
Fahreza melihat piagam dan piala penghargaan atas nama Nalesha di ruang tamu. Salah satunya adalah penghargaan lomba lari dan atletik yang didapatkan oleh Nalesha sewaktu duduk di bangku SMP. Dan penghargaan untuk atlet bela diri saat Nalesha sudah memasuki kelas 1 SMA.
"Bersihkan dinding dan lemari kaca ini," suruh Fahreza. Para bodyguard pun mengambil semua penghargaan tersebut dan membuangnya lalu diganti dengan lukisan dan barang-barang antik.
Sementara itu, Nalesha pulang dijemput Zael. Di dalam mobil, mereka berbincang.
"Tebak, apa yang kudapat hari ini?" Kata Nalesha.
Zael tampak berpikir. "Nilai A+?"
Nalesha menggeleng. "Bukaaaan."
"Olimpiade matematika?" Tebak Zael.
"Aku tidak pandai dalam menghitung. Coba tebak lagi," ujar Nalesha.
Zael kembali berpikir. Nalesha menunjukkan piagam penghargaan dan piala yang dia dapat pada Zael.
"Wah, kau memenangkan lomba melukis?" Zael tampak kagum.
"Sebenarnya aku kurang percaya diri mengikuti lomba melukis, karena merasa karya lukisanku tidak terlalu bagus. Tapi, karena kau bilang lukisan wajahmu yang kubuat waktu itu bagus, aku jadi bersemangat dan mencoba meningkatkan kemampuan melukisku lebih baik lagi. Aku sangat bersyukur mendapatkan penghargaan ini," ceroscos Nalesha. Dia sangat pandai bicara cepat.
"Sudah kubilang, tidak ada yang tidak bisa kau lakukan," ucap Zael.
__ADS_1
Mobil Zael berteleportasi dan tiba-tiba sudah berada di depan rumah hutan. Setelah memarkirkan mobil di garasi, Zael dan Nalesha masuk ke dalam rumah.
"Tempelkan piagam penghargaan itu di sini. Lalu pialanya letakkan di dalam lemari kaca," kata Zael di ruang tamu.
Nalesha menatap lukisan wajah Zael karyanya. "Jadi, aku meletakkan piagam penghargaan ini di samping lukisanmu? Apa boleh?"
"Why not? Ruangan ini bisa dipenuhi oleh karya dan penghargaan atas karya-karyamu," ucap Zael. "Sehingga orang-orang... ah, bukan. Sehingga drucless yang berkunjung kemari bisa melihatnya."
"Terima kasihhhh." Nalesha pun meletakkan piagam penghargaan dan piala tersebut sesuai perkataan Zael.
"Nalesha, ayo makan," panggil Zael di dapur.
Nalesha segera pergi ke dapur dan melihat banyak makanan di meja. Arnav yang menyajikan makanan ke meja. Pria itu tampak masih memakai apron. Ternyata Arnav yang memasak makan siang.
"Apa yang kau katakan? Seharusnya kau bersyukur, karena kau bisa sekolah. Banyak anak-anak di luar sana yang tidak bisa sekolah karena tidak memiliki biaya," sanggah Arnav.
Nalesha tersenyum haru. "Kau berbicara seperti seorang ayah."
"Ayo, kita makan," kata Zael menengahi pertengkaran kecil Nalesha dan Arnav.
Mereka pun makan bersama.
"Karena hari ini kau menjadi juara satu lomba melukis, aku akan mengabulkan satu permintaanmu," kata Zael pada Nalesha.
__ADS_1
"Benarkah? Apa, ya? Aku tidak membutuhkan sesuatu. Aku merasa semua yang kumiliki saat ini sudah lebih dari cukup," ucap Nalesha.
"Biasanya kau akan meminta dibelikan cemilan atau makanan," kata Arnav menimpali.
Nalesha tampak berpikir. "Benar juga."
Arnav tersenyum senang, padahal dia juga mau jalan-jalan dan membeli makanan.
"Aku mau bakso," kata Nalesha.
Mendengar itu, Arnav terkejut. "Bakso lagi? Jangan bilang kau mau bakso lava."
Nalesha menggeleng. "Tidak, sekarang aku mau bakso mercon."
Arnav berteriak. "Tidaaaaaaaak!!!!!"
🌳🌳🌳
LANJUT KE "THE PENANCE 3 : KIDNAPPER"
^^^00.52 | 24 April 2021^^^
__ADS_1
^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^