
"Aku di sini, Dio." Arinda tiba-tiba muncul di belakang Zael. Wanita itu tampak sangat cantik dengan gaun putih yang dia kenakan.
Dio menangis. "Maafkan aku."
Zael beranjak dari tempat duduknya kemudian memperhatikan mereka. Arinda duduk di tepi ranjang dan menatap Dio.
"Maafkan aku, aku benar-benar minta maaf."
Arinda mengangguk.
Dio menyentuh perutnya. "Aku tahu kau pasti kecewa, anakku. Kau pasti kecewa karena aku tidak mau mengakuimu dan malah menyakitimu, membunuhmu, sebelum kau melihat wajah ayahmu yang brengsek ini. Maafkan ayahmu ini yang telah menyakiti ibumu. Saat aku memukulnya, kau pasti merasa kesakitan juga."
Arinda mengusap perut Dio yang perlahan mengempis dan kembali seperti semula. Dio tampak terkejut. Dia menatap Arinda.
"Para polisi sudah menguburkanku dengan layak. Aku merasa bisa pergi dengan tenang. Aku sudah memaafkanmu."
Zega menunggu di luar dengan ekspresi khawatir, begitu pun dengan polisi lainnya. Tiba-tiba pintu dibuka. Zael keluar dari kamar Dio. Para polisi menoleh padanya. Zael mendongkak menatap mereka dengan mata jingganya.
"Lupakan apa yang terjadi dengan Aldio Fajar hari ini."
Setelah pengakuannya, Dio meminta maaf pada seluruh fans besarnya yang sudah dia kecewakan. Dio juga memberikan ganti rugi pada para fans yang pernah dia lecehkan. Dio dan Haikal pun dihukum sesuai hukuman yang berlaku di Indonesia.
Di akhir pekan, Zega dan rekan-rekannya makan malam di sebuah restoran. Setelah itu, Zega mengajak Gitta dan Bayu ke rumah wanita tua yang rumahnya tak jauh dari rumah mendiang Arinda. Zega ingin berterima kasih atas informasi akurat yang diberikan wanita tua itu.
__ADS_1
"Nyonya itu pasti akan suka buah-buahan dan sayuran yang kita bawa," kata Gitta antusias.
Zega tersenyum.
Sesampainya di rumah itu, Zega mengernyit bingung, karena rumah itu tampak kotor dan tidak terawat.
Bayu menanyakan keberadaan wanita tua pemilik rumah itu pada tetangga.
"Nenek tua itu sudah lama meninggal."
Zega menghampirinya. "Tapi, Bu, baru tiga hari yang lalu kami bertemu dengannya."
"Dia sudah meninggal 2 tahun yang lalu," ucap tetangganya.
Di perjalanan pulang, Zega masih kebingungan. "Apa mungkin wanita tua itu juga hantu?"
"Entahlah, tapi ini memang sangat aneh. Awalnya hantu Arinda, sekarang hantu wanita itu," kata Bayu.
Pandangan Zega tertuju pada papan pengumuman orang hilang yang terpasang di tepi jalan. Wanita itu mengernyit melihat wajah yang tak asing baginya.
"Gadis itu... dia yang waktu itu bertemu denganku di tempat pengiriman paket."
Di rumah hutan, Zael dan Nalesha sedang membuat es campur. Nalesha memasukkan es batu ke dalam gelas.
__ADS_1
"Kau suka buah melon?" Tanya Zael.
"Masukkan saja, aku menyukainya," jawab Nalesha.
Tiba-tiba Arnav muncul. Zael dan Nalesha terlonjak kaget. Mereka menatap kesal pada Arnav.
"Maaf, apa aku mengejutkan kalian?" Tanya Arnav.
"Sebaiknya kau punya alasan bagus datang kemari," kata Zael sambil memotong buah melon.
"Ada kabar baik, Pangeran. Rakyat Ventalla banyak yang kembali berubah menjadi drucless seperti semula," ucap Arnav yang tampak bahagia.
Zael tersenyum. "Benarkah? Aku sangat senang mendengarnya. Berarti penebusan dosaku kali ini juga berhasil."
Nalesha mengusap punggung Zael. "Pangeran Zael sangat bahagia sekarang. Mari kita rayakan dengan es campur ini. Arnav, ayo minum."
Arnav mengangguk semangat. Mereka pun menikmati es campur di hari yang panas itu.
...🌳🌳🌳...
^^^18.49 | 24 April 2021^^^
^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^
__ADS_1