The Rising Of The Lord Hero (1)

The Rising Of The Lord Hero (1)
Chapter 21 "Sebenarnya"


__ADS_3

“Sebenarnya.....” Sanaya terdiam sebentar.


“Sebenarnya apa?” aku terus bertanya.


Putri Sanaya hanya terdiam seperti tak ingin memberitahukan prihal Pahlawan Perisai. Aku menunggu jawaban darinya selama beberapa detik.


“Sebaiknya kau istirahat saja dulu, ini sudah larut malam tidak baik kalau kita berbicara di saat malam seperti ini. Besok aku akan beritahu.” pungkasnya.


“Hah! Apa maksudmu? Jangan menghindari pembicaraan Nona Sanaya, aku hanya ingin tahu permasalahan apa yang dihadapinya." jawab agak keras dariku.


“Ssstttt, tunggu saja besok.” Sanaya hanya membalas dengan mengacungkan jari telunjuk kebibirnya yang manis.


Kemudian tanpa banyak bicara, Sanaya keluar dari ruangan kamar ku. Melihat hal itu sedikit membuat ku kesal, mau bagaimana lagi aku tidak bisa memaksa kehendaknya.


“Yudha-sama, sebaiknya anda istirahat saja, aku akan menemani anda sampai tertidur.” ucap syira.


“Tak perlu menemani ku! Lagi pula dimana kau akan tidur?” jawabku.


“Aku akan tidur di sofa itu, tidak apa apa.”


“Tunggu di sofa? Tidak tidak, kau itu wanita sebaiknya kau istirahat di kasur dan aku disofa saja.”


“Tidak apa Yudha-sama, kau sedang terluka jadi tidak apa apa. Baiknya sekarang silakan anda tidur." balas Syira pelan sambil menurunkan tubuhku secara perlahan.


Aku juga tidak bisa memaksa Syira, walau status kami itu hanyalah Budak dan Tuan. Aku sebenarnya tidak menghendaki hal ini. Bagiku perbudakan adalah sistem yang salah.


Setelah beberapa saat aku mulai memejamkan mata. Sementara itu Syira sudah tertidur di sofa, aku melirik ke arah Syira dan kembali menatap atap sambil memikirkan yang terjadi pada dunia ini.


“Sebenarnya masalah apa yang menimpa Pahlawan Perisai? Kenapa dia meninggalkan kerajaan ini? Ah sudahlah sepertinya memikirkan hal itu hanya akan membuatku tambah pusing. Baiknya aku rencanakan agenda apa yang aku lakukan di hari esok." gumamku.


Disisi lain ternyata diam-diam Sanaya bersender didepan pintu ruangan kamarku. Sepertinya dia mendengar apa yang aku gumamkan.


Sesaat Sanaya memikirkan kembali hal yang telah terjadi pada Pahlawan Perisai sambil memejamkan mata. Mendengar akhir dari celotehan ku itu, dia lalu pergi.


****


Disaat tidurku, aku terbawa ke alam mimpi. Di dalam mimpi, aku melihat sesosok wanita bercirikan berparas cantik dengan tanduk merah yang agak meruncing di dahi kanannya.


Ia berpakaian serba hitam dengan diselimuti aura hitam negatif yang sangat kuat. Walaupun dirinya cantik, tapi hal itu justru membuat bulu kuduk ku merinding.


Wanita itu kemudian menyerang ku dengan kekuatan sihir hitamnya kearah ku. Sebenarnya aku ingin melawan, akan tetapi tubuhku tidak bisa digerakkan sesuai keinginan ku di alam mimpi.


Ya semua orang pasti pernah merasakan hal ini. Sihir hitam itu justru membuat ku terpental dan membuat punggung ku tersandar dengan keras ke sebuah dinding batu.


"Arghh! Cih kenapa dengan ku?!" ucapku dalam mimpi.


Sesat kemudian aku sadar kalau wanita itu adalah Iblis jahat. Wanita Iblis itu kemudian datang mendekati ku dan membisikkan sesuatu ke telinga ku.


“Usahamu akan menjadi sia-sia Lord Hero, eghg!” sembari menyeringai dan tertawa licik.


Kemudian kejadian yang terjadi di hadapanku pun hilang seperti abu. Dihadapan ku, aku melihat sebuah kastil yang diselimuti dengan lautan api.


Aku juga merasakan ada sebuah aura amarah yang sangat kuat dari dalamnya. Sesaat aku mengamati, aku melihat seseorang keluar dari kastil itu dengan membawa sebuah tameng di lengan kirinya.


Tameng itu mengeluarkan api yang berkobar-kobar. Aku menyadari kalau dia adalah Pahlawan Perisai. Semua yang aku saksikan didepan mataku tampak nyata.


"Akan aku hancurkan, Akan aku bakar, Akan aku binasakan, Akan aku musnahkan semua orang yang membuat ku menderita. Heeeaaaaahhhhhhhgh!!!" ucap Pahlawan Perisai dengan sengsara.


Didalam mimpiku itu aku tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya menyaksikan saja. Kemudian secara mengejutkan Pahlawan Perisai menyerang ku dengan melempar tamengnya ke arahku.


****


"Ahhgh! Itu mengejutkan sekali!!" ucapku yang terbangun dari tidurku.


Karena mimpi itu aku terkejut dan lantas terbangun dari tidur ku dengan keringat dingin bercucuran. Aku kemudian menenangkan diri dengan cara ku.


Aku kemudian mengintip cahaya dari jendela yang terlihat hampir pagi, ku lihat juga Syira masih tertidur. Aku berinisiatif untuk mengambil air untuk membasuh sebagai tubuh ku.


Kebetulan sekali dikamar ini di sediakan sebuah kamar mandi, sehingga aku bisa mendapatkan air untuk membasuh diri dan kemudian memulai menunaikan kewajiban.


Seusainya, aku memeriksa lemari tempat dimana barang-barang kecil ku disimpan termasuk jam radar milikku. Aku melihat waktu yang sudah menunjukkan pukul enam pagi.


Tak lama kemudian Syira terbangun, melihat aku yang sedang duduk di ranjang Syira pun menghampiri ku dan menanyakan keadaan ku.

__ADS_1


“Yudha-sama bagaimana kondisimu? Apa kau sudah merasa baikkan?” ucap syira dengan khawatir.


“Aku sudah lebih baik dari sebelumnya!" jawabku.


"Ah Syukurlah!" jawab Syira.


Syira kemudian memeluk lenganku dengan sengaja. Aku memperhatikan luka bakar Syira yang dibalut dengan kain perban. Terlihat kalau luka yang dia terima pasti masih sangat sakit.


"Bagaimana dengan luka mu itu?"


"Ehh ini, emm aku masih merasa nyeri. Tapi sudah lebih baik. Andai aku bisa menggunakan sihir penyembuhan, mungkin sekarang kita sudah sembuh!"


"Sihir penyembuhan? Jadi, ada sihir seperti itu?"


"Ada Yudha-sama! Kalau tidak salah aku dulu bisa menggunakannya."


"Sejauh mana kau sudah mengingat masa lalu mu?"


"Entahlah, aku hanya ingat bagian-bagian penguasaan kemampuan saja! Mungkin jika nanti aku sudah menjadi budakmu, aku bisa mengingat hal yang lebih banyak lagi." jelas Syira.


"Apakah harus seperti itu? Kau tidak perlu menjadi budak ku!"


"Aku tidak keberatan Yudha-sama, selama itu baik untuk mu dan untuk ku."


"Kalau begitu tidak ada pilihan selain ke pasar budak untuk menanamkan segel kontrak baru."


Aku lalu berdiri dan melepaskan pelukan Syira.


"Kau mau kemana Yudha-sama?"


"Aku mau keluar sebentar!"


Ditengah pembicaraan, aku mendengar ada derap kaki di luar pintu kamar. Kemudian...


'TOK TOK TOK TOK'


"Pagi Yudha, Syira! Apa kalian ada di kamar?"


"Tunggu Yudha-sama, biar aku saja!"


Syira kemudian membuka pintu kamar. Terlihat Sanaya datang dengan dua orang prajurit wanita yang membawa senjata dan peralatan ku. Sanaya juga telah mengenakan baju armor miliknya.


“Selamat pagi, ini peralatan kalian.” kata Sanaya.


“Oh iya terimakasih!” jawabku sambil mengambil dan mengecek isi tas ku.


“Ayo segera kebawah, kita akan makan pagi bersama!” tawar Sanaya.


"Ah, baiklah! Tunggu apa kau tidak makan dengan Sang Raja?"


"Uhuhum!" Sanaya hanya tertawa kecil menanggapi pertanyaan ku.


"Hee apa yang lucu?" balasku karena bingung melihat ekspresi Sanaya.


"Aku bukan anak kecil lagi Yudha-kun!"


Aku bingung kenapa Syira dan Sanaya memanggil ku dengan sebutan akhiran Jepang? Mendengar cara bicara mereka mirip logat Jepang, jadi mungkin cara bicara mereka hampir sama dengan Jepang.


"Ayo Yudha-sama!" sembari Syira menarik lengan ku.


"Ah, hey jangan terburu-buru Syira!"


****


Singkat cerita kami sudah sampai di ruang makan yang cukup luas. Di meja juga sudah disiapkan hidangan dan kudapan yang banyak.


Kamipun duduk bersama dan mulai menyantap makanan yang disediakan. Aku lantas berdoa sebelum makan mengikuti ajaran keyakinan ku, akan tetapi Sanaya justru bingung melihat cara ku berdoa.


"Kau sedang apa Yudha-kun?"


Syira pun menjelaskan apa yang sedang aku lakukan.


"Yudha-sama sedang berdoa mengikuti ajaran keyakinannya Nona Sanaya."

__ADS_1


"Oh, cara berdoa mu unik sekali ya. Aku baru melihat berdoa dengan cara menadahkan tangan seperti itu!"


"Amin!" ucapku.


"Yah begitulah!!" kembali pungkas ku setelah berdoa.


"Baiklah ayo mari makan!" kata Sanaya.


Karena aku tidak yakin dengan makanan yang aku makan ini halal atau tidak. Aku menanyakan daging apa sebenarnya yang di masak itu.


Sebenarnya bukanlah masalah bagiku memakan apapun, mengingat beberapa waktu lalu aku sempat menyantap seekor ular.


Tapi keadaan sekarang berbeda, kalau kemarin aku memakannya untuk tujuan bertahan hidup di hutan, maka boleh saja aku memakan ular karena alasan itu.


Sekarang aku tidak sedang tidak bertahan hidup, jadi aku harus memperhatikan makanan yang haram atau halal bagiku.


"Maaf jika menyela waktu sebentar! Boleh aku tahu ini daging apa?" tanya ku.


"Ada apa Yudha-kun? Kenapa, kau tidak suka makan daging?"


"Bukan soal itu! Sebenarnya keyakinan yang aku anut melarang memakan daging dari hewan yang memiliki taring dan juga babi. Jadi ini soal keyakinan dan kepercayaan yang aku anut. Maaf jika aku membawa soal agama disini."


"Oh itu ya... Negeri kami tidak melarang warganya untuk memeluk agama manapun, selama agama itu tidak mendoktrin umatnya aneh-aneh.


Aku sangat menghormatinya, apalagi aku juga seorang Pahlawan yang ditakdirkan Tuhan untuk menumpas ketidakadilan.


Prihal makanan yang kita santap ini bukanlah sesuatu yang akan membawa kemudaratan kok. Tenang saja aman dimakan!" kata Sanaya menjelaskan.


"Iya aku tahu itu. Aku sudah melihat beberapa bangunan yang mirip tempat Ibadah sebelumnya. Jadi intinya daging apa ini?" balasku.


"Memang kenapa? Kau takut diracuni?" kata Sanaya lagi.


"Ya ampun bukan maksudku begitu!"


"Kalau begitu tinggal makan saja kan?"


"Ano begini Nona Sanaya! Yudha-sama tidak biasa memakan daging selain daging sapi dan kambing." Syira mencoba menjelaskan, takut suasana menjadi kisruh hanya persoalan makanan.


"Oh itu toh! Em pelayan bisa kau jelaskan padanya!" kata Sanaya.


Salah seorang pramusaji pria menjelaskan makan yang di sajikan dihadapan kami secara rinci.


"Baiklah izinkan hamba menjelaskan! Daging yang kami gunakan adalah daging sapi Wagyu A5 pilihan kualitas premium. Kami juga sudah memenuhi standar pemotongan sapi terbaik di negeri ini, Koki yang memasaknya juga bukan Koki sembarangan dia adalah Koki nomor satu di Kerajaan Elceria. Jangan khawatir jika daging yang kami sajikan tidak layak dimakan." pungkasnya.


Pramusaji ini cukup handal menjelaskannya. Syukurlah bukan daging babi atau daging monster. Jadi aku bisa memakannya dan menikmatinya dengan tenang.


"Baiklah terimakasih atas penjelasannya mu. Maaf aku sempat berburuk sangka! Aha aha ha ha!"


"Tidak apa Yudha-kun, aku menghormati keyakinan mu itu. Hal itu sepertinya wajar terjadi di dunia mu." kata Sanaya memaklumi tindakan ku yang mungkin di nilai tidak sopan.


"Ya begitulah."


"Baiklah ayo mulai makan!" ujar Sanaya.


Sesuai menyantap hidangan, aku mulai menagih janji dari sang Putri.


"Uhemm!! Aku harap kau tidak lupa Tuan Putri!" kataku.


"Apa?..." balas Sanaya.


"Anu.. mungkin pembicaraan tadi malam tuan putri!" kata Syira.


"Oh, iya tentu saja! Baiklah kita bicara serius sekarang. Sebenarnya-"


"Putri Sanaya permisi! Raja memanggil anda beserta tuan delegasi."


Baru saja Sanaya mau bicara, tiba-tiba seorang Prajurit wanita datang disaat yang tidak tepat. Jujur itu sangat menyebalkan.


Bersambung...


(Chapter berikutnya "Raja")


Follow juga Instagram author untuk mendapatkan informasi update dan perkembangan novel ini di @sapta_yudha.author

__ADS_1


__ADS_2