
Namun tamengnya susah sekali untuk dilepaskan.
"Sial! Kenapa tameng ini susah sekali lepasnya, seperti di lem."
Aku berusaha memikirkan cara agar benda ini bisa dilepaskan dari lengan Zef. Aku berfikir mungkin dengan mengalirkan sedikit tenaga dalam ku mungkin akan berhasil.
Zef yang tangannya aku pegang tak kuasa menahan sakit akibat lengannya yang patah. Dia terus merintih kesakitan tak bisa berbuat banyak.
Aku kemudian mengalirkan tenaga dalam ku, seketika tamengnya mulai bereaksi dan bertranformasi kembali ke bentuk semula.
Aura membunuh yang dikeluarkan tameng itu kini kembali masuk kedalam tameng, bersamaan dengan aura merah pekat yang menyelimuti Zef.
Zef kemudian berangsur-angsur mulai kehilangan kesadarannya dan pingsan di tanah. Seketika itu tameng Zef berhasil ku lepaskan dari lengannya.
"Akhirnya haah... Ternyata hanya begitu saja, andai aku menanganinya lebih dahulu sebelum Sanaya maju. Mungkin ini bisa cepat berakhir. Merepotkan!" gumamku.
Aku kemudian mengangkat Tameng Pahlawan kelangit, menandai kalau pertarungan telah berakhir. Semua orang yang menyaksikan bersorak gembira karena Zef berhasil ku kalahkan.
"""YAAAA!!!"""
"""LUAR BIASA"""
"Dia benar-benar Lord Hero!!" kata salah satu Perwira.
Sanaya kemudian berlari menghampiri ku dan kemudian memeluk ku. Aku tidak menyangka jika Sanaya akan memberikan pelukannya padaku. Para Perwira Kesatria yang melihat ku dipeluk Tuan Putri mereka, hanya bisa mengangkat alisnya.
"Kau berhasil Yudha-kun! Kau, Kau sangat hebat!" puji Sanaya yang kini melepaskan pelukannya.
"Ah! tidak juga, aku masih merasa perlu belajar banyak dan berlatih lebih keras lagi!"
Orang-orang masih bersorak atas keberhasilan yang aku raih. Namun kini tatapan ku berganti ke Zef yang kini telah pingsan di tanah.
"Cepat eksekusi Si Perisai Iblis itu!" ujar salah satu Perwira memerintahkan bawahannya.
Dua orang Prajurit menghampiri Zef yang terkapar dan ingin mengeksekusinya di tempat. Mendengar Zef akan dibunuh membuat ku tidak tinggal diam.
Salah satu dari mereka kini mengayunkan pedangnya kearah leher Zef. Sebelum itu terjadi aku menggunakan Tameng Pahlawan untuk menghentikan pergerakan pedang Prajurit itu.
'STRANG.... BLAST'
Pedang Prajurit itu mengenai Tameng Pahlawan, menimbulkan sebuah bunyi dentingan. Tameng ini seakan memberikan perlindungan pada Zef dengan mengeluarkan glombang kejut yang menyebabkan pedang Prajurit tadi terhempas.
Perasaan aku hanya berniat menangkis pedang itu saja, akan tetapi tamengnya bereaksi diluar keinginan ku. Akibat terkena glombang kejut barusan, dua prajurit itu terduduk ke tanah dan kini mereka mulai mengucurkan keringat dingin.
Seorang Perwira kemudian menegurku!
"Apa yang kau lakukan?" ujar Perwira sok itu.
"Kenapa tidak suka?! Aku hanya heran, kenapa kalian sangat ingin membunuhnya!" ucapku berdecak kesal.
Perwira itu kini mengerutkan dahinya mendengar ucapan ku barusan. Semua yang mendengar ku berkata demikian yang tadinya bersorak kini menjadi hening seketika.
"Jenderal Robert, keputusan mu melakukan itu bukanlah pilihan yang tepat." ujar Sanaya yang kini berjalan kearah ku.
Ternyata Pak Tua ini berpangkat Jenderal, pangkat ku sekarang jauh dibawahnya. Kalau di kesatuan TNI mungkin dia akan menjadi orang yang paling ku hormati.
Tapi ini dunia lain dan dia bukan siapa-siapa bagiku, begitu pula orang-orang ini menganggap ku.
"Tapi jika Si Perisai Iblis ini dibiarkan! Dia mungkin akan membuat kekacauan lagi, jika tidak segera dibasmi."
"Tidak jika tameng ini berada di tangan ku! Aku pastikan tidak akan ada sesuatu hal yang terjadi padanya." ucapku
Jelas sekali Jendral Robert tidak bisa menerima penjelasan ku dan tetap bersikeras untuk membunuh Zef.
Sanaya kemudian mengangkat tangan kanannya ke arah pedangnya yang tertancap di tanah, kemudian memanggilnya. Pedang itu kemudian melayang kembali kearah tangan Sanaya lalu menyarungkannya kembali.
__ADS_1
Perdebatan ku dengan Jenderal ini terus berlanjut.
"Atas dasar apa kau dapat menjamin jika dirimu tidak akan dikuasai juga oleh Tameng terkutuk itu." kata Jenderal itu menyangkal ku.
Tentu saja aku memberikan alasan yang valid dan reliabel pada pria botak itu, agar dapat meyakinkannya. Aku menjelaskan jika tameng itu tidak menyerap unsur kebencian pada penggunanya, jelas tameng itu akan bersahabat.
Berbeda halnya dengan kasus yang Zef alami sekarang. Aku memang tidak mengetahui detail peristiwa yang telah dialami Zef, sehingga dia memiliki kebencian yang sangat mendalam.
Oleh karena kebencian itu, Tameng Pahlawan bereaksi atas emosi Si Penggunanya. Aku memperkirakan Tameng ini memiliki pantangan terhadap penggunaan itu sendiri.
Pantangannya diantara lain dilarang memendam kebencian terhadap suatu hal dan jangan bertarung dilandasi oleh emosi. Oleh karena itu si pengguna akan kehilangan kendali akan pikirannya, karena nafsu kebencian itu.
Jenderal itu lalu terdiam dengan perkataan ku. Sanaya yang mendengar percakapan kami pun ikut angkat bicara.
"Jendral Robert! Semua yang dikatakan Yudha-kun benar. Memang setiap senjata Pahlawan memiliki pantangannya masing-masing termasuk Pedang ini."
"Lalu apa kita harus menjebloskannya ke penjara?" ujar Jenderal itu.
"Kenapa dia harus dipenjara? Semua kekacauan ini kita sendiri yang membuatnya. Selama ini kita sudah bersikap tidak adil dengan Pahlawan Perisai. Apakah itu etis jika harus memenjarakan dia?"
Jenderal Robert kembali terdiam beberapa saat dan kembali buka suara.
"Tapi-"
"Cukup perdebatannya. Aku sebagai Panglima tertinggi sekaligus Pahlawan Pedang dan Putri kerajaan. Memerintahkan kalian semua untuk merawat Pahlawan Perisai dan memberikan tempat yang layak baginya."
Semua orang saling berpandangan satu sama lain. Mereka tidak bisa terima akan tetapi perintah Putri itu bak perintah Ratu dan itu mutlak.
Tak ada yang berani membantah terkecuali Raja. Semua Kesatria langsung berlutut dan menerima perintah Sanaya. Tak terkecuali Jenderal botak tadi.
"Hegh, Sepertinya Sanaya benar-benar punya pengaruh besar atas mereka semua! Dia punya aura kepemimpinan yang lebih baik daripada Ayahnya." gumamku.
"Sebentar!" Aku lalu menghampiri Zef yang tengah terbaring pingsan untuk memeriksa kondisinya.
"Kondisinya sangat kritis. Kalau tidak segera ditangani ini bisa mengancam nyawanya! Bahaya!" batinku
"Apa ada yang bisa sihir penyembuhan?" ucapku dengan keras.
Tak ada seorangpun yang menjawab ku. Bahkan ketika aku menoleh ke arah Sanaya, dia hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Kita bisa meminta Nenek Zubir untuk mengobatinya." ucap Sanaya.
Nenek Zubir adalah seorang tabib istana yang beberapa hari lalu mengobati Syira yang sedang terluka. Akan membutuhkan waktu untuk memanggilnya sekarang, terutama beliau juga pasti sibuk dengan pekerjaannya yang lain.
"Sepertinya akan butuh waktu lama untuk memanggilnya kemari! Kalau tidak segera ditangani Pahlawan Perisai akan-"
"Sepertinya aku bisa!?" ucap salah satu gadis dengan ragu.
Tidak lain dan tidak bukan itu suara Li Mei yang sedari tadi hanya mengamati pertarungan bersama Kakak seperguruannya.
"Mei'er kita tidak ada hubungannya dengan mereka." bisik Pria bertopi Hanbok tersebut.
"Kakak Senior Zhang, aku tahu bahwa hal ini tidak ada hubungannya dengan kita. Tapi kita sebagai Pendekar aliran putih, juga harus membatu bagi yang membutuhkan, terutama situasi ini darurat." balas Li Mei pelan.
Pria yang bernama Zhang itu hanya bisa terdiam sesaat dengan apa yang diutarakan adik seperguruannya itu.
"Baiklah, kalau menyangkut itu aku tak bisa membantahnya. Lakukan selagi itu baik." ucap Zhang.
Li Mei kemudian berjalan kearah Zef dan aku berada. Ketika dirinya sampai dihadapan ku, dia kemudian berlutut di samping kepala Zef dan memberikan bantal pahanya.
"Haaa ya ampun ini membuat ku iri!! Syira belum pernah memberikan bantal pahanya padaku." aku berdecak kesal di dalam hati kecilku.
Li Mei juga terlihat mengigit jari manisnya dibalik cadar hingga berdarah dan kemudian dia meneteskan cairan merah itu ke mulut Zef yang sedikit terbuka.
Li Mei juga mengalirkan sejumlah tenaga dalamnya kedalam tubuh Zef, agar tubuh Zef memiliki tenaga untuk memulihkan kondisinya. Seketika pula, tubuh Zef diselimuti cahaya hijau dan luka lebam yang dideritanya mulai menghilang.
__ADS_1
Li Mei kemudian membaringkan kepala Zef kembali ke tanah, karena pekerjaannya sudah selesai. Aku dan Sanaya yang menyaksikan seakan tidak percaya dengan apa yang kami lihat.
"Baiklah, tugasku sudah selesai Saudara dan Saudari sekalian. Maaf, aku tidak bisa memperbaiki tulang yang patah. Tapi sepertinya lengannya akan kembali normal."
Ya aku memang tidak Sepsikopat itu untuk benar-benar mematahkan lengannya. Aku hanya menggeser posisi engselnya saja, jika dia ditangani dan dirawat dengan baik. Kemungkinan besar dia akan pulih.
"Terimakasih atas bantuan mu Nona Li!" ujar Sanaya berterima kasih.
"Emh! Ini sudah menjadi kewajiban ku menolong sesama!"
"Setelah ini Nona Li dan kakak anda akan pergi kemana?" tanya Sanaya yang kepo akan Li Mei dan Kakak seperguruannya.
"Untuk beberapa hari ini kami akan tetap di Kerajaan ini."
"Kalau begitu, bagaimana jika kalian menginap di Istana untuk sementara waktu. Ini sebagai tanda terimakasih kepada kalian." kata Sanaya.
Li Mei dan Zhang jelas menolak ajakan dari Sanaya. Mereka merasa tidak pantas jika harus menerima permintaan dari Sanaya.
"Maaf Tuan Putri, kami tidak bisa! Kami merasa tidak pantas untuk tinggal di Istana." kata Li Mei
"Ya kami juga harus melakukan tugas kami!" Zhang menimpali.
"Tugas? Tugas apa?" kata Sanaya yang kini mulai curiga.
"Kami akan menjelaskannya pada anda setelah semua ini selesai. Rasanya tidak nyaman untuk berdiskusi dalam keadaan seperti ini." kata Zhang lagi.
"Em, baiklah! Ingatlah Pintu Istana akan selalu terbuka untuk kalian berdua." balas Sanaya.
"Terimakasih Tuan Putri! Sepertinya kami tidak ada urusan lagi disini. Kalau begitu kami permisi." kata Li Mei kemudian melenggang pergi bersama Zhang.
Aku saat ini sedang mendengarkan percakapan mereka tanpa berkomentar apapun.
Sanaya lalu memerintahkan beberapa prajurit untuk membawa Zef ke ruang perawatan Istana, agar Zef segera diobati. Setelah menerima perintahnya, semua Prajurit bergegas dan menandu Zef dan Si Brengsek ke dalam Istana.
Sepertinya Si Brengsek hanya pingsan karena kehabisan tenaga dan mungkin dia terkena kutukan Pahlawan Perisai. Beberapa Prajurit yang pingsan juga ikut di tandu ke rumah sakit kerajaan, agar juga mendapatkan perawatan medis.
Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Hanya saja kebanyakan mengalami luka ringan dan berat.
Aku hanya heran, kenapa para prajurit itu dibawa ke rumah sakit sedangkan Zef dan Brengsek dirawat di Istana. Apa mungkin perawatan di Istana lebih baik kah?
Sanaya kemudian menghampiri ku setelah memberi perintah.
"Lalu apa yang akan kau lakukan dengan Tameng itu?" ujar Sanaya yang kini memperhatikan Tameng Pahlawan.
"Ah, ini ya... Mungkin aku akan sedikit mempelajarinya. Berhubung aku seorang Lord Hero, jelas aku harus memahami fungsi senjata ini." kata ku.
"Baiklah kita bahas itu nanti. Sekarang kita juga harus menerima perawatan. Apa kau lupa jika dirimu juga terluka sehabis bertarung dengan Azrael pagi tadi?"
"Ah iya, aku hampir tidak merasakan luka-"
Sebelum aku mengakhiri pembicaraan, pandangan ku menjadi memudar dan-
'GUBRAK'
POV Sanaya
Yudha-kun kemudian pingsan ke tanah. Aku yang melihat itu menjadi histeris dan panik.
"Yudha-kun!! Bangun!! Yudhaa!!
Bersambung...
(Chapter berikutnya "Nasib")
Follow juga Instagram author untuk mendapatkan informasi update dan perkembangan novel ini di @sapta_yudha.author
__ADS_1