
"Jadi, kau mau membantu ku?" tanya Sanaya.
"Tujuanku berada di dunia ini untuk menyatukan para Pahlawan kan!? Jadi masalah yang menimpa para Pahlawan harus aku selesaikan." kata ku sok.
Sangat bertentangan sekali dengan keinginan ku, padahal aku hanya ingin segera pulang dan kembali ke dunia ku setelah semua ini berakhir. Tapi sepertinya tidak semudah mengatakannya.
"Berarti kau mau membantu ku!" Sanaya menyimpulkan.
"Ya mau gimana lagi, masalah mu juga masalah ku." pungkas ku.
Sanaya berdiri dan secara tiba-tiba memeluk ku. Aku dibuat kaget olehnya.
"Terimakasih Yudha-kun!"
"Hey.. sudahlah!"
"Ah.. maaf aku tidak sengaja!" jawab Sanaya malu.
Setelah memeluk ku untuk beberapa saat wajah Sanaya menjadi memerah. Sepertinya dia melakukan itu tanpa dia sadari.
Semenjak tiba di dunia ini aku mendadak jadi populer, ketika masih di dunia ku aku jarang sekali berinteraksi dengan wanita. Tak jarang aku dipeluk dan di goda oleh gadis-gadis cantik di dunia ini.
"Baiklah Yudha-kun! mari kita persiapkan saja kebutuhan mu untuk pertarungan nanti. Ayo ikut dengan ku." Sanaya mengubah topik dan menarik lenganku.
"Pertarungan ya.. hah merepotkan sekali! Kita mau kemana?"
Kami pun tiba di lokasi tempat latihan Sanaya. Sesaat aku terpikirkan mengenai statistik yang dimaksud Juragan Leonard. Kemungkinan kunci jawaban ku ada disini.
"Jadi, Yudha-kun! Kau sudah menentukan senjata apa yang akan kau gunakan dalam bertarung nanti?"
"Senjata yah, sepertinya aku sudah menentukannya." Aku kemudian menunjukkan senjata Pistol G2 Premium yang ada di pinggulku.
"Hah apa itu?"
Sanaya tampak bingung melihat Pistol yang aku pegang. Ekspresinya sangat lucu untuk dilihat.
"Ini adalah senjata modern dari dunia ku. Namanya adalah senjata Pistol, cara kerjanya seperti ini." sembari ku mengunci peluru pistol.
'Plaarr'
Sanaya terkejut dan menutup telinganya sembari berteriak. Aku menembak sasaran boneka yang jaraknya sekitar sepuluh meter dari tempat kami berada.
"Aaaa apa itu tadi? Suaranya keras sekali!"
"Ha ha ha, santai saja! Apa kau terkejut Tuan Putri?" kata ku.
"Tentu saja, harusnya kau memberi aba-aba terlebih dahulu tahu!" balas Sanaya.
"Seperti itu cara kerjanya! Cukup menariknya seperti ini lalu bidik sasaran mu, kemudian menekan pelatuknya ke belakang. Maka... Tutup telinga mu!"
Sanaya menutup telinganya.
'Plaarr'
"Wah keren sekali!! Bisa menembakkan bola api kecil."
"Itu bukan bola api, melainkan peluru!"
"Bukankah peluru itu besar dan itukan untuk meriam?"
Sanaya mengira peluru yang digunakan adalah peluru meriam. Tapi aku bisa maklum karena peradaban dunia ini tidak semaju dunia ku. Senjata seperti ini belum ditemukan di negeri ini.
"Ya memang seperti itu, tapi yang namanya peluru itu bermacam-macam jenisnya Tuan Putri."
"Panggil Sanaya saja!"
Sepertinya Sanaya tidak suka dipanggil Tuan Putri.
"Ya baiklah!" pungkas ku.
"Jadi, seperti itu yah. Apa di dunia mu senjata itu sering digunakan?" tanya Sanaya.
"Tentu saja! Senjata semacam ini sering digunakan oleh para aparat penegak hukum dan militer. Mengingat kami hidup di era modern, senjata pedang, tombak dan busur sudah tidak digunakan lagi."
"Oh, wah keren! Senjata itu pasti sangat efektif untuk membunuh. Tapi sayang sekali, kemungkinan senjata itu akan dilarang dalam pertarungan nanti."
"Lah kenapa?
"Pertarungan nanti hanya boleh menggunakan jenis senjata jarak dekat dan bukan untuk jenis senjata jarak jauh seperti busur dan sejenisnya. Kalau aku nilai Senjata mu masuk ke kategori Senjata jarak jauh." jelas Sanaya.
"Memangnya seperti itu regulasinya?"
"Memang begitu!"
Kemudian, secara mengejutkan para Prajurit Wanita datang berbondong-bondong ke tempat kami dengan tergesa-gesa.
"Anda baik-baik saja kan Tuan Putri!! Kami mendengar ada dua kali suara keras disini!"
__ADS_1
"Ahaha, tidak terjadi apa-apa! Semuanya aman dan terkendali, kalian boleh pergi sekarang."
"Tapi apa itu benar?"
"Apa kalian tidak mendengar ku?" Sanaya sambil tersenyum mengintimidasi.
Aku merasakan senyumannya bukan senyuman biasa aku merasakan hawa intimidasi darinya. Sehingga membuat ku menelan ludah karenanya. Para Prajurit Wanita kemudian merasa ketar-ketir dan pergi dari hadapan kami.
"Ba-Baiklah, Tuan Putri! Kami undur diri!"
"Heee~~" gumamku.
Tanpa basa-basi aku bertanya prihal statistik kekuatan kepada Sanaya.
"Sanaya, jika boleh aku tahu. Apa kau tahu mengenai statistik kekuatan?"
"Statistik, bukankah itu hal biasa. Kau bisa melihatnya di pengelihatan mu kan?"
"Jikapun ada aku tidak akan bertanya!"
"Apa? Jadi, benar kau tidak tahu! Kalau begitu untuk mengaktifkan pengelihatan statistik itu kita harus mengunjungi akademi.
Disana ada sebuah tempat yang terdapat sebuah Statistic Eyeball . Biasanya benda itu di gunakan oleh para siswa calon kesatria untuk membuka akses pengelihatan statistik mereka." jelas Sanaya.
"Oh jadi seperti itu rupanya! Apa kita bisa kesana?" tanya ku lagi.
"Tentu saja, Ayo mumpung masih siang! Sekalian aku akan menemanimu berkeliling!"
"Tunggu ini seperti kencan dadakan." ucapku.
"A-a-apa? Ti-tidak juga, sudahlah jangan bicara seperti itu. Dasar!" ujar Sanaya dengan ekspresi wajah memerah dan mengalihkan pandangannya.
Jika dilihat Sanaya imut juga kalau ku perhatikan.
"Ha ha ha, ayolah aku hanya bercanda! Melihat ekspresi mu aku sudah bisa menebaknya."
"Menebak apa?"
"Tidak ada! Baiklah ayo!" pungkas ku dan berjalan menuju keluar.
"Kau ini ya!"
****
Aku kemudian di ajak Sanaya berkeliling kota. Mengingat sedang ada pandemi, semua toko peralatan tutup dan hanya toko yang menjual bahan makanan yang masih buka.
Kamipun tiba di akademi kerajaan. Jaraknya sekitar empat ratus meter dari kastil kerajaan. Singkat cerita aku sudah berada di sebuah bangunan besar Kesatriaan. Disana terdapat seorang kesatria yang tengah berjaga.
Kesatria itu kemudian menyadari kedatangan kami. Lalu menyambut kami.
"Ah Tuan Putri Sanaya, ada perlu apa anda kemari?"
"Begini pak, aku hanya ingin kau mengaktifkan Statistical Vision di pengelihatannya."
"Oh begitu ya, baiklah mari saya antar!"
Kami pun mengikutinya dan tibalah kami pada sebuah ruangan dimana Statistic Eyeball berada. Bentuk bola itu cukup besar dan terdapat lubang berbentuk persegi ditengahnya, bola itu berwarna emas dan memiliki ukiran relief di sekelilingnya.
Aku lalu diminta memasukkan telapak tangan kananku kedalam bola itu. Secara mengejutkan hal aneh terjadi pada bola itu. Bola itu bergetar cukup hebat dan mulai agak berasap.
"Hey, apa ini aman?" ucapku khawatir.
"Ah ini, ti-tidak mungkin!!" kata Kesatria itu.
"Ada apa pak?" kata Sanaya.
Kemudian semacam hologram sihir muncul di hadapan kami. Ada banyak terdapat tulisan dan angka yang tidak dapat aku mengerti. Tapi melihat ekspresi Sanaya dan Kesatria sepertinya menjelaskan keadaannya.
"Statistik mu, lu-luar biasa!!" ujar Sanaya.
Aku heran melihat ekspresi mereka disini, padahal aku merasa kemampuan ku terbilang biasa saja. Tapi mereka justru terkejut melihatnya, apakah karena aku seorang prajurit elit?
Sebelumnya di dunia ku ada rumor yang mengatakan bahwa, kemampuan seorang Kopassus itu setara dengan seratus prajurit biasa. Memang hal itu tidak bisa dipungkiri, kami sebagai seorang Kopassus dilatih untuk dapat melewati limiter kekuatan prajurit biasa.
Bukannya sombong, aku memang memiliki segudang kemampuan yang belum aku perlihatkan sebelumnya. Jadi wajarlah jika mereka terkejut.
"Aku terkejut! Kemampuan mu bahkan setara dengan kesatria terhebat." kata Pria itu.
"Apa iya?" ucap ku sembari menggaruk pipiku dengan jari manis.
"Kenapa kau bersikap biasa saja? Statistik mu bahkan melebihiku sebagai Kesatria elit. Harusnya kau lebih jumawa, aku yakin dengan begini kau bisa mengalahkan Azrael." ujar Sanaya dengan bersemangat.
Seperti yang aku jelaskan barusan. Aku bersikap biasa saja, karena memang rata-rata prajurit Kopassus memiliki kemampuan lebih. Kesatria yang berada di depan ku lalu kembali mengamati statistik ku.
"Walau level kemampuannya luar biasa, akan tetapi Tuan Yudha telah menerima serangan kutukan yang berdampak pada penurunan kebugaran." ujar Kesatria itu menerangkan.
"Apa mungkin itu karena serangan dari Pahlawan Perisai sebelumnya?" tanyaku.
__ADS_1
"Itu kemungkinan Yudha-kun! Memang dampak serangan dari Pahlawan Perisai tidaklah signifikan. Akan tetapi itu akan berimbas pada penurunan kemampuan jika menerima serangan langsung darinya." Sanaya menerangkan.
Benar kuduga, penurunan statistik ku diakibatkan oleh kutukan Pahlawan Perisai. Memang serangannya tidak menyakiti ku, akan tetapi itu justru mengurangi kemampuan ku. Kemungkinan Pahlawan Perisai masih memiliki skill yang terkuat dari sebelumnya. Aku harus waspada jika nanti bertarung lagi dengannya.
"Lalu apa aku bisa pulih dari penurunan statistik itu?"
"Dampaknya tidak akan lama tuan Yudha! Disini tertulis, dampak kutukan akan menghilang dalam waktu dua hari lagi."
"Ah syukurlah, berarti aku masih bisa pulih sebelum pertarungan yang merepotkan itu."
Secara mengejutkan sesuatu muncul di pengelihatan ku, bentuknya seperti hologram game berwarna biru. Akan tetapi sekarang berbahasa Indonesia, jadi aku lebih mudah untuk mengerti.
Statistik ini cukup mirip dengan game yang sering aku mainkan, sekali melihatnya aku langsung paham. Biar aku jelaskan detilnya, statistik yang terdapat pada hologram tersebut.
Nama : Sapta Yudha
Laki-Laki, 22 tahun.
Kebugaran
- Hp 880 >> 780 Status 80%
Nerf -100Hp
- Stamina 100 Status 100%
- Ap 1000 >> 500 Status 50%
Nerf -500Ap
Exp.5470
Level Kemampuan Dasar
- Kekuatan Lv.80
- Kelincahan Lv.78
- Kemahiran Lv.95
- Kecerdasan Lv.77
Level Intensitas
- Serangan Lv.70
- Pertahanan Lv.68
- Vitalitas Lv.85
Keterangan :
- Senjata dan Atribut yang dikenakan akan menambahkan level kemampuan.
- 1 level mewakili 10Exp.
Catatan :
Status kebugaran mengalami penurunan setelah menerima Nerf kutukan. Berdampak pada penurunan poin Hp sebesar 20% dan Ap sebesar 50%. Sisa waktu dampak kutukan akan menghilang dalam 2 hari.
(Ap kepanjangan dari Ayna Point' sebagai pengganti MP atau Mana Point)
"Bagaimana Yudha-kun, kau melihat sesuatu?"
"Ya aku melihatnya, ini seperti status dalam game!"
"Game? Apa itu?"
Sepertinya Sanaya bingung dengan ucapan ku barusan.
"Bukan apa-apa hehe!"
"Dasar aneh!"
"Hee~~"
"Lalu bagaimana caranya aku menaikan level kemampuan ku?" Aku bertanya lalu Sanaya menjelaskan.
"Caranya tinggal berlatih saja! Level itu hanya bersifat sementara, jika kita tidak mengasahnya maka akan terjadi penurunan kemampuan. Semakin sering kita berlatih maka level kemampuan kita juga akan meningkat. Pola hidup sehat juga akan mempengaruhi kualitas poin kebugaran kita."
"Begitu rupanya, aku kira mungkin dengan membunuh para monster akan meningkatkan level kemampuan."
Bersambung...
(Chapter berikutnya "Kemampuan")
Follow juga Instagram author untuk mendapatkan informasi update dan perkembangan novel ini di @sapta_yudha.author
__ADS_1