THE PENANCE 2 : PREGNANT

THE PENANCE 2 : PREGNANT
TP2 - 10


__ADS_3

"Wanita hamil yang dibunuh?" Nalesha tampak terkejut mendengar cerita Zael. "Pria bajingan."


Zael menatap Nalesha yang tampak kesal. "Usia kandungannya sekitar 6 bulan."


Nalesha mengguncangkan lengan Zael. "Kenapa semalam kau tidak membawaku saja? Biarkan aku yang bersaksi untuk wanita itu agar pria itu ditangkap secepatnya. Aku tidak mau pria itu berkeliaran dengan tenang setelah membunuh seseorang apalagi wanita hamil."


"Aku tidak mau kau terlibat dengan polisi. Ingat terakhir kali apa yang terjadi padamu?" Ucap Zael.


Nalesha mencoba mengingatnya.


** Flashback **


"Kak Febrian, jangan lakukan ini kumohon! Aku tidak mau kembali ke rumah itu. Katakan saja pada Fahreza dan yang lainnya kalau aku sudah mati," tangis Nalesha.


Zael tidak bisa melihat Nalesha menangis. Dia menatap gadis itu yang tampak ketakutan.


"Nalesha, kau tidak tahu betapa sulitnya kami mencarimu. Kakak-kakakmu sangat stres memikirkan keadaanmu selama menghilang," ucap Febrian.


Nalesha menggeleng. Dia menatap Zael. "Zael, jika aku kembali ke rumah itu, mereka akan membunuhku."


"Itu tidak akan terjadi!" Potong Febrian.


Nalesha meronta. "Zael, aku mohon jangan biarkan mereka membawaku."


"Bawa dia ke mobil. Irfan, borgol pria itu. Kita akan mengintrogasinya," suruh Febrian.


** End Flashback **

__ADS_1


Nalesha menghela napas berat. "Kau benar, aku juga orang yang dicari."


"Kalau boleh jujur, sebenarnya aku tidak ingin melibatkanmu seperti yang terjadi sebelumnya. Aku tidak mau kau kenapa-napa," kata Zael.


Nalesha mendelik kesal pada Zael. "Aku tidak selemah itu. Aku tidak mau menjadi beban bagimu."


Hening.


Nalesha tampak berpikir. "Kau bilang, mayatnya dibuang ke tempat pembuangan tinja? Apa orang-orang akan menemukannya di sana?"


"Entahlah, aku harus memikirkan cara agar mayat wanita itu segera ditemukan orang-orang. Selain itu, aku ingin pria itu benar-benar menyesali perbuatannya," jawab Zael.


"Aku ada ide," kata Nalesha. "Kita buat naskah horor."


Zael mengernyit. "Kita?"


"Kau kasar sekali. Kupikir gadis di bawah umur tidak bisa mengatakan itu," ucap Zael sambil mengalihkan pandangannya.


"Aku tidak bisa menahan diri jika menyangkut tentang wanita hamil. Memangnya si pembunuh sialan itu lahir dari batu," gerutu Nalesha.


Zael mengerti perasaan Nalesha. Di kasus sebelumnya Nalesha tidak semarah itu. Mungkin karena kali ini korbannya wanita seperti dirinya, dia menjadi sangat kesal.


Sementara itu, Dio sedang menghadiri sebuah variety show di salah satu TV swasta. Pria itu tampak memukau seperti biasanya.


Di kantor polisi, Marla dan Arghi sedang menonton variety show tersebut.


"Berkasnya sudah datang?" Tanya Zega yang tiba-tiba keluar dari ruangannya.

__ADS_1


Marla dan Arghi menoleh. "Sudah, Senior."


Zega melihat ke layar TV. Dia melihat sikap bintang tamu yang tak lain adalah Dio. Pria itu tampak arogan. Saat MC acara itu berbicara padanya, Dio tidak pernah berhenti mengangkat dagunya. "Setelah selesai dengan pekerjaan kalian, keluarlah dan makan siang."


"Baik, Senior."


Zega keluar untuk membeli minuman bersoda. "Ah, panas sekali hari ini."


"Kak Zee." Gitta menghampirinya.


Zega menoleh. "Kau sudah makan? Kau membutuhkan tenaga untuk menangkap penjahat."


Gitta tersenyum. "Aku makan cukup banyak, bagaimana dengan Kakak? Kak Zega sudah makan?"


"Kau nyaman di sini?" Tanya Zega.


Gitta mengangguk semangat. "Senior-seniorku sangat baik."


"Baguslah."



...🌳🌳🌳...


^^^21.49 | 24 April 2021^^^


^^^By Ucu Irna Marhamah^^^

__ADS_1


__ADS_2