
The Rising Of The Lord Hero
> Chapter 56 "Akhir"
POV 3
Di keheningan malam, seorang lelaki berambut putih nan gagah tengah berdiri dengan pandangan lurus kedepan. Dilipat kedua tangannya kebelakang untuk menegaskan kewibawaannya. Pakaianya terkibas oleh angin yang menerpa.
Pria itu tak lain adalah Shenron yang sedari tadi menunggu kedatangan Edna. Namun nyatanya, selama tiga jam menunggu, Edna tak kunjung datang.
Lewat tengah malam, Shenron mengerutkan dahinya setelah mengetahui Edna tidak kembali dari tugasnya.
"Tidak ku sangka, Edna. Kau berani menghianati kaum mu. Harusnya, kau segera pulang setelah ku peringatkan. Kalau kau kembali lagi, maka jangan salahkan aku dirimu sudah tak dianggap." Shenron mendengus lalu masuk kedalam gua miliknya.
Shenron, bukannya tidak tahu tentang masalah yang tengah terjadi pada anggotanya itu. Namun, dia memilih untuk diam daripada harus berurusan dengan Manusia. Baginya kehilangan satu anggota penting tidaklah berdampak buruk bagi Sekte Lembah Naga. Akan tetapi, suku naga merah akan sangat merasa kehilangan salah satu pemimpinnya tersebut.
****
"Kerja bagus, ha ha ha ha! Kalian memang bisa diandalkan!"
Lelaki yang barusan tertawa riang adalah Azrael. Dirinya bangga dengan kinerja anak buahnya yang berhasil menangkap Zef. Kondisi Zef saat ini masih tidak sadarkan diri. Seluruh anggota geraknya terikat dengan rantai dengan mulut tersumpal kain dan tubuhnya terbaring lemah di tanah.
"Terimakasih Komandan Azrael!" Jawab Era.
"Aku akan memberikan rekomendasi kenaikan pangkat dan hadiah untuk kalian pada ayahanda."
"Terimakasih banyak Komandan, kami sangat tersanjung dengan ini." Balas Era.
"Kalau begitu siapkan Sel tahanan khusus untuknya. Jangan lupa untuk menggunakan Anti Magic Area di sekitar Selnya." Perintah Azrael ke anak buahnya yang lain.
Zef kemudian dibawa ke sebuah kurungan Sel khusus untuk menahan kekuatannya. Tak lupa di sekeliling area selnya di tambahkan Anti Magic Area, agar Zef tidak dapat menggunakan sihirnya. Dengan Morenium, malam itu satu peleton pasukan Azrael langsung berteleportasi menuju Ibukota dalam sekejap.
****
Kembali ke kondisi Faisya dan Edna yang terpuruk. Saat ini mereka masih terkurung di penangkaran Budak.
"Dimana aku?"
Edna membuka matanya dan mendapati dirinya berada didalam kurungan kecil. Edna belum menyadari suatu hal buruk telah menimpanya.
"Tunggu, apa yang terjadi? Zef-kun, Faisya-Chan dimanakah kalian?" Edna mengerutkan keningnya, dia baru menyadari dirinya telah berubah menjadi sesosok bayi naga.
"Apa-apaan ini, kenapa aku jadi seperti ini? Ya ampun, apa yang terjadi pada ku?"
Edna merasa gaya bicaranya normal. Akan tetapi, sebenarnya suaranya terdengar seperti suara terompet sumbang yang membuat Saudagar Jansen, mengerutkan dahinya ketika sedang menghitung uang di samping kurungan Edna. Jansen lalu membentak Edna untuk diam.
"Tujuh ratus lima puluh, tujuh ratus lima puluh satu-"
'KRAKK KRAKK KRAKK'
"Cih, bisa kau diam!!"
'TRANG!!'
Dipukulnya kurungan yang mengurung Edna untuk menegurnya. Namun, bukannya Edna panik atau takut malah justru sebaliknya.
"Kurang ajar, Manusia tak punya sopan santun. Tak sadarkah kau dengan kedudukan mu haaah~ Ku lenyap kan sekarang juga."
'KRAKK KRAKK KRAKK'
"Ya ampun berisik!! Berhenti bersuara, itu perintah!!"
'CLEREZZ'
"Ahrgg"
Setelah memberikan perintah, segel budak pun mulai aktif menyiksa Edna dengan siksaan panas yang luar biasa. Edna hanya bisa merintih kesakitan dan tidak berdaya dengan segel budak yang terikat padanya.
__ADS_1
Segala upaya telah dilakukannya untuk bebas. Namun, ketika Edna melihat statistik nya yang turun drastis, dia hanya bisa menyesali semua yang telah terjadi. Tak ada lagi kekuatan satu pukulan, tak ada lagi kehormatan, tak ada lagi kebebasan. Semua hilang dan lenyap dalam satu malam.
"Maafkan aku Zef-kun, Faisya! Maafkan aku yang lengah ini. Aku harusnya membunuh orang-orang itu sebelum menginap di sana. Andai aku melakukannya pasti tidak akan berakhir seperti ini."
****
Pasukan Azrael pun telah sampai di Ibukota. Zef yang masih tak sadarkan diri dalam sel langsung di bawa ke penjara bawah tanah Istana oleh beberapa Prajurit kerajaan.
Mereka pun sampai di dalam penjara bawah tanah dan memindahkan Zef kedalam sel tahanan Istana sambil terus diawasi Azrael.
"Ha ha ha ha, Perisai Iblis ini pantas mendapatkannya. Baiklah semuanya, perketat penjagaan disini. Jangan sampai dia melarikan diri." Perintah Azrael.
""Laksanakan"" ucap para Prajurit serempak.
****
Beralih kedalam Istana, Raja berdiri menatap kearah luar jendela Kastil sembari menikmati segelas Wine. Dirinya telah menerima kabar dari Jenderal Barnes, bahwa Putranya berhasil menangkap Zef hidup-hidup.
"Jadi, Si Perisai Iblis itu berhasil ditangkap. Hem, baguslah. Dengan begini Kerajaan ini tidak terkena kutukan."
"Benar Yang Mulia!"
"Putra mu memang layak mendampingi Putri ku tuan Barnes. Aku tidak salah menugaskan Azrael dalam misi ini."
"Ah, anda bisa saja Yang Mulia. Putraku memang bisa diandalkan."
'GRADAK'
Tak lama pintu singgasana terbuka, seorang pria berzirah emas masuk kedalam ruang singgasana menghadap Raja sembari membungkukkan badannya.
"Azrael, menghadap pada paduka!"
"Putra ku, akhirnya kau datang."
"Aku harap mendapatkan berita baik dari mulut mu langsung. Bagaimana dengan proses penangkapan Si Perisai Iblis itu?"
"Semua berjalan lancar Paduka. Regu Assassin kita berhasil membawanya hidup-hidup."
Tanpa sepengetahuan Raja, Sanaya ke ruang tahta tanpa di undang. Dengan masih berpakaian selayaknya Putri ia lantas menghadap Sang Raja.
"Ayah, semua ini sudah keterlaluan. Kita tidak boleh memperlakukan Pahlawan Perisai seperti ini." ucap Sanaya.
"Sanaya, bukankah aku tidak memanggil mu? Kenapa kau seenaknya masuk kemari?"
"Aku datang karena keinginan ku menegakkan keadilan Ayah. Ku minta padamu untuk melepaskan Pahlawan Perisai, dia tak bersalah!"
"Jangan sok ingin menegakkan keadilan Sanaya. Kalau Si Iblis itu di biarkan bebas leluasa itu hanya akan membawa petaka. Apa kau lupa didalam Perisai itu ada Iblis yang bersemayam? Iblis itu harus dimusnahkan!"
"Orang yang bernama Zef itu juga seorang Pahlawan sama seperti ku. Kenapa dia harus diperlakukan seperti itu dan bukankah semua senjata legendaris itu sama ayah? Dalam pedang ini pun juga ada-"
"Tapi tidak sebahaya Perisai Iblis itu. Sudahlah, sadari kedudukan mu. Kau tidak perlu lagi ikut campur dengan masalah ini."
"Tapi ayah, kita bisa membuat Pahlawan Perisai itu menjadi lebih baik."
"Omong kosong, Perisai Iblis itu tidak pernah akan bisa menjadi baik. Sekarang enyahlah dari sini, jangan membuat Ayah semakin murka!"
"Nah, sayang ku. Tolong kau dengarkan Ayahmu, demi kebaikan mu."
"Diam Bajingan! Aku sedang tidak bicara dengan mu." Sanaya kembali menoleh kearah Ayahnya. "Ayah, bukankah ini bertentangan dengan keinginan Maha Ratu? Ayah tidak boleh menyalahkan kekuasaan seperti-"
"Diam!! Ayah disini sedang menjalankan sistem kepemerintahan kerajaan. Sedangkan Nenek mu itu hanya bersantai tanpa berpikir nasib kedepannya bangsa ini. Kau sama saja dengan ibu mu keras kepala. Sekarang pergi dari sini!!"
Sanaya hanya termangu dengan apa yang dikatakan Ayahnya itu. Dia menjadi teringat dengan Ibunya yang meninggalkan kerajaan.
Pada malam itu perdebatan berjalan sangat panas tanpa mengeluarkan solusi apapun. Sanaya langsung melenggang pergi meninggalkan tahta.
****
__ADS_1
POV Zef
"Auch, kepala ku sakit sekali. Tunggu apa yang terjadi semalam?" Aku tersadar dan mendapati diriku berada di sebuah tempat yang asing di mata ku.
Aku mencoba memperhatikan lingkungan sekitar. Ternyata setelah melihatnya, aku berada di sebuah Sel tahanan yang gelap.
"Apa, dimana ini? Kenapa aku ada disini?"
Aku mulai teringat dengan kejadian tadi malam yang menimpaku dan Faisya. Aku tidak tahu mengapa aku bisa berada di dalam tahanan ini. Saat ini aku mengira kalau mungkin semua ini terjadi karena ulah dari Sultan Muda itu. Aku tidak menyangka dia akan memperlakukan ku seperti ini.
"Hey, apa ada orang? Hey, Hey."
Aku berteriak kalau saja di tempat ini ada seorang Sipir yang tengah berjaga. Mungkin saja aku bisa bertanya padanya. Benar yang kuharapkan, datanglah seorang Sipir. Tetapi, aku merasa tidak asing dengan seragam yang dikenakannya itu. Aku berharap seragam Prajurit itu hanya mirip dengan seragam Prajurit Elceria.
"Jangan terlalu membuat suara yang berisik!" Tegurnya.
Setelah mendengar gaya bicaranya, aku mengangkat alisku. Ternyata memang benar aku sedang berada di Elceria.
"Kenapa aku ada disini? Bukankah, tadi malam aku masih di T'hearus? Lalu dimana Adikku?"
"Aku tak ada kewajiban memberitahu mu, sebaiknya kau diam!"
Setelah berucap dirinya melenggang pergi. Aku kembali mencoba mencerna situasi ku saat ini.
"Apa ini ada kaitannya dengan peristiwa semalam? Sial, harusnya aku bisa lebih waspada! Harusnya aku langsung curiga pada wanita itu. Aku harus mencari jalan keluar!"
''Destruction of Shield"
[KEKUATAN DIBATASI !!!]
(Anda memasuki kawasan Anti Magic Area)
Dahi ku seketika berkerut ketika membacanya.
"Apa, tempat ini sudah dikelilingi Anti Magic Area!? Sial, aku tidak bisa menggunakan tameng ini!"
Setelah beberapa kali melakukan ujicoba, hasilnya masih nihil. Aku benar-benar tidak dapat menggunakan benda terkutuk ini untuk melarikan diri.
Saat ini yang hanya terpikir olehku adalah menggunakan Seri kutukan saja. Tetapi Tuan Feniks bilang, sebisa mungkin aku tidak menggunakannya. Saat ini aku bimbang harus bagaimana. Karena sudah tidak ada lagi pilihan, dengan terpaksa aku menggunakan Seri Kutukan untuk bebas dari Sel ini.
"Aku harap Jin itu tidak mengambil alih kesadaran ku lagi." Aku lantas menarik napas ku lalu menghembuskannya "SERI KUTUKAN PERISAI AMARAH"
Seketika perisai ku bertransformasi menjadi perisai iblis. Secara mengejutkan, aku kembali merasakan sensasi kekuatan yang sangat dahsyat mengalir dalam nadi ku. Emosi ku menjadi membeludak, semua amarah yang ku pendam selama ini langsung kulampiaskan.
"HEAAAAAAAARGHH!!!"
"OYA~OYA, KEMANA SAJA KAU BOCAH? BARU SEKARANG KAU MEMANGGILKU. OAAHH~ KEBETULAN AKU BARU TERBANGUN DARI ISTIRAHAT PANJANG KU." Aku kembali mendengar suara misterius yang terdengar tidak asing ditelinga ku.
Sesaat kemudian aku langsung di bawa ke alam bawah sadar ku. Aku melihat seorang pria yang menyerupai ku tengah duduk sombong di atas singgasana yang terbuat dari tulang belulang. Aku langsung mengenali pria ini yang tidak lain adalah Arnabas.
Bersambung...
(Chapter berikutnya "Epilog")
Note :
Pengerjaan Audiobook sedang tertunda lantaran beberapa Dubber kita sedang dalam kesibukannya di Realife. Sementara ini, Senpai akan mengerjakan Chapter Akhir dan Epilog. Setelah itu secara resmi Volume 1 novel ini berakhir.
Saat ini kita sedang mempertimbangkan apakah novel ini akan dilanjutkan atau tidak. Mengingat biaya produksi kita lebih tinggi daripada Novel lainnya. Senpai kemungkinan berencana akan jadi me-remakenya ke sebelah. Jika memang keuntungan disini belum menjanjikan.
Jadi, nantikan saja Informasi berikutnya...
Mampir juga ke Audiobook Senpai dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, coment dan favorit terimakasih.
* My Free Life In Another World
* Reinkarnasi : Kembali ke tahun milenium
__ADS_1
* The Rising Of The Lord Hero (1)
Follow juga Instagram author untuk mendapatkan informasi update dan perkembangan novel ini di @sapta_yudha.author