
"Arinda, tidak!"
Arinda menoleh, ternyata Nalesha. Gadis itu mengibaskan tangannya. Arinda menautkan alisnya.
"Zael, apa dia benar-benar hantu?" Gumam Nalesha dengan suara gemetar.
Zael yang terhubung dengan Nalesha melalui telepon menjawab, "Jangan takut. Dia tidak akan melukaimu, karena kau tidak terlibat atas pembunuhan yang menimpanya."
Pria itu sedang berada di depan kantor polisi lalu menyamar menjadi wanita tua yang waktu itu melapor pada Gitta. Dia memasuki kantor polisi sambil memasang ekspresi panik.
"Pak polisi, tolong!" Wanita tua itu menghampiri Arghi. Pria itu terkejut.
"Ada apa, Nyonya?" Tanya Arghi.
"Aku mendengar suara tabrakan dan teriakan seseorang di tempat pembuangan tinja," ucap wanita tua itu.
Setelah mendengar laporan itu, Zega, Arghi, Marla, dan Andy segera pergi ke tempat pembuangan tinja.
"Apa kau bisa melihatku?" Tanya Arinda dengan suara datar.
Nalesha mengangguk. "Kami sedang berusaha membantumu. Para polisi akan segera menemukan di mana jenazahmu. Jadi, bersabarlah. Aku mohon jangan bunuh siapa pun."
Haikal yang berada di dalam pembuangan tinja bisa mendengar suara Nalesha dan Arinda yang sedang berbicara.
__ADS_1
Arinda menghilang. Nalesha mengucek matanya. "Ke mana dia pergi?"
"Apa kau yakin?" Tanya Arinda yang tiba-tiba sudah di belakangnya.
Nalesha tersentak kaget. "Dari awal kami sedang membantumu. Temanku sedang melakukan penebusan dosa dengan membantu manusia yang tewas tidak wajar. Makanya kami mencari cara agar polisi bisa menemukan mayatmu."
"Aku tahu kau dan temanmu dari dunia lain sedang membantuku, tapi aku tidak butuh bantuan," kata Arinda.
"Percayalah, kami akan membantumu. Jika kau membunuh mereka, mereka tidak akan merasakan dinginnya penjara," mohon Nalesha.
Arinda menatap Nalesha dengan tatapan tajam. Nalesha mengalihkan pandangannya. "Jangan menatapku seperti itu. Aku sangat takut dan gugup. Pertama kalinya aku bicara dengan hantu."
Pandangan Nalesha tertuju pada perut Arinda yang rata. "Bu-bukankah kau sedang hamil?"
Tiba-tiba Arinda menghilang. Terdengar suara sirine polisi dari kejauhan. Arnav muncul dan menggenggam tangan Nalesha.
Nalesha mengangguk. Keduanya menghilang.
Para polisi menolong Haikal yang tercebur ke dalam pembuangan tinja. Zega langsung membawanya ke kantor polisi.
"Aku menemukan mobilnya dalam keadaan penyok di bagian depan, sepertinya mobil Haikal menabrak pohon," kata Arghi.
Marla membopong wanita tua itu. "Nyonya, kami akan mengantarmu ke rumah. Terima kasih atas laporannya."
__ADS_1
Di kantor polisi, Haikal sudah membersihkan diri dan memakai baju tahanan. Dia mengakui semua kejahatan yang dilakukan Dio. Dia juga mengakui keterlibatannya dalam pembunuhan itu.
"Sekarang katakan padaku di mana kau sembunyikan jenazah Arinda?" Tanya Zega.
Para polisi tampak berkumpul di dermaga. Mereka mencari tong berisi mayat Arinda di lautan. Sementara Gunawan dan yang lainnya mencari Dio di apartemen, tapi pria itu tidak ditemukan.
Gunawan menelepon Zega. "Senior, Aldio Fajar tidak ada di apartemennya."
Zega memberikan perintah, "Cari dia dan sebarkan pada publik, kalau Aldio Fajar sekarang berada dalam urutan daftar orang yang paling dicari. Tapi, jangan katakan kalau dia buronan. Aku sudah berjanji pada pemilik San Entertainment untuk merahasiakan kasus ini."
"Siap!"
Zega mengawasi para bawahannya yang masih mencari tong itu. "Siapa gadis yang berbicara dengan hantu Arinda, ya?"
"Apa Kak Zee benar-benar percaya dengan hantu?" Bisik Gitta.
Zega menoleh pada Gitta. "Aku hanya akan ingin tahu siapa gadis itu."
"Ketemu!"
Zega dan Gitta menoleh. Para polisi mengangkat tong ke permukaan air laut dengan alat berat.
...🌳🌳🌳...
__ADS_1
^^^17.50 | 24 April 2021^^^
^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^