
Nalesha mendongkak menatap bulan merah di langit. "Sangat menakutkan."
"Aku sudah bilang, kalau dunia drucless tidak seindah seperti yang kau bayangkan. Lebih menakutkan lagi jika kau tinggal selama ratusan bahkan ribuan tahun di dunia drucless," ujar Zael.
Nalesha jatuh terduduk di tanah. Zael juga berhenti. "Aku akan menggendongmu."
"Tidak usah, aku masih bisa berjalan, tapi aku hanya perlu sedikit beristirahat." Nalesha meminum air suci dari botol.
Zael duduk di samping Nalesha. "Drucless akan kehilangan banyak tenaga jika terlalu lama di dunia manusia. Dia membutuhkan energi dari air suci atau mencuri energi dari manusia. Begitu pun sebaliknya. Manusia akan kehilangan energi jika terlalu lama di dunia drucless. Dia harus meminun air suci atau mencuri tenaga dari drucless."
Nalesha menyikut lengan Zael. "Ada drucless tampan di sini. Aku akan mencuri tenaga darimu."
Zael tersenyum mendengar ucapan Nalesha. Pria itu menatap Nalesha. "Jika kau bicara seperti itu padaku aku tidak masalah, tapi jika kau bicara seperti itu pada pria drucless lain, mereka akan mengira...."
"Aku mengajak berhubungan intim?" Potong Nalesha. "Aku tahu."
"Kau tahu banyak rupanya," kata Zael.
"Tadi kau bicara bahasa asing pada treteaa. Aku tahu itu bukan bahasa dari dunia manusia. Yang kau pakai adalah bahasa drucless di mana hanya para drucless dan makhluk di dunia drucless yang mengerti. Drucless mampu berbicara bahasa apa pun di dunia manusia. Mereka beradaptasi dengan cepat dan langsung memahami bahasa di dunia manusia, karena jumlah kosakata di dunia manusia tidak lebih banyak dari kosakata di dunia drucless," kata Nalesha.
__ADS_1
Zael mengangguk. "Ucapanmu tepat sekali. Sepertinya aku tidak perlu menjelaskan apa-apa, karena kau sudah tahu banyak."
"Aku membaca itu di buku," ucap Nalesha
Zael beranjak. "Baiklah, ayo kita pergi."
"Sebentar lagi, kumohon." Nalesha mengusap kakinya yang terasa begitu lemas.
"Aku akan menggendongmu," kata Zael.
"Aku tidak mau." Nalesha menggeleng.
Nalesha tampak ragu, tapi akhirnya dia naik ke punggung Zael. "Aku tidak se-ringan yang terlihat."
Zael mulai berjalan.
"Maafkan aku, sebenarnya aku tidak mau merepotkanmu apalagi menjadi beban untukmu," kata Nalesha sambil memeluk leher Zael.
"Kenapa kau selalu bicara seperti itu?"tanya Zael lembut.
__ADS_1
"Di novel lain, tokoh perempuan selalu menjadi beban untuk tokoh pria. Aku tidak mau seperti itu," ucap Nalesha pelan.
"Kau merasa seperti itu? Kau bukan beban untukku. Jangan berpikir seperti itu. Bukankah kau ingin bersamaku? Setiap hari kau memasak steak dan masakan lainnya untukku, kau menyapu dan mengepel lantai meskipun aku melarangmu, kau membantuku menyelesaikan misi penebusan dosaku. Kau melakukan segalanya untukku, Nalesha," kata Zael.
"Iya juga, sih. Tapi, aku juga sering mengganggumu, menumpang di rumahmu, menghabiskan uangmu, membuatmu risih, dan masih banyak lagi," kata Nalesha.
"Aku tidak pernah merasa terganggu dengan keberadaanmu. Uangku juga tidak akan habis jika hanya untuk membeli keperluanmu. Kau juga tidak membuatku risih," sanggah Zael. "Kau bicara seolah kita orang asing yang baru bertemu."
"Saat pertama bertemu, kau sangat irit bicara. Sekarang aku lebih sering mendengar suaramu. Aku sangat senang." Nalesha menyembunyikan wajahnya di tengkuk Zael.
Mendengar ucapan Nalesha, Zael tersenyum.
...🌳🌳🌳...
^^^19.09 | 24 April 2021^^^
__ADS_1
^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^