THE PENANCE 2 : PREGNANT

THE PENANCE 2 : PREGNANT
TP2 - 02


__ADS_3

Arinda makan malam sendirian di rumahnya. Tiba-tiba dia merasa mual dan memuntahkan makanan yang sudah dia telan. Gadis itu menyentuh perutnya. Dia mengambil ponsel dan mencoba menghubungi Dio.


Sementara Dio sedang berada di San Entertainment. Pria itu melihat ponselnya bergetar. Ada nomor tak bernama yang meneleponnya. Dio enggan mengangkat panggilan itu sehingga dia mematikan ponselnya.


Di seberang sana, Arinda menghela napas berat.


Selama 2 bulan Dio tidak datang ke rumahnya. Pria itu tampaknya sibuk. Arinda tampak sedih. Dia melihat dua garis biru di testpack.


"Kau bodoh sekali, Arinda. Dia dan dirimu hanya sebatas idola dan fans, tidak lebih," gumam Arinda seolah berbicara dengan dirinya sendiri.


Hari itu Dio datang. Arinda sangat senang. Dia ingin mengatakan tentang kehamilannya pada Dio, tapi dia takut. Jadi, dia tetap diam sampai dia berani mengatakannya.


"Belakangan ini aku punya banyak masalah. Aku sangat bosan dan ingin berlibur," ucap Dio.


"Begitukah?" Arinda tampak antusias mendengarkan.


"Ya, aku sudah menyiapkan tiket untuk pergi ke Bali sendiri," jawab Dio.


Arinda tampak sedih. "Oh."


Malamnya mereka tidur bersama.


Keesokan paginya Dio akan pergi tanpa berpamitan. Dia meninggalkan Arinda yang masih tertidur.


Dio memang seperti itu. Dia suka datang tiba-tiba. Katanya mau mengajak bicara, nyatanya mengajak tidur. Setelah melakukannya, dia pergi.

__ADS_1


Di rumah hutan, Nalesha sedang melukis di kamarnya. Dia melukis wajah Zael. "Ciptaan Tuhan memang luar biasa. Aku bahkan tidak bisa meniru hanya dengan menggambarnya."


Tiba-tiba terdengar pintu kamarnya diketuk. "Hei, gadis manusia. Aku mau pergi belanja. Kau mau menitip?"


Itu suara Arnav. Nalesha tampak berpikir. "Sebentar."


Gadis itu membuka lemari dan melihat persediaan pembalutnya tinggal satu. Nalesha membuka pintu. Arnav melihat lukisan yang dibuat Nalesha.


"Wuaaah, itu karyamu?" Arnav masuk dan melihat lukisan tampan tersebut dengan ekspresi terpuka.


"Itu belum selesai," ucap Nalesha.


"Kau punya banyak kemampuan, ya. Menulis, menggambar, melukis."


Nalesha terkekeh. "Baru kali ini aku mendengar kata-kata baik dari mulutmu."


"Lebih baik aku ikut denganmu saja, aku akan membelinya sendiri," ucap Nalesha.


"Ikut bersamaku?" Tanya Arnav ragu. "Nanti Pangeran Zael...."


"Aku akan bilang padanya, kau tenang saja. Dia tidak akan marah," bujuk Nalesha.


Twelve minutes later....


"Tidak, kau bisa pergi sendiri," kata Zael pada Arnav sambil berpangku tangan.

__ADS_1


Arnav melambaikan tangannya pada Nalesha kemudian berlalu pergi. Zael melirik Nalesha. "Kenapa kau mau pergi belanja berduaan dengannya?"


Nalesha menunjuk dirinya. "Aku? Aku hanya ingin membeli keperluan pribadiku."


"Keperluan pribadimu? Biasanya kau menuliskan keperluanmu dan tinggal memberikan catatan pada Arnav," tanya Zael curiga.


"Ini keperluan pribadiku yang tidak bisa dibeli lewat orang lain. Aku harus membelinya sendiri," ucap Nalesha.


"Kau bisa memberitahuku," kata Zael.


Kedua pipi Nalesha memerah. "Sebenarnya ini keperluan perempuan. Aku tidak bisa mengatakannya."


Zael tampak berpikir. "Ya, sudah. Ayo, beli keperluan pribadi perempuan yang kau inginkan."


"Sekarang? Aku mau ganti baju dulu." Nalesha beranjak dari tempat duduknya kemudian bergegas menaiki tangga menuju kamarnya.


Zael tampak penasaran. "Memangnya apa yang dia perlukan? Hanya perempuan yang membelinya? Testpack? BRA? ****** ***** wanita?"


Di supermarket, Zael mengintip Nalesha yang sedang memilih produk di rak. Gadis itu mengambil pembalut.


Zael mengangguk-anggukkan kepalanya.


...🌳🌳🌳...


^^^19.59 | 24 April 2021^^^

__ADS_1


^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^


__ADS_2