The Rising Of The Lord Hero (1)

The Rising Of The Lord Hero (1)
Chapter 5 "Roh Tameng"


__ADS_3

The Rising Of The Lord Hero


> Chapter 41 "Shield Spirit"


"HEEEEEEAAAAAAAARGHHH"


'BLASSHHH.... BOOMM.... DUARRSS'


Ledakan besar terjadi di sekitar area kami, membuat bukit tempat kami berpijak saat ini hancur sebagai membentuk sebuah lubang kecil dengan kami ditengahnya. Asap mengepul pekat di udara membuat suasana menjadi begitu mencekam.


Sang Feniks kemudian mengerutkan dahinya menyaksikan sesuatu yang menurutnya tidak asing di matanya.


"Hegh! Sudah kuduga, ternyata benar kau Pahlawan Perisai baru!" seraya Feniks berkata dengan nada dinginnya.


Asap perlahan mulai memudar memunculkan kami yang berada didalamnya. Aku yang barusan terkena serangan masih berdiri tegap dengan masih melindungi Faisya dan Penyihir Hamil itu.


"Kakak!" ucap Faisya mengkhawatirkan ku.


"Kurang ajar kau!!!" teriakku yang tiba-tiba diselimuti aura merah. Emosiku menjadi tak terkendali dan seakan aku di penuhi dengan dendam dan amarah.


Aku tak tahu kenapa aku bisa semarah ini, jelas aku menganggap tindakan yang membentaknya barusan adalah bentuk provokatif terhadapnya dan seharusnya adalah hal yang aku hindari. Karena tak mungkin bagi ku bisa mengalahkannya bahkan dengan kekuatan terkutuk ini.


Emosi ku terus diliputi rasa amarah dan dendam sehingga aku tak bisa berfikir normal dengan kepala dingin.


"Ho.. besar juga nyali mu bocah tameng! Kau mengingatkan ku pada pendahulu mu!"


"Diaaamm!" bentak ku.


"Haaaahh haaahh" menghela nafas.


Tanpa suatu alasan, nafas ku menjadi begitu berat dan mulai merasakan lelah yang luar biasan dan tanpa aku sadari ketika ku berkedip aku sudah berpindah tempat. Aku mendapati diriku berada di sebuah ruangan yang gelap.


"Kau memanggilku lagi ya? Sepertinya kita ada masalah disini bocah!" Secara misterius ada seorang suara pria yang kembali terdengar menggema di telingaku. Sepertinya aku sangat familiar dengan suara ini.


"Siapa kau?" teriak ku padanya.


"Tak ada waktu untuk menjelaskannya, lebih baik kita hadapi orang itu dulu. Sementara itu aku akan mengambil alih kesadaran mu!" kembali suaranya menggema bak monster.


Secara berangsur-angsur kesadaran ku menghilang karenanya.


P.O.V 3


"Akhirnya aku bebas setelah sekian lama tersegel dalam tameng sialan itu. Woy Feniks Naga Langit, lama tak berjumpa!"


Tak lain dan tak bukan dia adalah roh tameng yang bernama Arnabas. Dia adalah sosok Jin yang sudah lama bersemayam didalam tameng Pahlawan Perisai. Pada dahulu kala dia pernah menjadi bagian dari tujuh Jendral Iblis yang pernah memporak-porandakan Ceos.


Setelah Arnabas beserta tujuh Jendral Iblis lainya dikalahkan oleh para Pahlawan Bintang. Kekuatan mereka diserap kedalam masing-masing senjata legendaris para Pahlawan, sehingga membuat para mantan Jenderal Iblis ini bersemayam didalamnya.


Feniks Naga Langit yang memiliki nama asli Shenron hanya menanggapinya dengan senyuman dingin. Setelah empat ratus tujuh puluh tahun lamanya, akhirnya Sang Feniks dapat kembali berinteraksi dengan roh tameng.


"Ah, kau lagi rupanya! Sepertinya anak itu sudah terjebak dalam jebakan mu."


"Ha ha ha ha! jangan salahkan aku, karena memang situasi yang telah mempengaruhinya. Berkat situasi itu aku bisa bebas." kata roh tameng dengan lantang.

__ADS_1


Faisya dan penyihir barusan tak berkutik dan tak bisa berkata apa-apa menyaksikan apa yang mereka lihat. Arnabas lantas menatap mereka seraya berkata.


"Pergi dari sini jika tak ingin menjadi korban!"


Faisya menatap Kakaknya dengan bingung karena merasa sifatnya berubah seratus delapan puluh derajat. Faisya juga melihat sebuah aura merah yang tengah menyelimuti Zef.


"Kakak kenapa dengan mu?" tanya Faisya khawatir.


"Tak ada waktu menjelaskannya pada mu gadis kecil, segera pergi dan bawa wanita itu bersama mu!"


Faisya mengerutkan keningnya karena sebutan gadis kecil yang diucapkan kakaknya. Merasakan sesuatu yang tidak beres dai mengiyakannya.


"Baiklah kak! Aku harap kakak segera menyusul!" balas Faisya.


Dengan tertatih-tatih Faisya membopong tubuh penyihir yang lemah itu menjauh dari lokasi. Penyihir yang tengah hamil muda itu kini tak berani berbuat banyak setelah menyaksikan betapa mengerikannya kekuatan dari Sang Feniks Agung.


Penyihir itu memikirkan jalan satu-satunya untuk keluar dari cengkraman Feniks Naga Langit adalah dengan berlari sejauh mungkin darinya.


"Tak akan ku biarkan seseorang lolos begitu saja!" ucap Shenron dengan dingin.


Secara mengejutkan Feniks Naga Langit membuat sebuah bola api besar diatas kepalanya dengan menaikan tangan kanannya. Kemudian menyerang Faisya dan Penyihir yang tengah dibopong itu.


'WOSSHH!'


"Tidaaaakk!! Kakaaaak!!" Faisya yang berusaha membopong tak bisa bergerak terlalu banyak untuk menghindar.


'BLASSHH SLURUPP'


Dengan cepat Arnabas menangkis serangan barusan dan menghisapnya kedalam tameng.


Faisya kemudian secepat mungkin menjauh dari lokasi bersama dengan Penyihir itu. Shenron hanya mendengus melihat serangannya barusan dapat diserap dengan mudahnya.


"Arnabas, aku harap kau tidak lupa dengan kekejaman mu di masa lalu! Makhluk invasif seperti mu harus musnah dari dunia ini. Rasakan ini! Aku sudah jauh lebih kuat dibandingkan dengan empat ratus tahun yang lalu." ucap Shenron sembari mulai menyerang.


Kemudian sebuah lingkaran sihir muncul didepan Shenron. Belum sempat menyerang, tiba-tiba Arnabas sekelipat mata menghilang dari pandangannya.


"Apa!? Dimana dia?" Shenron mengerutkan dahinya melihat Arnabas menghilang dari hadapannya.


"BAKAAA!! Kau belum membayar hutang mu barusan! Terima ini!" ucap Arnabas dengan nada mengejek, tiba-tiba muncul dari belakang Shenron dan memukulnya dengan tameng Pahlawan hingga dia terjun dengan cepat ke tanah.


"Mustahil!"


'BUK!! NGIUNGG!!! BLARRR'


Tubuh Shenron terhempas ketanah dan membentur bebatuan bukit sehingga membuat bukit batu itu retak. Shenron mencoba untuk bangkit dari posisinya akan tetapi dia muntah darah.


"Mbuehhgh! Ah haah~ Tubuh manusia ini terlalu lemah. Cih tak ku sangka dia juga bertambah kuat setelah empat ratus tahun." gumam Shenron.


Zef yang masih dirasuki Arnabas terlihat melayang di udara. Arnabas memamerkan senyuman jahatnya seakan dia puas dengan yang telah ia lakukan.


"Oya~Oya! Kau bilang tadi bertambah kuat? Kau bahkan terlihat lebih lemah dari terakhir kali kita bertemu!" ucap Arnabas.


Tak salah jika Arnabas mengejeknya demikian. Karena selama lebih dari ratusan tahun Shenron tak pernah sekalipun bertarung dengan fisiknya. Walaupun dalam teknik sihir Shenron lebih unggul akan tetapi dia kebanyakan bertarung dengan sihir sehingga membuat kemampuan beladirinya menumpul.

__ADS_1


"Kalau begitu bagaimana dengan ini?!" kata Shenron dengan dingin.


Shenron tiba-tiba meluncur ke arah Zef berada, sehingga membuat pertarungan sengit terjadi di atas langit. Mereka saling baku hantam, saling balas membalas pukulan.


****


Sementara itu di lain tempat Fisya susah payah turun dari bukit dengan membopong Penyihir yang tengah hamil tadi. Mereka berusaha untuk menjauh dari lokasi sebelumnya.


"Nona muda! Sudah cukup aku bisa berjalan sendiri!" ucap Penyihir itu


"Apa anda sudah baikan?!"


"Belum tapi dengan meminum ini aku akan baikan!" kata Penyihir itu.


Penyihir yang tengah hamil itu mengambil sebuah Posion penyembuh dari tas kecilnya kemudian meminumnya. Aura hijau kemudian menyelimutinya dan secara berangsur-angsur tubuhnya mulai pulih.


"Terimakasih atas kebaikan Nona dan Tuan tadi. Aku akan membalasnya kelak!"


"Tidak usah memikirkan Nona Penyihir." balas Faisya.


"Kalau boleh aku tahu kalian berdua siapa?" tanya Penyihir wanita.


"Kami hanya petualangan yang kebetulan lewat daerah ini!" balas Faisya.


Penyihir itu mengerutkan dahinya karena mengetahuinya.


"Apa kalian tidak tahu kalau daerah ini adalah tempat terlarang?"


"Kami sangat mengetahuinya, tapi ini adalah jalan terdekat satu-satunya menuju T'hearus!"


****


Kembali ke situasi pertarungan. Puluhan jurus beladiri mereka keluarkan membuat pertarungan menjadi begitu epik. Sampai ketika pukulan telak Shenron berasil mengenai tameng pahlawan dan membuat tubuh Zef meluncur ke tanah.


'TRANGG... NGIUNGG! BLARR!!"


Tubuh Zef terbentur ketanah dengan sangat keras, membuat luka di sekujur tubuhnya. Luka itupun beregenerasi dengan sendirinya berkat tenaga dalam yang di kerahkan oleh Arnabas.


"Tidak buruk! Sekarang giliran ku menggunakan sihir!" ucap Arnabas seraya bangkit dari posisinya.


Arnabas pun mengangkat tameng kutukan dan memusatkan Ayna untuk membentuk sebuah pusaran energi di pusat tameng pahlawan.


"Terimalah!!!"


Bersambung...


(Chapter berikutnya "Ikatan")


Note :


Mampir juga ke Audiobook terbaru Senpai Ya dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, coment dan Votenya terimakasih.


- My Free Life In Another World

__ADS_1


- Reinkarnasi : Kembali ke tahun milenium.


Follow juga Instagram author untuk mendapatkan informasi update dan perkembangan novel ini di @sapta_yudha.author


__ADS_2