THE PENANCE 2 : PREGNANT

THE PENANCE 2 : PREGNANT
TP2 - 09


__ADS_3

Dio menarik baju Arinda. Dia ingin memperkosanya.


"Lepaskan aku! Aku bukan jalangmu!" Teriak Arinda sambil berontak.


"Kau jalangku!" Dio mendekatkan wajahnya, tapi Arinda mendorong dada Dio yang menindihnya itu. Dia menendang ************ Dio. Pria itu berteriak kesakitan sambil memegangi selangkangannya.


Arinda akan berlari kabur, tapi Dio menarik rambutnya. Wanita itu meringis kesakitan sambil memegangi kepalanya. Tamparan keras mendarat di wajahnya. Arinda tersungkur.


Dio menindihnya lagi. "Jangan munafik, Arinda. Kau selalu menikmatinya, kenapa sekarang menolak?"


"Kau bilang mau mengakhiri hubungan ini, kenapa masih di sini? Jika kau mau berhubungan ****, seharusnya kau mencari ****** dan bayar mereka. Kenapa kau datang padaku? Karena aku tidak perlu dibayar? Karena aku tidak punya penyakit menular? Kau ingin pelayanan gratis?! Pria brengsek!" Arinda meronta.


"Jangan membuatku marah!" Dio menamparnya lagi. Pria itu mengikat kedua tangan Arinda dengan kabel. Dia menyiksanya tanpa ampun, meskipun tahu kalau wanita itu sedang mengandung, mengandung benihnya!

__ADS_1


Zael terbangun dari tidurnya. Kedua matanya berubah menjadi jingga menyala. Dia mendengar suara teriakan dan tangisan wanita. Pria itu segera beranjak dari tempat tidur dan memakai mantel ungunya. Pria itu menghentikan langkahnya saat mendengar suara bayi menangis.


"Ada bayi?" Zael menutup matanya tiba-tiba dia menghilang.


Sementara Nalesha sedang tidur nyenyak di kamarnya.


Tamparan, pukulan, tendangan, semuanya diterima Arinda. Wanita itu menangis kesakitan. Darah yang mengalir dari selangkangannya tidak dipedulikan Dio. Pria itu tidak berhenti menyiksanya sampai Arinda menghembuskan napas terakhirnya.


Dio berhenti menendang perut dan wajah Arinda, meskipun wanita itu sudah tak berdaya dengan darah dan luka lebam di mana-mana. Pria itu melihat Arinda yang sudah tidak bergerak lagi. Dia mengecek detak jantung Arinda yang sudah tidak berdetak lagi. Karena panik, Dio menyembunyikan mayatnya di bawah ranjang. Pria itu pergi meninggalkan rumah tersebut.


"Nona?" Zael mengguncangkan bahu wanita itu dengan tangannya yang terbungkus sarung tangan hitam.


"Dia sudah meninggal, lalu suara bayi ini berasal dari mana?" Zael tampak kebingungan. Dia melihat perut buncit wanita itu.

__ADS_1


"Bayi kecil yang malang." Zael mendekatkan telinganya ke perut wanita itu. Dia seolah sedang mendengar sesuatu.


Mobil Dio kembali berhenti di depan rumah Arinda. Dia membawa beberapa alat pembersih dan cairan penghilang noda. Dio mengangkat mayat Arinda dan memasukkannya ke mobil. Dia tidak ingin karirnya berantakan karena telah membunuh orang. Dia tidak mau masuk penjara. Pria itu membersihkan lantai dan dinding dengan alat pembersih yang dia bawa. Pria itu juga merapikan barang-barang ke tempat semula.


Setelah itu, Dio membuang mayat Arinda di tempat pembuangan tinja. Dia pun pergi.


Zael menatap penutup pembuangan tinja itu dengan mata jingganya. "Pria bajingan seperti dia tidak pantas hidup. Jika aku tidak dikutuk karena membunuh manusia, aku pasti sudah membunuhnya."


Dio pulang ke apartemennya dan segera membersihkan diri. Pakaiannya yang terkena darah dia cuci sebersih mungkin.


"Aaarrggghh! Sial!!" Teriaknya.


...🌳🌳🌳...

__ADS_1


^^^17.11 | 24 April 2021^^^


^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^


__ADS_2