THE PENANCE 2 : PREGNANT

THE PENANCE 2 : PREGNANT
TP2 - 18


__ADS_3

Haikal duduk berhadapan dengan Zega. Pria itu tersenyum gugup. "Aku sangat khawatir setelah aku mendengar artisku terjerat masalah ini. Aku tidak ingin kasus yang kau selidiki akan berdampak buruk bagi Aldio Fajar. Jika publik tahu tentang penyelidikanmu yang melibatkan Dio, pasti itu akan menjadi skandal besar."


Zega melipat kedua tangannya di depan dada. "Jauh-jauh kau ke kantor polisi hanya untuk curhat? Jika tidak ada informasi penting mengenai kasus ini, lebih baik kau pergi. Aku sibuk."


"Dengar dulu, skandal itu akan sangat merugikan kami," kata Haikal dengan ekspresi memohon.


Zega mendecih. "Kau tidak perlu khawatir, Tuan Manager. Tanpa kasus ini pun Aldio Fajar sudah memiliki banyak haters."


Mendengar itu, Haikal tampak menahan marah. Zega masih menatapnya. "Sudah selesai?"


"Aku tahu kau berasal dari keluarga San. Dan kau juga tahu pemilik San Entertainment itu adalah Tuan San Rodriguez. Jika kau melibatkan artisnya, maka itu tidak hanya akan mencoreng nama baik keluarga San Rodriguez, tapi juga mencoreng nama baik keluarga San lainnya, termasuk San Bima," ucap Haikal.


Zega menatap balik Haikal dengan tatapan tajam. "Kedengarannya kau sedang mengancamku. Dengar, sebenarnya aku bisa menghubungi San Rodriguez dan meminta bantuannya untuk membuka mulut Aldio Fajar. Tapi, aku sedang kehabisan pulsa. Selain itu, San Rodriguez pasti akan mengeluarkan aktor itu sebelum nama baik perusahaannya tercemar. San Rodriguez tidak akan mempertahankan nira yang bisa merusak susu dalam sebuah wadah."


Haikal bungkam.


Zega menyandarkan punggungnya ke kursi. Dia melihat kedua tangan di depan dada. "Masih mau mengancamku? Kau mengumpulkan informasi penting tentang riwayat hidupku. Seharusnya kau tahu aku pernah berkuliah di bidang hukum. Aku ingin menjadi pengacara atau jaksa, tapi ternyata aku pandai memukul. Aku lebih cocok menjadi polisi. Aku tidak bisa menggunakan kepalan tanganku jika aku menjadi pengacara."

__ADS_1


Haikal mendengus kesal.


"Kenapa kau begitu melindungi Aldio Fajar? Kau terlihat begitu mempertahankannya. Itu membuatku semakin curiga. Berarti benar dia pembunuhnya. Jika kau membantu kepolisian menyelidiki kasus ini, kau tidak akan terseret olehnya," kata Zega.


Haikal menunjuk dirinya sendiri. "Kau mencurigaiku juga? Aku tidak terlibat apa pun. Aku tidak tahu apa-apa."


"Dengan ikut serta menutupi kejahatan seseorang, kau bisa masuk penjara," kata Zega.


"Sekarang kau mengancamku?" Haikal tampak kesal.


Suara Zega terdengar sampai ke luar ruangan. Arghi, Marla, dan Bayu menoleh ke ruangan Zega.


"Apa dia memancing kemarahan Senior Zega?" Bisik Marla.


"Dia berada dalam masalah besar. Senior Zega tidak akan memaafkannya," bisik Bayu.


"Kau mau menyuapku?! Kau pikir aku ini Septiawan?! Keluar kau dari ruanganku!"

__ADS_1


Ketiga polisi itu tersentak kaget mendengar bentakan Zega. Mereka melihat Haikal keluar dari ruangan Zega dengan ekspresi kesal.


Zega keluar dari ruangannya. Marla, Arghi, dan Bayu segera kembali bekerja.


"Dia pikir aku ini apa? Uangku banyak, aku tidak memerlukan uang suap! Bangsat gila," maki Zega. Wanita itu melihat ketiga bawahannya yang tampak begitu fokus bekerja. Dia mendengus sambil kembali ke ruangannya.


Ketiga polisi itu menghela napas lega.


"Manager Dio pasti menanyakan gaji Senior Zega. Karena itu, Senior Zega sangat marah," bisik Marla.


Arghi dan Bayu mengangguk-angguk.


...🌳🌳🌳...


^^^19.41 | 24 April 2021^^^


^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^

__ADS_1


__ADS_2