
The Rising Of The Lord Hero
> Chapter 50 "Kakak Beradik"
Ledakan besar memporak-porandakan kota ini. Bangunan-bangunan yang memang sudah rapuh menjadi rata dengan tanah. Untungnya bangunan yang kami pijak tidak mengalami kerusakan serius.
Aku memeluk tubuh Faisya dan melindunginya dengan tameng pahlawan sehingga efek ledakan yang dihasilkan Edna-san tidak melukai kami. Asap masih mengepul dari kejauhan menandakan bahwa mungkin Boss Kalajengking Merah itu berhasil ditaklukkan.
"Uhuk~ Kakak, Edna-san mana?" bisik Faisya yang kini sudah tersadar.
"Dia-"
"Ada apa memanggil ku hu hu!" kata Edna-san yang tiba-tiba muncul dari samping kanan ku.
"Woaaa... hey bisakah tidak muncul tiba-tiba!"
"Oho ho ho ho! Ekspresi mu lucu sekali Zef-kun!' kata Edna-san dengan tawa khasnya.
"Lalu bagaimana dengan Kalajengking itu?"
"Oh dia! Ini untuk mu!" kata Edna-san dengan senyum diwajahnya.
Dilemparkannya sebuah batu seukuran genggaman tangan. Membuat ku mengangkat alis setelah melihat sebuah batu mustika berwarna keunguan berada ditangan ku. Batu itu menandakan bahwa Boss Kalajengking Merah berhasil dikalahkannya.
"Ini!? Bukankah ini!" kata ku menyerengit heran.
"Ya!! Aku berhasil mengalahkannya. Bagaimana hebat kan aku?" kata Edna-san dengan bangga.
"Tidak, maksudku adalah kenapa kau tidak menelan benda ini? Bukankah kau akan jauh lebih kuat jika menelannya?"
"Tidak tidak tidak, aku tidak butuh benda itu! Lebih baik kau gunakan saja! Dengan begitu tameng mu bisa naik level lebih cepat!" terang Edna-san.
"Lebih cepat? Maksudnya?"
"Ya ampun, (menepuk jidatnya) kau tidak mengerti ya! Pantas saja kau begitu lemah. Sini biar ku lakukan untuk mu!"
Edna-san mendekati ku dan meraih mustika itu. Ia lalu memegang lengan kanan ku yang terdapat tameng Pahlawan. Dengan sedikit memamerkan belahan dadanya, dia menempelkan mustika itu ke inti kekuatan tameng. Seketika mustika itu mengeluarkan cahaya keunguan dan berubah menjadi asap lalu terserap kedalam tameng pahlawan.
Tameng Pahlawan lalu beresonansi dan bercahaya, menandakan nya sedang bereaksi. Aku tidak menyangka akan menjadi seperti ini. Seketika muncul beberapa pemberitahuan di pengelihatan ku.
[ Proses Ekstraksi dimulai ]
Selesai...
Menganalisa
Mustika Kalajengking Merah
- Penambahan level +30
Level Up 46⬆️
- 45 Kemampuan baru ditambahkan
- Level mencukupi Perisai Baru terbuka Life Shield
- Level mencukupi Perisai Baru terbuka Meteor Shield
"Wah! Jadi seperti ini menaikan level! Aku selama ini hanya menyerap bagian tubuh monster saja untuk menaikkan level tameng ku. Ternyata batu mustika lebih efektif."
"Itu benar Zef-kun, hebat bukan! Dengan begini kau sudah lebih kuat dari sebelumnya. Ingat jangan gegabah dalam mengontrol emosi mu. Kau harus bisa menahan amarah agar tidak dikuasai benda itu lagi."
Selama perjalanan ku menuju Lembah Naga. Aku memang sempat berulang kali bertemu dengan para Monster. Aku sangat kesulitan menaikkan level ku, karena aku sama sekali tidak bisa menggunakan kemampuan lain ataupun senjata lain.
Aku hanya bisa bertarung dengan menggunakan Tameng ini saja, itupun dengan kemampuan terbatas. Syukurlah Faisya juga masih dapat membantu ku untuk membasmi para monster itu.
Untung juga aku belum pernah sekalipun menemui Boss monster berlevel tinggi. Jikapun aku menemuinya belum tentu aku bisa mengalahkannya.
Semenjak aku menggunakan seri kutukan. Aku memang lebih mudah emosian. Padahal ketika dulu, aku tidak pernah sekalipun merasa seperti ini. Mungkin ini adalah efek kutukan yang masih tersisa dalam diriku.
"Kakak, aku~"
Faisya masih dalam kondisi lemah memanggil ku. Aku pikir seharusnya dia sudah sembuh oleh Posion penyembuh tadi, akan tetapi kenapa dia masih terbaring lemah? Wajahnya terlihat memucat dan kulit indahnya menjadi keunguan, menandakan Faisya masih dalam kondisi tidak baik.
__ADS_1
"Faisya bertahanlah! Edna-san, kenapa dia jadi begini?"
"Tenanglah jangan panik, itu mungkin disebabkan oleh Bisa Kalajengking tadi." jelas Edna-san.
"Bagaimana aku tidak panik? Kau lihatlah kondisi Faisya. Aku mohon Edna-san, kau sembuhkan dia!"
"Ya ampun kau ini. (menggelengkan kepalanya) Kau pikir aku bisa segalanya? Tidak Zef-kun, aku memang bisa memulihkan tubuh ku. Tapi untuk orang lain sepertinya-"
"Aku mohon padamu Edna-san! Dia orang satu-satunya yang tersisa dalam hidupku!" kata ku yang kini berlinang air mata.
Edna-san hanya menatap ku bingung tanpa tahu solusi apa yang tepat. Aku berharap dia punya solusi yang tepat untuk masalah ini. Aku takut jika kondisi Faisya akan bertambah buruk.
"Hem... bagaimana yah!? Ah, kenapa kau tidak coba saja beberapa kemampuan baru mu? Siapa tahu ya Zef-kun, kau memiliki kemampuan penyembuhan." saran Edna-san.
"Kemampuan baru? sebentar!"
Benar yang dikatakan Edna-san. Aku tadi memang baru saja mendapatkan kemampuan baru dengan mengekstrak mustika monster tadi. Setelah beberapa lama aku mencoba mencari tahu kemampuan baru di pengelihatan statistik ku dan akhirnya...
"Adaa!!"
Life Shield
Skill
- (Heal Shield)
- Cruse Heal Shield
- Regeneration Heal Shield
- Increase Shield
- Power Buff
Opsi
Heal Shield
Skill ini dapat digunakan untuk menyembuhkan diri sendiri maupun orang lain. Dapat menyembuhkan luka, racun dan bisa.
Gunakanlah Jenis tameng Life Shield, kemudian sentuh bagian tubuh manapun sembari merapalkan mantra skill ini.
Keterangan :
Setelah menggunakan satu kali skill ini, akan mengalami masa cooldown selama 15 menit.
Membutuhkan paling tidak 10 AP untuk menggunakan skill ini tergantung parahnya luka tersebut.
Target yang dapat disembuhkan sekitar 10 orang per 10 AP.
"Benarkan ku bilang? Pasti ada Zef-kun!" kata Edna-san menyemangati ku.
Tanpa basa-basi lagi, aku mengusap air mataku dan sesegera mungkin menyembuhkan Faisya dengan skill ini. Aku menyentuh telapak tangannya dan mulai merapalkan mantra.
"Heal Shield!"
Seketika tubuh Faisya diselimuti aura hijau yang menyejukkan badan. Aku yang menggunakan skill ini saja terpengaruh oleh dampaknya apalagi Faisya. Aku yakin Faisya dapat sembuh seperti sedia kala.
Secara berangsur-angsur, warna kulit Faisya kembali cerah begitu pula dengan wajahnya. Bahkan Faisya terlihat lebih cantik dari sebelumnya, seketika pula debu yang menempel di kulit juga ikut menghilang.
"Ara! Kau nampaknya berhasil Zef-kun." Edna-san yang menyaksikan terlihat juga begitu senang dan takjub.
"Ya Syukurlah! Ini semua berkat mu Edna-san. Terimakasih banyak atas semua pertolongan mu!"
"Oho ho ho ho, senang rasanya dapat membantu Pahlawan Perisai. Sama-sama Zef-kun, ini juga suatu kehormatan bagi ku."
"Kakak, aku sudah sembuh! Bahkan tubuh ku lebih ringan dari sebelumnya! Aku sudah sangat sehat! Sebenarnya apa yang terjadi kak?"
Wajarlah jika Faisya bertanya, dirinya tidak mengetahui dengan jelas apa yang terjadi, karena dia setengah sadar ketika terjadi huru hara ditempat ini. Pada saat ku menyembuhkan Faisya, dirinya benar-benar pingsan.
Aku lantas menceritakan semua kejadian yang telah terjadi ketika dia tak sadarkan diri atau setengah sadar. Faisya menanggapinya dengan khawatir, akan tetapi semua sudah berlalu membuatnya lebih tenang.
"Maaf kak! Aku menjadi beban untuk mu!" ucapnya yang kini menurunkan intonasi suaranya.
__ADS_1
Aku lantas mengelus kerudung putihnya dengan memeluknya.
"Faisya, aku ini kakak mu dan aku punya tanggung jawab untuk melindungi mu. Tak peduli meskipun aku harus kehilangan nyawa sekalipun aku akan pertaruhkan untuk mu Faisya. Karena kau adalah adikku! Kau tahu, aku bisa menanggung segalanya dalam hidupku. Aku bisa melawan, mengatasi rintangan, tumbuh, dan berhasil. Yang aku butuhkan hanyalah kamu di sisiku."
"Kakak aku hiks... haaa... haaa hiks." Faisya menangis seperti anak kecil.
Tangisan ini mengingatkan ku pada kenangan lama yang sudah kulupakan. Aku teringat ketika dulu Faisya dibuly oleh anak-anak sebayanya hanya karena menggunakan hijab. Dia mengadu pada ku dan menangis sejadi-jadinya. Ya kenangan yang mungkin akan sulit terulang kembali.
"Engkau bahkan tidak memiliki rasa takut untuk melindungiku hiks... memberi pengetahuaaaaan hiks.. bahkan sering memarahiku karena perbuatanku.... Akan tetapi, engkau tetaplah seorang kakak yang baik di mataku aaa."
Faisya sekarang lebih bisa menyampaikan perasaannya. Berbeda halnya dengan dulu saat dia masih malu-malu. Aku hanya menanggapinya dengan terus memeluknya.
"Oh aku sangat tersentuh dengan kalian. Hubungan kalian bahkan melebihi sepasang kekasih, melihat kemesraan kalian aku menjadi sangat iri.
Aku melihat hubungan Kakak adik yang selalu bersama sebagai teman, siap untuk menghadapi apa pun yang dikirimkan oleh takdir.
Sukacita dan tawa ataupun air mata dan perselisihan, selalu berpegangan tangan erat saat kalian melalui rintangan kehidupan. Oh andai aku punya Kakak laki-laki! uhu uhu uhuuuu!" Edna-san yang tengah menyaksikan kami menangis karena terbawa suasana.
Aku dan Faisya pun tersenyum karena tingkah konyol Edna-san.
****
POV 3
Setelah kurang lebih delapan hari terjebak di gurun Hera. Zef dan rekannya telah tiba di sebuah kota yang bernama As-lam. Sebuah kota yang masuk kedalam teritorial Kesultanan T'hearus.
Kultur peradaban di kota ini begitu mirip dengan budaya timur tengah pada masa jahiliah. Banyak orang terutama pria menggunakan pakaian serban dan juga baju gamis layaknya orang-orang Arab kuno pada jaman dahulu. Begitu pula dengan para perempuannya yang menggunakan pakaian serba tertutup.
Berbedanya dengan halnya Elceria yang hampir tidak terlihat Demi Human didalamnya. Kesultanan ini termasuk kerajaan yang tidak memandang ras apapun. Banyak para pendatang dari benua timur maupun hanya sebagai pedagang yang ingin berjualan di Kerajaan ini.
Sistem perbudakan tempat hiburan malam di kerajaan ini tidak berlaku bahkan diharamkan oleh otoritas setempat. Sebuah kerajaan yang benar-benar menganut hukum Islam sebagai pondasi hukum Kepemerintahannya.
POV Zef
"Oh Ainul Mardhiah kekasih ku! Aku sudah lama menantikan mu duhai sayang ku!"
Orang yang sedang berteriak didepan rumah itu, sepertinya sedang menunggu seorang wanita keluar dari rumah itu. Lelaki itu tampak berpakaian lusuh dan juga membawa seekor keledai yang tengah membawa beberapa bawaannya.
Kami yang menyaksikan pemandangan ini benar-benar dibuat terkejut.
"Ara! Sepertinya ada yang kasmaran, Oho ho ho ho!"
Perhatian ku dan Faisya kini teralihkan kepada Edna-san. Aku lantas mengangkat alisku setelah melihat sesuatu yang berbeda darinya.
"Anda siapa?" kata Faisya tak mengenali perempuan yang barusan berbicara.
"Faisya-chan! Kau lupa dengan ku?"
"Oh jadi anda ya Edna-san!"
"Tunggu sejak kapan kau mengganti pakaian mu?" tanya ku.
"Ya ampun Zef-kun! Kita juga harus menyesuaikan budaya disini. Mana mungkin kan aku menggunakan pakaian seperti sebelumnya. Mengerti kan?"
Benar yang yang dikatakan Edna-san. Memang seharusnya seperti itu, menutup aurat akan lebih baik. Akan tetapi, seharusnya dia berpakaian seperti ini sedari awal.
Sekarang Edna-san, menggunakan sebuah jubah dan jilbab untuk menutup seluruh auratnya. Bahkan diapun kini menggunakan sebuah cadar hitam. Tak ada bagian tubuh manapun yang terlihat terkecuali mata dan telapak tangan saja.
'CLANGKK'
Terdengar sebuah pecahan guci gerabah yang dilemparkan dari jendela lantai dua.
"Aku bilang jangan pernah kemari lagi!!" teriak seorang wanita dari balik jendela tersebut.
Bersambung...
(Chapter berikutnya "Tujuan")
Note :
Mampir juga ke Audiobook Senpai dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, coment dan Votenya terimakasih.
- My Free Life In Another World
__ADS_1
- Reinkarnasi : Kembali ke tahun milenium.
Follow juga Instagram author untuk mendapatkan informasi update dan perkembangan novel ini di @sapta_yudha.author