The Rising Of The Lord Hero (1)

The Rising Of The Lord Hero (1)
Chapter 22 "Raja"


__ADS_3

"Putri Sanaya permisi, Raja memanggil anda berserta tuan delegasi!"


"Oh ayolah." ucapku kecewa.


"Aha ha ha, kau dengar itu Yudha-kun! (menoleh ke arah Prajurit wanita) Baiklah kami akan segera kesana." pungkas Sanaya.


"Dimengerti, Oujo-sama!" Prajurit wanita itu lalu pergi.


Aku sempat berpikir kenapa raja secara tiba-tiba memanggil ku. Aku punya firasat buruk, sepertinya aku harus waspada jikalau ada kemungkinan terburuk menimpaku.


"Kira-kira, Kenapa raja memanggil kita?" tanyaku ke Sanaya.


"Entahlah, aku juga tidak tahu. Ini mendadak sekali! Baiklah ayo kita pergi!" balas Sanaya.


Sementara itu, Syira sepertinya ingin ikut dengan ku. Aku lantas menyuruh dia, agar kembali ke kamar tempat kami istirahat tadi.


Alasannya karena hanya aku dan Sanaya saja yang dipanggil oleh Raja. Jikalau Syira ikut, kemungkinan dia hanya akan diacuhkan atau diasingkan karena status budaknya.


"Syira, kembalilah ke kamar!" perintah ku.


"Tapi Yudha-sama! Aku takut jika sesuatu akan menimpa anda."


"Tak apa! Disini ada Pahlawan Pedang, aku tidak akan kenapa-kenapa. Pergilah kembali ke kamar."


"Baiklah, Yudha-sama! Jaga dirimu."


Sepertinya Syira juga sependapat dengan ku. Aku merasakan ada sebuah kejanggalan. Jikalau Raja memanggil ku, harusnya tidak dengan cara seperti ini.


Akan lebih baik, jika dia menyuruhku menemuinya ketika aku sedang tidak makan. Terlebih lagi, ini masih sekitar pukul setengah delapan pagi. Cara dia menyuruhku menghadapnya terlalu mendadak, oleh sebab itu aku curiga.


"Yudha-kun?" Sanaya memanggil.


"Ah ya, ayo!"


****


Kami pun tiba di aula kerajaan. Disana terlihat Sang Raja sedang duduk di singgasananya. Dihadiri pula oleh beberapa petinggi kerajaan.


Raja bercirikan, berkulit putih, dengan rambut ungu kebiruan beruban, memiliki jenggot dan kumis yang khas. Bermata biru dan berperawakan tinggi besar. Terlihat seperti bapak-bapak pada umumnya.


Raja juga mengenakan mahkota dan jubah berwarna biru tua. Saat kami tiba, aku dan Sanaya memberi hormat dengan membungkukkan badan, menghadap ke sang Raja.


Cih, sebenarnya aku sangat enggan membungkukkan badan pada orang ini. Rasanya aku ingin segera mengeksekusinya ditempat. Tapi aku harus menahan diri agar tidak melakukan tindakan bodoh.


Dari raut mukanya saja sudah menggambarkan sifatnya sebagai pemimpin yang sangat diktator. Baru melihatnya saja aku sudah sangat kesal.


"Ada apa, Ayahanda memanggil kami di pagi hari ini!"

__ADS_1


"Baiklah Sanaya, aku dengar kau membawa seorang delegasi ke Istana. Apa itu benar?"


"Benar Ayahanda! Dialah orang yang disamping ku!"


Seseorang yang sepertinya adalah penasihat Raja, membisikkan sesuatu ke telinganya. Setelah itu Raja menoleh ke arah ku.


"Maaf atas kelancangan hamba! Paduka!" kataku.


Berkata seperti ini didepan seorang Iblis sepertinya rasanya tidak menyenangkan.


"Hehg, kau cukup sopan juga! Sepertinya kau orang baru yang dikirimkan oleh Leonard." ujar sang Raja dengan nada sombong.


"Izinkan hamba mengenalkan diri paduka. Nama hamba Sapta Yudha, paduka bisa memanggil hamba Yudha!"


"Yudha! Mendengar nama mu, apa kau orang Nusan?"


"Sebenarnya hamba bukanlah seorang delegasi yang dikirim. Melainkan hanya seorang pengembara yang kebetulan membawa gulungan kertas ini dari Tuan Leonard untuk paduka."


"Ambil itu!" perintah sang Raja kepada ajudannya.


Aku lantas menyerahkan gulungan kertas itu kepada ajudan Raja. Kemudian, ajudan itu memberikannya kepada Sang Raja.


Raja lalu membuka gulungan tersebut kemudian membaca pesan dari Juragan Leonard. Seusai membaca surat itu, sang Raja langsung tertawa terbahak-bahak.


Ya reaksi yang sama dengan Sanaya. Sekali lagi, aku cukup kesal mendengarnya. Sebenarnya apa isi surat itu?


"Itu memang benar Ayahanda! Kemungkinan Yudha adalah Lord Hero itu." Sanaya menimpali.


"Lalu dimanakah Vassal Weapon milik mu Yudha?" tanya Raja.


"Hamba tidak memilikinya!" ucapku.


"Ha ha ha ha.... itu sudah membuktikan, kalau kau bukanlah Lord Hero. Lebih baik kau jadi orang bar-bar saja!"


Semua petinggi dan orang-orang yang hadir dalam rapat itu tertawa dan merendahkan ku. Nada bicara apa itu, kenapa sang Raja seperti malah menghina ku!?


Perasaanku semakin tidak enak. Secara mengejutkan Sanaya berhenti memberi hormat dan malah memberontak.


"Bisakah Ayahanda tidak merendahkannya! Ayah tahu, kalau dia sempat bertarung dengan Pahlawan Perisai. Bahkan dirinya tak sadarkan diri selama tiga hari." kata Sanaya dengan nada tinggi.


"Aku sudah mendengar kabar itu. Dia pingsan karena dia tak sanggup melawan Si Tameng Iblis itu. Bukankah itu sudah membuktikan bahwa Pria ini lemah. Jika dibandingkan dengan tunangan mu Azrael, dia bukan apa-apa."


Pertengkaran antara ayah dan anaknya. Ya aku sudah biasa melihat momen seperti ini di anime, manga dan film. Mendengar dibandingkan dengan orang lain itu memang membuat ku jengkel.


Tapi aku harus tetap berkepala dingin dan tak boleh terpancing oleh provokasi dari Sang Raja. Aku cukup terkejut ternyata ini sifat asli sang Raja, benar-benar tidak mencerminkan seorang yang berwibawa.


Tidak heran orang yang haus kekuasaan pasti akan bersifat diktator.

__ADS_1


"Azrael, Azrael, Azrael, selalu saja pria itu yang kau sebutkan. Aku sudah muak mendengarnya Ayah! Jangan bandingkan Yudha dengan Azrael." Sanaya mulai naik pitam.


Sebenarnya siapa Azrael ini? Memangnya pria ini seperti apa? Sehingga Sanaya sepertinya membenci pria itu. Dengan nada tinggi, Raja membalas perkataan Sanaya.


"Itu karena kau selama tiga hari ini terlalu dekat dengan Pria lain. Apa kau lupa, jika kau punya tunangan?"


"Aku memang cukup dekat dengannya akhir-akhir ini. Tapi ini sebagai bentuk kepedulian ku terhadapnya, karena sudah susah payah menghentikan Pahlawan Perisai."


Memang benar Sanaya dekat dengan ku selama ini. Tapi aku baru berinteraksi dengannya beberapa jam saja. Apa selama aku tak sadarkan diri dia sering menjenguk ku? Mungkin Syira tahu apa yang terjadi.


"Diamlah Sanaya! Aku tidak pernah mengizinkan mu bertindak semaunya."


"Aku bertindak atas keinginan ku sebagai Pahlawan Ayah! Ayah tidak bisa menekan keinginan ku." pungkas Sanaya.


"Kau memang Pahlawan, tapi disisi lain kau seorang Putri Mahkota, maka dari itu kau harus menuruti sang Raja. Sadari kedudukan mu!"


"Sebentar, sepertinya ada kesalahpahaman disini! Padukan izinkan hamba bercerita, hamba tidak bermaksud untuk merebut tunangan dari Sanaya.


Hamba datang kemari hanya untuk mengantarkan surat itu dan hanya ingin bertemu dengan para Pahlawan Bintang.


Karena hamba mendengar kabar kalau di kerajaan-"


"Pembohong! Pergi kau sebelum para prajurit menghukum mu!" Raja memotong ku berbicara.


"Apa pembohong dia bilang?" hati ku menjadi semakin panas.


Mendengar Raja berbicara seperti itu. Sanaya langsung naik pitam dan mengajakku pergi dengan menarik lenganku.


"Ayah sudah cukup! Ayo Yudha-kun, kita pergi dari sini! Tak ada gunanya kita menghadiri pertemuan ini."


Raja hanya menanggapinya dengan ekspresi kesal. Intinya seperti itu, pertemuan kami hanya menghasilkan pertengkaran antara anak dan orang tua.


Aku memang cukup kesal dengan sikap dari sang Raja. Dari dia yang sempat mengabaikan ku hingga malah menghinaku di hadapan seluruh petinggi kerajaan.


Untungnya ada Sanaya yang membela ku, jadi aku tidak khawatir akan pengaruh dari Sang Raja.


Sanaya kemudian menarik ku keluar dari aula kerajaan. Tapi sesaat kami ingin meranjak kan kaki dari pintu, kami di hadang oleh seorang pria bercirikan, bermata oranye, berambut blonde dengan gaya rambut pendek.


Pria ini berperawakan proposional dengan memiliki tinggi jangkung sekitar 180 sentimeter. Berpakaian seperti seorang bangsawan kesatria dengan sebuah pedang besar di punggungnya.


"Mau pergi kemana kau calon Istri ku!"ucap pria itu dengan nada sombong.


Calon Istri? Sudah kuduga tidak lain dan tidak bukan dia adalah...


Bersambung...


(Chapter berikutnya "Perseteruan")

__ADS_1


Follow juga Instagram author untuk mendapatkan informasi update dan perkembangan novel ini di @sapta_yudha.author


__ADS_2