
The Rising Of The Lord Hero
> Chapter 52 "Tak Terduga"
"Darimana Antum tahu hal itu?" kata ku yang kini mulai curiga.
Pria yang bernama Fulan itu hanya menatap tameng yang ada di tangan kanan ku dengan penuh keheranan.
"Ah maaf, aku hanya menduga saja Ikh'wan! Masalahnya, aku merasa kalau benda itu bukan benda biasa. Jadi, aku hanya mengaitkannya dengan pelarian yang barusan Antum ucapkan." kata Fulan.
"Ara! Berarti kau bukan orang sembarangan ya Ikh'wan? Buktinya saja kau mampu merasakan hal itu." kata Edna-san.
Fulan hanya dapat terdiam serta memalingkan wajahnya, seakan-akan ada yang dia sembunyikan.
"Aku tanya sekali lagi! Kau bukan musuh kan?"
Edna-san, menatap dingin lelaki itu dan mulai mengintimidasi dengan mengeluarkan sedikit aura naganya. Walaupun aku tahu maksudnya untuk mengintrogasi pria ini. Akan tetapi aura tersebut juga mempengaruhi pelanggan lain, sehingga mereka sedikit ketakutan.
Fulan yang merasakan hawa intimidasi tak dapat berkutik. Dia hanya bisa menelan ludahnya sembari mengucurkan keringat dingin. Meskipun begitu, aku merasa dia masih ingin menyembunyikan sesuatu dari kami bertiga.
"Ti-tidak tidak, aku mohon ampuni aku Ukhti. Aku berusaha untuk jujur!" katanya mulai panik.
"Sudah kuduga! Antum berusaha menyembunyikan sesuatu dari kami!" kata Edna-san yang mulai berdiri dari tempat duduknya dan melepaskan aura naga yang lebih kuat lagi.
Para pelanggan lain yang menyaksikan langsung menyudahi makan mereka dan segera pergi dari rumah makan ini. Tak lupa mereka juga menaruh uang koin mereka diatas meja makan untuk bayaran restoran.
Rumah makan langsung sepi pengunjung. Para pelayan yang berada di dapur juga tak berani keluar dari ruangan mereka.
"Edna-nechan sudahlah, Ikh'wan ini tidak salah apa-apa. Kau lihat, pelanggan lain jadi takut" Ucap Faisya dengan polosnya.
"Owh Maaf!! Aku terbawa suasana! Oho ho ho ho."
Edna-san kemudian menarik kembali aura naganya, iapun kembali duduk manis di samping Faisya. Fulan pun kembali merasa tenang dan dapat bernapas lega.
"Benarkah kau tak tahu apa-apa?" tanya Edna-san sembari menatap pemuda yang ada didepan kami dengan dingin.
"Demi Tuhan! Aku tidak berani berbohong. Aku hanya mengira saja." ucap Fulan mengucurkan keringat dingin.
Meski berucap demikian, Edna-san tetap menatap pemuda itu dengan tajam. Sekilas aku memperhatikan mata Edna-san sedikit mengeluarkan cahaya. Beberapa saat kemudian, sikap Edna-san tiba-tiba berubah 180 derajat menanggapi pria ini.
Edna-san kemudian mengeluarkan pernyataan yang diluar dugaan.
"Ara! Sepertinya aku salah paham disini. Maaf kan aku, uhu hu hu! Sepertinya ada rahasia yang sebenarnya tak mau kau ungkapkan kan?.... Sultan Agung!"
Kening pemuda itu berkerut mendengar dirinya dipanggil Sultan oleh Edna-san. Aku dan Faisya pun sama halnya dengan pemuda itu. Apakah Edna-san barusan membaca pikiran orang ini?
"Apa!? ti-tidak mungkin! Darimana Akh'wat tahu identitas ku?" kata Fulan mengakuinya.
"Oho ho ho ho, biarkan aku mengenalkan diri. Aku adalah- ummmmm umm.... Ef-un leaan auu (Zef-kun lepaskan aku)"
__ADS_1
Sebelum Edna-san mengungkapkan identitas aslinya. Aku langsung berdiri dan menutup mulutnya yang berada dibalik cadar. Aku sengaja melakukannya agar entitasnya sebagai naga langit tidak ketahuan. Akan semakin panjang urusannya jika dia mengungkapkan jati dirinya.
"Aha ha ha! Maaf Yang Mulia. Kami tidak tahu kalau anda seorang Sultan yang kemungkinan sedang menyamar. Saudari ku ini memang suka ceplas-ceplos. Sebenarnya, dia bisa membaca pikiran seseorang."
****
Setelah situasi kembali tenang kamipun kembali mengobrol. Untunglah Sultan tidak mencurigai Edna-san lebih jauh. Setelah mengetahui identitas asli pria ini, kami pun jauh lebih segan dan hormat padanya.
"Maafkan kelancangan kami Yang Mulia!" kata ku sambil menunduk di ikuti dengan Faisya.
Aku juga menjuling kepala Edna-san ke bawah agar ikut menundukkan kepalanya, meskipun aku tahu kaum naga pasti akan sangat marah dengan tindakan ku.
"Ah tidak apa-apa! Aha ha ha ha! Tidak usah sungkan dan formal. Kalau aku berada di luar istana berarti kedudukan ku sama dengan rakyat jelata. Sultan hanyalah status ku ketika didalam Istana. Beda cerita jika di luar seperti ini. Apalagi dengan penampilan lusuh ini. Tak usah memanggil ku Sultan." katanya dengan santai dan merendahkan diri.
"Tapi anda tetap saja pemimpin negeri ini!" kata ku.
"Ya mau bagaimana lagi. Identitas ku sudah ketahuan! Tapi syukurnya tidak banyak yang tahu. Aku harap kalian semua tidak membocorkannya ke yang lain ya."
"Ah Tentu Yang Mulia!" jawab ku.
Tiba-tiba, para pelayan beserta penjaga restoran bergegas menghadap kami. Mereka sepertinya mendengar obrolan kami, sehingga mereka segera berlutut dan memberi hormat kepada Sang Sultan.
"Mohon maaf atas kelancangan kami Yang Mulia Sultan! Mohon maafkan kami yang telah bertindak kasar pada anda siang ini. Hamba mewakili para bawahan hamba meminta ampunan dari Sultan. Sebagai permohonan maaf, anda berhak memenggal kepala hamba Sultan." ucap penjaga restoran yang ternyata seorang pemilik dari restoran ini.
"Aduh aduh... Tak perlu berlebihan seperti itu! Lagipula tindakan mu tadi cukup wajar. Tak perlu sampai meminta maaf begitu. Lagipula aku bukanlah seorang tirani. Ayo bangkitlah dari tempat kalian!" ucap Fulan yang ternyata seorang Sultan.
Merekapun bangkit dari tempatnya. Kemudian menatap Fulan dengan penuh rasa hormat dan takut.
"Sudahlah lupakan saja! Aku sudah bilang, perlakuan kalian itu wajar. Mengingat kalian pun tidak menyangka kalau aku pemimpin kalian."
"Ara-Ara, kau begitu di hormati ya!" kata Edna-san dengan santainya.
Orang-orang di sekitar kamipun seketika menatap Edna-san dengan penuh keheranan. Meskipun mereka tahu kalau Fulan adalah seorang Sultan yang harus dihormati. Tapi justru hal itu tidak berlaku bagi Edna-san yang notabenenya adalah Ras Naga Langit.
Hal tersebutlah yang membuat mereka menatap Edna-san dengan penuh keheranan karena tidak mengetahui identitas Edna-san yang sebenarnya. Kalaupun mereka tahu, mungkin akan ada keributan di sini dan hal itulah yang aku hindari.
Aku lantas menyenggol Edna-san untuk menegurnya agar tidak sembarang berbicara kepada Sang Sultan, mengingat dia dalam wujud penyamaran Manusia.
"Suuttt, Edna-san! Jangan berbicara seperti itu. Kau harus menjaga rahasia mu agar tidak terbongkar disini." kata ku sambil berbisik padanya.
"Hufh!!! kau tidak asik ya Zef-kun!" bisik Edna-san ketus.
"Mohon maaf atas kelacangan hamba paduka. Apa yang membuat anda datang jauh-jauh ke wilayah ini?" kata ku mengalihkan pembicaraan.
"Ah ha ha ha!! Aku memang suka menyamar dan berbaur dengan masyarakat. Sebenarnya aku datang kemari karena mendapatkan laporan dari bawahan ku, kalau di wilayah ini sedang mengalami krisis. Jadi, aku ingin memastikannya saja dengan datang langsung kemari." kata Sultan.
Ia lantas menoleh kearah pemilik restoran yang beberapa waktu lalu mengusirnya.
"Maaf jika mungkin terjadi kesalahpahaman antara aku dan paman tadi. Sebenarnya, aku selalu meminta jatah berlebih, karena aku mau memberikannya kepada anak-anak yatim di panti asuhan yang berada di pinggiran kota ini." kata Sultan.
__ADS_1
Pantas saja dia selama ini meminta jatah makanan berlebih. Ternyata semua itu untuk dibagikan kepada panti asuhan.
"Oh tak perlu minta maaf paduka! Justru akulah yang harus minta maaf karena telah berburuk sangka kepada anda." kata Bos restoran itu dengan sungkan.
"Ya semoga ini menjadi pelajaran untuk mu paman! Jangan menilai seseorang hanya dari satu sisi saja."
"Tunggu! sepertinya aku pernah mendengar kalimat itu." batin ku.
Aku lalu menoleh ke arah Edna-san. Ia memandangi ku dengan senyuman lebar sembari memejamkan matanya, seakan dia mengetahui isi hati ku. Aku langsung memalingkan muka darinya.
"Terimakasih banyak atas nasihat anda Yang Mulia! Hamba akan ingat hal ini seumur hidup. Kalau begitu izinkan hamba menyajikan lebih banyak hidangan kepada anda. Hamba sangat tersanjung dengan kehadiran anda di restoran hamba yang kecil ini."
"Tidak usah, ini lebih dari cukup! Sesuatu yang berlebihan itu tidaklah baik." sembari Sultan menggaruk tengkuknya merasa sungkan.
"Bukan begitu Yang Mulia! Tapi ini untuk anak-anak yatim yang barusan anda sebutkan."
"Oh iya... Kalau begitu aku terima!"
"Kalau begitu kami permisi! Maaf telah mengganggu waktu makan siang anda."
Setelah berucap pria itu langsung undur diri. Tak lama kami pun kembali melanjutkan makan siang. Sungguh tidak terduga, aku ternyata makan dengan seorang Sultan.
Sekarang Sultan tampak makan dengan sopan dan mulai membaca doa terlebih dahulu. Sangat berbeda sekali pembawaan dari sebelumnya. Mungkin karena dia tadi sedang dalam mode menyamar. Seusai makan kami lanjut mengobrol.
"Ngomong-ngomong Yang Mulia! Apa hubungan anda dengan wanita tadi." kata Faisya dengan polos.
"Ah jadi kalian melihatnya ya. Ha ha ha ha. Baiklah, apakah yang kau maksud itu Ainul Mardhiah?"
"Iya, hamba tidak terlalu ingat namanya!" kata Faisya dengan polos namun masih terkesan formal.
"Kalau menyangkut hal itu, dia memang pujaan hatiku di kota ini. Aku sudah lama mengincarnya. Akan tetapi, dia masih belum mengetahui identitas ku. Aku tadi siang sengaja menggodanya. Ha ha ha ha. Ya itu juga bagian dari penyamaran ku agar terkesan natural."
"Jadi, apa yang anda lakukan dengan para penjaga kota itu?" kata ku penasaran.
"Ah mereka ya! Sebenarnya semua penjaga di kota ini sudah tahu aku berada disini. Akan tetapi, aku memang menyuruh mereka untuk memperlakukan ku seperti rakyat jelata pada saat penyamaran. Beberapa saat ketika mereka menyeret ku ke arah gang sempit, mereka langsung memohon ampun pada ku. Ha ha ha ha."
Hari ini sungguh tidak terduga. Ternyata kami bertemu dengan Sultan Asaman Bin Zuhair pemimpin negeri ini.
Bersambung...
(Chapter berikutnya "Sultan Muda")
Note :
Mampir juga ke Audiobook Senpai dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, coment dan favorit terimakasih.
- My Free Life In Another World
- Reinkarnasi : Kembali ke tahun milenium
__ADS_1
- The Rising Of The Lord Hero (1)
Follow juga Instagram author untuk mendapatkan informasi update dan perkembangan novel ini di @sapta_yudha.author