
The Rising Of The Lord Hero
> Chapter 46 "Gurun Hera"
Di keesokan harinya di pekarangan rumah, kami bertiga akan segera berangkat menuju T'hearus. Edna-san bilang, jarak antara Elceria dan T'hearus akan memakan waktu tempuh sekitar enam hari jika melalui udara. Sebelum berangkat kami sempat mengobrol dahulu dengan Eila-san.
"Eila-san, terimakasih atas semua bantuan mu." kata ku.
"Eh tidak, justru aku lah yang seharusnya berterimakasih. Tanpa pertolongan mu pada waktu itu, mungkin aku dan janin ku tak akan hidup lagi. Semua yang aku lakukan ini masih kurang dari kata cukup untuk membalas kalian." balas Eila-san.
"Tak perlu sungkan Eila-san, itu memang sudah kewajiban kami untuk menolong mu. Anda juga sudah mau menampung kami itu sudah lebih dari cukup." kata Faisya.
Edna-san hanya memperhatikan tanpa berkata apa-apa dan hanya tersenyum tipis.
"Tidak, semua itu masih kurang untuk ku. Sebelum kalian berangkat, aku mau memberikan sesuatu kepada kalian."
"Sepertinya tidak usah Eila-san!" tolak ku.
"Tidak apa-apa, ini sesuatu yang mungkin akan berguna untuk kalian. Sebentar ya..."
Eila-san mengambil sesuatu dari saku celananya. Dikeluarkannya sebuah kotak kecil yang mungkin terdapat sebuah benda didalamnya.
"Ini dia, benda ini akan sangat berguna untuk kalian jika kalian berdua terpisah."
Saat kotak kecil itu dibuka ternyata terdapat sepasang cincin artefak.
"Tunggu Eila-san, bukankah itu cincin pernikahan mu dengan mendiang suami anda?!" kata Faisya.
"Apa-apaan ini, bukankah itu mustika naga?" kata Edna-san yang tiba-tiba menaikkan intonasi suaranya.
Eila-san tampak panik setelah melihat Edna-san tampak murka. Wajar jika Edna-san marah, karena untuk mendapatkan batu mustika naga, harus membunuh naga tersebut.
Edna-san sendiri, juga memiliki mustika naga didalam tubuhnya. Pada dasarnya bukan hanya naga saja yang memiliki mustika tersebut, melainkan seluruh makhluk yang masuk kategori monster, juga akan memiliki mustika tersebut.
Mustika itulah yang inti kekuatan dan skill yang dimiliki oleh para makhluk yang telah berevolusi menjadi monster.
(Monster disini masuk kedalam kategori siluman. Mereka berwujud layaknya hewan dan tumbuhan, tapi karena mereka bertahan hidup dengan umur yang panjang, membuat makhluk hidup tersebut berevolusi menjadi monster/siluman.)
Bagi Edna-san, merebut mustika naga adalah bentuk penghinaan terhadap kaumnya.
"Darimana kau mendapatkan mustika itu?" kata Edna-san dengan nada melengking.
"Se-sebenarnya, cincin ini pemberian dari suami ku. Aku juga tidak tahu, kenapa dia memiliki benda ini. Kemungkinan dia pernah membunuh seekor naga dan lalu mengambil mustikanya."
"Kalau begitu dia memang pantas untuk mati. Baiklah aku tidak akan mempermasalahkan hal ini, karena dia memang sudah mati. Nah Zef-kun, kau ambil saja artefak itu siapa tahu berguna untuk mu dan Faisya." kata Edna-san.
Eila-san menarik nafas lega.
"Apa benar tidak apa-apa?"
"Aku tidak mempermasalahkannya selama kau tidak menunjukkan benda itu kepada naga lainnya. Jika kau ketahuan menggunakan benda itu dihadapan kaum ku, kemungkinan kau akan diserang. Jadi berhati-hatilah." kata Edna-san.
"Tapi ini kan, cincin pernikahan."
"Tidak apa Zef-kun, aku sudah mengikhlaskannya. Lagipula benda ini sudah tidak berguna untuk ku. Kau bisa mempergunakan jika salah satu dari kalian dalam masalah."
"Baiklah aku terima!"
Tanpa banyak basa-basi, aku memasangkan cincin yang lebih besar ke jari manis ku dan cincin yang satu lagi, aku berikan kepada Faisya. Aku lantas menyuruh Faisya untuk memasang cincinnya sendiri, agar tidak ada kesalahpahaman disini.
****
"Henshin!"
Edna-san, kemudian berubah menjadi seekor naga langit. Tubuhnya tampak bercahaya sebelum akhirnya ada sebuah asap yang mengepul di sekitar area kami.
Eila-san dan Faisya, mengangkat alisnya menyaksikan sebuah pemandangan yang sangat jarang disaksikan. Apalagi menyaksikan seseorang yang berubah menjadi seekor naga.
"BAIKLAH TUNGGU APALAGI, AYO CEPAT KALIAN BERDUA NAIKLAH!"
"Hee~ Kenapa dengan suara mu Edna-san?" kata Faisya terkejut.
"BEGINILAH SUARA ASLIKU! AKU TAHU INI SANGAT MEMALUKAN. TAPI TOLONG JANGAN TERLALU MEMBAHASNYA. RAS NAGA MEMANG SEPERTI INI, JADI HAL INI SUDAH BIASA BAGI KAMI!" kata Edna-san dengan malu-malu.
"Hee~ apa-apan dia ini. Tingkahnya membuat ku mual." gumamku.
"Oh baiklah Edna-san, maaf telah menyinggung mu!" kata Faisya.
Kami pun menaiki punggung Edna-san, lalu bersiap untuk segera pergi.
"BERSIAPLAH DAN BERPEGANGAN YANG ERAT."
"Ah baiklah!"
__ADS_1
'WOSSHH WOSSHH WOSSH'
Edna-san mulai mengepakan sayapnya lalu kami pun terbang di udara. Faisya berpamitan kepada Eila-san.
"Selamat tinggal Eila-san, jaga dirimu baik-baik ya." kata Faisya.
"Ya, aku harap kita bisa bertemu lagi ya. Jangan lupa mampir lagi kemari." jawab Eila-san dengan melambaikan tangannya.
"Baiklah! Daaah!" sembari Faisya melambaikan tangannya.
Kamipun mulai menjauhi tempat tinggal Eila-san dan secara berangsur-angsur bukit Turas mulai menjauh.
****
"SEPERTINYA KITA SUDAH SAMPAI DI PERBATASAN! DI DEPAN SANA ADALAH GURUN HERA, JADI BERSIAPLAH."
Aku melihat daratan sekitar, pemandangan dari atas memanglah indah. Aku melihat daratan dipenuhi oleh pepohonan sehingga tampak seperti rumput kecil dari atas sini.
Faisya juga sudah beradaptasi dengan baik. Aku kira dia akan takut dengan ketinggian seperti ku, tapi nyatanya tidak. Dia justru menikmati perjalanannya.
Saat ini kami sedang melintasi pegunungan Valno yang dimana terdapat Lembah Naga didalamnya. Dari kejauhan tampak sebuah daerah berpasir dan terlihat gersang dari sini.
Beberapa saat kemudian, kami telah melewati perbatasan dan mulai memasuki gurun pasir yang gersang.
Benar yang dikatakan Feniks, aku melihat beberapa Monster Alfa sedang bertarung memperebutkan wilayah. Dari sini aku dapat menyimpulkan kedua Monster itu satu tingkatan dengan Petualang Bergelar.
Sayang sekali, aku belum tahu apa peringkat ku. Aku bahkan sama sekali belum terdaftar di guild manapun. Bagaimana tidak, aku tidak sempat melakukan hal itu karena masalah ku. Andai aku tahu peringkat petualang ku, mungkin aku bisa memperkirakan bahwa aku bisa saja melawan monster-monster itu.
****
'GLUK GLUK AHHH'
"Kakak, panas sekali! Aku haus apa airnya masih ada?"
"Tentu ini, jangan minum terlalu banyak kita harus berhemat air." kata ku.
Aku memberikan botol air minum yang barusan juga ku minum pada Faisya. Dia pun langsung meminumnya.
"Haah~ panas sekali! Bagaimana mungkin kita bisa melewati gurun ini sedangkan lewat jalur udara saja masih terasa panas. Edna-san, apa kau tidak kelelahan?" tanya ku.
"OHO HO HO HO"
"iyak.. jangan tertawa seperti itu. Kau malah terdengar menggelikan dengan suara jantan mu."
"APA KATA MU? APA KAU MAU KU BALIK?!
"Tidak-tidak, oh ayolah kami bisa jatuh! Aku hanya bercanda~ uwaaa!"
"Kakak hentikan candaan mu itu! Kita bisa jatuh karena Edna-san tersinggung." omel Faisya.
"Iya iya maaf!"
"AHA HA HA HA, TENANGLAH TAK USAH PANIK! AKU JUGA HANYA BERCANDA. SEBENARNYA AKU BELUM MERASAKAN LELAH. AKU MASIH BISA TERBANG LEBIH JAUH LAGI"
Dua jam kemudian~
"AHH... APA TIDAK ADA TEMPAT UNTUK BERISTIRAHAT SEBENTAR. MATAHARI BEGITU TERIK... AHH! KULIT INDAH KU BISA TERBAKAR KALAU BEGINI"
Aku dan Faisya mematung seketika melihat kekonyolan Edna-san.
"He • • • • Heee!?"
"Tadi kau bilang masih bisa terbang lebih jauh?" kata ku.
"YA ITU KALAU DI TEMPAT YANG LEBIH SEJUK. KALAU DI GURUN AKU TIDAK MENGIRA AKAN BEGINI."
"Kakak, Edna-san lihatlah, sepertinya disana ada tempat yang cocok untuk beristirahat!" kata Faisya menunjuk ke arah selatan.
"OH AKHIRNYA ADA OASIS! SEPERTINYA TUHAN BERPIHAK PADA KITA. BAIKLAH AYO KESANA! AIR AKU INGIN AIR!!" kata Edna-san sembari menambahkan kecepatannya.
""Huaaaa~""
Kami pun semakin mendekati oasis tersebut. Tak lama kemudian Edna-san langsung mendarat. Tempatnya agak luas dengan sebuah kolam disini. Terdapat pula beberapa pohon kurma yang tengah berbuah.
Tempat ini juga dihuni beberapa hewan seperti Kadal Gurun, Ular Derik dan burung. Tak ada siapapun di tempat ini, benar-benar sepi tak berpenghuni dan hanya terdapat kami bertiga.
Memang siang hari ini cukup terik dan panas sekali, memaksa kami harus beristirahat. Edna-san yang masih berwujud naga langsung terjun ke kolam untuk menyejukkan tubuhnya.
"AIR AKU DATANG!!"
'DEBUAARRSS'
"AHH!! NIKMAT TUHAN MANAKAH YANG KAU DUSTAKAN."
__ADS_1
"Oi pelan-pelan, kau membasahi kami tahu!" omel ku.
Seketika muncul sebuah cahaya dari tubuh Edna-san, menandakan dia kembali ke wujud manusianya. Aku mengangkat alisku, Edna-san berubah kedalam bentuk manusia tanpa berpakaian, membuat auratnya terlihat kemana-mana.
Karena aku tak mau melihatnya, aku lantas memejamkan mataku.
"Habisnya aku sudah tidak tahan dengan panas ini. Kau mau bergabung dengan ku manis?"
"Tidak terimakasih! Sial, mana baju yang kau pakai tadi. Apa kau lupa ada lelaki disini?" kata ku sambil terpejam.
"Ara~ kau begitu naif Zef-kun, bilang saja kau suka! Oho ho ho ho!"
"Diamlah!!"
"Tapi kau kan naga? Kenapa kepanasan?" tanya Faisya keheranan.
"Faisya-chan, naga itu juga perlu menyegarkan badan. Kami memang diciptakan untuk tahan dari api, tapi tidak diciptakan untuk bisa menahan hawa panas darinya. Kau paham kan?"
"Oh begitu rupanya, iya tampak masuk akal"
"Nee~ Zef-kun, sampai kapan kau akan memejamkan mata mu haa?"
"Berisik! Faisya ayo pergi ketempat lain, dia memang tidak waras."
"Tunggu kakak!"
"Hey, apa kau bilang? Kau mengatai ku gila ya!"
"Tentu saja! Mana ada orang waras yang telanjang seperti mu."
"Awas kau yaa~ Humph!"
****
Malam pun tiba, waktu dimana kami mulai beristirahat. Saat Aku dan Faisya tengah menjalankan kewajiban, Edna-san sedang memasak ikan yang tadi siang baru dia tangkap.
Aku tidak mengira kolam itu juga terdapat ikan didalamnya, sehingga kami malam ini bisa menghemat persediaan dengan memakan ikan-ikan itu. Setelah selesai menjalankan kewajiban, aku dan Faisya segera menuju tempat Edna-san berada.
"Jadi kalian sudah selesai dengan urusan itu. Ayo mari makan mumpung masih hangat!" tawar Edna-san.
"Wah terimakasih Edna-san!" jawab Faisya
"Kau kenapa Zef-kun? Mau aku suapi!?"
"Ah tidak terimakasih, aku bisa makan sendiri!"
"Ara~Ara, hati mu memang keras ya Zef-kun! Ingat satu hal ya Zef-kun, kalau kau bersifat seperti itu ke wanita. Kau akan sulit mendapatkan jodoh."
"Masa Bodoh! Kau pikir aku ini siapa? Aku tahu dengan cara ku sendiri." kata ku ketus.
Sebenarnya Edna-san adalah sosok yang cantik dan baik. Tapi karena sifat penggodanya itu yang membuatku tidak suka padanya. Setelah makan malam, kami pun mulai beristirahat.
****
'KRESEK KRESEK KRESEK'
Di saat kami sedang terlelap, aku mendengar ada suara mencurigakan. Sontak saja aku terbangun dari tidurku. Bukan hanya aku saja, tapi Edna-san juga terbangun karena instingnya.
"Hati-hati Zef-kun, tampaknya ada sekawanan Monster disini. Bersiaplah!"
"Ah, aku juga merasakannya!"
Karena merasakan ada bahaya dan aku tak mau Faisya kenapa-napa. Aku langsung membangunkannya.
"Ada apa kak-"
"Sitt! Diamlah!"
Seketika Faisya terdiam, mengerti dengan kondisi kami sekarang, dan tiba-tiba Edna-san berteriak.
"Awas!"
Bersambung...
(Chapter berikutnya "Munafik")
Note :
Jangan lupa Spam likenya ya Brand, agar Senpai On fire🔥
Mampir juga ke Audiobook terbaru Senpai Ya dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, coment dan Votenya terimakasih.
- My Free Life In Another World
__ADS_1
- Reinkarnasi : Kembali ke tahun milenium.
Follow juga Instagram author untuk mendapatkan informasi update dan perkembangan novel ini di @sapta_yudha.author