THE PENANCE 2 : PREGNANT

THE PENANCE 2 : PREGNANT
TP2 - 11 - Baby Crying


__ADS_3

Di dalam mobil, Dio tampak menatap jalanan. Sementara Haikal duduk santai di sampingnya. Saat lampu merah menyala, sopir menghentikan mobilnya.


"Kau sudah mengakhiri hubunganmu dengan wanita itu?" Tanya Haikal.


"Hmmm," jawab Dio.


"Jika kau kesepian, kau bisa menyewa gadis panggilan. Jangan sembarangan meniduri wanita. Dia bisa menuntutmu dan kariermu akan berakhir," kata Haikal.


"Itu tidak akan terjadi," gumam Dio.


Pria itu pulang ke rumahnya, yaitu sebuah apartemen mewah di kawasan elit Kota Jakarta. Dio pergi ke kamar mandi dan membersihkan diri. Sambil mandi, dia bersiul dan bersenandung.


Dio melihat sebuah bayangan melintas melewati tirai kamar mandi. Pria itu mengernyit dan menyingkap tirai tersebut. Tidak ada siapa pun di sana. Pria itu selesai kemudian masuk ke kamarnya. Dio memakai piyama tidur kemudian merebahkan tubuhnya sambil menghela napas panjang.


"Tempat tidur yang nyaman, aku merindukanmu. Kukira akhir pekan ini aku tidak bisa pulang. San Entertainment membuatku bekerja seperti kuda," ujar Dio. Pria itu pun menutup matanya.


Zael berdiri di depan pintu balkon kaca. Dia memperhatikan Dio yang sedang tertidur pulas.


"Kenapa naskah novelnya hanya sampai sini, Nalesha? Apa kau kehabisan ide?" Zael pun menghilang.


Di rumah, Nalesha tampak serius mengetik meskipun sudah tengah malam. Dia sendirian, karena Zael sedang pergi keluar mengganggu Dio. Nalesha menyentuh tengkuknya yang merinding.


"Kenapa aku jadi takut begini? Padahal aku yang menulis novel horornya, tapi aku juga yang takut." Nalesha melihat keluar jendela kemudian dia menutup gorden dan melanjutkan menulis.


"Aldio Fajar akan menyesal. Aku akan membuatmu merasa seperti di neraka," ucap Nalesha sambil tersenyum kesetanan.

__ADS_1


Gadis itu merasakan kehadiran seseorang di belakangnya. Jantungnya berdegup kencang karena takut. Dia tidak berani menoleh ke belakang.


Ternyata Zael berada di belakangnya dengan tatapan tertuju ke layar membaca naskah horor Nalesha dalam hati. Nalesha menoleh dan berteriak kaget.


"Kau mengagetkanku!" Gerutu Nalesha.


"Aku sedang serius membaca naskah ceritamu," ujar Zael tanpa beban.


"Kenapa kau malah menakutiku? Seharusnya kau meneror Dio," ucap Nalesha dengan suara bergetar karena masih kaget.


"Aku sudah datang ke apartemennya. Kemarin kau hanya memberiku 2 halaman cerita. Aku melakukannya sampai selesai," kata Zael.


Nalesha tampak berpikir. "Benar juga."


"Kau mau menyelesaikannya?" Tanya Zael.


Zael berdehem pelan. "Baiklah, kita lakukan bersama-sama."


Mereka berdua serius menyusun naskah. Nalesha yang mengetik di laptop dan Zael yang mengutarakan idenya.


Jam menunjukkan pukul 3 dini hari. Nalesha menguap sambil menutup mulutnya.


"Kalau kau mengantuk, tidur saja. Aku yang akan menyelesaikannya," ucap Zael.


Nalesha mengangguk kemudian tiduran di karpet berbulu sambil menatap langit-langit ruang keluarga. Zael mengetik naskah di laptop. Dia tampak serius.

__ADS_1


"Tiba-tiba aku lapar," celetuk Nalesha.


"Ada banyak makanan di kulkas," kata Zael tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.


"Aku sedang diet," ucap Nalesha.


"Ya, sudah."


Nalesha menatap punggung Zael. "Ketakutan terbesar manusia adalah sesuatu yang tidak dia ketahui dan tidak dia lihat."


Zael menjawab, "Jika dia ketakutan tingkat parah, dia bisa sakit jiwa. Setahuku orang yang melakukan kejahatan tapi mengalami gangguan kejiwaan tidak akan mendapatkan hukuman penjara atau hukuman mati, dia akan diisolasi di rumah sakit jiwa."


Nalesha mencerna ucapan Zael. "Kau tahu betul tentang hukum di dunia manusia, ya."


"Hanya sedikit," ucap Zael.



(Zael)



(Nalesha)


...🌳🌳🌳...

__ADS_1


^^^06.40 | 24 April 2021^^^


^^^By Ucu Irna Marhamah^^^


__ADS_2