
Selain mendengar suara tangisan bayi, Dio juga mencium bau tahi. Perlahan Dio membuka selimutnya. Dia melihat sosok wanita berbaju putih dan berambut panjang yang waktu itu hadir ke acara meet and greet-nya. Namun, wanita itu tampak menakutkan dengan tubuh dipenuhi kotoran manusia dan wajahnya yang berdarah.
Dio gemetar ketakutan.
"Kenapa kau membuangku ke tempat bau itu? Di sana sangat dingin," ucap wanita itu.
"A-Arinda?" Gumam Dio.
Tiba-tiba hantu Arinda berteleportasi dan berada di depan wajah Dio. Bau tahi dari tubuh Arinda menyeruak masuk menusuk hidung Dio. Arinda mencekik Dio. Pria itu berontak berusaha melepaskan diri.
"Mati kau, bajingan!"
Dio menendang perut Arinda kemudian dia berlari keluar. Saat Dio berlari di koridor, orang yang lewat menutup hidung karena bau di tubuh Dio.
"Hei, kau tidak cebok, ya?" Gerutu orang itu.
Dio menelepon Haikal lewat telepon umum. "Haikal, hantu itu datang lagi dengan tahi di sekujur tubuhnya. Dia mencekikku."
Di kantor polisi, Zega sedang menelepon Gunawan. "Bagaimana keadaan Ken?"
"Dia sudah lebih baik sekarang. Pencernaannya bermasalah, karena dia tidak suka makan sayuran."
"Kalau begitu, kau cuti saja dua hari. Kau harus menghabiskan waktumu bersama keluarga," kata Zega.
"Terima kasih, Senior. Tapi, ada yang ingin aku katakan."
"Katakanlah."
__ADS_1
"Saat memeriksa rumah Arinda, aku melihat seorang wanita berambut panjang dan berbaju putih di belakang rumah Arinda."
Zega mendengus kesal. "Kenapa kau selalu membicarakan wanita? Ingat, kau sudah punya istri dan dua anak."
"Bukan begitu, aku rasa wanita itu adalah hantu Arinda."
"Apa?" Zega tampak terkejut.
"Mungkin dia ingin memberitahuku sesuatu. Dia membawaku pergi ke pembuangan tinja."
Zega tampak berpikir. "Aku harus segera ke sana."
Setelah menutup panggilan, Zega keluar dari ruangannya. "Gitta, Bayu, Andy, ikut aku."
"Kemana, Senior?" Tanya Andy yang melihat Zega memakai jaketnya.
Mereka berempat pun tiba di rumah Arinda. Zega menelepon Gunawan.
"Di mana pembuangan tinja itu berada?" Tanya Zega.
"Sekitar 400 meter dari rumah Arinda," jawab Gunawan.
"Apa? Jelaskan, 400 meter dari menuju ke arah mana?" Tanya Zega.
"Ke arah timur laut."
Dengan bantuan Gunawan, mereka berempat menemukan tempat pembuangan tinja. Mereka berempat memakai masker dan sarung tangan karet. Andy dan Bayu menggeser penutup yang terbuat dari semen itu. Saat melihat ke dalam, tidak ada apa-apa selain kotoran manusia.
__ADS_1
Zega mengusap kasar rambutnya. "Bagaimana bisa seperti ini? Bagaimana bisa?!"
"Senior Zega." Gitta berusaha menenangkan Zega. "Senior."
Zega mengepalkan tangannya. "Apa aku lambat? Apa aku kurang berusaha? Kita harus menemukan gadis itu. Aku berharap dia masih hidup, tapi jika dia sudah meninggal, kita akan menguburkannya secara layak. Dia dikucilkan di tempat ini. Bahkan orang-orang di tempat ini tidak peduli meskipun dia menghilang. Kita mendapatkan laporan Arinda menghilang setelah satu minggu kemudian."
"Senior, jangan menyalahkan dirimu sendiri," kata Andy.
"Senior, kita sudah bekerja keras," kata Gitta.
Zega terdiam dan menatap kosong. Gitta mengguncangkan lengannya. "Senior Zega."
Zega tidak menjawab.
"Senior Zega!" Gitta masih berusaha. "Kak Zee!"
Zega menoleh pada Gitta. "Aku belum pernah menangani kasus di mana korbannya adalah wanita yang mengalami pelecehan seksual. Aku tidak tahan dan terbawa emosi karena ini."
"Senior! Ada bekas goresan di sini." Bayu menunjuk penutup lubang pembuangan tinja.
Zega melihatnya. "Seseorang datang sebelum kita dan memindahkan mayatnya."
...🌳🌳🌳...
^^^09.13 | 24 April 2021^^^
^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^
__ADS_1