The Rising Of The Lord Hero (1)

The Rising Of The Lord Hero (1)
Chapter 29 "Pembuktian"


__ADS_3

Aku mengalami luka gores di pipi, luka tebasan di bagian pundak dan pinggang membuatku sedikit meringis kesakitan.


Padahal sebelumnya bertarung aku sudah melakukan ritual khusus untuk membuat kulit ku setebal baja.


Ilmu Aji Kungkum yang aku kuasai ternyata masih belum cukup menahan serangan dengan mengandalkan sihir itu.


Ilmu Aji Kungkum, sejatinya hanya perlu sepuluh lingkaran tenaga dalam untuk menjadikan tubuh kebal dari senjata tajam.


Sebenarnya aku enggan sekali menggunakan kesakitan ku, akan tetapi sekarang situasinya berbeda. Aku berada di Isekai yang dimana banyak orang yang menggunakan sihir.


Tubuh ku terluka dan mengalami pendarahan pada bagian yang ku maksud sebelumnya. Aku berinisiatif mengalirkan tenaga dalam ku ke luka-luka ku agar menghentikan pendarahannya.


Sepertinya aku harus menambahkan tenaga dalam untuk memperkuat Ilmu itu, akan tetapi pasti akan menguras banyak tenaga dalam, sedangkan aku hanya punya 25 lingkaran tenaga dalam saja.


Aku setidaknya butuh 30-40 lingkaran tenaga dalam lagi, agar bisa menggunakan teknik silat lainnya.


Aku hanya heran, padahal saat latihan waktu dulu aku sudah biasa di tebas dengan benda tajam.


Di pukul dengan hammer dan dilindas tank Leopard pun sudah aku jalani. Baru kali ini aku merasakan luka terkena sabetan senjata tajam.


Mungkin senjata milik Brengsek adalah pedang pusaka itulah mengapa aku dapat terluka. Ternyata di dunia ini ada hal semacam itu juga.


Dengan kekuatan itu Brengsek pasti akan menguras habis energi Ayna dan tenaga dalam miliknya. Pastinya akan memberikan aku kesempatan untuk kembali menyerang.


Agar aku terhindar dari resiko luka lagi aku berinisiatif untuk mengulur waktu dan sebisa mungkin menghindari setiap serangan yang dilancarkannya. Aku yakin kekuatan Fury yang dimaksud itu pasti memiliki batas waktu pemakaian.


Benar saja setelah lama aku mengulur waktu, aura emas itu mulai memudar dan nafas Brengsek menjadi teringal-ingal.


Melihat beberapa celah yang terbuka aku berhasil memanfaatkan itu dengan membalas serangan dan kembali ke posisi menyerang.


Aura yang dipancarkan itu akhirnya berangsur-angsur menghilang dan membuat penggunanya menjadi kelelahan.


"Apa kau sudah sampai batasnya?!"


"DIAM KAU!"


Aku menusuk bagian dada Brengsek namun ia berhasil menghindar dengan melompat cukup jauh kebelakang.


Akan tetapi serangan itu sempat mengenai baju jirah miliknya hingga menimbulkan dentingan keras saat bersamaan dia melompat.


'TING!!'


Munculah retakan kecil di baju jirah milik Zef sehingga membuat Brengsek mengerutkan keningnya. Si Brengsek sepertinya mulai sadar jika aku menggunakan pedang yang tidak biasa.


Bahkan penonton yang melihat kejadian itu juga merasa heran. Timbul pertanyaan di benak mereka, bagaimana bisa pedang yang punya tampilan seperti pedang prajurit biasa dapat bertahan dan membuat jirah Brengsek itu retak?


Sanaya yang menyaksikan itu hanya tersenyum lebar. Lalu kembali terjadi jeda sejenak di pertarungan kami.


"Apa?! Bagaimana bisa besi murahan itu dapat membuat jirah berharga ku retak?! K-kau, sebenarnya pedang sihir apa yang kau gunakan? Jelas itu bukan pedang biasa!"

__ADS_1


"Kalau iya memang kenapa? Kau mempersalahkannya?" sambil ku tertawa kecil.


"Ternyata hanya tampilannya saja yang buruk tapi didalam pedang itu ada kekuatan besar. Aku tidak menyangka pedang itu berhasil membuat jirah terkuat ku menjadi retak."


"Aku tahu bahan komposit apa yang terbuat di jirah mu itu. Wolfram bukan! Tentunya pedang dengan bahan besi biasa takkan mampu meretakkan baja itu. Tapi aku punya pengecualian dengan ini."


Aku kemudian menancapkan pedang biasa itu ke tanah dan berdiri tegak dengan tumpuannya.


Pedang yang kugunakan untuk bertumpu secara berangsur bertransformasi menjadi pedang Pahlawan. Sekali lagi bentuk transformasinya sangat mirip dengan yang ada di film Transformers dan sangat keren menurut ku.


Sekarang penampilan pose ku sudah mirip dengan Optimus Prime.


Ketika pedang itu kembali ke wujud aslinya, semua yang menonton kejadian itu mengangkat alisnya, terkecuali Sanaya yang tersenyum lebar karena dia sudah tahu rencana yang aku rangkai sebelumnya.


"I-itu!! Ba-bagaimana kau bisa membawa pedang Sanaya dengan semudah itu?!"


"Kenapa? gak suka." ucaku ke bahasa Indonesia sambil ku menyeringai.


"Bicara apa kau haaaa?!"


"Tidak ada! Aku hanya mengucapkan bahasa dari dunia ku."


"Ja-jangan bilang kau memang Lord Hero sebenarnya!"


"Hemm!" Aku hanya membalasnya dengan senyuman lebar sambil memejamkan mata.


Raja yang merasa tidak terima pun tak tinggal diam dan langsung angkat bicara.


"I-itu tidak mungkin. Pedang itu pasti pedang palsu! Azrael jangan terkecoh oleh-"


"Apa anda tidak mengenali pedang yang pernah menemani anda selama puluhan tahun, sehingga berucap demikian?"


Aku memotong Raja berbicara dan membalasnya dengan lantang. Kesabaran ku sudah mencapai puncaknya dan aku tidak terima, Raja terlalu ikut campur pertarungan ini sehingga berat sebelah.


Raja yang mendengar itu tersedak ludah sendiri dan mengerutkan dahinya. Ia tak terima aku bicara seperti itu. Semua yang mendengar ku berucap demi kian wajahnya menjadi kusut.


"Lancang! Beraninya kau bicara seperti itu di depan ku. Kau pantas dihukum mati! Azrael eksekusi dia di arena! Jangan biarkan dia selamat."


Sanaya yang melihat itu juga tidak tinggal diam, dia langsung berdiri dari tempat duduknya.


Aku paham betul jika seseorang terang-terangan menghina atau mencemooh Raja didepannya langsung itu berarti hukuman mati.


Aku sudah sering melihat kejadian ini di film maupun Anime. Oleh sebabnya Raja sampah itu berkata demikian.


"Tahan sebentar!!! Ayah!!! Apakah ayah masih menyangkal kalau Yudha-kun itu Lord Hero?! Ia sudah membuktikannya pada kita semua yang menyaksikan. Aku jamin pedang yang digunakannya adalah asli dan aku sendiri yang meminjamkannya! Kenapa kau malah ingin mengeksekusinya!!" Sanaya bicara dengan lantang.


Raja yang mendengar itu hanya terdiam dan menelan ludahnya. Ia masih tak terima dengan perkataan ku barusan.


Raja kemudian angkat bicara dan masih tidak percaya dengan perkataan putrinya.

__ADS_1


"Tapi, bukankah pedang yang tersarung di pinggul mu itu adalah yang asli?" Raja menunjukan pedang palsu yang ada di pinggul Sanaya.


Raja mengira itu adalah pedang yang asli, padahal pedang yang asli sedang aku gunakan.


Melihat Ayah dan Putrinya saling berdebat, aku dan Brengsek hanya saling berpandangan. Kemudian menyaksikan perdebatan mereka.


"Ayah!! Apa ayah sudah mulai pikun? Mungkin itu karena ayah terlalu banyak begadang karena pekerjaan mu yang tak kunjung selesai. Sehingga membuat ingatan mu menjadi buyar. Apa ayah lupa kalau kalau pedang itu bisa membuat clone dengan skillnya?"


Mendengar itu Raja mengerutkan dahinya, tak menyangka jika putrinya akan mengatakan itu.


Dia lupa jika pedang yang pernah menemaninya itu punya kemampuan tersebut.


Raja hanya membisu mendengar ucapan itu. Dia berusaha memutar otaknya agar bisa menyangka hal tersebut.


"Cih! Kalaupun pedang itu asli, belum tentu pemuda itu bisa mengeluarkan kekuatan sejatinya."


Aku dan Sanaya yang mendengar itu hanya menepuk jidat. Raja mungkin ada benarnya, sebenarnya aku sudah di ajari oleh Sanaya cara menggunakan skill pedang ini dua hari lalu.


Jadi tentu saja aku sudah paham meskipun masih kurang menguasainya. Tapi setidaknya aku bisa menyentuh pedang yang hanya bisa di sentuh oleh Pahlawan Pedang saja. Hal ini sudah nembuktikan bahwa aku adalah Lord Hero.


"Azrael! Aku perintahkan kau mengalahkannya dengan kekuatan penuh!"


Setelah menyaksikan sendiri dengan mata dan telinganya. Kepercayaan diri Brengsek menjadi turun, sekarang ia tak yakin akan dapat memenangkan pertandingan ini.


Bahkan semangat bertarungnya pun kini menipis ketika mengetahui aku memegang pedang pusaka legendaris milik Pahlawan Pedang.


Seakan dia memilih untuk menyerah, daripada harus meneruskan pertarungan yang jelas siapa yang akan jadi pemenangnya.


"Mohon ampuni hamba paduka! Tapi bukankah ini terlalu berlebihan. Dia berha-"


Belum selesai bicara Raja memotong Brengsek bicara.


"Apa kau tak ingin menjadi mantu ku haaa? Apa kau tak ingin tahta ku? Menyerah sebelum kalah dalam perang adalah hal paling menghinakan bagi seorang kesatria. Jika kau ingin mengatakan kau tak sanggup melawannya, maka jangan berharap mendapatkan apapun dari usaha mu itu."


"Pahlawan Perisai menyerang!!!!!!!!" teriak salah satu Penjaga.


Aku dan semua orang yang mendengarnya mengerutkan dahi. Tak menduga ada hal mengejutkan di tengah situasi ini.


POV Zef


"Akan ku hancurkan semua yang telah merenggut semua hal yang berharga dalam hidupku!!


Kubalaskan dendam pada mereka yang telah menginjak harkat dan martabat ku. Bunuh... Bunuh... Bunuh!"


Bersambung...


(Chapter berikutnya "Pembalasan")


Follow juga Instagram author untuk mendapatkan informasi update dan perkembangan novel ini di @sapta_yudha.author

__ADS_1


__ADS_2