
Di kantor polisi, Zega tampak berpikir keras. "Di mana aku harus mencari jenazahnya?"
Tiba-tiba seorang pria paruh baya berseragam lengkap memasuki ruangan Zega. Gadis itu agak terkejut, tapi dia tidak terlalu peduli. Dengan malas dia berdiri dan memberikan hormat.
"Inikah caramu menghormatiku, Nona La Bima?" Tanya pria itu.
"Aku sangat menghormatimu, Pak Herdian," ujar Zega dengan malas kemudian duduk.
"Sudah menemukan orang hilang itu? Bisa jadi ini bukan kasus orang hilang, tapi kasus pembunuhan," ucap Herdian.
Zega mengangguk. "Aku rasa ini memang kasus pembunuhan."
"Kudengar kau mendatangi San Entertainment untuk menemui seorang aktor yang diduga tersangka yang terlibat hilangnya wanita itu," ucap Herdian.
Zega mengangguk.
"Karena dia bekerja di San Entertainment, aku pikir ini akan membuatmu lebih mudah memecahkan kasusnya," kata Herdian.
"Akan aku usahakan," jawab Zega.
"Karena posisi Septiawan sudah aku gantikan, aku sangat bertanggung jawab penuh atas kalian semua," kata Herdian.
__ADS_1
Zega mengangguk.
Sementara itu, Dio sudah sampai di rumahnya. Dia tampak masih marah karena diinterogasi polisi tadi.
"Dia pikir dia siapa? Cih, lencana itu apa fungsinya untuk orang penting dan terkenal sepertiku. Agensiku tidak akan membiarkanmu hidup tenang, polisi sialan!" Dio merebahkan tubuhnya ke ranjang.
"Aku bekerja siang dan malam untuk mengumpulkan uang. Aku tidak mau karirku berakhir hanya karena membunuh wanita ****** itu." Dio menarik napas dan menghembuskannya perlahan kemudian dia menutup mata sejenak.
"Sudah mati pun kau merepotkanku." Dio menarik selimut dan tidur.
Tiba-tiba dia mencium aroma busuk. Pria itu kembali membuka matanya. "Bau apa ini? Apa para pelayan kebersihan itu melewatkan sesuatu?"
Pria itu melihat ke closet duduk. Dia mengernyit. "Apa bau tahi itu berasal dari sini?"
Tanpa pikir panjang, dia mendekatkan wajahnya ke closet untuk memastikannya sendiri. Tiba-tiba seseorang menendang kepalanya hingga tercebur ke closet
Dio segera mengangkat kepalanya dan melihat ke sekeliling sambil terbatuk-batuk. Dia melihat seseorang melewati pintu. Pria itu menyentuh tengkuknya yang merinding. Dia segera mencuci wajah dan keluar dari kamar mandi menuju ke kamarnya.
"Apa ada orang lain di apartemenku? Dia pasti pencuri atau penyusup," gumam Dio sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Pria itu mengambil tongkat baseball dan mencari orang yang tadi melewati pintu kamar mandi.
Namun, tidak ada siapa pun di rumahnya. Pria itu mendengus kesal kemudian kembali ke kamarnya dan tidur dengan tongkat baseball di tangannya.
__ADS_1
Baru beberapa saat dia menutup mata, tiba-tiba terdengar suara tangisan bayi. Pria itu kembali membuka matanya.
"Apa lagi ini?!" Karena kesal, Dio pergi ke rumah yang bertetanggaan dengannya.
"Apa kau bisa mengurus anak? Kenapa bayimu menangis kencang sekali sampai terdengar ke rumahku?!"
"Hei, jangan sembarangan! Aku tidak punya bayi!"
Dio tampak kebingungan.
Setelah menggedor para tetangga, ternyata semua tetangga apartemennya tidak ada yang punya bayi. Dio kembali ke kamarnya dengan emosi yang belum surut.
"Apa hanya aku yang mendengar suara tangisan bayi? Tidak hanya OCD, jangan-jangan aku menderita skizofrenia." Dio membungkus seluruh tubuhnya dengan selimut, tapi itu tidak membantu. Dia masih mendengar suara tangisan bayi yang entah dari mana asalnya.
Tanpa dia ketahui, seorang wanita berbaju putih berambut panjang tidur di sampingnya. Suara bayi itu berasal dari perutnya.
...🌳🌳🌳...
^^^17.44 | 24 April 2021^^^
^^^By Ucu Irna Marhamah^^^
__ADS_1