The Rising Of The Lord Hero (1)

The Rising Of The Lord Hero (1)
Chapter 18 "Malam Terakhir"


__ADS_3

The Rising Of The Lord Hero


> Chapter 54 "Malam Terakhir"


POV 3


Tiga hari sebelum datangnya rombongan Zef ke kota As-lam. Para regu Assassin yang dikirimkan oleh Azrael untuk menghabisi Zef, sudah tiba terlebih dahulu di kota ini. Mereka datang lebih awal lantaran menggunakan sebuah artefak yang mampu memindahkan mereka ke suatu tempat dalam sekejap.


Nama artefak ini adalah Morenium yang diambil dari singkatan bahasa Latin Movere Ieiunium yang berarti Pindah Cepat. Bentuknya mirip dengan sebuah tongkat sihir, namun berbentuk futuristik.



Gambar ini hanya replika yang diambil dari tongkat Merlin Wand di Film Transformers 5. Perkiraan Disignnya akan mirip dengan gambar diatas.


Artefak ini adalah jenis terlangka, hanya terdapat lima di dunia ini, dan tersebar di seluruh daratan benua. Alat ini bahkan tidak menggunakan Ayna penggunanya, melainkan menyerap Ayna alam untuk energinya.


Cara menggunakan benda ini adalah dengan cukup memasukkan angka lokasi koordinat pada artefak ini, maka pengguna dapat berpergian sesuka hati ke tempat yang sudah ditentukan titik koordinatnya.


Konsep ini berbeda dengan ilmu sihir teleportasi Lanuae yang menggunakan energi Ayna yang cukup besar dalam tubuh Si Pengguna. Walaupun ada kemiripan, hanya saja sihir ini perlu adanya sebuah tanda lingkaran sihir yang di tulis dengan tangan di lokasi yang sudah ditentukan titik koordinatnya.


(Mirip jurus Hiraishin milik Minato dan Tobirama di Serial Naruto Shippuden. Bedanya pake ilmu sihir dengan proses yang rumit.)


Kekurangan lain dari sihir ini yakni hanya dapat memindahkan satu objek saja dan tidak dapat melebihi kapasitas yang ditentukan, mengingat sihir ini memerlukan jumlah Ayna yang lebih besar. Sedangkan Morenium dapat memindahkan seribu orang sekaligus ketempat yang sudah ditentukan tanpa ada hambatan yang berarti.


****


Kembali ke regu Assassin, pada awalnya mereka memperkirakan bahwa Zef bisa saja langsung ke Ibukota T'hearus. Namun, hal itu dibantah oleh pimpinan mereka sendiri yakni Era. Dia memprediksi bahwa Zef dan rombongannya akan singgah terlebih dahulu di kota As-lam, sebelum akhirnya menuju Al-Khairoh yang jaraknya lebih jauh.


Sesuai dugaannya, Zef memang berada di kota As-lam. Namun, Era dan regunya belum menyadari mereka sudah tiba di kota ini. Pada kali pertama Era dan regunya tiba, mereka menyewa sebuah penginapan untuk mereka sendiri. Mereka berencana untuk menjebak Zef dan rombongannya di penginapan itu.


Mengingat di kota ini hanya terdapat tiga penginapan saja. Diantaranya adalah penginapan yang mereka sewa ini. Sedangkan dua penginapan lain seperti tak layak huni dan hanya satu penginapan saja yang bisa dikatakan bisa layak huni, yakni penginapan Qamar Fadiyun atau bahasa Indonesia nya penginapan Bulan Perak.


Merekapun akhirnya menyimpulkan, bahwa Zef tak mungkin menginap di dua penginapan sebelumnya dan pastinya akan menginap di penginapan Bulan Perak ini. Jikapun perkiraan mereka salah, mereka akan menggunakan cara lain dengan menyelinap langsung ke kedua penginapan sebelumnya untuk memastikan Zef dan rombongannya menginap disana.


Jika memang Zef tidak kedapatan menginap di penginapan tersebut. Maka, mereka hanya akan menunggu di pintu gerbang masuk kota di beberapa hari kemudian.


Mereka hanya memastikan bahwa Zef telah memasuki kota ini ataupun meninggalkannya. Setelah mendapati Zef, barulah mereka akan menguntitnya dari belakang.


Meskipun demikian, mereka tidak mengetahui bahwa ada sosok yang sangat kuat sedang melindungi Zef dan adiknya, yakni Edna. Sangat mustahil bagi mereka dapat membunuh Zef untuk saat ini. Karena belum sempat mereka melancarkan aksinya, Edna pasti akan menghabisi mereka terlebih dahulu.


POV Zef


"Penginapan Qamar Fadiyun? Kakak kau tidak berpikir kita akan menginap disini kan?" dia yang barusan bertanya adalah Faisya.


"Owh!! Penginapan ini sepertinya cukup mewah! Kau yakin akan menginap disini Zef-kun?" tanya Edna-san menambahkan.


"Mau bagaimana lagi!? Hanya penginapan ini satu satunya yang layak huni bagi kita. Kau sendiri sudah lihat kan penginapan sebelumnya? Tempat itu seperti kadang kuda." kata ku.


"uhu hu! yah terserah kau sajalah!"


"Kakak sepertinya tempat ini terlihat mahal. Baiknya kita cari penginapan lain lagi saja." saran Faisya.


"Emh! Bagaimana ya? Kita sudah berkeliling kota dan kita hanya mendapati tiga penginapan dan hanya ini saja yang layak ditempati. Sudahlah, kita menginap disini saja dulu. Besok kita akan lanjutkan perjalanan ke kota selanjutnya."

__ADS_1


Tanpa banyak basa-basi lagi kamipun segera memasuki penginapan tersebut. Kami lalu bertemu dengan seorang Resepsionis wanita yang menggunakan jubah tertutup.


Pelayanannya cukup ramah, akan tetapi aku merasa aneh dengan cara bicaranya. Dia bicara seperti orang Elceria.


Sepertinya wanita ini berasal dari Elceria atau mungkin keturunan, sama seperti ku. Tetapi sudahlah, aku tak perlu tahu asal usul seseorang.


Sementara itu aku memperhatikan Edna-san sejenak. Meskipun wajahnya tertutup di balik cadar, aku bisa membayangkan kalau mungkin saat ini ekspresinya sedikit berbeda dari sebelumnya.


"Edna-san, kau merasakan sesuatu?" bisik ku padanya.


"Oh tidak ada Zef-kun! Ada apa?"


"Tidak, aku merasa ekspresi mu tadi berbeda dari sebelumnya."


"Oho ho ho ho! Kau menyukai ku ya, sampai kau sediri memperhatikan ku segitunya. Oho ho ho ho!" kata Edna-san dengan suara keras.


"Apa-apaan kau ini! Tidaklah bodoh!! Jangan salah paham! Ah sudahlah!" kata ku kesal.


Aku pikir Edna-san mengetahui sesuatu. Namun, tidak seperti yang ku kira. Faisya yang melihat interaksi kami hanya menanggapi dengan tawa kecilnya. Tak berselang lama, aku langsung memesan dua kamar pada Resepsionis itu. Satu kamar untuk ku, satu kamar lagi untuk Faisya dan Edna-san.


POV 3


Malam hari pun tiba. Zef, Faisya, dan Edna sedang menikmati makan malam bersama. Di saat itu pula Edna di kejutkan dengan panggilan Shenron melalui telepati, sehingga iapun menghentikan makannya.


"Umh, tak rugi kau memesan makanan di penginapan ini Zef- Ahh~"


"OI EDNA!!! SAMPAI KAPAN KAU MAU BERBAUR DENGAN MEREKA? AKU HARAP KAU TIDAK LUPA DENGAN TUGAS MU YANG HANYA MENGANTAR MEREKA!!!"


"BODOH, CEPAT KEMBALI! TUGAS MU SUDAH USAI. SEKARANG BIARKAN SI BOCAH TAMENG ITU! DIA SUDAH LEBIH DARI CUKUP UNTUK BISA HIDUP SENDIRI BERSAMA ADIKNYA. AKU PERINGATKAN PADA MU! KALAU TENGAH MALAM INI KAU BELUM KEMBALI, KAU AKAN DI CAP SEBAGAI PENGHIANAT KARENA TELAH TERLALU LAMA BERBAUR DENGAN MANUSIA. MENGERTI!!"


"BA-BAIKLAH YANG MULIA. HAMBA AKAN SEGERA KEMBALI MALAM INI DENGAN SIHIR TELEPORTASI."


"POKOKNYA KAU HARUS KEMBALI! JIKA TIDAK KAU AKAN MENDAPATKAN KESEKUENSI YANG TAK PERNAH KAU BAYANGKAN." Jawab Shenron ketus dan mengakhiri pembicaraannya dengan Edna.


Setelah mendengar perintah itu, terbesit sesuatu di pikiran Edna.


"Bagaimana ini? Aku tidak bisa membiarkan Zef dan Faisya dalam bahaya malam ini. Para cecunguk itu bisa menyerang kapan saja. Sial!"


Ternyata Edna sudah mengetahui ada sesuatu yang tidak beres di penginapan tersebut. Sebenarnya dia sudah menyadari ada sesuatu yang mencurigakan semenjak Zef menyapanya di tempat Resepsionis kala itu. Hanya saja Edna tak mau memperlihatkan rasa kecurigaannya, khawatir musuh akan tahu gelagatnya.


Hal ini juga dilakukannya untuk mengikuti alur permainan para Assassin yang sedang menyamar ini, agar nantinya Edna dapat menciduk mereka langsung. Namun apalah daya, Edna harus segera kembali ke Lembah Naga karena tugasnya telah usai.


Bila tidak kembali, maka statusnya sebagai petinggi sekte Lembah Naga dan sekaligus kaki kanan Feniks Naga Langit akan di cabut. Belum lagi dia akan di cap sebagai penghianat oleh kaumnya.


POV Zef


"Edna-nechan! Kau kenapa?" tanya Faisya yang tiba-tiba mengejutkan lamunan Edna-san. Tak biasanya Edna-san melamun seperti ini.


"Eh! Iya... Hem bagaimana yah?"


"Ada apa Edna-san? Kenapa kau seperti orang kebingungan?" tanya ku lagi.


Edna-san, kemudian menghela napasnya sembari memejamkan matanya.

__ADS_1


"Haahh~ Maafkan aku Zef-kun, Faisya-chan! Sepertinya aku harus pergi sekarang!" perkataan Edna-san mengejutkan kami.


"Tunggu, kenapa mendadak sekali?" tanya Faisya.


"Sebenarnya, aku barusan bertelepati dengan Yang Mulia Shenron. Beliau mengancam akan mengeluarkan ku dari Lembah Naga dan juga akan mengecap ku sebagai penghianat kaum Naga Langit, jika aku tidak segera kembali ke Lembah Naga malam ini." kata Edna-san dengan nada kekecewaan.


"Apa!? Jadi, kau akan benar-benar meninggalkan kami begitu saja?" kata Faisya tidak terima.


Sebenarnya aku tidak mempermasalahkan jika Edna-san pergi. Namun, sepertinya Faisya tampaknya tidak terima jika semua ini berakhir seperti ini. Lagipula hal ini juga sangat mendadak sekali, aku pun sangat terkejut dengan hal ini. Ternyata Feniks Naga Langit akan seketat itu pada bawahannya sendiri.


"Maaf kan aku Faisya-chan! Aku tidak bisa menemani perjalanan kalian lagi. Zef-kun, aku harap kau tidak bersedih ya Sayang! Kita bisa bertemu lagi kok hi hik!"


"Apa-apaan!? biasa saja! Aku tidak merasa seperti itu. Kalau mau pergi, pergi saja, tidak usah ada acara perpisahan seperti ini!" kata ku ketus.


Jujur saja, entah mengapa dada ku terasa sesak, menyadari Edna-san akan pergi begitu saja. Seakan, aku merasa akan ada sesuatu yang hilang dalam hidupku. Namun, aku tak mau mengakui perasaan ini padanya, aku hanya menganggap perasaan ini tidak lebih dari saat aku akan berpisah dengan teman ku saja.


"Kakak kau bicara apa? Jangan bicara seperti itu! Apa kau tidak memikirkan perasaan Edna-nechan?" omel Faisya.


"Aha ha! Sudahlah Faisya, kakak mu memang seperti itu. Zef-kun, lagi-lagi kau tidak jujur dengan perasaan mu yah! uhu hu hu hu!"


"Di-diam lah!" jawab ku ketus.


"Tapi sebelum itu!" Ekspresi Edna-san langsung berubah dan menatap lurus kedepan. "Mendekat lah Zef-kun, ada sesuatu yang ingin ku bisikkan!"


"Tidak!! Aku tidak akan tertipu dengan tipuan mu. Kau pasti akan mencium ku kan?" aku menebak.


"Dih!! Kau percaya diri sekali ya! Asal kau tahu Zef-kun, aku sudah banyak melihat pria yang lebih tampan dari mu tahu! Kau terlalu murah untuk mendapatkan kecupan manis dari ku yang cantik ini. humh!"


"Apa kau bilang!?"


"Sudahlah berhenti bercanda! Sini!!" Edna-san tiba-tiba saja menjewer telinga ku.


"Aduh-aduh hei!!"


"Zef-kun, kau masih ingat dengan Resepsionis dan pelayan tadi?..." bisik Edna-san yang mulai serius.


Sudah kuduga, dia pasti merasakan sesuatu. Seketika kening ku dibuat berkerut olehnya, karena mendengar mereka adalah pembunuh bayaran.


Bersambung...


(Chapter berikutnya "Tragis")


Note :


Mampir juga ke Audiobook Senpai dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, coment dan favorit terimakasih.


- My Free Life In Another World


- Reinkarnasi : Kembali ke tahun milenium


- The Rising Of The Lord Hero (1)


Follow juga Instagram author untuk mendapatkan informasi update dan perkembangan novel ini di @sapta_yudha.author

__ADS_1


__ADS_2