuntutmu jika kau mengarang cerita seperti ini."


"Katakan sebelum semuanya terlambat. Di mana kalian sembunyikan mayat itu," ancam Zega.


"Kami tidak tahu apa yang kau bicarakan, lebih baik kalian keluar dari rumahku!" Bentak Dio.


Zega beranjak dari tempat duduknya. Dia menunjuk wajah Dio. "Kau akan mendapatkan hukuman mati."


Lalu beralih pada Haikal. "Dan kau hukuman seumur hidup."


Setelah mengatakan itu, para polisi pergi dari apartemen Dio. Sebelum Dio keluar dari apartemen Dio, Zega melihat wanita berambut panjang dan berbaju putih mengintip dari bak mandi kemudian menghilang.


...🌳🌳🌳...


^^^10.17 | 24 April 2021^^^

__ADS_1


^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^


__ADS_2