The Rising Of The Lord Hero (1)

The Rising Of The Lord Hero (1)
Epilog Dokumentasi


__ADS_3

"Hallo, tes tes satu, dua, tes.. Oke kayaknya kameranya udah nyala. Oke sekarang aku akan mendokumentasikan kegiatan ku di Isekai." kataku yang sedang menyetel kamera drone.


Aku menggunakan kamera drone untuk merekam video dokumentasi tentang dunia ini. Agar nantinya saat aku kembali, aku punya bukti bahwa aku memang berada di Isekai.


"Yudha-sama anda sedang apa?"


Barusan tadi adalah suara merdu Syira yang baru saja selesai membaca buku yang kami beli dari seorang kakek tua pengelana dari benua timur.


"Eh, aku sedang membuat laporan untuk ku dokumentasikan."


"Laporan untuk apa?"


"Ya siapa tahu nanti berguna kan, ketika aku pulang nanti."


"Oh, begitu ya... baiklah maaf aku mengganggu."


****


Oke baiklah, aku akan mendokumentasikan hal-hal yang telah aku lalui di dunia lain ini. Kultur dunia ini mirip dengan abad pertengahan benua Eropa di kehidupan sebelumnya, di mana feodalisme dan perbudakan hidup berdampingan.


Hari pertama ku datang, mulanya aku dikejutkan dengan sambaran petir yang menyambar ku ketika sedang terjun bebas di udara.


Pada waktu itu aku sempat berpindah ketempat yang amat gelap dan sepi sebelum akhirnya aku melihat sebuah pintu cahaya didepan ku. Karena penasaran aku memasuki pintu itu.


Tanpa sadar aku berpindah dimensi lagi dan kembali terbang melayang di udara. Aku kemudian landing disalah satu hutan larangan yang bernama Fluoran Florest. Di hutan itu juga banyak terdapat makhluk-mahkluk buas didalamnya.


Aku sempat berulang kali berhadapan dengan para dinosaurus yang selalu mencoba menyerang ku.


Setelah lama aku mengarungi hutan, aku melihat sebuah bangunan yang dimana ada sekumpulan bandit yang sedang berpesta miras disana. Mereka juga tengah menawan seorang gadis kecil.


Gadis itu tak lain adalah Syira, seorang gadis yang selalu bersama ku dalam berpergian. Ketika mereka mau memperkosa Syira, aku datang untuk menyelamatkannya dari kumpulan bandit itu.


Sempat terjadi baku hantam diantara aku dan para bandit-bandit itu. Pada akhirnya aku berhasil melumpuhkan para bandit itu hingga mereka pingsan dan aku pun berhasil menyelamatkan Syira. Walaupun pada akhirnya Syira juga ikutan pingsan di dekapan ku.


Aku lantas menyekap para perampok itu dan ketika mereka siuman, aku mengintrogasi mereka sehingga mereka tidak berani macam-macam lagi.


Aku kemudian meminta mereka untuk menyerahkan barang-barang yang telah mereka rampok. Karena mereka tak mau mati, akhirnya mereka mau menuruti keinginan ku.


Secara suka rela para penyamun itu menyerahkan barang-barangnya. Aku lalu memberikan sedikit imbalan pada mereka karena telah mau membantu ku mengangkut barang-barang rampasan itu kedalam pedati.


Setelah aku memberikan imbalan ke para perampok itu, aku lantas pergi dari lokasi mereka. Setelah jarak ku dari tempat mereka jauh, aku langsung mengaktifkan Bom C4 yang ku berikan sebagai imbalan tadi.


Aku yakin sekali takkan ada yang bisa selamat dari ledakan itu. Pada malam harinya aku kembali memeriksa kondisi Syira yang tengah sakit. Aku merawatnya dan tak lama setelah aku merawatnya dia siuman.


Syira malah menampar ku begitu saja karena mengetahui bajunya baru saja aku ganti.


Pada waktu itu aku mengira bahwa Syira masihlah seorang anak-anak. Tapi setelah dia mengatakan kalau dia seorang gadis remaja berumur tujuh belas tahun, aku terkejut bukan main.


Memang mulanya aku menjelaskan keadaan dan kondisi ku padanya agar dia juga memahami situasi ku. Tapi agak sulit meyakinkan dia, setelah aku benar-benar menyakinkan Syira, diapun akhirnya percaya.


Aku meminta Syira untuk menceritakan tentang kejadian yang telah dia alami. Banyak hal yang telah menimpa dirinya sebelum aku datang ke dunia ini.


Dari disiksa sebagai budak hingga diperjualbelikan. Syira akhirnya dibeli oleh seorang Juragan Leonard ketika dia menuju perjalanan pulang.


Juragan Leonard dan Syira dihadang oleh sekumpulan bandit tadi. Juragan Leonard kabur meninggalkan Syira, sedangkan Syira diculik oleh mereka.


Setelah menceritakan semua yang telah menimpa dirinya. Syira menangis di pelukan ku. aku pun menenangkannya sampai dia tertidur.


Keesokan harinya, aku kembali melanjutkan perjalanan, sebelum akhirnya aku kembali berhadapan dengan seekor T-rex berukuran besar. Aku lalu bertarung dengan makhluk itu dengan cerdik dan melumpuhkannya dengan menembak kepalanya menggunakan Sniper.


Setelah selesai, aku kembali melanjutkan perjalanan. Ditengah perjalanan aku bertemu dengan Juragan Leonard yang sedang pingsan.


Aku lalu menolongnya dengan memberikan air dan makanan sehingga dia bangun dari pingsannya. Beberapa lama dia telah siuman, aku meminta dirinya untuk menjelaskan mengapa dia membeli Syira.


Dia menjawabnya kalau sebenarnya dia tak sengaja bertemu dengan Syira di pelelangan budak. Karena merasa kasihan Juragan Leonard membeli Syira dengan harga fantastis.


Dia membeli Syira juga lantaran karena ada salah satu budaknya meninggal dunia karena sakit. Jadi Juragan Leonard perlu penggantinya.


Tak lama berbincang, kami mulai melanjutkan perjalanan dan sekarang tujuan kami adalah pergi ke rumah Juragan Leonard. Setelah beberapa lama kemudian kami akhirnya sampai juga di rumah, eh bukan rumah tapi sebuah Mansion besar.


Kedatangan ku disambut dengan baik disana. Aku juga diperbolehkan untuk menikmati fasilitas yang ada di Mansion itu seperti Pemandian air panas didalamnya.


Beberapa hari setelahnya, aku malah terkena demam ringan, sehingga itu memaksa ku untuk beristirahat total selama tiga hari dan tidak melakukan kegiatan apapun.


Pada saat ku bangun tidur aku dikejutkan dengan kehadiran Syira dikamar ku.


Sempat ada kesalahpahaman waktu itu, tapi pada akhirnya bisa saling mengerti.


Ketika makan siang Juragan Leonard menceritakan semua pengetahuannya tentang dunia ini. Dari sistem, Feniks, bencana lubang hitam, Pahlawan, hingga Politik kerajaan Elceria. Semua diceritakan dengan detail olehnya.


"Permisi Yudha-sama! Maaf mengganggu sebentar, ini untuk mu minumlah!"


Syira kembali datang keruangan ku memberikan segelas anggur. Anggur disini tidak memabukkan jadi halal untuk diminum.


"Wah! terimakasih!"


Untuk sejenak Syira menatap ku lurus.


"Ada apa lagi?"


"Memastikan bahwa minuman itu akan anda minum!"


Aku menatap curiga dengan minuman itu.


"Kenapa dengan minumannya?"


"Ti-tidak ada apa-apa kok!"


Syira kemudian melenggang pergi membawa nampannya.


"Hem...Mencurigakan!!"


Baiklah sampai mana tadi, ah iya. Jadi semua yang dia tahu diceritakan dengan detail oleh Juragan Leonard. Setelah makan siang, aku kemudian diajak oleh seorang Maid Sapi cantik untuk berkeliling Mansion yang besar itu.


Pada malam terakhir ku, aku dikejutkan oleh sekumpulan Maid yang menggunakan pakaian terbuka. Mereka menggoda ku dengan memamerkan keindahan tubuhnya.


Tapi syukurnya, aku masih kuat iman dan tidak sampai melakukan perbuatan itu dengan mereka. Aku lantas mengusir mereka dari dalam kamar ku.


Keesokan harinya, aku bersiap untuk pergi meninggalkan Mansion Juragan Leonard. Sekarang yang akan menjadi tujuan ku adalah para Pahlawan Bintang yang berada di Elceria dan aku akan menemui setibanya aku nanti disana.


Juragan Leonard, sudah menyiapkan semua kebutuhan ku nanti dalam perjalanan. Seperti persediaan makanan dan lain sebagainya. Aku sangat berterimakasih kepada Juragan Leonard untuk semua yang telah ia siapkan itu.

__ADS_1


Tapi tak lama kemudian, Syira tiba-tiba datang memeluk ku dan menangis sejadinya. Dia sebelumnya mengatakan akan ikut denganku tapi aku menolaknya ikut. Sebab aku khawatir jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan terhadapnya.


Aku hanya ingin memastikan Syira aman dan baik-baik saja bersama Juragan Leonard. Karena aku merasa Juragan Leonard tidak akan melakukan hal yang akan merugikan Syira.


Walaupun begitu, Syira masih tetap bersikeras untuk ikut denganku berpetualang. Juragan Leonard bukannya menolak agar Syira tetap tinggal disana. Dia justru menawarkan agar Syira juga ikut denganku, agar nantinya Syira juga bisa berguna untuk ku.


Juragan Leonard, terus meyakinkan ku agar Syira juga aku bawa. Karena aku juga tak tega meninggalkan Syira, pada akhirnya aku juga membawanya pergi.


Sebelum aku membawa Syira bersama ku, Juragan Leonard melakukan ritual pelepasan kontrak segel budaknya dengan Syira, agar nantinya Syira tidak lagi terikat dengan Juragan Leonard.


Setelah selesai dengan ritual tersebut, tubuh Syira berubah menjadi lebih dewasa dari sebelumnya. Melihat hal tersebut membuat ku terkejut bukan main. Ternyata tubuh Syira lebih dewasa dan lebih~


"Lebih apa Yudha-sama?!"


"Heeeeee!!! Kau mendengarkannya? Tunggu kau bisa berbicara dengan bahasa Indonesia?"


Tiba-tiba Syira datang mengejutkan ku. Tapi yang membuatku tambah terkejut adalah dia berbicara dengan bahasa Indonesia.


"Mungkin itu hanya pendengaran mu saja, Yudha-sama!"


"Tunggu kau memang berbahasa Indonesia!"


Hal ini seperti yang pernah dilakukan oleh Li Mei dan kakaknya Zhang Xin saat bertemu dengan ku pasca amukan Zef.


"Berarti sihir ku berhasil!" kata Syira antusias.


"Apa?! Jadi itu sihir? Darimana kau belajar itu?"


"Dari buku yang barusan kita beli Yudha-sama!"


Sudah kuduga, dia belajar sihir ilusi bahasa dari buku itu. Buku itu bukanlah buku biasa melainkan sebuah kitab rahasia milik sang kakek misterius itu.


"Ah!! Buku itu ya, jadi kau mempelajarinya dari buku itu! Tak rugi ternyata kita membelinya. Baiklah nanti juga akan ku pelajari."


Syira kini melihat ku dengan tatapan yang penuh dengan maksud terselubung. Apa jangan-jangan dia mendengarkan apa yang aku katakan sebelumya?


"Jadi, lebih apa, Yudha-sama?"


"Lebih ee... baiklah aku blak-blakan aja, lebih anggun dan lebih berisi... paham?"


"Ara~ akhirnya kau mengakuinya juga... Yudha-sama jangan lupa malam ini ya.. permisi~" kata Syira dengan penuh bahagia.


Ya ampun, ternyata melakukan itu dengannya pada waktu itu adalah sebuah kesalahan besar. Tapi sudahlah sekarang kedudukan Syira memang bukanlah seorang budak di mata ku. Dia sekarang sudah menjelma menjadi seorang pendamping hidup ku. Lupakan...


Baiklah sampai mana kita tadi guys~ Oh ya, lebih berisi.


"Syira aku lelah menjelaskannya, bisa kau tolong gantikan aku sebentar?"


"Wah dengan senang hati Yudha-sama!!"


POV Syira


Uhum, baiklah sekarang aku akan melanjutkan cerita perjalanan kami berdua sampai pada akhirnya tiba di kerajaan ini.


"Oi Syira, jangan kau ceritakan kejadian malam itu, takut spoiler!


"Tentu Yudha-sama, lagipula siapa juga yang akan menceritakan hal yang sangat memalukan itu. Biarkan itu menjadi rahasia kita berdua."


"Aku taruh di lemari itu Yudha-sama!"


"Ah, oke makasih!"


Baiklah aku akan melanjutkan, sebelumnya kita kenalan ulang dulu yah. Kalian pasti sudah tahu aku kan? Ya, Namaku Syira Eloula, sekarang umurku jalan delapan belas tahun. Yoroshiku onegai shimasu!


"Ya ampun pake kenalan segala! Langsung ke intinya, kenalannya nanti pas debut Vtuber!"


"Haa.. Vtuber? Apa itu Yudha-sama?"


"Nanti kau juga tahu. Oke lanjutkan~"


Baiklah, jadi setelah kontrak yang di buat oleh Tuan Leonard menghilang dari tubuh ku. Aku mengalami pingsan dan tak lama aku siuman. Pada waktu itu Yudha-sama tepat berada di samping ku dengan gelisah.


Aku mencoba meyakinkan dia bahwa aku baik-baik saja dengan sedikit menggodanya, agar dia tak perlu mengkhawatirkan ku.


Yudha-sama dengan ekspresi malu-malunya menunjukkan, bahwa ia sudah tak khawatir padaku. Singkat cerita, Tuan Leonard memberikan beberapa barang lagi pada Yudha-sama, yakni sebuah jubah dan sebuah surat yang nantinya akan diserahkannya kepada raja.


Kamipun berpamitan dan pergi meninggalkan kediaman Tuan Leonard. Dua hari berlalu, ditengah perjalanan kami menemukan seorang anak kecil yang tengah berlari menuju ke rumahnya.


Anak kecil itu juga terlihat sedang membawa sebuah bingkisan, yakni berupa tumbuhan herbal yang dia peroleh dari hutan. Karena merasa iba Yudha-sama memberikan tumpangannya pada anak itu untuk mengantarkannya pulang.


Diketahui bahwa Kakek anak itu sedang sakit keras, oleh sebab itu dia buru-buru untuk pulang. Sesampainya di rumah anak itu, Yudha-sama juga membantu anak itu dengan mengobati kakeknya yang tengah sakit.


Yudha-sama, memang orang yang sangat perhatian dan sangat baik hati. Selama aku menjadi seorang budak, baru kali ini aku menemukan seseorang yang memiliki hati bak Malaikat seperti Yudha-sama.


Selain itu~


"Jangan terlalu memuji ku Syira, ingat aku masih diruang ini." kata Yudha-sama dengan suara ketusnya.


"Tapi aku bicara apa adanya Yudha-sama, anda memang orang yang sangat-sangat perhatian dan sangat baik hati. Anda juga kuat dan mampu melindungi orang-orang. Tentu saja anda adalah segalanya."


"Haik~haik... terserah kau saja!" masih dengan suara datarnya.


"Mouh~ Yudha-sama!"


Ya kadang dia seperti itu, kadang Yudha-sama sangat dingin dengan orang dekatnya sendiri. Dia memang tipikal lelaki yang tak terlalu peduli dengan tanggapan orang lain terhadap dirinya.


"Cukup, menceritakan aku terus! Fokuskan saja keceritanya."


"Haik~"


Setelah membantu anak kecil itu, kami kembali melanjutkan perjalanan. Pada akhirnya, kami pun sampai di kerajaan Elceria ini.


"Baiklah aku sudah selesai Yudha-sama!"


POV Yudha


"Oh, Oke!" Aku meletakkan buku yang ku coba pelajari tadi dan kembali berjalan kearah kamera. Syira yang barusan rekaman mengambil segelas air dan meminumnya tepat di belakang ku sekarang.


Sesampainya aku di Kerajaan ini, aku masih disibukan dengan masalah-masalah yang mulai bermunculan, yakni seperti pemeriksaan dan amukan Zef.


Ditambah lagi Syira juga mengamuk tak terkontrol. Aku dan Syira pun harus berakhir pingsan ditangan Zef. Tapi pada akhirnya kami bisa melalui hal tersebut dan akhirnya dapat bertemu dengan Sanaya.

__ADS_1


Sanaya adalah seorang Pahlawan Pedang sekaligus seorang Putri kerajaan, sedangkan Zef adalah Pahlawan Perisai. Dalam waktu bergilir aku langsung bertemu kedua Pahlawan Bintang ini.


Aku terbangun dari pingsan ku dan mendapati diriku sedang dirawat di sebuah kamar kerajaan. Pada waktu itu juga ada Syira disamping ku. Tak lama kemudian Sanaya datang memasuki kamar kami.


Kamipun saling berkenalan dan saling berbagi informasi dan pengetahuan. Aku bertanya prihal Zef, akan tetapi Sanaya hanya diam seperti tengah menyembunyikan sesuatu dari ku.


Di keesokan harinya, kami berdua diajak Sanaya untuk sarapan pagi bersama. Setelah menyantap hidangan pagi, kami dikejutkan dengan kedatangan salah satu bawahan Sanaya.


Prajurit wanita itu bilang kalau aku dan Sanaya dipanggil Raja untuk menghadap. Aku dan Sanaya pun segera menuju aula kerajaan untuk menghadap Raja. Sedangkan Syira, aku menyuruhnya untuk kembali ke ruangan kamar.


Pertemuan dengan raja hanya menghasilkan sebuah perseteruan antara ayah dan putrinya. Bahkan aku saja tak disambut baik oleh raja, malahan aku dipermalukan didepan para petinggi lainnya. Hal tersebutlah yang membuat Sanaya tak terima.


Jujur pada waktu itu aku juga tersinggung, namun aku menanggapinya dengan masa bodoh. Toh hal tersebut bukanlah apa-apa dibandingkan dengan pelatihan mental di Candradimuka.


Setelah meninggalkan aula, kami dihadang oleh seorang pria berziarah serba kekuningan dengan bergaya selayaknya bangsawan kesatria.


Siapa lagi kalau bukan Azrael atau lebih banyak ku sebut namanya sebagai Si Brengsek. Dia terus-menerus mengganggu Sanaya, sampai pada akhirnya dia merasa cemburu dengan ku.


Kami sempat berseteru sampai pada akhirnya Si Brengsek itu menantang ku untuk berduel. Karena raja mendengar hal itu, diapun menyetujuinya.


Sanaya, kemudian mencoba untuk protes akan tetapi raja sama sekali tidak peduli. Pada akhirnya Sanaya mengajukan usul agar pertarungannya di adakan tiga hari lagi, mengingat aku saat sedang dalam kondisi tidak prima.


Akan tetapi raja malah justru membuat pertaruhan dengan Sanaya, yaitu jika aku nanti kalah Sanaya akan tetap menikah dengan Azrael. Akhirnya mereka berdua pun sepakat.


Perseteruan masih berlanjut. Karena Si Brengsek adalah orang yang temperamental, dia gampang sekali tersinggung. Aku beberapa kali sempat mengejeknya sampai pada akhirnya dia ingin menebas ku dengan pedang besarnya itu.


Syukurnya pedang tersebut berhasil di tahan oleh Sanaya. Sehingga hal tersebut membuat Sanaya murka dan mengancam Si Brengsek agar enyah dari hadapan kami.


Karena kedudukan Si Brengsek jauh dibawah Sanaya. Diapun tidak berani membantah dan pada akhirnya pergi dari hadapan kami.


Hal tak terduga kembali terjadi, secara mengejutkan Syira tiba-tiba muncul ingin menyerang Brengsek. Aku lantas mencegahnya agar tidak melakukan tindakan tak perlu.


Syira, mengamuk sejadinya melihat aku di rundung oleh Brengsek. Dirinya tampak tidak terima melihat perlakuan Brengsek padaku. Pada waktu itu dia hampir mengamuk seperti ketika berhadapan dengan Zef.


Tapi Syukurnya semua kembali berjalan normal. Setelah Brengsek diusir Sanaya, akhirnya emosi Syira kembali tenang setelah aku menenangkannya.


Beberapa saat kemudian Syira kembali tak sadarkan diri. Sesegera mungkin aku menggendong Syira kembali ke kamar untuk kembali dirawat. Singkatnya dia sudah menerima pemeriksaan medis dan harus terus untuk istirahat agar dia pulih.


Aku dan Sanaya berdiskusi tentang masalahnya. Setelah mengetahui inti dari setiap masalah Sanaya, akhirnya dengan terpaksa aku juga harus terlibat dalam masalahnya.


Hari menjawab tantangan akhirnya tiba. Aku akhirnya bertarung dengan Si Brengsek. Aku menggunakan pedang Sanaya yang sebelumnya aku ubah menjadi pedang biasa yang tampak tumpul.


Pertarungan ku berlangsung sangat sengit, bahkan sempat membuat ku terpojok. Walaupun begitu aku masih terlihat unggul dibandingkan dengan Brengsek. Ditengah pertandingan, drama kembali terjadi.


Setelah aku memperlihatkan bentuk asli dari Pedang Sanaya Raja tampak tak percaya. Raja itu terus menyangkal bahwa pedang yang aku gunakan adalah palsu, sebelum Sanaya memberitahu bahwa pedang itu memang asli.


Raja masih tak bisa mengakuinya dan justru membuat dia semakin jengkel. Akan tetapi belum sempat melanjutkan pertarungan. Hal tak terduga kembali terjadi. Zef datang ke Istana untuk membalas dendam.


Pertarungan pun dihentikan dan seluruh penjaga bersiap jikalau ada kemungkinan ada hal yang tidak di inginkan. Sanaya kemudian dengan sigap mengambil kembali pedangnya.


Sanaya lalu pergi ke lokasi Zef berada untuk menghentikannya. Singkatnya ketika aku ingin menyusul Sanaya, aku melihat ada sepasang Pendekar dari Benua Timur yang tengah singgah di Ibukota Elceria.


Mereka juga tampak memperhatikan ku tengah berlari secepat angin. Singkatnya aku sudah berada di lokasi Zef dan Sanaya bertarung. Zef tampak seperti sebelumnya, yaitu mengeluarkan sebuah aura merah darah yang menyala-nyala.


Zef dan Sanaya sempat berargumen, sampai pada akhirnya Zef mengeluarkan jurus pertamanya yang hampir saja mengenai ku. Untungnya serangan tersebut berhasil ditangkis oleh seseorang, yakni adalah Li Mei sang pendekar wanita yang aku lihat dijalan tadi.


Li Mei datang dan kemudian memperkenalkan dirinya. Jikalau dia berasal dari Benua Timur atau lebih tepatnya berasal dari Kekaisaran Yin. Li Mei mengikuti ku kemari lantaran dia mungkin merasa curiga dengan ku dan juga penasaran dengan sumber suara ledakan yang barusan terdengar oleh kami.


Tak lama kemudian, Zef menyerang Sanaya sehingga pertarungan tak dapat terelakkan. Mereka bertarung dengan sangat sengit, sampai Sanaya dibuat kewalahan menghadapi Zef. Sanaya terus terpojok hingga pada akhirnya Brengsek muncul dihadapan kami beserta bantuan yang lainnya.


Zef dan Brengsek bertarung dengan sengit, akan tetapi hasilnya tetap sama, Brengsek tak bisa mengalahkan Zef. Dia malah kalah dengan konyol. Tak lama kemudian Zhang Xi datang ketempat kami berada mencari Li Mei, adik seperguruannya.


Kami sempat mengobrol sebentar, sebelum akhirnya Brengsek kembali lagi bangun. Brengsek meningkatkan kekuatannya, akan tetapi itu masih kurang untuk menghadapi seorang Pahlawan Perisai.


Sebelum melangkah lebih jauh, Brengsek kembali kehilangan kesadarannya. Sanaya kemudian mencoba untuk turun tangan, akan tetapi aku datang untuk mencegahnya melakukan itu.


Aku kembali meminjam pedang Sanaya untuk bertarung melawan Zef. Pertarungan ku dan Zef berlangsung sangat sengit, aku juga mencoba untuk memojokkan Zef dengan berbagai cara. Akan tetapi aku juga merasa kesulitan.


Aku sudah mencoba memaksimalkan pemakaian Pedang Pahlawan, namun itu masih belum bisa untuk mengalahkan Zef. Pertahanan Zef memang benar-benar tebal dan kuat.


Aku kemudian menggunakan cara lain, yakin melawannya dengan teknik beladiri. Ternyata cara ku berhasil membuat Zef. Dia pun akhirnya terpojok dan tak bisa berkutik dengan kuncian ku. Sampai pada akhirnya aku mematahkan bagian tangan kanan yang memegangi tamengnya.


Zef pun tak berdaya, aku lalu mencoba mencabut tameng itu dari tangannya dengan susah payah. Pada akhirnya tameng itu berhasil aku ambil dengan paksa.


Aura merah yang menyala-nyala tersebut akhirnya mulai memasuki tameng dengan berangsur-angsur lalu menghilang, membuat Zef tak sadarkan diri.


Melihat ada kesempatan emas, seorang Jenderal menyuruh anak buahnya untuk mengeksekusi Zef ditempat. Saat seorang tentara akan memenggal kepala Zef, aku dengan sigap menangkis pedang tentara itu dengan tameng Pahlawan hingga dia terjungkal.


Sempat terjadi debat antara aku dan Jendral itu. Akan tetapi semua kembali normal setelah Sanaya menengahi perdebatan tersebut.


Aku kemudian memeriksa kondisi Zef, keadaan dia sangat kritis. Aku lantas meminta seseorang untuk menyembuhkan Zef dengan teknik sihir, akan tetapi tak ada satupun orang yang dapat menggunakan teknik itu.


Hingga pada akhirnya, Li Mei menawarkan diri untuk menyembuhkan Zef. Dia pun mulai menyembuhkan Zef dengan melukai tangannya sendiri. Kemudian Li Mei meneteskan darahnya ke mulut Zef. Keajaiban pun terjadi, tubuh Zef kemudian diselimuti aura hijau.


Secara berangsur-angsur, lukanya mulai tertutup, begitu pula dengan luka lebamnya juga mulai menghilang. Setelah menyembuhkan Zef, Li Mei dan kakaknya mengundurkan diri lalu pergi ke suatu tempat.


Tak berselang lama, pada waktu itu aku sama sekali tidak tidur selama dua malam, akibat berlatih dan juga menjaga Syira yang sedang sakit. Ketika itu aku sudah mencapai batas ku dan secara tiba-tiba pandanganku menjadi gelap kemudian juga ikut pingsan.


Ketika ku tak sadarkan diri, aku masuk ke alam bawah sadar ku. Aku bertemu dengan seorang Pria Sepuh yang berpakaian serba putih bercahaya. Wajahnya juga terlihat terang bercahaya, dia juga dia memiliki aura yang sangat luar biasa. Sehingga hal itu membuat ku takut untuk menatap matanya apalagi mendekatinya.


Bukan sebuah aura negatif, akan tetapi aura yang dipancarkannya lebih seperti membuat orang lain tunduk seketika. Pria itu kemudian berkata. Janganlah terlena dengan semua hal yang telah aku lalui, setiap tindakan akan menentukan nasib ku dan aku harus berhati-hati.


Tidak lama kemudian pria itu menghilang sekelipat mata dari hadapan ku. Aku kemudian terbangun oleh karena mimpi tersebut dan mendapati diriku berada di sebuah ruang perawatan.


Aku juga mengamati tameng Pahlawan yang pada waktu itu terpasang di lengan kananku. Tameng itu menempel begitu saja dan sulit dilepaskan. Uniknya tameng itu bertransformasi menjadi seperti sebuah pelindung lengan dan berukuran lebih kecil, jadi ketika dibawa tidur tidak menggangu.


Aku juga melihat beberapa item dan statistik yang terdapat pada tameng itu. Tak ada yang istimewa kecuali jenis Perisai Naga.


Dua hari aku dirawat, akhirnya aku bisa kembali menemui Syira. Pada hari itu aku langsung menjenguk Syira yang juga sedang dirawat. Aku ingin mencoba salah satu skill tameng itu untuk bisa menyembuhkan Syira dari kutukan.


Tapi sebelum itu aku bertemu dengan seorang Maid yang terlihat mencurigakan. Aku bertemu dengannya lantaran aku tersesat saat menyusuri lorong istana yang besar. Dia pun secara sukarela ingin mengantar ku ketempat Syira~


"Yudha-sama! Putri Sanaya datang berkunjung!" ujar Syira yang tengah terburu-buru masuk kedalam ruangan.


"Oh, iya baiklah. Aku akan matikan kamera dulu."


"Yah segitu dulu mungkin untuk Dokumentasi hari ini. Aku akan kembali mendokumentasikan cerita ku yang telah aku alami selama aku di Isekai. Bay bay~"


END


Follow juga Instagram author untuk mendapatkan informasi update dan perkembangan novel ini di @sapta_yudha.author

__ADS_1


__ADS_2