
Dio perlahan membuka matanya. Pria itu terkejut mendapati dirinya berada di rumah Arinda. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Saat dia bangun, pria itu merasa kesulitan. Dia memegang perutnya yang terasa sakit. Pria itu menunduk dan terkejut melihat perutnya yang buncit.
"Apa ini?!"
Sementara itu, hasil otopsi jenazah Arinda sudah keluar.
"Dia memang Arinda, wanita yang hilang itu. Tapi, ada yang aneh," kata Annisa, yang mengotopsi jenazah Arinda.
"Apa itu?" Tanya Zega penasaran.
"Kau bilang Arinda sedang mengandung sekitar 5 bulanan, tapi tidak ada janin di perutnya," ujar Annisa.
Zega mengerutkan dahinya. Ponselnya berdering. Dia segera mengangkat panggilan dari Gunawan, "Ada apa, Gunawan?"
"Ada masalah serius, Senior."
Di gedung San Entertainment.
Arvenu menyerahkan map berisi surat kontrak yang harus diakhiri pada Dio yang duduk di depannya. "Maaf, kami harus mengakhiri kontrak denganmu."
Setelah mengatakan itu, Arvenu mengangguk santun kemudian berlalu.
__ADS_1
Dio tampak marah. Dia merobek map tersebut kemudian pergi ke apartemennya. Pria itu harus memakai jaket tebal untuk menutupi perutnya yang besar.
Di apartemen dia menangis sambil memukuli perutnya. Tiba-tiba terdengar suara tangisan dari dalam perutnya. Seketika Dio membeku.
Terdengar suara ketukan pada pintu apartemennya. Dio beranjak dari tempat duduknya dengan susah payah. Ternyata Gunawan dan polisi yang datang. Mereka terkejut melihat perut buncit Dio apalagi suara tangisan bayi yang berasal dari perutnya.
Zega dan beberapa polisi lainnya menyusul datang ke apartemen Dio. "Semuanya, tolong jangan sampai kejadian ini tersebar ke media."
Dio menatap Zega dengan tatapan penuh permohonan. "Tolong keluarkan bayi ini dari dalam perutku."
Zega mengangguk. "Bertahanlah, kami akan memanggil dokter bedah. Kami tidak bisa membawamu keluar dari sini. Kau tidak ingin nama baikmu tercoreng, kan? Tapi, kau pria... maksudku... ah, sudahlah. Yang penting kau diam saja. Aku akan mengurus semuanya. Kau tidak perlu khawatir."
Zega terdiam mendengar ucapan Dio. Dokter bedah pun datang. Para polisi mempersilakannya masuk ke kamar Dio.
Zega menoleh, saat pintu dibuka. Zael menyamar menjadi dokter bedah. Dia mengangguk sopan pada Zega, begitu pun sebaliknya.
"Aku akan menunggu di luar," kata Zega pada Dio, tapi Dio masih menggenggam tangan Zega. Dia tampak ketakutan.
Zael menatap Zega dan Dio bergantian. "Jika kau pacarnya, kau bisa tetap di sini."
Zega menoleh pada Zael. "Bukan, bukan. Aku polisi yang bertugas. Dokter, aku percayakan dia padamu."
__ADS_1
Zael mengangguk. Zega keluar dari kamar. Saat membuka pintu, langkahnya terhenti. Dia melirik Zael.
"Dokter, setelah kau mengeluarkan sesuatu dari perutnya, aku mohon rahasiakan ini," kata Zega.
Zael mengangguk. Zega tersenyum. "Terima kasih."
Setelah Zega keluar, Zael duduk di tepi ranjang kemudian menatap Dio yang menangis khawatir. "Aku tidak akan membedah perutmu, tapi sebagai gantinya aku ingin kau meminta maaf pada orang yang sudah kau sakiti. Dan kau harus mengakui kalau bayi dalam perutmu itu adalah anakmu dari Arinda."
Dio terdiam kemudian menatap Zael. "Ba-bagaima...."
"Aku harap kau tidak perlu bertanya siapa dan bagaimana aku tahu. Aku hanya ingin menolongmu dengan cara yang lebih mudah," kata Zael.
Dio tampak sedih. "Aku ingin melakukannya, aku ingin meminta maaf padanya, tapi dia sudah tiada."
"Aku di sini, Dio."
...🌳🌳🌳...
^^^18.13 | 24 April 2021^^^
...By Ucu Irna Marhamah ...
__ADS_1