
Gunawan, Andy, dan Gitta masih berada di rumah Arinda. Mereka mencari petunjuk lain. Tiba-tiba Gunawan mendengar suara tangisan bayi lagi. Dia menghela napas berat.
Gitta menoleh padanya. "Senior Gunawan kenapa?"
"Aku mendengar suara tangisan bayi. Apa kalian tidak mendengarnya?" Jawab Gunawan diakhiri dengan pertanyaan.
Andy dan Gitta menggeleng berbarengan. Gunawan memegang tengkuknya yang merinding.
"Mungkin Senior Gunawan sedang merindukan Ken di rumah," kata Andy.
Gunawan menggeleng. "Kenapa aku harus merindukan putra keduaku? Kami tinggal serumah, setiap hari bertemu."
"Rumah ini terlalu bersih, kita tidak bisa menemukan apa pun," kata Gitta sedih.
Gunawan melihat ke luar. "Aku mau membeli minuman dulu."
Setelah membeli 3 kaleng minuman bersoda, Gunawan kembali. Dia menyuruh Gitta dan Andy keluar dari rumah dan meminum minuman tersebut di luar rumah.
Saat meminum soda, Gunawan melihat wanita berbaju putih dan berambut panjang berdiri di halaman belakang rumah Arinda. Wanita misterius itu tengah menatap ke arahnya. Lagi-lagi bulu kuduknya merinding. Wanita itu pergi. Gunawan mengikutinya.
"Senior, Senior mau ke mana?" Tanya Gitta.
"Aku mau mengecek sekali lagi," kata Gunawan kemudian bergegas mencari wanita itu.
__ADS_1
Andy dan Gitta saling pandang.
Gunawan melihat wanita itu pergi ke tempat pembuangan tinja di ujung sana. Wanita berambut panjang itu menunjuk ke pembuangan tinja yang tertutup.
Gunawan mendekat, meski dia mencium aroma busuk sedari tadi. Dia menutup hidungnya.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Gunawan segera mengangkat panggilannya. "Halo?"
"Sayang, Ken sepertinya keracunan makanan."
Gunawan tampak terkejut. "Aku akan segera pulang."
Pria itu mematikan teleponnya kemudian melihatnya ke arah wanita tadi, tapi wanita itu sudah menghilang. Gunawan tampak kaget. Bulu kuduknya kembali merinding. Dia pun segera pergi dari sana.
Wanita itu sebenarnya duduk di atas pohon. Dia berubah menjadi Zael. Pria itu menghela napas panjang. "Ini lebih sulit dari dugaanku."
Zael memasuki rumah dengan ekspresi sedih. "Tidak berhasil."
Nalesha menoleh. "Para polisi itu ketakutan melihatmu?"
Zael menggeleng. "Aku berpura-pura menjadi hantu Arinda dan menuntun salah seorang polisi yang tampaknya lebih senior. Dia mengikutiku sampai ke tempat pembuangan. Aku menunjuk ke tempat pembuangan itu. Dia masih melihatku, tapi tiba-tiba teleponnya berdering dan dia pergi begitu saja."
Nalesha tampak berpikir. "Aku rasa polisi itu akan kembali ke pembuangan tinja. Mereka pasti mengira kau hantunya Arinda. Mereka yakin kalau hantu Arinda menunjukkan di mana mayatnya berada."
__ADS_1
"Kau yakin?" Tanya Zael.
"Biasanya kalau di film seperti itu," jawab Nalesha dengan ekspresi berpikir.
Zael mengangguk. "Baiklah, kuserahkan jalan ceritanya padamu."
Nalesha memutar otaknya. "Sambil menunggu polisi menemukan mayat Arinda, kita kerjain saja pria brengsek itu."
"Aku rasa itu ide yang sangat bagus. Jika para polisi menemukan mayat Arinda terlalu cepat dan memenjarakan Dio, Dio tidak akan merasakan siksaan terorku. Itu tidak menyenangkan, karena dia harus mendapatkan ganjaran apa yang sudah dia perbuat," kata Zael.
"Ya, itulah maksudku. Pria itu tampak santai, karena kita terlalu memanjakannya dan terlalu fokus memberikan petunjuk pada para polisi. Terakhir kali sampai mana, ya?" Tanya Nalesha.
"Sampai kepalanya ditendang ke closet."
(Zael)
(Nalesha)
...🌳🌳🌳...
__ADS_1
^^^06.13 | 24 April 2021^^^
^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^