
The Rising Of The Lord Hero
> Chapter 39 "Pembantaian Orang tua Zef"
...----------------...
...Perhatian, beberapa paragraf di bawah mengandung adegan dewasa. Anak dibawah umur tidak dianjurkan membaca bagian Chapter ini. Harap untuk scrolling kebawah untuk mendapat pemberitahuan selanjutnya....
...Area 18+...
...Adegan Kekerasan ‼️...
...Adegan Seksual 🔞...
...Adegan Pembunuhan 🔪...
...[DISARANKAN MEMBACA BAGIAN INI PADA MALAM HARI SELAMA RAMADHAN]...
...----------------...
Aku sudah muak dengan dunia ini, aku hanya berfikir jika dunia ini lebih baik hancur saja. Melihat keluarga ku teraniaya dan terzolimi lebih baik dunia ini hancur saja!
"Kebencian ini sudah lebih dari cukup! Bukan hanya kerajaan ini saja, tapi kau juga membenci dunia ini. Baiklah aku akan berikan kekuatan besar ini pada mu!"
"SERI KUTUKAN PERISAI AMARAH!"
Itulah suara terakhir yang terdengar menggema dalam pikiran ku. Seketika kekuatan besar kemudian mengalir secara dahsyat keseluruh nadiku. Aku merasakan energi kekuatan yang tidak biasa dalam diriku.
Secara berangsur tameng terkutuk itu kini berubah menjadi sebuah tameng yang berbentuk aneh. Aku tidak peduli mau apapun bentuk dari tamengnya asalkan aku diberikan kekuatan itu lebih dari cukup.
Pikiran ku hanya berisikan amarah yang amat besar, seakan ingin menghancurkan seluruh isi dunia ini. Sekuat tenaga aku membebaskan diriku dari belenggu yang menahan anggota gerak ku. Tanpa mengeluarkan tenaga penuh, belenggu itu hancur dan terbakar.
Para prajurit hina yang tengah menikmati tubuh Ibuku kini teralihkan pandangannya padaku dan mengerutkan dahi mereka. Nampak jelas dari raut muka mereka mulai menjadi kusut dan mulai mengucurkan keringat dingin.
Aku tak peduli dengan ekspresi yang mereka tampilkan yang aku pikirkan hanya ingin menghancurkan. Langkah demi langkah aku mulai mendekati mereka, sampai seorang prajurit dengan bodohnya menembakkan anak panahnya padaku. Bagi ku serangan itu tidak ada artinya dan dengan mudah aku menangkisnya.
Aku lalu mengambil anak panah itu kembali dan melemparkannya kearah kepala prajurit itu hingga menembus tengkoraknya dan membuat isi kepalanya berhamburan.
Kemudian empat orang prajurit mulai mengepungku dari berbagai arah. Tanpa menyentuh aku mencekik leher mereka sehingga membuat sesak nafas dan tak lagi bernyawa.
Raut wajah para prajurit hina itu semakin ketakutan. Tentu saja dipikiran mereka sekarang hanya ingin lari saja, namun jika mereka berfikir seperti itu akan percuma. Sebab takkan ada yang bisa lolos dari ku.
Meskipun diliputi rasa ketakutan yang amat besar, namun mereka masih diberikan nyali yang kuat untuk menghadapi ku. Secara serempak puluhan dari mereka mulai menyerang ku secara bersamaan.
Mereka sempat mengumpat dan mengatakan sesuatu padaku, akan tetapi pikiranku hanya berisikan amarah sehingga aku tak dapat mendengar dengan jelas apa yang mereka katakan. Toh jikapun aku mendengarnya aku tak peduli.
"BRUSH CURSE FIRE SHIELD"
Api secara mengejutkan keluar dari perisai dan mulai membakar mereka yang menjadi target ku. Membuat area sekitar berubah menjadi lautan api manusia yang terbakar.
Malam itu aku hanya mendengarkan rintihan kesakitan dari para kesatria yang terbakar hidup-hidup. Ibu yang menyaksikan hanya bisa terkapar, lemah tak berdaya dan berlinang air mata. Sesaat perlahan kesadarannya mulai memudar sembari mengucapkan kalimat tauhid.
Walaupun aku diselimuti amarah, namun akal sehat ku masih bekerja. Aku lalu mendekati Ibu untuk melihat kondisinya. Namun setelah beberapa kali aku priksa Ibu tak lagi bernafas.
"Ibuuuuu!!!!!"
'BLASSSHH'
Amarah ku semakin memuncak dan tanpa ku sadari sebuah gelombang kejut keluar dari tubuh ku membuat area sekitar menjadi porak poranda.
"Tak akan ku maafkan, tak akan ku maafkan!!!"
Aura merah pekat semakin menyelimuti, aku bangkit dari tempat Ibu kemudian menunju tempat Jenderal Bejat itu untuk menyelamatkan Faisya.
__ADS_1
Tanpa peduli nasib dan keadaan para kesatria yang barusan aku bakar, kuterus melangkah maju melewati puluhan kesatria yang mati terbakar di tanah.
****
Kulihat dari kejauhan ada sebuah tenda besar yang berdiri tengah di jaga oleh sekitar dua puluh orang prajurit. Salah satu mereka menyadari keberadaan ku yang tengah berjalan menuju ke arah mereka.
"Bagaimana bisa dia terbebas! Cepat hentikan langkahnya sebelum dia kemari!"
"""Baik Kapten"""
Ucap salah seorang kapten dengan paniknya. Beberapa Ksatria yang bersenjatakan busur mulai bersiap membidik ku dan melepaskan anak panahnya. Anak-anak panah itu melesat kearah ku, namun tak ada satupun yang berhasil menembus kulitku. Tanpa peduli dengan serangan itu aku terus melangkah.
Dari jarak empat puluh langka sebelum masuk tenda aku dikepung lagi oleh puluhan prajurit. Mereka tampak berkeringat dingin tak punya nyali untuk bertarung akan tetapi memang tidak ada pilihan selain hanya bertarung mengingat mereka harus menjalankan perintah.
Dengan cara yang sama seperti sebelumnya aku membunuh mereka tanpa menyentuh. Belum sempat mereka menyerang, banyak dari para prajurit itu terkapar di tanah karena tak sanggup menahan serangan kutukan. Mereka akhirnya tewas dengan rongga tubuh yang mengeluarkan darah.
Meskipun masih ada yang masih bisa bertahan, prajurit yang tersisa hanya bisa menelan ludahnya dan mencoba untuk kabur. Sebelum mereka melangkah lebih jauh aku mengucapkan nama jurusku.
"IRON FIRE SHIELD"
Seketika balok-balok besi muncul di hadapan tameng terkutuk ini dan mulai meluncur dengan cepat kearah mereka. Balok-balok besi berapi dengan tepat mengenai kepala seluruh Prajurit yang ada sehingga mengeluarkan isi kepala mereka. Pada malam itu juga tak ada satupun prajurit yang bisa lolos dari kematian.
Aku tersenyum lebar melihat nasib mereka sekarang, namun seketika senyuman ku memudar sebelum kemudian mendengar suara Faisya yang tengah direnggut mahkotanya.
"Ah!! Ah!! Jangan!! Tidak!! Itu sakit!!
"Ah yah!! Lubang perawan memang yang paling nikmat. Ha ha ha."
Mendengar rintihan Faisya membuat amarah ku kembali memuncak. Dengan cepat aku menuju tenda Komandan itu dan mempergokinya tengah memperkosa Faisya tanpa menyadari puluhan prajuritnya terbantai.
Melihat seseorang yang datang membuka tirai tenda membuat Komandan Bejat itu mengerutkan dahi.
"Kurang ajar!! Ba-bagaimana kau bisa-"
Belum sempat mengucapkan kalimat terakhir. Kepala Komandan itu tercerai berai oleh balok besi, meski begitu bagian yang paling hina dari tubuhnya masih menempel didalam kehormatan Faisya.
Melihat darah bercucuran membuat Faisya segera melepaskan benda hina yang sedari tadi menyodok daerah kehormatannya. Karena ini adalah kali pertamanya menyaksikan pembunuhan sadis di depan matanya Faisya pun panik dan histeris melihat mayat yang terbunuh secara mengenaskan.
Tak tahan melihat situasinya Faisya kemudian pingsan dilantai. Aku mengambil kain untuk menutupi tubuh Faisya dan lalu membopong Faisya keluar dari tenda. Ketika sudah berada diluar tenda, aku mengucapkan nama jurus kearah jasad dan tenda untuk membakarnya.
Bau amis darah dan daging yang gosong tercium semerbak di udara. Tanpa memperdulikan hal itu aku terus melangkah maju sembari menggendong Faisya pulang kearah rumah.
...----------------...
...Perhatian, paragraf di bawah sudah kembali aman. Silahkan untuk kembali menikmati cerita....
...Area Safe 16+...
...----------------...
Singkat cerita sehari berlalu. Aku dan Faisya tengah berdiri didepan ketiga makam Orang tua ku yaitu Ibu, Ayah dan Kakek. Mereka ku makamkan di depan halaman rumah. Kami mendoakan mereka agar ditempatkan ditempat yang layak.
Setelah berdoa aku melihat tatapan kosong Faisya yang terkena tekanan mental. Dia tak lagi bisa berucap satupun kata mengingat kejadian yang telah menimpa dirinya.
Air mata ku pun tak terbendung melihat Faisya yang kini terkena mental. Aku lalu menghambur ke arahnya dan memeluknya erat. Bak bayi yang baru lahir, tak lama Faisya pun ikut menangis sejadinya.
Aku akan bertekad untuk melindungi adik ku yang paling berharga ini dari apapun karena hanya dia yang tersisa dalam hidupku.
Setelah ini kami akan segera pergi ke T'hearus mengingat Kerajaan ini tak memberi tempat untuk kami. Aku mengemasi barang-barang lalu pergi keluar rumah. Sesaat aku dan Faisya menatap sejenak ke rumah yang kini akan aku tinggalkan, rumah yang penuh kehangatan dengan sejuta kenangan.
Air mata ku kembali menetes dengan perasaan bercampur aduk. Amarah, dendam, ambisi, frustasi dan kesedihan bercampur menjadi satu. Setelah mengamati rumah, aku menggandeng tangan Faisya dan pergi secepatnya menuju perbatasan.
****
__ADS_1
Wilayah kota Westria sangat berdekatan dengan perbatasan antar negara. Jarak dari rumah ku mungkin sekitar seminggu perjalanan dengan berjalan kaki dan mungkin sekitar tiga sampai lima hari jika menunggangi Ambroda atau Kuda.
Ambroda : adalah jenis salah satu Naga Darat yang sering digunakan oleh masyarakat Elceria untuk membajak sawah atau dijadikan hewan transportasi untuk menghantarkan barang yang berat. Karena Ambroda memiliki tiga cabang tanduk yang meruncing panjang dan tubuh yang besar, Ambroda juga sering digunakan kerajaan untuk berperang sebagai kendaraan perang.
Orang-orang Dunia ini menyebutnya Naga Darat. Beda halnya dengan Bumi, makhluk ini memiliki tampilan yang serupa dengan salah satu jenis Dinosaurus. Kita biasa menyebut Hewan ini Dinosaurus berjenis Triceratops. Dinosaurus Herbivora yang memiliki tiga buah tanduk di kepalanya, serta memiliki bentuk badan yang besar dan kepala yang khas.
Namun jika melewati rute biasa akan banyak prajurit yang berjaga di sekitaran perbatasan. Sebelum Ayah ku wafat, dia pernah berkata akan melewati sebuah lembah yang sangat berbahaya yaitu Lembah Naga.
Lembah Naga terletak diantara pegunungan Valno di wilayah paling selatan Elceria. Lembah ini dikenal dihuni oleh Ras Naga Langit yang dapat menyemburkan api.
Naga Langit biasanya akan sangat protektif terhadap wilayahnya sendiri dan akan membunuh atau memangsa mahkluk apapun jika berani memasuki wilayahnya.
Selain dihuni Naga, wilayah ini juga menjadi tempat persemayaman salah satu dari tiga Legenda Feniks Naga Agung yang juga membuat daerah perbatasan ini sangat berbahaya. Ayah ku juga pernah bercerita kalau Feniks Naga Langit adalah sosok yang sangat berbahaya.
Tak ada satupun makhluk hidup yang berani menatap matanya langsung ataupun berinteraksi dengannya, terkecuali para Ras Naga Langit itu sendiri.
Ketika memasuki Lembah Naga nanti, aku hanya bisa berharap untuk tidak bertatap muka langsung dengan Sang Feniks Naga Langit. Karena menyadari, kalau itu sama saja menghantarkan nyawa.
Karena wilayah ini daerah yang berbahaya, tak banyak Prajurit perbatasan yang berjaga di wilayah ini sehingga tempat ini cocok untuk dijadikan pelarian diri menuju T'hearus.
Sayangnya permasalahan bukan hanya itu saja. Setelah berhasil melewati Pegunungan Valno, kami juga harus melewati Gurun Hera yang dikenal sebagai gurun pasir tertandus dan berbahaya.
Gurun Hera, menjadi berbahaya karena dihuni oleh para monster berlevel tinggi. Namun jarak tempuh antara Elceria dan T'hearus akan lebih cepat jika melewati daerah ini.
Waktu yang diperlukan untuk menuju kesana dari Kota Westria ke Kota Al-Khairoh hanya perlu menghabiskan waktu sekitar empat bulan perjalanan. Berbeda halnya jika melewati rute biasa yang bisa menghabiskan waktu sekitar satu tahun jika hanya berjalan kaki.
Dulu Kakek dan Ibu ku pernah melewati daerah ini untuk mengungsi ke Westria. Jika Kakek dan Ibu bisa melewatinya kenapa kami juga tidak?
Aku berencana akan melakukan pelarian menuju daerah itu meskipun akan mempertaruhkan nyawa sekalipun. Sembari melakukan perjalanan aku akan meningkatkan level kemampuan tameng terkutuk ini untuk menjadikannya senjata pelindung diri.
****
Singkat cerita setelah delapan hari perjalanan kami akhirnya sampai di Lembah Naga. Perjalanan menuju tempat ini juga penuh rintangan, banyak sekali pemeriksaan yang dilakukan oleh para aparat keamanan pemerintah mengingat saat ini aku dan adikku menjadi buronan.
Untuk mengelabui petugas kami bersiasat pergi melewati hutan pada malam hari dan beristirahat di siang hari dengan bersembunyi. Rencana kami akhirnya berjalan lancar sehingga sampailah kami di Lembah Naga.
Malam ini kami terus menyusuri jalan rahasia yang di katakan Kakek ku, jalan yang menurutnya jalan teraman untuk dilintasi. Jalan rahasia ini adalah sebuah lorong sempit dengan celah berbatu dengan medan yang terjal dan sedikit menanjak.
Memang akan sangat sulit melewatinya, tapi hanya jalan ini satu-satunya agar kami bisa melintasi Lembah Naga dengan selamat.
'SROANGGKK GWARR'
'WOSH~WOSH'
Di tengah perjalanan aku dan Faisya berhenti melangkah dan bersembunyi di balik dinding batu, karena melihat beberapa ekor Naga yang tengah terbang melintas di atas kami. Menurut perkiraan ku sepertinya mereka tengah mencari mangsa, syukurnya keberadaan kami tak di ketahui oleh mereka. Akan tetapi...
"Hoo... sepertinya aku kedatangan beberapa tamu disini... hegh!"
Terdengar suara seorang Pria berambut putih panjang tengah melayang di udara dengan menampilkan senyuman dan tatapan dinginnya.
Bersambung...
(Chapter berikutnya "Lembah Naga")
Note :
Sorry Brand akhir-akhir ini Senpai terlalu sibuk di realife sehingga belum sempat nulis. Tenang Senpai akan berupaya Update kok dan gak akan Hiatus terlalu lama. Terkadang menemukan gagasan ide untuk menulis juga cukup memakan waktu jadi harap dimaklumi.
Mampir juga ke Audiobook terbaru Senpai Ya dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, coment dan Votenya terimakasih.
- My Free Life In Another World
- Reinkarnasi : Kembali ke tahun milenium.
__ADS_1
Follow juga Instagram author untuk mendapatkan informasi update dan perkembangan novel ini di @sapta_yudha.author