
The Rising Of The Lord Hero
> Chapter 55 "Tragis"
"Apa, mereka pembunuh bayaran?" dahi ku berkerut mendengar pernyataan Edna-san.
"Ya, berhati-hatilah dengan mereka. Aku tak tahu pasti tujuan mereka menyamar. Tapi yang jelas sepertinya mereka sengaja ingin menjebak salah satu pengunjung di penginapan ini. Tetap buka mata kalian berdua, bisa saja mereka mengincar kalian. Mengerti!" bisik Edna-san memperingatkan dengan nada serius.
Intuisi seorang Monster berlevel tinggi seperti Edna-san memang sudah tidak diragukan lagi. Ditambah lagi dia sudah berumur lima abad lamanya, selama itu pula kemampuannya dalam menganalisa keadaan juga pasti akan terasah. Jadi wajarlah dia memiliki analisa tajam mengenali gerak-gerik orang lain.
Sebelumnya aku juga merasa aneh dengan cara bicara wanita Resepsionis tadi. Dia berbicara dalam bahasa Greis dengan pengucapan seperti orang Elceria. Berbeda sekali dengan cara bicara orang T'hearus yang aku jumpai disini. Dari sana saja aku sudah merasa aneh.
Aku lantas mengatakan hal tersebut pada Edna-san. Mendengar kalimat ku, Edna-san pun menarik kesimpulan, dan menjawab.
"Kau benar Zef-kun, mereka sepertinya memang mengincar kalian. Sebaiknya, malam ini kalian harus segera pergi dari kota ini. Akan sangat berbahaya dengan... Bau ini!?"
Belum sempat Edna-san mengakhiri kalimatnya, dahinya dibuat berkerut melihat asap putih beraroma khas terlihat membumbung disekitar kami. Reaksi ku dan Faisya pun sama halnya dengan Edna-san.
"Asap apa ini Kak? uhuk~uhuk!" tanya Faisya yang mulai terbatuk-batuk.
"Jangan bertanya pada ku! Kakak juga tidak tahu!"
"Sial, tempat ini sudah dikelilingi dengan Anti Magic Area! Uhuk~uhuk! Mereka benar-benar licik. Aku bahkan tak bisa mengeluarkan kemampuan fenetrasi sihir ku. Lagi-lagi aku lengah." Edna-san menanggapinya dengan nada serius. Bahkan kali ini aku di buat terkejut melihat reaksinya.
"Kau tahu ini kabut apa?" tanya ku pada Edna-san.
"Kabut ini adalah gas beracun. Jangan menghirupnya!"
"Kakak kepalaku pusing!"
'BRAKK'
Tiba-tiba saja Faisya jatuh pingsan. Aku lantas menjadi panik melihatnya.
"Faisya! oh tidak kepala ku sakit! uhuk~uhuk." kesadaran ku pun mulai memudar.
'BRAKK'
POV 3
Zef dan adiknya pun pingsan di dalam ruangan tersebut. Hanya tersisa Edna yang mampu menahan gas beracun dengan mengalirkan tenaga dalamnya. Namun, sepertinya aliran tenaga dalam Edna pun masih belum bisa membendung gas adiktif yang ia hirup.
"Sial, aku tidak menyangka serangannya akan tiba-tiba seperti ini. Benar-benar di luar prediksi ku." gumam Edna.
Edna lantas mencoba berjalan kearah pintu agar dia dapat keluar dan segera menemukan dalang dibalik kejadian malam ini. Namun apalah daya, pengaruh gas adiktif yang barusan dihirupnya benar-benar membuat langkahnya menjadi berat.
"Maaf Zef-kun, aku-"
Ketika jari telunjuknya hampir menyentuh gagang pintu, Edna pun jatuh pingsan.
'BRAKK'
Edna pun pingsan karena tak tahan menghirup gas adiktif. Meskipun dirinya memiliki kemampuan Kultivator. Namun, Edna tetaplah mahkluk yang memiliki kelemahan.
****
Dua jam kemudian. Para Assassin itu segera memasuki ruang makan khusus yang dimana didalamnya terdapat Zef dan rekannya.
Satu rencana mereka kembali berhasil. Mereka memang berencana akan menjebak Zef dalam ruangan khusus yang telah dipersiapkan layaknya ruang makan pribadi.
Pada awalnya, mereka berencana akan menghabisi Zef pada saat dia terlelap. Namun, mereka berpikir ulang untuk melakukannya. Bisa saja Zef justru akan balik menyerang. Maka untuk meminimalisir resiko tersebut rencana inipun di buat.
Mereka lebih memilih untuk membawa Zef hidup-hidup kembali ke Elceria daripada harus membunuhnya. Maka, cara melumpuhkan Zef dengan gas adiktif adalah hal yang tepat menurut mereka.
Mereka sudah merencanakan hal yang lebih buruk daripada harus membunuh Zef, yakni membuat mental Zef lebih tertekan dan jatuh ketika sudah sampai di ibukota Elceria nantinya.
"Kapten, kita apakan mereka berdua?" tanya seorang lelaki yang berpenampilan seperti pelayan.
"Bagaimana jika kita bunuh saja Kapten?" saran dari seorang lelaki yang menyamar menjadi pengunjung.
"Bodoh kalian, aku punya ide yang lebih cemerlang daripada hal yang kalian sebutkan tadi!" ucap Era pada anak buahnya.
__ADS_1
Para anggotanya pun saling melirik karena bingung dengan hal yang dikatakan Era.
"Apa itu Kapten?"
Era pun memamerkan senyum liciknya dan sedikit terkikik.
"Kita jual mereka ke pasar Budak, lumayan akan menambah penghasilan kita. Harga mereka pun pasti akan sangat mahal. Dengan tubuh seperti itu, mereka bisa di jual sebagai Budak Prostitusi yang harganya pasti akan lebih mahal." kata Era dengan penuh kelicikan.
Meskipun Era adalah seorang prajurit wanita. Namun, dahulunya dia adalah anak dari seorang Bos pemburu Budak dan juga seorang petualang tier emas. Sehingga, dia mengetahui seluk beluk bisnis perbudakan.
Era dan para anggotanya berencana akan menjual Faisya dan Edna ke Pasar Budak Prostitusi. Mereka sebenarnya tidak mengetahui, bahwa sebenarnya ada seorang Monster Kultivator yakni Edna.
Edna bisa saja terbangun setelah efek gas memudar dan segera melenyapkan regu Era dengan satu jentikkan saja. Namun tetap saja, Edna memiliki kelemahan terhadap gas adiktif. Makhluk apapun yang bernapas, pasti akan pingsan bila menghirup gas tersebut.
Walaupun Edna adalah seorang Kultivator Naga Langit. Namun tetap saja, segel budak akan menyegel seluruh kemampuan yang dia miliki. Ada kemungkinan Edna akan kembali ke wujud aslinya dan menjadi liar.
"Wah, ide yang sangat cemerlang Kapten! Ha ha ha ha! tapi sebelum itu izinkan kami mencicipi tubuh mereka." kata lelaki yang menyamar sebagai pengunjung.
"Bodoh!! Kalau mereka sudah tidak perawan lagi, maka harganya akan jatuh. Tidak boleh, kalau kalian sampai menyentuhnya, aku potong ayam kalian!" bentak Era yang membuat anak buahnya sedikit gentar.
"Ahh ba-baik!!"
"Cepat belenggu Si Perisai Iblis itu dan para Pela*ur itu."
"""Laksanakan!!""""
Mereka kemudian membelenggu Zef dan adiknya tak terkecuali Edna. Setelah rencananya berhasil, mereka segera membawa Zef dan rekannya berteleportasi dengan Morenium kembali ke bukit Turas, menemui Komandan mereka Azrael.
Dalam sekelipat mata, Era dan regunya menghilang bak di telan cahaya.
****
Merekapun berhasil kembali ke bukit Turas. Sebelum menemui pimpinan mereka, Era menyuruh dua anak buahnya membawa Faisya dan Edna menuju penangkaran budak dengan cara berteleportasi menggunakan Morenium bersama dirinya.
Sedangkan Zef, Era menyuruh dua anak buahnya yang lain untuk segera menyekapnya. Dia juga menekankan pada anak buahnya itu. Jika Zef siuman, maka yang mereka lakukan adalah memberinya obat bius.
Singkat cerita Faisya dan Edna yang pingsan telah sampai di penangkaran budak. Dua diantara anak buah Era membopong tubuh Faisya dan Edna. Sementara Era sendiri memantau bilamana Faisya dan Edna tersadar kembali.
Mereka pun segera memasuki sebuah bangunan semi permanen yang dimana terdapat banyak sekali budak dari berbagai ras dikurung. Bukan hanya budak saja, terdapat pula Monster-Monster berlevel tinggi untuk dijadikan hewan petarung ataupun transportasi.
"Selamat datang Nona dan Tuan sekalian, bisa ku bantu he he!" Pedagang Budak itu memberikan senyum lebarnya kepada Era.
"Oh Tuan Jansen, apa kau lupa dengan ku?" tanya Era.
Mendengar pertanyaan itu, Pedagang Budak yang bernama asli Jansen Kind itu menatap heran Era. Ia mencoba mengingat siapa perempuan yang ada di depannya.
"Sebentar, apakah kau... Era Collie? Anak Si tangan besi itu?"
"Ha ha ha, benar sekali pak tua! Hemh, kau bahkan tidak bertambah tua semenjak terakhir kali bertemu."
"Ah, kau pandai sekali memuji Lollipop kecil."
"Ya ampun, kau masih saja memanggil ku seperti itu. Padahal kita sudah lima belas tahun tidak pernah bertemu."
"Aha ha ha, aku tak pernah melupakan hal itu. ha ha ha!"
"Baiklah cukup, aku ingin kau membayar harga yang pantas untuk mereka!" Era lalu menoleh kearah anak buahnya "Cepat, turunkan mereka!" perintah Era.
""Baik!""
Kedua anak buah Era langsung membaringkan Faisya dan Edna ketanah. Tampak mulut mereka di ikat dengan kain putih, sedangkan tangan dan kaki mereka di belenggu dengan rantai.
"Woa!! Ternyata kau ingin menjual Budak! Ha ha ha, kau benar-benar mirip ayah mu. Buah memang tidak jauh jatuh dari pohonnya." kata Pedagang Jensen.
Jansen lalu mendekati Faisya dan Edna yang tengah terbaring untuk memeriksa kondisi mereka. Alisnya terangkat setelah melihat tubuh kedua gadis itu begitu subur.
"Woa!! Tubuh mereka benar-benar bagus, mereka juga sangat cantik! Kau mendapatkan barang bagus ini darimana? Apa kau menculiknya?"
"Jangan banyak bicara! Aku ingin segera mengakhiri misi ku."
"Ah kau sedang dalam misi rupanya! Baiklah, aku mengerti. Biarkan para budak ku memeriksa keperawanan mereka."
__ADS_1
"Untuk apa diperiksa, mereka masih perawan!"
"Hanya untuk memastikan, aku tidak ingin mengecewakan para pelanggan ku. He he!"
"Kau memang tak berubah ya pak tua."
"Aha ha ha! Justru kaulah yang paling banyak berubah!"
Jensen lalu meminta para budak perempuan untuk memeriksa tubuh dan keperawanan milik Faisya. Begitu pula dengan Edna. Faisya dan Edna, di masukan kedalam ruangan khusus yang tertutup.
Dua puluh menit kemudian, pemeriksaan telah selesai dilakukan. Seorang Budak lalu memberikan laporannya kepada Jensen.
"Kau bilang mereka masih perawan? Nyatanya salah satu dari mereka sudah bobol."
Mendengar penjelasan Jansen membuat dahi Era berkerut.
"Bagaimana bisa jebol? Kami tak melakukan apapun, apakah yang kau maksud Wanita dewasa itu?"
"Tidak, justru yang memakai jilbab!"
"Aneh sekali! Apakah Si Perisai Iblis itu bersetubuh dengan adiknya sendiri?" gumam Era.
Era sama sekali tidak mengetahui kalau mahkota kehormatan Faisya sudah direnggut oleh Jenderal Hart yang sudah tewas ditangan Zef pada saat penangkapan Zef di Westria. Dia malah mengira, Zef telah melakukan hal yang sangat hina bersama adiknya.
"Sesuai syarat penjualan Budak Prostitusi, haruslah Perawan. Maka yang sudah Jebol tidak bisa diterima, kecuali kau menjualnya menjadi Budak Pekerja atau Maid. Ya walaupun harganya akan lebih murah. Dia ku hargai seratus keping emas karena dia cantik." Jensen menjelaskan
"Ya terserah kau saja! Lalu bagaimana dengan gadis satunya?"
"Dia akan ku hargai lima ratus keping emas. Karena dia barang langka, tak banyak Prostitusi yang memiliki tubuh indah sepertinya."
"Tujuh Ratus untuknya!" Era mulai menawar.
"Ouh, Kau benar-benar ingin memeras ku. Kau memang mirip dengannya." Jansen pun mengambil delapan kantong yang masing-masing berisikan seratus keping emas, lalu menyerahkannya kepada Era.
"Baiklah, tujuh ratus. Totalnya jadi delapan ratus. Ini ambilah peti ini"
"Ayo angkat peti itu dan segera kembali!" perintah Edna ke anak buahnya.
""Baik""
Setelah bertransaksi, Era dan anggotanya segera berteleportasi menuju bukit Turas.
Ketika semuanya sudah pergi, Jansen langsung memasangkan segel budak ke perut Faisya dan Edna. Karena masih dalam kondisi pingsan mereka tak merasakan sakit.
Ketika Jansen selesai memasangkan segel budak di perut Edna, hal mengejutkan terjadi. Seketika tubuh Edna diselimuti cahaya yang menyilaukan mata dan tiba-tiba, Edna menjadi seekor anak naga. Melihat perubahan wujud itu membuat yang menyaksikan mengangkat alisnya.
"Dia!! Dia Ternyata Monster Naga Langit!!" teriak Jansen.
Orang-orang yang menyaksikan menjadi histeris setelah melihat sesuatu yang diluar dugaan mereka.
"Ini benar-benar langka... Sangat langka!! Lollipop kecil itu membawa barang langka."
"Jadi bos, mau kita apakan dia?" tanya anak buah Jansen.
"Lollipop kecil itu. Sepertinya tidak tahu kalau yang dibawanya adalah seorang Naga Kultivator. Anggap saja keberuntungan kita. Kurung dia dalam ruangan khusus. Sedangkan wanita berhijab itu, masukan saja ke sell yang ada."
"Baik Bos, wa ha ha ha!"
"Aha ha ha ha, keberuntungan bagi ku." Jansen terlihat sangat bahagia dengan temuannya.
Bersambung...
(Chapter berikutnya "Akhir")
Note :
Mampir juga ke Audiobook Senpai dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, coment dan favorit terimakasih.
- My Free Life In Another World
- Reinkarnasi : Kembali ke tahun milenium
__ADS_1
- The Rising Of The Lord Hero (1)
Follow juga Instagram author untuk mendapatkan informasi update dan perkembangan novel ini di @sapta_yudha.author