The Rising Of The Lord Hero (1)

The Rising Of The Lord Hero (1)
Chapter 32 "Amukan II"


__ADS_3

Orang yang tadi melemparkan pedang itu kini berdiri di depan Sanaya dengan gagahnya. Aku merasakan sesuatu ketika menyebut dia gagah.


Dan yang membuat ku jengkel adalah dia berlagak sok pahlawan didepan semua orang yang menyaksikan. Tidak lain dan tidak bukan orang itu adalah Si Brengsek yang baru saja selesai menerima perawatan.


"Cih... Dasar Tameng Iblis! Masih berani kau menginjakkan kaki mu di Istana ini lagi haaaa! Dan beraninya kau membuat calon istri ku babak belur!"


Mendengar itu membuat ku menepuk jidat, dia yakin sekali Sanaya akan menaruh hati padanya setelah berlagak sok pahlawan seperti itu.


Seharusnya sebagai calon suami yang baik, dia yang harus lebih dahulu menghadapi Zef. Tak peduli walaupun dia sedang terluka.


"Azrael sudah ayah bilang jangan gegabah!"


Pandangan ku kini tertuju pada seorang pria paruh baya berzirah dengan menunggangi seekor kuda coklat. Terdapat pula beberapa prajurit perwira yang mengiringinya.


Menyaksikan Brengsek bertidak gegabah membuat Ayahnya menggelengkan kepala.


"Anak itu! Dasar bodoh selalu saja bertindak dengan emosi."


****


Mereka kemudian turun dari tunggangannya dan langsung berlutut dihadapan Sanaya yang sedang terluka.


"Mohon maaf atas keterlambatan kami Tuan Putri! Jarak markas militer kita lumayan agak jauh dari Istana dan memerlukan waktu untuk mencapai tempat ini." ujar pria paruh baya itu.


"Tidak apa! Tapi sepertinya kalian harus pergi dari sini. Pahlawan Perisai bukan tandingan kalian."


Para perwira yang mendengar itu mengerutkan dahi. Sangat terkejut dengan perkataan Sanaya.


"Kalian bisa lihat sendiri kan keadaan ku... Hay apa yang kau lihat!!" belum selesai bicara Sanaya menegur seorang perwira gendut yang menatapnya dengan mesum.


"Maaf hamba tidak berani Tuan Putri!"


Perwira gendut itu kemudian langsung menundukkan kepalanya. Keringat dingin langsung bercucuran tak berani lagi menatap Sanaya. Ibarat seorang maling yang ketahuan sedang mencuri.


"Berikan aku kain untuk menutupi tubuh ku!" Perintah Sanaya.


Seorang Prajurit wanita kemudian memberikan kain hitam dan menutupi tubuh Sanaya yang terbuka.


"Seperti yang aku katakan sebelumnya dia bukan tandingan kalian semua! Cepat pergi dari sini. Aku masih belum mengeluarkan kemampuan terbaik ku. Untuk mengimbanginya aku akan mengeluarkan jenis pedang terlarang."


"Jangan bilang Tuan Putri akan mengeluarkan seri kutukan juga!" ucap perwira paruh baya barusan.


"Aku terpaksa melakukannya! Aku tahu mungkin aku akan kehilangan akal sehat dan pikiran ku juga akan dikendalikan oleh pedang ini."


****


Sementara itu Brengsek menatap dingin Zef dan kemudian berlari ke arahnya untuk mengambil pedangnya. Brengsek kemudian mengayunkan pedangnya itu ke arah Zef.

__ADS_1


Belum sampai sepuluh jurus Brengsek sudah di buat kewalahan menghadapi Zef.


"Cih!! Dasar pengganggu... Huemm!!"


'GUBRAKKK'


Zef berhasil memukul Brengsek tepat mengenai wajahnya. Brengsek terpelanting belasan meter dari tempat dia berdiri dan terbaring ditanah. Kini wajah Brengsek mengeluarkan darah segar dan tak sadarkan diri.


"Azrael tidaaak..." teriak Ayahnya.


"Sudah aku bilang, Azrael saja dengan mudahnya terkapar... Apa lagi kalian yang setingkat dengannya!" ujar Sanaya pada para perwira yang sedang berlutut dihadapannya.


****


"Mei'er sudah kakak duga kau terlibat dalam kekacauan ini!"


Sekarang seorang Pria bertopi lebar mendekati ku dan Li Mei berada. Tak lain dan tak bukan dia adalah Pendekar pria yang tadi bersama Li Mei.


...[Disini akan ada gambar Ilustrasi dan akan segera menyusul]...


"Kakak senior maafkan aku! Aku tidak bermaksud ikut campur dengan urusan mereka. Adik hanya penasaran dengan pria ini dan membuntutinya kemari!" Li Mei menjelaskan keadaannya.


Tampak pria bertopi lebar itu kini mulai memperhatikan ku.


"Maaf saudara, jika adik seperguruan ku membuat mu merasa tak nyaman! Dia tidak bermaksud demikian." ujarnya sambil menundukkan kepala.


"Kakak senior, Saudara ini bukan orang kita, dia tak mengerti apa yang kita bicarakan."


"Ah maaf! Sebentar..."


Kini pria itu mengeluarkan cahaya kekuningan dari jari telunjuknya. Hal yang sama seperti yang dilakukan Li Mei.


"Baiklah Saudara sudah mengerti kan?"


Pria itu lalu mengulangi perkataan sebelumnya.


"Ah tidak apa-apa! Mengingat kita sempat bertemu di tengah jalan kan. Kalian pasti mengira, aku termasuk golongan kalian karena aku berlari dengan ilmu meringankan tubuh."


'BRASZZZ"


Belum selesai kami mengobrol Azrael bangkit dari tempat dia terkapar. Kini muncul cahaya emas berkobar di seluruh tubuhnya, membuat tempat dia berpijak menjadi retak.


Pria bertopi lebar itu mengerutkan dahinya melihat aura yang dikeluarkan Brengsek.


"Dia memancarkan Chi miliknya! Itu sangat beresiko." ujar Pria bertopi itu.


"Maksudmu Fury Itu?" tanya ku.

__ADS_1


Li Mei dan kakaknya mengangkat alisnya tidak mengerti apa yang barusan aku katakan.


Kembali ke situasi pertarungan...


"Akan aku akhiri sekarang..." ucap Brengsek dengan dingin.


Zef kini hanya tersenyum tipis mendengar perkataan Brengsek.


"Semakin kau bergerak, maka akan semakin terpuruk lah dirimu..." kata Zef sambil tertawa kecil.


Benar saja, setelah Zef berkata demikian cahaya Fury yang menyelimuti Brengsek berkedip-kedip secara perlahan seperti senter yang mulai kehabisan baterai. Pertanda kalau Brengsek mulai kehabisan Ayna miliknya.


Tak lama kemudian Brengsek kehilangan keseimbangan dan ia pun pingsan jatuh tersungkur ke tanah.


'GUBRAK'


Melihat Brengsek tersungkur kini tak ada yang berani mau menantang Zef secara terbuka. Terkecuali Sanaya dan aku yang melihat kejadian itu dari jauh.


"Azrael!!"


Ayahnya yang melihat anaknya jatuh tersungkur hanya bisa meratapinya saja tanpa berbuat sesuatu.


"Sekarang giliran ku maju! Azrael sudah gugur dengan terhormat untuk membela kerajaan. Maka aku juga akan demikian!!" kata Sanaya berapi-api.


"Tuan Putri jangan keluarkan kekuatan itu! Kami mohon!" kata salah satu Perwira.


"Benar Tuan Putri jika anda benar-benar mengeluarkan kekuatan terkutuk, akan sangat beresiko!" ujar Ayah Azrael.


Mendengar jika Sanaya akan mengeluarkan kekuatan terkutuk. Aku tak mau dianggap planga-plongo saja, tentunya aku yang akan maju ke garis depan menghadapi Zef.


Melihat ku berjalan kearah Sanaya. Li Mei dan Kakak seperguruannya mencegah ku untuk bergabung dalam pertarungan. Karena menilai kemampuan ku di bawah mereka.


Aku rasa Li Mei dan Kakak seperguruannya tidak akan berani ikut campur dalam urusan ini. Karena masalah ini tidak berkaitan dengan mereka.


Jadi, mereka hanya memilih untuk menonton dan menyaksikan saja daripada harus terlibat. Harus ada alasan kuat untuk membuat mereka untuk turun tangan.


Aku memang tak bisa sihir, tapi masih banyak kemampuan beladiri silat yang belum aku keluarkan. Tentunya aku sudah merasa cukup untuk bisa mengalahkan Si Pria tameng itu.


Aku pun berjalan ke arah Sanaya dan sudah berdiri di sampingnya.


"Kau terlihat buruk ya San-cwan..."


Bersambung...


NEXT PART 3


Follow juga Instagram author untuk mendapatkan informasi update dan perkembangan novel ini di @sapta_yudha.author

__ADS_1


__ADS_2