THE PENANCE 2 : PREGNANT

THE PENANCE 2 : PREGNANT
TP2 - 05


__ADS_3

Gemuruh air terjun terdengar begitu menyegarkan. Alam ciptaan Tuhan selalu menyajikan keindahan.


Zael menggenggam tangan Nalesha. Keduanya berjalan menuruni tebing menuju ke bagian belakang air terjun itu.


"Apa kita akan baik-baik saja? Apa ini tidak berbahaya? Bagaimana jika kita hanyut?" Nalesha tampak gemetar ketakutan.


"Kau hanya perlu memperhatikan batu yang kau injak," jawab Zael.


Karena Nalesha tampak ragu dan sering berhenti, Zael mengangkat tubuh ramping itu kemudian meloncat tinggi masuk menembus air terjun itu.


"Zael!" Nalesha memeluk leher Zael.


"Buka matamu," suruh Zael.


Nalesha membuka matanya. Mereka sudah tiba di dunia drucless. Gadis itu turun dan menyentuh tubuhnya. "Aku tidak basah?"


"Karena kau berada di dunia lain," jawab Zael.


"Ini benar-benar dunia drucless?" Nalesha mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Zael mengangguk.


"Kau membohongiku? Ini tidak menakutkan seperti yang kau ceritakan," kata Nalesha menatap Zael curiga.


"Karena di sini masih pagi. Kalau hari mulai gelap, aku yakin kau tidak akan takut lagi pada hantu atau setan. Semua hal yang lebih menakutkan ada di sini," ujar Zael sambil berjalan duluan.


Nalesha menatap ke sekeliling. Dia berada di sebuah hutan yang rimbun. Banyak pohon raksasa dan rerumputan setinggi dada. Gadis itu tidak tahu itu tumbuhan jenis apa, karena tidak ada di dunia manusia. Bahkan warna mereka sangat aneh. Nalesha belum pernah melihat warna-warna itu.

__ADS_1


Zael sudah berjalan jauh. Nalesha segera mengejarnya. "Masih pagi? Bukankah ini sudah sore?"


"Suasana pagi di dunia drucless memang seperti ini. Matahari bersinar dengan redup." Zael menunjuk matahari di langit.


"Oh, iya, aku pernah membacanya. Katanya malam hari di dunia drucless itu sangat gelap. Hanya ada bulan merah yang menerangi dunia drucless," tambah Nalesha.


"Iya, bulan merah itu adalah mata Dewi Amiles," ujar Zael.


"Ma-mata?" Nalesha tampak terkejut.


"Oh, ya, aku penasaran. Siapa penulis novel drucless itu? Bagaimana bisa dia tahu banyak tentang dunia drucless?" Gumam Zael.


"Lihatlah, itu apa?" Nalesha menunjuk beberapa makhluk menyerupai kucing dan kelinci di depan mereka.


"Itu treteaa, di dunia manusia itu seperti kelinci... atau mungkin kucing," kata Zael.


Zael berbicara dengan bahasa yang tidak dimengerti. Makhluk-makhluk berbulu itu berlarian ke arahnya. Nalesha berjongkok dan menyentuh mereka.


"Wah, bulu mereka sangat halus. Treteaa ini sangat imut." Nalesha mengusap mereka.


"Mereka mengira kau drucless, jadi mereka mendekatimu, karena tidak menganggapmu berbahaya," ucap Zael.


"Begitukah? Oh, manisnya." Nalesha sangat gemas.


Zael tersenyum. "Lihat ke samping kirimu."

__ADS_1


Nalesha menoleh ke kiri dengan waspada. "Ada apa? Ada makhluk lain?"


"Angkat kepalamu," suruh Zael.


Nalesha mendongkak menatap ke atas. Dia melihat menara yang sangat tinggi. "Ada istana di balik hutan ini?"


Zael mengangguk. "Itu Kerajaan Zeroun. Kerajaanku masih jauh."


"Masih jauh?" Tanya Nalesha.


Zael menatap Nalesha. "Kau pernah bilang, kalau kau sangat pandai berlari. Dan sepertinya kau mampu berlari cepat."


"Memangnya kenapa?" Tanya Nalesha sambil mendelik Zael.


"Aku tidak akan menyuruhmu berlari, tapi kita akan berjalan sampai tiba di kerajaanku," ucap Zael.


Nalesha tampak berpikir. "Baiklah."


Mereka pun melanjutkan perjalanan. Hari mulai gelap. Suasana yang indah di hutan berganti menjadi sangat menakutkan. Di mana pepohonan raksasa itu tampak seperti hidup. Akar-akarnya yang menggantung seperti melambai-lambai, rerumputan yang tertiup angin terasa sangat kasar saat menyentuh kulit, bulan merah menerangi dunia drucless.



...🌳🌳🌳...


^^^18.42 | 24 April 2021^^^

__ADS_1


^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^


__ADS_2