
The Rising Of The Lord Hero
> Chapter 51 "Tujuan Akhir"
"Oh, Ainul Mardhiah! mengapa kau tega memperlakukan ku seperti-"
"Diaaaam!!"
'CLAK'
"Pergi dari sini!! Tolong! Tolong! Tolong! Penjaga kota dimanakah kalian?" Ainul Mardhiah berteriak dengan sangat keras.
Wanita yang bernama Ainul Mardhiah itu, kembali melempar sebutir telur ayam kearah kepala pria misterius tersebut dari balik jendela. Lelaki itu sama sekali tidak bergeming dan terus menatap jendela kamar Ainul Mardhiah dengan penuh harapan.
Aku hargai perjuangan lelaki itu. Dia sudah berulang kali menyatakan kesungguhannya didepan wanita itu, namun sayangnya dia selalu ditolak. Seharusnya sebagai seorang lelaki tak perlu bertindak berlebihan seperti itu. Justru perilaku itu hanya akan membuat wanita semakin tak menyukainya.
Tak berselang lama dua orang penjaga kota datang ke lokasi kami. Mereka membawa sebuah pedang berbentuk melengkung yang tersarung di pinggang mereka. Penjaga kota ini tampak seragam dengan serban dan pakaian yang sama.
"Ada keributan apa ini!?" tanya salah satu penjaga itu keras.
"Tolong tangkap Pria itu pak! Dia sudah membuat keributan ditempat ini." kata Ainul Mardhiah.
"Teganya dikau memperlakukan ku seperti ini duhai kekasihku! Padahal aku hanya mengungkapkan kesungguhan ku padamu!"
Kedua penjaga itu hanya saling memandang setelah melihat tingkah konyol pria tersebut.
"Tangkap dia sekarang pak! Dia sudah berulangkali datang kemari!"
Tanpa pikir panjang lagi, para penjaga itu sesegeranya menyeret lelaki itu dan membawa keledainya.
"Ayo ikut dengan kami!"
"Oh kekasihku! Ingatlah satu hal... Aku takkan pernah menyerah... Tak akan menyerah!" teriak lelaki yang tengah diseret itu.
'JLEDAKK'
Ainul Mardhiah menutup jendela kamarnya yang berada di lantai dua. Sangat disayangkan, aku bahkan belum sempat melihat wajahnya.
"Ara! Drama yang sangat menghibur sekali, ahhh~" kata Edna-san sembari menyentuh kedua pipinya.
"Apa lelaki itu sedang mabuk ya kak?" tanya Faisya.
"Sudahlah itu tidak penting, baiknya kita mencari tempat makan dulu!" instruksi dari ku.
"Emh, iya aku juga sudah lapar kak!"
"Wah! Waktunya makan.. Yey!"
"Edna-san, bukankah misi mu sudah berakhir? Kenapa kau masih mengikuti kami?"
"Owh, kau jahat sekali Zef-kun! Padahal aku hanya ingin menghabiskan waktu terakhir ku bersama kalian! Huekkk..... Faisya-chan, Kakakmu jahat sekali!" Edna-san menghambur kearah Faisya seperti anak kecil.
Faisya sudah terbiasa menghadapi sikap konyol Edna-san, namun kali ini dia menanggapi perilakunya dengan serius.
"Sudahlah Edna-san! Cup cup cup! (Menoleh ke arah ku) Kakak! Ayolah jangan seperti itu kepada Edna-nechan. Biarkan dia menikmati waktu terakhirnya bersama kita!" kata Faisya marah padaku.
"Ya ampun! Aku kan hanya bertanya!" kata ku ketus.
****
Tak berselang lama, kami melalui jalan di sebuah pasar berharap akan ada rumah makan ditempat ini. Suara riuh para penjual dan pembeli menandakan Pasar ini tengah ramai dikunjungi oleh orang-orang.
Derap kaki setiap orang berusaha melangkah mencari suatu barang ataupun hanya sekedar lewat. Tercium aroma tak sedap yang berasal dari sayuran busuk semerbak di udara, namun beginilah Pasar. Sebuah pemandangan yang tak jauh berbeda dengan kebanyakan Pasar di Elceria.
Terdapat dipinggiran jalan seorang lelaki tua berjanggut putih, mengenakan pakaian lusuh, dengan membawa sebuah tongkat kayu, dan sebuah mangkuk, tengah duduk bersila meminta welas asih kepada orang-orang yang lalu-lalang, berharap akan mendapatkan sebuah koin atau makanan.
Aku yang merasa kasihan kepadanya pun mendekatinya dengan memberikan tiga koin perak. Aku membagikan koin-koin itu kepada Faisya dan Edna-san untuk diberikan kepada Kakek tua itu secara bersamaan.
__ADS_1
"Assalamualaikum Kek!"
"Walaikumsallam, Terimakasih banyak semoga Allah membalas kebaikan kalian anak muda!"
""Amin"" ucapku dan Faisya serempak.
"Permisi Kek, apakah di kota ini ada rumah makan terbaik?" tanya Edna-san.
"Ah rumah makan ya! Aku rekomendasikan di rumah makan Al-Ladhidh. Disana terdapat menu makanan yang lezat-lezat. Jika dari sini kalian cukup melewati jalan ini hingga kalian menemukan sebuah perempatan jalan. Kalian perhatikan saja bangunan di perempatan itu. Jika kalian mencium aroma masakan di salah satu bangunan, maka di sanalah rumah makan itu." kata pria sepuh dengan rinci.
"Terimakasih banyak Kakek, Wassalamualaikum!" ucap Faisya.
"Walaikumsalam warohmatullohi wabarokatuh!"
Setelah bertanya kepada pria sepuh itu, kami melenggang pergi menuju tempat yang di tunjukkan kakek tadi.
****
"Pasar ini ramai sekali ya!" kata Faisya.
"Kau benar Faisya. Pasar ini bahkan lebih ramai dari pada Pasar Westria." kata ku.
"Ohoh!! Memang tak ada salahnya jika sekali-kali berbaur dengan manusia!"
"Apa kau tidak masalah berbaur dengan kami?" tanya ku.
"Tidak masalah Zef-kun, selama itu menyenangkan! Asal kau tahu saja, aku memang sering berbaur dengan para manusia selama hidup... ummhh aroma sedap apa ini?" kata Edna-san yang tiba-tiba mencium aroma masakan.
Sesampainya kami di perempatan jalan kami disuguhkan aroma masakan yang semerbak di udara. Seakan wangi aroma masakan memancing kami mengikuti jejaknya. Kami pun mencari sumber aroma masakan tersebut sebelum akhirnya....
"Pergi!!! Tidak ada uang tidak ada makanan!!" teriak penjaga rumah makan tengah mengusir seorang pria yang tidak asing di mata ku.
"Tapi, aku lapar!"
"Antum sudah sering datang kesini. Bukankah kami sudah baik bersedekah padamu setiap kali kau datang. Kali ini biarkan fakir miskin lain untuk mendapat bagian jatah mereka."
"Tidak ada... Sudah sana!"
Melihat keributan itu kami mendatangi rumah makan tersebut.
"Assalamualaikum!" ucapku.
""Walaikumsallam"" jawab kedua orang yang tengah berdebat itu.
"Permisi, sebenarnya ada apakah gerangan?"
"Begini Kisanak, pemuda ini sudah terlalu sering kemari. Kami memang menyisihkan makanan untuk fakir miskin. Akan tetapi, jumlahnya terbatas. Nah, pemuda ini selalu mengambil jatah milik orang lain. Oleh sebab itu aku mengusirnya." kata penjaga rumah makan.
"Benarkah itu Ikh'wan?" tanya ku pada pemuda yang diseret para penjaga kota tadi.
Ikh'wan : Sebutan bagi saudara laki-laki
Akh'wat : Sebutan bagi saudara perempuan
(Bahasa Arab)
"Sebenarnya aku punya alasan tersendiri-"
"Jangan berbohong antum ya!"
"Sudah cukup... Ini tuan siapkan hidangan terbaik untuk kami berempat." kata ku sembari memberikan empat koin perak.
"Berempat!?" gumam pria itu yang terdengar oleh ku.
Penjaga tersebut terbelalak melihat empat koin perak ditangannya. Ia pun sepertinya nampak heran karena bentuk mata uang koin itu berbeda dari koin perak yang sering digunakan untuk transaksi di kerajaan ini.
"Ini!? uang koin inikan berasal dari Elceria! Apakah kalian berasal dari Elceria?" Penjaga itu mencoba menebaknya.
__ADS_1
"Ya seperti yang anda kira!" kata ku.
"Apa mungkin Ikh'wan dan Akh'wat sekalian melewati gurun ini?" tanya Penjaga itu.
"Em ya begitulah aha ha ha!" jawabku lagi.
"Ti-tidak mungkin! Kalau begitu pastilah kalian ini seorang petualang tier platina. Baiklah kalian pasti lapar, kami akan memberikan hidangan terbaik. Mari masuk kedalam tuan dan nyonya-nyonya sekalian." kata penjaga itu mempersilahkan kami masuk.
"Baiklah, ayo Faisya, Edna-san. Ikh'wan juga ayo mari!"
"Syukron Ikh'wan!" jawab pria yang barusan aku traktir.
"Yey waktunya makan Uhu hu hu." kata Edna-san.
Kamipun disambut layaknya tamu spesial di rumah makan ini. Kami langsung disuguhkan dengan hidangan dan kudapan yang menggugah selera. Kulihat Pria yang ku traktir barusan nampak ngiler dengan hidangan-hidangan tersebut.
Tanpa basa-basi, ia langsung mengambil sebuah paha burung unta lalu memakannya. Kami yang melihat dia makan tanpa baca doa terlebih dahulu hanya menggelengkan kepala.
"Ikh'wan pelan-pelan saja makannya!" kata Faisya.
"Ara! sepertinya kau kelaparan ya!" Edna-san menimpali.
"Kakak, kau serius untuk membeli semua ini?" tanya Faisya yang khawatir dengan keuangan kami.
"Tenanglah, uang kita bahkan tak berkurang sedikitpun semenjak pelarian kita dari Elceria." kata ku tenang.
"Apwa!? Jadi Ikh'wan dan Akh'wat sekaliwan sedwang dalwam pelariwan?" tanya pria itu sambil mengunyah makanannya.
"Em sebaiknya Ikh'wan telan dulu makanannya." tegur Faisya.
Pria itu pun menelan makanannya, kemudian mengambil secangkir air lalu meminumnya.
"Ahh!"
'DLAK'
Ditaruhnya cangkir yang terbuat dari kayu tersebut keatas meja. Pria itu kemudian mengulangi perkataannya.
"Ya seperti yang antum katakan tadi. Kami memang sedang dalam pelarian." kata ku.
Pria itu kemudian mengangguk sambil menyentuh dagunya.
"Sebenarnya Ikh'wan ini siapa?" tanya Faisya.
"Ah maaf atas kelancangan ku! Aku belum memperkenalkan diriku sebelumnya." sambil pria itu menundukkan kepalanya.
"Nama ku Fulan.. Maaf aku tidak tahu siapa nama ayah ku semenjak kecil, jadi aku tidak mengetahui Bin ku siapa." ucap Fulan.
"Apakah Antum seorang yatim?" kata ku.
"Benar sekali. Tapi itu tidaklah penting! Jadi, sebenarnya kalian sedang dalam pelarian apa dan apakah ada hubungannya dengan tameng itu?"
Mendengarnya berkata demikian membuat ku mengangkat alisku. Munculah pertanyaan di kepala ku. Darimana dia mengetahui jika itu semua karena tameng ini? Apakah hanya kebetulan?
Bersambung...
(Chapter berikutnya "Tak Terduga")
Note :
Mampir juga ke Audiobook Senpai dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, coment dan favorit terimakasih.
- My Free Life In Another World
- Reinkarnasi : Kembali ke tahun milenium
- The Rising Of The Lord Hero (1)
__ADS_1
Follow juga Instagram author untuk mendapatkan informasi update dan perkembangan novel ini di @sapta_yudha.author