The Rising Of The Lord Hero (1)

The Rising Of The Lord Hero (1)
Chapter 17 "Sultan Muda"


__ADS_3

The Rising Of The Lord Hero


> Chapter 53 "Sultan Muda"


"Baiklah terimakasih atas makanan yang kalian berikan. Sebagai balasannya, ayo mampirlah ke Istana sesekali!" ucap Sultan yang sudah menghabiskan suapan terakhir di piringnya.


"Ah terimakasih banyak Padu-"


"Sutt! panggil saja nama samaran ku Fulan. Di khawatirkan ada yang mendengar percakapan kita."


Belum sempat mengakhiri kalimat ku, Sultan memotong pembicaraan ku. Ia melakukan itu lantaran tidak mau jati diri aslinya didengar oleh orang-orang di luar.


"Baiklah Fulan! Maaf setelah aku tahu jati diri anda yang sebenarnya, aku jadi tidak nyaman kepada anda."


"Ha ha ha! Tak usah terlalu formal seperti itu. Umur kita tak beda jauh mengerti! Jadi, santai saja!"


"Ah baiklah!"


"Ya ampun Zef-kun, Kau terlalu kaku yah!" Edna-san menimpali.


"Berisik!!"


"Oho ho ho ho!"


"Maaf bisa kita kembali ke topik sebelumnya? Aku belum tahu penyebab pasti kenapa kalian bisa masuk ke wilayah ini? Sebenarnya apa yang terjadi di Elceria?" ucap Sultan yang mulai serius.


Karena mungkin masalah ini tak dapat lagi ditutupi, aku akhirnya terus terang kepadanya. Aku juga tak mau masalah ini terus berlarut-larut. Jadi, aku mencoba untuk berbicara dengan jujur tentang masalah ku kepadanya.


Aku berharap setelah Sultan mendengarkan cerita ku, dia dapat memberikan solusi yang terbaik untuk ku dan Faisya. Mendengar kalau aku seorang Pahlawan Perisai, Sang Sultan tersedak ludahnya.


"Apaa!? Jadi benar kau Pahlawan Perisai baru?"


"Ya itu benar, aha ha!" kata ku canggung.


"Sudah kuduga sebelumnya. Melihat ciri-ciri tameng itu aku sempat menduga kau Pahlawan Perisai. Ternyata dugaan ku itu benar." kata Sultan sembari menyentuh dagunya.


Aku lantas menceritakan semua kejadian yang aku alami bersama Faisya selama di Elceria. Mendengar cerita ku, Sang Sultan terlihat mengepalkan tangannya, seakan dia geram dengan Kepemerintahan Elceria.


Raut amarah bercampur kesedihan terlihat jelas di matanya. Dia sepertinya sangat berempati terhadap kami berdua.


"Bagaimana mungkin seorang Pahlawan di perlakukan layaknya seorang musuh? Bahkan tega melakukan hal brutal pada rakyatnya sendiri. Negara macam apa itu!?" ucap Sultan dengan nada amarah yang ditahan.


Raut kesedihan juga tergambar jelas di wajahnya. Sultan bahkan sudah mengerti dengan situasi ku sekarang. Ia lantas berdiri lalu mendekati ku dan memeluk ku seperti saudaranya sendiri.


"Saudaraku! Kau sudah banyak mengalami masa-masa sulit bersama para saudari mu ini. Kau datang ke tempat yang tepat. Negara ini akan terbuka untuk Pahlawan Bintang. Mengingat histori negara ini berdiri juga berkat para Pahlawan Bintang. Kami akan menjujung tinggi dan menghormati setiap Pahlawan."


Melihat Sang Sultan menitikkan air mata, membuat Faisya ikut menangis. Faisya seakan akan meluapkan emosi yang selama ini dia tahan.


"Hiiiks haaaa huaaaaaa!!"


"Faisya! Kenapa kau menangis?" kata ku padanya.


"Aku teringat... Hiks... Ibu... Hiks Ayaah... Dan hiks hiks hiks... Kakek kak... haaa!!"


Aku lantas mendekati Faisya, kemudian memeluknya sembari ikut menangis.

__ADS_1


"Semua sudah terjadi Faisya! Kakak tidak bisa memutar waktu. Solusi terbaiknya adalah ayo kita mulai kehidupan baru di kerajaan ini, meskipun kita akan sulit melupakan masa kelam itu."


Sultan dan Edna-san, hanya terdiam dan menatap kami berdua dengan penuh rasa kasihan. Singkat cerita, kami pun selesai makan bersama dengan Sultan Asaman.


Kami sekarang tengah berada di depan teras rumah makan. Untungnya semua orang sedang sibuk dengan urusannya masing-masing. Sehingga tidak terlalu memperhatikan kami disini.


"Saudaraku datang dan menetaplah di Istana. Anggap saja sebagai rumah sendiri, pintu gerbang akan selalu terbuka untuk kalian." ucap Sultan.


"Ah maaf! Aku merasa tidak pantas untuk tinggal di Istana Yang... Eh Fulan maksudnya ha ha ha!" balas ku sembari menggaruk kepala ku.


"Apa yang kau katakan? Kau adalah salah satu Pahlawan Bintang. Tentu saja kau pantas tinggal di Istana. Tak usah sungkan seperti itu Saudaraku."


"Terima saja Zef-kun! Toh jikalau pun kau tinggal di Istana. Kau dan adikmu akan jauh lebih aman disana." kata Edna-san meyakinkan ku.


"Apa saudari Edna tidak ikut menetap juga?" tanya Sultan dengan heran.


"Ah maaf saudara Fulan! Aku seorang petualang dan aku tidak ada hubungan darah dengan mereka. Misi ku hanya ingin mengantar dan memastikan mereka aman sampai di kerajaan ini." kata Edna-san dengan sedikit bersiasat agar jati dirinya tak terungkap.


"Tapi Akh'wat, memakai jubah tertutup seperti ini dan Akh'wat juga tidak menunjukkan tanda-tanda kalau seorang petualang."


"Apa aura ku barusan tidak meyakinkan mu Fulan?"


Kembali Edna-san menatap Sultan dengan tatapan sinis. Sepertinya hanya Edna-san sajalah yang mampu membuat Sultan ketar-ketir. Sultan Asaman hanya dapat menelan ludahnya setelah Edna-san berucap demikian.


"Ba-baiklah aku percaya itu..." balas Sultan dengan sedikit tergagap.


Sang Sultan lalu mengambil sesuatu dari saku celananya yang lusuh itu. Kemudian muncullah sebuah benda keemasan yang mirip sebuah lencana.


"Saudaraku ambilah lencana ini! Pakailah untuk meyakinkan para penjaga Istana, ketika antum sampai di Ibukota nanti."


"Ha ha ha, tentu saja saudaraku!" Sultan lalu meraih telapak tangan kanan ku dan meletakkan lencana itu kemudian ia mengepalkannya.


"Ambillah!" seraya ia berucap.


Tak berselang lama pemilik restoran bersama empat bawahannya menghampiri kami di teras. Mereka juga tengah membawa banyak sekali bungkus makanan


"Yang ahh~ Maksud saya Tuan Muda! Bagaimana dengan semua makanan ini? Apa kami harus mengantarnya ke panti asuhan itu?" tanya pemilik restoran sembari menggenggamkan kedua telapak tangannya dengan sopan.


"Ya tolonglah antarkan semua makanan itu kesana. Dan Ini untuk mu!"


Sultan lalu mengeluarkan sebuah koin hitam kecil keperakan dari kantong kulitnya. Ia lantas memberikan koin itu kepada pemilik restoran. Pemilik restoran mengangkat alisnya setelah melihat benda yang ada ditangannya itu. Sekilas aku menduga sepertinya itu koin perak. Namun, sepertinya bukan.


"Bu-bukankah ini koin Platina!? Yang mu... ahh, Tuan Muda apakah anda serius? Benda ini nilainya bahkan lebih tinggi dari seratus koin Emas." kata pemilik restoran tak percaya.


Aku dan Faisya hanya bisa menggelengkan kepala. Orang miskin mana yang selalu berjalan-jalan membawa sebuah koin platina didalam sakunya. Bahkan banyak orang tak menyadarinya. Wajarlah jika Sultan memilikinya, karena dia seorang penguasa.


"Tentu saja Paman! Koin Platina itu adalah biaya makan bagi anak-anak yatim di panti asuhan itu untuk lima tahun kedepan. Jadi ku harap anda mau menjalankan amanah ini dari ku."


"Baiklah Tuan Muda terimakasih banyak. Saya akan laksanakan tugas mulia ini dengan sebaik-baiknya. Saya bersumpah akan memenuhi tugas ini dari Tuan Muda." kata pemilik restoran.


Aku sungguh terheran-heran melihat pemandangan ini. Segitu percayanya Sultan kepada rakyatnya sendiri. Apa Sultan tidak khawatir, kalau koin itu bisa saja dimanfaatkan pemilik restoran untuk kepentingan pribadi? Sungguh pemandangan yang sangat jarang aku temui di Elceria, bahkan mungkin tidak ada.


Tak berselang lama para pelayan restoran pergi. Sultan Asaman, lalu menoleh kearah ku dan menepuk kedua pundak ku.


"Nah, Saudaraku! Aku akan menantikan kehadiran mu di Istana. Aku harap antum datang dan tinggallah disana. Aku pastikan keamanan adik mu dan kebutuhan mu terpenuhi." tawar Sultan lagi.

__ADS_1


"Aduh sepertinya akan sangat merepotkan!"


"Ah tidak apa-apa ha ha ha! Baiklah, aku undur diri. Aku harus menyelesaikan urusan ku kembali. Assalamualaikum!"


""Walaikumsallam!"" balasku dan Faisya serempak.


Tak lama bicara Sang Sultan pergi dan menarik keledainya. Sesekali dia menoleh ke belakang untuk menyapa kami.


"Hebat sekali dia kak! Di usianya sekarang dia sudah menjadi seorang Sultan."


"Ah kau benar Faisya! Aku juga tidak menyangka, dia bisa menjadi Sultan di usia yang sama denganku."


"Sial, Keledai itu rupanya seekor naga langit ternyata. Aku bahkan tak menyadari sebelumnya." ucap Edna-san mengerenyitkan keningnya setelah melamun beberapa saat memperhatikan Keledai Sang Sultan.


"Darimana kau tahu?" tanya ku padanya.


"Zef-kun, kau pikir aku ini siapa? Tentu saja aku tahu, setidaknya Naga itu mampu mengimbangi ku. Kami sempat mengobrol lewat telepati. Dia bahkan sempat mengancam akan membunuh ku, jika aku membuat keonaran di sini."


"Apa!? Jadi, Sang Sultan punya seekor naga?"


"Lebih tepatnya, Naga itu terikat kontrak dengan Sang Sultan. Aku tidak menyangka Elbardha mau mengikat kan kontraknya dengan Sang Sultan itu."


"Elbardha? Jadi itu nama keledainya? Memangnya apa hubungan mu dengannya?"


"Suku kami adalah rival. Aku berasal dari Suku naga merah sedangkan dia berasal dari suku naga putih. Suku kami tak pernah akur selama ini, bahkan seperti musuh bebuyutan. Selalu ada saja masalah diantara kami setiap tahunnya. Entah karena perebutan wilayah ataupun hanya berbeda pendapat disaat rapat pertemuan para pemimpin suku naga langit." jelas Edna-san dengan serius.


"Lalu kenapa dia mau mengikatkan kontrak dengan Sultan?"


"Entahlah, aku hanya mendengar kabar kalau Elbardha telah menghilang dari lembah naga pada waktu itu, dan ternyata dia ada disini bersama Sang Sultan. Aku masih tak tahu alasannya dia mau mengikatkan kontraknya dengan Si Sultan muda itu. Yang jelas dia punya alasan tersendiri kenapa mau melakukannya."


"Kata mu para naga langit sangat membenci Manusia kan Edna-san? Nah, kenapa itu tidak berlaku padanya?" tanya Faisya dengan polos.


"Oh sayangku, biar ku jelaskan ya! Tak semua dari kami seperti itu, ada juga beberapa diantara kami yang membelot dan memilih untuk tinggal bersama Manusia. Contohnya adalah Si Keledai itu. Seperti yang ku jelaskan sebelumnya, mungkin dia punya alasan tersendiri. Iya, seperti aku sekarang ini, punya alasan tersendiri mengapa aku mau berbaur dengan kalian. Mengerti kan maksud ku Sayang!" jelas Edna-san pada Faisya.


Aku sangat paham betul apa yang dikatakan Edna-san. Memang cukup realistis apa yang dikatakannya. Setiap makhluk individu yang dapat berpikir pasti punya pemikiran sendiri dan mungkin saja bertentangan antara satu individu ke individu lainnya.


Tak lama kami mengobrol, kami sesegeranya mencari tempat penginapan di kota ini. Beberapa kali aku perhatikan kota ini dan bahkan sempat terheran-heran. Sultan tadi bilang wilayah ini sedang dalam krisis, aku bahkan tidak melihat hal yang menjerumuskan ke hal tersebut.


Aku justru melihat, kota ini nampaknya baik-baik saja dan tampak makmur. Ya meskipun masih ada pengemis di pinggiran jalan. Namun, hal tersebut masihlah cukup wajar bagiku. Sudahlah, itu urusan instansi pemerintah terkait. Aku tak perlu memikirkannya.


Bersambung...


(Chapter berikutnya "Malam Terakhir")


Note:


Mampir juga ke Audiobook Senpai dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, coment dan favorit terimakasih.


- My Free Life In Another World


- Reinkarnasi : Kembali ke tahun milenium


- The Rising Of The Lord Hero (1)


Follow juga Instagram author untuk mendapatkan informasi update dan perkembangan novel ini di @sapta_yudha.author

__ADS_1


__ADS_2