
POV Sanaya
Setelah mengetahui Yudha-kun pingsan, aku memerintahkan kepada Prajurit ku untuk sesegera mungkin membawanya ke ruang perawatan Istana.
"Yudha-kun bertahanlah!" ucapku yang kini mengikuti para prajurit ku yang tengah menandu Yudha ke dalam Istana.
Setibanya kami di ruang perawatan, Yudha langsung dibaringkan ke ranjang dan para tabib Istana langsung memberikan perawatan kepadanya.
Nenek Zubir, masuk kedalam ruangan karena mendengar ada yang terluka sehabis pertarungan. Melihatnya aku langsung mendekatinya untuk memintanya sebisa mungkin memulihkan kondisi Yudha-kun.
"Nenek aku mohon sembuhkan Yudha-kun dengan kemampuan terbaik mu!" kataku dengan panik.
"Tenanglah Tuan Putri! Aku akan memberikan yang terbaik. Sebaiknya anda juga harus menerima perawatan, luka anda bahkan lebih serius daripada Tuan Yudha."
"Aku masih bisa bertahan, tolong sembuhkan dia Nek!"
Nenek Zubir, lalu memeriksa nadi dan mulai melakukan pemeriksaan dengan skillnya kepada tubuh Yudha. Setelah selesai melakukannya aku langsung menanyakan kondisi Yudha.
"Bagaimana Nek?"
Nenek Zubir hanya menanggapinya dengan seluas senyum.
"Ah! Melihat anda yang khawatir padanya mengingatkan aku pada masa muda ku, Nona Sanaya."
Mendengar jawaban dari Nenek Zubir justru membuat ku kebingungan.
"Apa maksudnya?"
"Ha ha ha... Dia hanya pingsan! Nak Yudha hanya kelelahan akibat kurang tidur, sepertinya pemuda ini telah mencapai batasnya hari ini." ucap Nenek Zubir.
Mendengar Yudha-kun, hanya pingsan akibat kurang tidur membuat ku lebih tenang. Aku kira Yudha-kun terkena kutukan seperti beberapa hari lalu.
"Ya ampun ternyata dia hanya tertidur. Aku kira dia terkena kutukan seperti waktu itu Nek!" sambil ku menyentuh kening ku.
Apa Yudha-kun tidak tidur karena menjaga Syira semalaman suntuk? Dia sangat perhatian sekali pada Syira, aku tidak menyangka dia akan memperlakukan Budaknya seperti itu.
"Bagaimana lukanya Nek?"
"Lukanya cukup dalam, tapi tidak mengalami pendarahan yang berat. Aku cukup terkejut, baru kali ini mendapati seorang pasien seperti dia yang mengalami luka lebar, tapi tidak mengalami pendarahan berat.
Tak perlu khawatir Tuan Putri! Untuk lukanya, aku akan segera menyembuhkannya dengan sihir regenerasi."
"Baiklah, kalau begitu aku serahkan dia kepada mu Nek. Aku juga harus menyembuhkan luka ku." Aku pun langsung pergi meninggalkan ruangan itu dan menuju ruangan khusus.
****
POV Syira
"Nona Syira kau mau kemana?" kata seorang pelayan yang kini tengah menjaga ku.
"Aku harus ketempat Yudha-sama!"
"Tidak boleh! Kau harus tetap disini. Bukankah Tuan Yudha menyuruh mu untuk tetap disini."
"Tapi Yudha-sama-"
"Tak perlu mengkhawatirkannya. Tuan Yudha pasti dirawat dengan baik. Kau juga harus tetap disini untuk tetap beristirahat." ucap Pelayan itu.
Aku lalu menatap keluar jendela dan berharap Yudha-sama baik-baik saja.
"Aku harap kau baik-baik saja Yudha-sama!"
****
POV Yudha
'SRESSSSSSS'
"Egh! Dimana aku? Tempat apa ini?" ucapku yang baru terbangun akibat mendengar suara air terjun.
Aku mendapati diriku berada di sebuah air terjun dan tengah terbaring pada sebuah batu besar. Aku lalu berdiri dari tempat ku sekarang untuk melihat situasi sekitar.
"Air terjun? Kenapa aku bisa disini?"
"Sudah bangun ya!"
Aku mendengar suara seorang Pria Sepuh dari belakang ku. Secara refleks aku lalu menoleh kebelakang dan mendapati seorang Pria Sepuh yang tengah berdiri tak jauh dari ku, menggunakan sebuah tongkat kayu sebagai penyangga.
Dirinya menggunakan setelan jubah serba putih dan terlihat bersinar terang. Bukan karena pantulan cahaya matahari akan tetapi jubah yang dikenakannya memang diselimuti cahaya.
Wajahnya tertutup akibat kupluk jubah yang ia kenakan, sehingga hanya terlihat hidung hingga jenggot putihnya saja. Aku yang melihat penampilannya dan merasakan aura yang tidak biasa darinya langsung memucat.
"Si-siapa kau? Dimana aku!"
"Kita sekarang berada di alam bawah sadar mu!" jawab Pria Sepuh itu.
"Alam bawah sadar?"
"Ya!"
"Kenapa aku di alam bawah sadar? Sebenarnya apa yang terjadi?"
__ADS_1
"Tidak ada yang terjadi! Bagaimana dengan dunia yang sekarang kau tempati dan bagaimana rasanya menjadi seorang Pahlawan? Apa itu menyenangkan?"
Mendengar Pria Sepuh itu bertanya tentang beberapa hal yang sedang aku jalani membuatku mengangkat alisku. Sepertinya Pria Sepuh ini ada kaitannya dengan diriku bisa terlempar ke Isekai.
"Apa kau ada kaitannya dengan semua hal yang kau tanyakan tadi?" tanya ku balik.
Pria Sepuh itu hanya tertawa kecil dan kini berjalan mendekati ku. Aku lantas mundur beberapa langkah karena Pria Sepuh ini memiliki aura yang tidak biasa.
"Bisa dibilang! Tapi aku bukan penyebab dirimu berada di dimensi sekarang kau tinggali. Aku hanya memperingatkan, dunia ini bukanlah tempat yang seharusnya bagimu.
Jangan pernah terlena akan keglamoran dunia ini. Ingat semakin kau melangkah kedepan, maka langkahmu akan semakin berat. Setiap langkah mu akan menentukan nasib mu. Hanya itu saja pesanku." pungkas Pria Sepuh itu.
Aku lantas merenungi apa yang dikatakan kakek itu sambil menatap ke bawah. Aku masih penasaran siapa dia, kutanyakan saja dirinya. Namun...
"Jadi, siapa... Kau... Sebenarnya? Lah kok ilang?" Pria Sepuh itu kemudian menghilang dari hadapan ku dan tidak meninggalkan jejaknya sama sekali.
****
"Ugh!! Cuma mimpi ya! Itu sudah hampir seperti nyata."
Aku lantas terbangun dari tidurku dan mendapati diriku berada di sebuah kamar yang luas. Aku duduk di ranjang dan memperhatikan bagian tubuh ku di balut oleh perban luka, terutama di bagian bahu dan pinggang.
Aku memperhatikan ruangan ku sekarang, ruangan ini di terangi oleh batu-batu kristal bercahaya. Ya saat ini tepat pada malam hari.
Aku mendapati beberapa potong roti sandwich dan secangkir susu di meja yang letaknya tak jauh dari ranjang tempat aku tidur. Aku mengambil dan memakannya karena aku sedang lapar.
Aku merenungkan sejenak dan memikirkan arti mimpi tadi. Sebenarnya siapa Pria Sepuh itu, jika aku berfikir dia Malaikat sepertinya itu mustahil. Karena tak mungkin Malaikat akan menemui ku sebab aku hanyalah hamba biasa.
Seusai makan dan minum susu, aku menjalankan kewajiban dan kembali tidur. Sebab aku hanya sendiri di ruangan ini dan tak ada teman ngobrol. Syira pun kini masih berada dikamar nya dan sedang dirawat juga.
Disaat ku terbaring, aku memperhatikan tameng milik Zef yang kini bertransformasi menjadi lebih kecil terpasang di lengan kanan ku. Aku tak menyangka bahwa tameng ini akan ikut bersamaku. Sepertinya tameng ini juga menganggap ku sebagai tuannya sama seperti pedang Sanaya.
Aku lalu mencoba mengakses sistem tameng legendaris ini dengan pengelihatan statistik ku. Aku menemukan beberapa fitur yang hampir serupa dengan pedang Sanaya.
Aku melihat level dan varian nama from pada tameng ini. Sangat beragam nama from skillnya, bahkan banyak sekali tipe jenis tameng yang terdapat pada tameng ini. Hanya beberapa saja yang bisa ku sebutkan.
Seperti skill menyerang
- Earthquake Shield
- Fire Blaster Shield
Dan lainnya, mungkin jika dihitung bisa sampai ratusan nama jurus tergantung jenis tameng apa yang dipilih.
Beberapa from perubahan tameng ini juga beragam dan memiliki fungsi tersendiri.
- Life Shield
- Dragon Shield
Digunakan dalam pertarungan dapat digunakan untuk bertahan dan menyerang.
- Meteor Shield
Digunakan dalam pertarungan jarak jauh terutama untuk menahan serangan besar.
- Buckler Shield
Digunakan untuk bertahan dari serangan jarak dekat.
- Pavise Shield
Digunakan untuk menahan serangan panah dan serangan jarak jauh.
Tipe Senjata
TAMENG PAHLAWAN
LEVEL : 50
BAHAN : Infinity Iron
"Heee baru level 50! Tapi tameng ini sudah sangat kuat. Bahkan bisa mengimbangi Pedang Sanaya yang levelnya berada jauh diatasnya." gumamku.
Sekiranya hanya itu saja yang baru aku ketahui dari tameng ini, sisanya masih ada banyak. Anehnya aku tidak menemukan seri kutukan disini, seperti seri kutukan akan muncul jika si pengguna melanggar pantangan.
Setelah melihat fitur pada tameng itu, aku kemudian kembali tidur untuk melanjutkan aktivitas di esok hari.
****
Hari kedua ku setelah peristiwa amukan Zef. Aku sudah pulih dari luka-luka ku. Karena pakaian ku sebelumnya telah robek akibat pertarungan, jadi aku tidak mengenakannya.
Aku sekarang mengenakan pakaian kaos moccha ala-ala abad pertengahan dan masih menggunakan celana loreng yang telah dicuci.
Kaos yang aku gunakan sekarang kebetulan aku mendapatkannya di lemari kamar tempat aku dirawat. Mungkin kaos itu memang disediakan untuk ku, jadi aku memakainya.
Di pagi hari ini aku sedikit melakukan peregangan dan sedikit latihan silat. Mengingat ilmu silat akan sangat digunakan di dunia ini, jadi wajib harus lancar memainkan jurusnya.
Aku memang agak sedikit kerepotan karena tameng pahlawan tak bisa ku lepaskan. Bukan karena bebannya, tapi karena ukurannya yang besar membuatku kerepotan.
Tameng ini akan bertransformasi secara otomatis ketika aku sedang atau akan tidur saja. Karena benda ini akan merepotkan ku jika berada di lengan ku. Aku memindahkannya ke punggung ku dan sekarang penampilan ku sudah mirip Steve Rogers.
__ADS_1
"Hehe~ Avengers Assamble! wkwkwk" aku berbicara sendiri dan memainkan tameng ini seperti layaknya Captain America karena sedang gabut.
Terbesit dalam pikiran ku, jika senjata Pahlawan ini bisa menirukan senjata lain dengan tipe yang sama. Kenapa tidak mencoba membuat perisai yang sama juga seperti milik Captain America.
Sepertinya akan sangat menarik, tentunya aku akan memodifikasinya agar muncul kesan Indonesia. Seperti bentuk desain berupa gambar burung Garuda di tengahnya dan berwarna merah putih.
"Hem sepertinya aku butuh bantuan pandai besi di kota ini! Dan yah mengingat baju seragam dan Vest ku tidak efektif di dunia ini. Jadi, aku perlu mengganti outfit ku agar lebih menyesuaikan dengan dunia ini." gumamku.
Seusai latihan aku duduk disebuah meja bundar dan kursi yang berada pada balkon. Aku memeriksa sejumlah skill yang ada pada tameng ini dan berharap mungkin ada skill untuk mengangkat kutukan Pahlawan Perisai.
Aku bermaksud untuk mengangkat kutukan Syira dengan tameng ini, berharap kutukan itu bisa dihilangkan. Aku terus mencari di beberapa fitur sistem tameng ini sehingga mendapatkan petunjuk.
Aku lalu mencoba mengubah tameng ini menjadi jenis tameng Life Shield. Berharap ada sesuatu yang menarik.
"Life Shield!"
Seusai ku merapal kan nama jenis tameng ini. Seketika tameng ini bertransformasi menjadi sebuah tameng yang berbentuk lingkaran dan berukiran bulan sabit dengan bintang ditengahnya. Di padukan dengan warna hijau dan emas di tampilan desainnya.
Melihat ukiran bulan sabit bintang mengingatkan ku dengan lambang negara Turki.
"Dilihat dari manapun memang mirip dengan game! Tunggu ini kan!"
Setelah aku menelusuri sistem tameng ini, aku akhirnya mendapatkan apa yang aku cari.
Life Shield
Skill
- Heal Shield
- (Cruse Heal Shield)
- Regeneration Heal Shield
- Increase Shield
- Power Buff
Opsi
Cruse Heal Shield
Skill ini dapat digunakan untuk menangkal dan mengangkat kutukan sampai tahap tertentu. Dapat digunakan untuk menyembuhkan diri sendiri maupun orang lain.
Cara penggunaan :
Gunakanlah Jenis tameng Life Shield, kemudian sentuh bagian tubuh manapun sembari merapalkan mantra skill ini.
Keterangan :
Setelah menggunakan satu kali skill ini, akan mengalami masa cooldown selama 30 hari.
Membutuhkan paling tidak 100 AP untuk menggunakan skill ini tergantung parahnya kutukan tersebut.
Target yang dapat disembuhkan sekitar 10 orang per 100 AP.
****
"Akhirnya!! Dengan ini kemungkinan Syira bakal sembuh."
Aku kemudian memeriksa beberapa skill pada jenis tameng ini. Intinya tameng ini memiliki kemampuan unik untuk menyembuhkan.
Bukan hanya sekedar penyembuhan dan mengangkat kutukan. Jenis tameng ini juga memiliki kemampuan yang beragam.
Di antaranya dapat meregenerasi sell yang rusak pada tubuh dan mengembalikan anggota tubuh yang putus dengan menggunakan Skill regenerasi.
Dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas bahan apapun yang disentuh dengan skill peningkatan.
Bahkan dapat menambahkan Buff kemampuan pada diri sendiri maupun rekan party.
"Wah aku tidak menyangka tameng ini akan sehebat ini! Banyak sekali kegunaan dan manfaat pada tameng ini. Tapi kenapa orang-orang di kerajaan ini menganggapnya kutukan? Aku tak habis pikir." kembali aku bergumam.
Aku kembali menuju ke ruangan ku dan bersiap pergi ke kamar Syira untuk mengobatinya. Aku sesat ingin melihat waktu, tapi kini jam tangan ku berada di kamarku sebelumnya.
Sehingga aku hanya memperkirakan waktu sekarang mungkin sekitar jam delapan pagi. Ya, waktu yang tepat dimana para anggota Istana belum terlalu banyak melakukan aktivitasnya.
Sesegeranya aku membuka pintu ruangan dan menutupnya. Aku kemudian berkeliling Istana dan sempat tersesat beberapa kali, mengingat tempat ini luas dan besar sekali.
"Sepertinya aku baru lewat sini! Kenapa aku kembali ke koridor ini ya? Ya ampun Kastil ini luas sekali!!"
Ya begitulah, aku berulang kali lewat jalan yang sama, sampai seorang Maid wanita yang terlihat seperti gadis Asia Timur dengan tinggi sekitar 155 sentimeter, menghampiri ku yang tengah kebingungan.
"Tuan pahlawankan?" tanya Maid itu yang kini berdiri didepan ku.
~END
ARC VOLUME 1 END~
Note :
Jangan keburu batal favorit dulu ya, ceritanya masih akan berlanjut ke Volume 02. Setelah ini akan ada sekuel tambahan dari Volume 1 ini, apa itu? Yaitu Kisah Sang Perisai. Ayo baca novelnya ya!
__ADS_1
Follow juga Instagram author untuk mendapatkan informasi update dan perkembangan novel ini di @sapta_yudha.author