
Dio sedang meet and greet dengan para fans. Dengan senyuman ramahnya, dia bertatap muka dan berbicara dengan para fans yang mengantre. Pria itu juga memberikan tanda tangannya. Dia tidak sengaja melihat salah satu fans yang duduk di kursi paling pojok. Wanita berbaju putih itu menunduk dengan rambut panjang berantakan. Dio mengernyitkan dahinya.
"Kak Dio." Anak kecil laki-laki menyodorkan buku kecilnya.
Perhatian Dio teralihkan pada anak laki-laki yang bersama ibunya itu. "Halo, anak tampan."
Anak laki-laki itu tersenyum dengan pipi memerah. Dio menandatangani buku tersebut.
"Namamu siapa?" Tanya Dio.
"Raziel," jawab anak kecil laki-laki itu.
Dio mengusap rambut anak kecil itu. "Terima kasih sudah datang."
"Terima kasih, Kak Dio." Raziel mengangguk santun begitu pun dengan ibunya.
Dio kembali melihat ke pojokan. Tidak ada siapa pun di saja. Pria itu tampak bingung.
"Kak Dio."
Dio tersentak kaget saat wanita itu berada di depannya. Karena terlalu menunduk, Dio tidak bisa melihat wajah wanita aneh itu.
"Ha-halo." Dio tersenyum kaku.
Wanita itu menyodorkan bukunya. Dio menandatangani buku tersebut. "Siapa namamu, Nona?"
"Arinda."
__ADS_1
Deg!
Serasa ada godam yang menghantam dadanya. Dio mendongkak menatap wanita itu. Wanita itu juga tengah menatapnya dengan tatapan tajam.
"Dio," panggil Haikal.
Dio terlonjak kaget. Dia menoleh pada Haikal yang menujuk ke depan. Dio kembali menoleh ke depannya ternyata seorang anak kecil perempuan yang tersenyum manis padanya.
"Tuan Aldio, Halo." Ibunya anak kecil itu tersenyum kecil.
"Oh, halo?" Dio melihat ke sekeliling mencari keberadaan wanita tadi, tapi tidak ada.
Setelah meet and greet selesai dilaksanakan, Dio dan Haikal kembali ke San Entertainment. Dalam perjalanan, mereka bercakap-cakap.
"Hari ini banyak sekali fans yang datang. Pertahankanlah senyuman dab sikap ramahmu," kata Haikal.
"Yang datang hari ini sebanyak 220 orang," jawab Haikal.
"Tapi, aku menandatangani 221 buku." Dio menunjukkan daftar nama yang meminta tanda tangannya.
Haikal melihatnya. "Kau menulis nama mereka?"
"Iya, jumlahnya 221 orang."
Haikal tampak berpikir. "Mungkin kau menuliskan nama orang tua anak yang meminta tanda tangan darimu. Itulah sebabnya menjadi 221 orang."
"Tidak, aku hanya menandatangani buku yang dibawa anaknya," sanggah Dio.
__ADS_1
Haikal menelepon seseorang. "Deri, tolong kau fotokan daftar tamu kita yang datang ke meet and greet Dio. Iya, terima kasih."
"Dio, aku sudah memegang daftar fans yang hadir ke acaramu tadi." Haikal mencoba mencari nama yang tidak ada di daftar tamu.
Dio memijat pelipisnya.
"Ada seseorang yang tidak menulis namanya di daftar tamu." Haikal mengembalikan kertas milik Dio. "Namanya Arinda. Aneh sekali, bagaimana caranya dia masuk?"
Dio terkejut dalam diam. "Tidak mungkin, dia sudah mati."
Mendengar itu, Haikal menoleh pada Dio. "Apa maksudmu?"
"Arinda adalah gadis itu," kata Dio.
"Gadis itu? Gadis yang mana?" Tanya Haikal kebingungan. "Jangan bilang kau melakukan kesalahan."
Dio menatap Haikal. "Aku sudah melakukannya."
Tiba-tiba mobil yang mereka tumpangi terseok-seok. Dio dan Haikal terlonjak kaget.
Seekor kucing lewat di depan mobil. Sopir yang membawa mobil tampak khawatir. "Maaf, Tuan. Tadi ada kucing yang tiba-tiba lewat."
"Membuatku kaget saja," gerutu Dio.
...🌳🌳🌳...
^^^09.49 | 24 April 2021^^^
__ADS_1
^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^