
"Dia menderita OCD? Baguslah. Kita bisa menyiksanya hanya dengan mengotori rumahnya," kata Nalesha.
"Memangnya OCD itu apa?" Tanya Zael.
"Obsessive Compulsive Disorder, penderitanya akan merasa kesal dan tidak tenang apabila melihat ruangan kotor, benda yang tidak tertata rapi, angka yang tidak berurutan, dan masih banyak lagi yang membuatnya tidak nyaman," jawab Nalesha.
Zael tampak berpikir. "Hanya karena berantakan dan kotor, dia bisa tertekan?"
Nalesha mengangguk. "Kakak pertamaku juga OCD. Dia pernah memukul kepalaku hanya karena aku tidak merapikan bajunya berurutan sesuai warna."
Zael tampak kesal. "Kau merapikan bajunya? Dia pikir kau pelayannya?"
"Jangan bahas dia, aku sangat kesal mengingat semua itu. Kita lanjut menulis saja."
"Tapi, aku merasa senang karena kasus ini diselidiki oleh polisi wanita yang pintar. Dia bisa membaca situasi dengan cepat. Aku rasa dia lebih pintar dari Febrian," ujar Zael.
Nalesha mendelik pada Zael. "Polisi wanita? Apa dia cantik?"
Zael menoleh pada Nalesha. "Dia perempuan tentu saja dia cantik."
"Kau menyukainya?" Tanya Nalesha curiga.
"Kenapa sekarang malah kau yang terlihat seperti polisi?" Gerutu Zael.
__ADS_1
Nalesha cemberut.
Haikal menunjukkan sebuah dokumen pada Dio. "Kau mau cari mati? Kau mau menuntut putri bungsu keluarga San Bima?"
Dio melihat dokumen yang diberikan Haikal. Ada foto Zega di sana. "Apa maksudmu?"
"Polisi yang kemarin menginterogasimu adalah putri dari keluarga San Bima. Meskipun kau menuntutnya dan meminta bantuan pada pengacara San Entertainment, itu tidak akan berguna. Selain memiliki kedudukan bagus di kepolisian, dia juga bisa membuatmu berada dalam bahaya, karena dia berasal dari keluarga San," jelas Haikal.
Dio mendecih. "Pantas saja tidak ada ketakutan dalam matanya. Dia punya kekuasaan ternyata. Saat dia datang kemari, dia mungkin merasa datang ke rumahnya sendiri."
"Jangan mencari masalah dengannya. Aku akan membuat kesaksian untukmu. Kau terlalu ceroboh," kata Haikal.
Dio menatap kesal pada Haikal. "Aku aktor berbakat, jangan meremehkanku."
Dio memutar bola matanya kemudian mengikuti Haikal.
Zega dan yang lainnya masih mencari Arinda dengan barang bukti yang sedikit. Mereka berpencar dan beberapa kali pergi ke rumah Arinda untuk melakukan penyelidikan. Zega, Arghi, Marla, dan Bayu pergi ke Apartemen Dio untuk penyelidikan yang lebih lanjut.
Dio memperhatikan para polisi yang sedang menggeledah apartemennya itu. Dia memutar bola matanya kemudian duduk di sofa karena bosan. "Jangan mengotori lantai dan mejaku."
"Aku akan mengotorinya agar kau tidak bisa tidur," kata Marla sinis.
Dio tersenyum sambil memperhatikan Marla. "Kalau kau yang mengotorinya, aku rela."
__ADS_1
Arghi menatap kesal pada Dio.
Sementara Zega sedang menggeledah lemari pakaian Dio. Merasa barang-barang pribadinya dijamah, Dio segera menghampiri Zega.
"Nona, jangan melihat barang-barang pribadiku. Aku sangat malu," bujuk Dio.
"Sikapmu membuatku semakin curiga, minggir." Zega mengambil ****** ***** milik Dio.
"Apa kau tidak malu membawa ****** ***** pria seperti itu?" Gerutu Dio.
"Aku memakai sarung tangan. Kau kaya, kan? Kau bisa membeli celana dengan merek yang sama, yang ini aku ambil." Zega memasukkan ****** ***** tersebut ke dalam polybag. Dia pun berlalu, tapi Dio mencengkram lengannya.
"Aku tidak akan takut padamu hanya karena kau putri keluarga San," kata Dio sambil menatap tajam pada Zega.
"Aku tidak menyuruhmu takut padaku. Aku menyuruhmu untuk bekerja sama. Dengar, aktor berbakat, lebih baik kau mengaku saja dan katakan di mana mayat wanita itu? Lebih awal kau mengakuinya, maka hukumanmu akan lebih ringan," kata Zega sambil menepis tangan Dio kemudian berlalu pergi.
Dio melipat kedua tangannya di depan dada. "Dia tidak terpesona dengan ketampananku. Apa dia lesbian?"
...🌳🌳🌳...
^^^18.41 | 24 April 2021^^^
^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^
__ADS_1