
Usia kandungan Arinda menginjak bulan ke-5. Sementara Dio sedang berlibur di Bali sudah beberapa minggu. Hari ini, Arinda pergi ke dokter kandungan. Dia duduk di kursi tunggu.
Sebuah mobil berhenti. Wanita cantik keluar dari mobil bersama pria yang tampaknya lebih muda dari wanita itu.
"Aku menunggu di luar, ya," kata pria itu.
Wanita itu mengangguk kemudian duduk di samping Arinda.
"Halo." Wanita cantik itu menyapa Arinda.
Arinda tersenyum ramah. "Halo."
"Sudah sering kemari?" Tanya wanita itu.
"Ini kehamilan pertamaku," jawab Arinda.
"Benarkah? Aku pun sama." Wanita itu tersenyum.
"Selamat, kau dan suamimu pasti sangat senang," kata Arinda.
Wanita itu mengangguk kemudian melihat pada pria yang menunggunya di luar. "Kami sangat bahagia. Bahkan suamiku mengambil cuti hanya untuk menemaniku."
Arinda tersenyum sendu. "Kau beruntung sekali."
Wanita itu mengulurkan tangannya. "Namaku Yunita Gumelar."
__ADS_1
Arinda menerima uluran tangan wanita yang bernama Yunita itu. "Arinda."
Di tempat lain.
Zael dan Nalesha sedang berada di dalam mobil. Pandangan Nalesha tertuju pada gedung besar Mahali Light yang gelap. Padahal gedung-gedung di samping bangunan itu tampak menyala.
Nalesha mengalihkan pandangannya ke depan.
** Flashback **
Nalesha kecil menyentuh kursi kebesaran di ruang pribadi direktur utama perusahaan Mahali Light.
"Setelah usianya 24 tahun, Nona Nalesha akan memegang perusahaan Mahali Light, itu wasiat dari mendiang Nyonya Kalyani," ucap pengacara Kalyani Gunindra, istri pertama Tuan Gunindra.
** End Flashback **
"Apa yang kau pikirkan? Setiap aku mengajakmu ke sini, kau pasti melamun," tegur Zael.
Nalesha menjawab, "Aku merasa khawatir saat kembali ke tempat ini. Seolah ada seseorang yang mengintaiku dan menginginkan kematianku. Aku tahu itu tidak hanya sekedar perasaanku saja. Itu memang benar adanya."
Zael menoleh sebentar pada Nalesha. "Jika datang kemari membuat perasaanmu tersiksa, aku tidak akan membawamu ke tempat ini lagi. Memangnya kau tidak bosan berada di hutan seharian?"
Nalesha menatap Zael. "Bukankah aku sudah bilang, kalau kau sudah kuanggap sebagai tempatku untuk pulang?"
Zael tersenyum. "Kapan kau mengatakan itu?"
__ADS_1
"Sekarang kau menjadi drucless yang amnesia?" Gerutu Nalesha.
Zael tertawa kecil. Nalesha tersenyum melihat Zael yang begitu tampan saat tertawa. "Siapa sangka kau sangat tampan saat tertawa."
"Apa ini pertama kalinya aku tersenyum di depanmu?" Tanya Zael.
"Biasanya kau memasang muka datar. Saat menjawab pun kau hanya bilang, 'hm' yang sampai saat ini aku tidak tahu artinya," kata Nalesha.
"Aku pernah tersenyum sebelumnya, tapi kau mungkin tidak ingat. Sekarang kau menjadi manusia yang amnesia?" Tanya Zael.
"Kau mengembalikan kata-kataku, itu tidak adil," ucap Nalesha.
Zael tersenyum. "Kau sangat penasaran dengan dunia drucless. Malam ini kita akan pergi ke sana."
Nalesha tampak terkejut. "Benarkah? Apa boleh?"
"Semalam Arnav pergi ke dunia drucless dan melihat beberapa rakyatku kembali menjadi drucless seperti semula. Meskipun masih banyak yang membeku menjadi batu, setidaknya aku merasa tenang, karena misi penebusan dosaku berhasil," ucap Zael.
Nalesha tersenyum. "Aku senang mendengarnya."
...🌳🌳🌳...
^^^06.37 | 24 April 2021^^^
^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^
__ADS_1