
"Kenapa ada serangan di situasi seperti ini. Cepat, semua Prajurit disini tangkap dan hentikan dia berbuat semaunya!" ucap Raja mengerutkan dahinya sambil memerintahkan prajuritnya.
"""BAIK"""
Semua Prajurit lalu bergerak secepatnya keluar dari Collusium. Tersisa beberapa Bangsawan dan perwira kerajaan.
Wasit terpaksa mengambil keputusan untuk menghentikan pertarungan yang belum usai karena situasi ini.
Sanaya dan Brengsek juga tak tinggal diam. Sanaya lalu melompat ke dalam arena dan berjalan menuju ke arah ku.
"Cih, Bukan berarti kau seorang Lord Hero bisa mendapatkan apa yang kau mau. Urusan kita belum berakhir ingat itu!"
Brengsek mendengus kesal dan pergi ke arah keluar pintu tribun selatan.
Mendengar ucapan itu aku hanya mengangkat alis kiri ku. Urusan belum berakhir dia bilang?
Padahal sudah jelas disini siapa pemenangnya. Tapi benar kata Brengsek, aku belum menyelesaikan masalah ku dengannya.
"Sudahlah lupakan dia! Ada sesuatu yang lebih genting darinya." ucap Sanaya yang sudah berada di samping kanan ku.
"Ya aku tahu! Tapi sepertinya tidak semudah yang dipikirkan, pemuda yang bernama Zef yang kau bilang waktu itu, sepertinya punya alasan kuat untuk menyerang. Dan sedari awal aku bertemu dengannya, masih banyak teka-teki yang belum terpecahkan darinya-"
"Aku tahu, banyak pertanyaan di kepala mu! Tapi bukan sekarang untuk membahasnya. Cepat serahkan Pedang ku, hanya aku yang dapat menghentikan Zef!"
"Kau yakin? Biar aku saja!"
"Tidak Yudha-kun! Level statistik mu memang sangatlah tinggi. Tapi ku perhatikan kau belum terbiasa dengan sihir. Itu terbukti saat kau bertarung tadi, kau lebih banyak mengandalkan kekuatan fisik, taktik dan teknik. Tapi kau kesulitan menghadapi sihir. Sudahlah, tak ada waktu lagi sini!"
Sanaya merebut pedangnya kembali yang tertancap di tanah dari tangan ku.
"Sebaliknya kau beristirahat dulu dan pulihkan luka mu. Jangan bertarung untuk sementara waktu." ucap Sanaya lalu pergi.
Sekarang hanya tersisa aku di arena, Raja dan para Bangsawan sudah keluar dari Collusium begitu pula dengan perwira kerajaan.
Tentunya aku tidak mendengarkan kata-kata Sanaya. Aku lalu bergegas menuju pintu keluar untuk melihat situasi diluar Collusium.
****
'BOOOMMM'
Terdengar suara ledakan dari arah Kastil. Semua warga yang mendengar suara itu menjadi panik dan melihat ke arah Kastil.
Mendengar itu aku mengangkat alis ku dan mulai berlari secepatnya dengan ilmu Aji Sapu Angin untuk meringankan tubuh menuju Kastil.
Mengingat Syira masih terbaring lemas di sana. Aku khawatir dirinya akan menjadi korban dari ledakan itu.
Ya, Ilmu Aji Sapu Angin ini adalah bagian dari ilmu Kanuragan yang aku kuasai. Aku baru mempelajari Ilmu Kanuragan tingkat awal jadi ini bukanlah sesuatu yang mengejutkan.
Setiap Prajurit Kopassus punya keahliannya masing-masing, termasuk memiliki kesaktian semacam ini. Hal ini sudah biasa didengar oleh sebagian masyarakat pada umumnya.
Ilmu Aji Sapu Angin ini setidaknya aku juga baru menguasainya masih di tahapan awal, bukan hal yang patut dibanggakan. Aku harus berlatih lebih giat dan keras lagi agar mencapai kesempurnaan.
__ADS_1
Ilmu Kanuragan yang aku pelajari bukanlah ilmu hitam. Aku mempelajari ilmu ini dari pelatihan Kopassus. Bisa dibilang kami mempelajari Ilmu putih sepeninggal Sunan Kalijaga.
Ketika ku berlari, warga yang melihat ku berlari secepat angin merasa terkejut dan terpana. Sebenarnya aku enggan menggunakan kesakitan ini, tapi karena keadaan lah yang memaksaku mengeluarkan seluruh ajian yang aku kuasai.
Ketika ku berlari menuju Kastil dengan ilmu meringankan tubuh.
Secara tak terduga aku melihat sepasang orang berpakaian layaknya pendekar dari negeri China berada di Elceria. Setelah melihatnya aku merasa bingung dengan budaya yang ada di dunia ini.
Timbul pertanyaan di benak ku. Apa semirip itukah dengan budaya yang ada di dunia ku?
Tapi kenapa ada di Elceria, sedang apa mereka disini, apa mereka berkelana? Aku memang banyak membaca novel yang bergenre fantasi timur dan menonton seri Donghua China.
Jadi, aku tahu betul orang dengan ciri-ciri seperti mereka adalah Pendekar.
Ketika ku berlari di dekat mereka pandangan kami saling bertemu. Aku merasa sepertinya mereka tidak asing dengan pergerakan ku. Jadi, sebab itulah mereka memperhatikan ku yang berlari secepat angin.
Sekilas aku lihat fisik dan penampilan mereka memang seperti orang China pada umumnya. Ternyata mereka adalah sepasang pria dan wanita.
Untuk ciri-ciri fisik dan busana tak banyak aku bisa sebutkan. Aku tidak terlalu paham dengan model pakaian mereka dan aku hanya melihat sekilas sehingga aku sulit mendeskripsikannya.
Pandangan ku justru jatuh kepada gadis pendekar itu.
Jadi intinya gadis itu bercadar, bercirikan berambut panjang dan sedikit terikat, mengenakan gaun biru muda ala-ala tradisional China dan berpenampilan selayaknya Pendekar.
Sedangkan pria bercirikan berambut panjang dan mengenakan topi lebar, mengenakan baju tradisional China berwarna abu-abu.
Terlihat seperti jubah, tapi aku tak peduli dengannya yang menarik perhatianku hanya Pendekar cantik yang sedang bersamanya.
Selama aku berada di Isekai ini aku selalu bersama dengan gadis cantik. Tapi ku rasa gadis tadi yang paling cantik dari semua gadis yang pernah ku jumpai selama di dunia ini.
Jangan bandingkan dengan Syira. Dirinya juga punya wajah yang manis. Terlebih lagi dia sangat mirip dengan wanita idaman ku dari dunia asalku.
Meskipun dia mirip, bukan berarti aku tertarik padanya. Aku hanya menganggap dia adik tidak lebih.
Lagi pula aku tidak ada niatan untuk menjadikan wanita di dunia ini sebagai Istri ku. Setelah selesai dengan semua urusan ku, aku akan pulang dan mempersunting seorang perawat cantik yang aku taksir selama ini.
Sanaya juga tidak buruk, dia juga punya ciri khas sendiri dengan wajah cantiknya. Walaupun Sanaya terkesan garang saat bertugas.
Tapi ketika dia menjadi seorang Putri sesungguhnya, sifatnya berubah seratus delapan puluh derajat menjadi lebih lembut dan anggun.
Tapi aku kesampingkan dulu masalah ini ada hal yang lebih penting dari semua yang aku pikirkan.
****
Setibanya aku di depan gerbang Kastil. Sanaya juga ada dilokasi dengan menunggangi kuda hitam miliknya.
Nampak juga ada sebuah pertarungan besar terjadi di depan gerbang. Beberapa buah bangunan di sekitar tempat itu juga terlihat terbakar hebat dengan mengepulkan asap hitam pekat.
Ku lihat dari kejauhan ada seorang pemuda sedang dikepung oleh puluhan prajurit tombak. Ya pemuda itu Zef Si Pahlawan Perisai yang sedang menghadapi puluhan prajurit.
Dia nampak memukul dan menendang para prajurit itu dengan sadis. Zef juga memancarkan aura berwarna merah gelap yang lebih pekat dari sebelumnya kami bertemu.
__ADS_1
Terlihat tamengnya memancarkan aura merah gelap dan hawa membunuh yang sangat pekat.
Beberapa orang prajurit yang menghadangnya terlihat terkapar setelah terkena pukulan dari tamengnya.
Tak sedikit dari mereka mengalami luka bakar di wajah, luka serupa dengan yang Syira alami.
Para prajurit itu kewalahan untuk menghentikan Zef yang terus berjalan menuju ke dalam kastil.
Zef bahkan tak bergeming ketika terkena tusukan tombak dan sabetan pedang. Tubuhnya bak sebuah besi keras yang tak tertembus.
Para prajurit yang menghadapi Zef secara langsung berakhir buruk. Tak sedikit dari mereka langsung terkapar setelah terkena pukulan dari Zef.
Para prajurit yang menyaksikan langsung takut dan tak lagi berani melawan Zef. Melihat para prajurit itu ketakutan Sanaya langsung turun dari kudanya dan langsung mengangkat Pedangnya.
"Cari lawan yang sebanding dengan mu Perisai Iblis!"
"Thunder Sword Arm!!"
Sanaya meneriakan nama jurusnya. Seketika itu muncul petir keunguan pada bilah pedangnya.
Zef yang sedang memukuli para prajurit pun kini mengalihkan perhatiannya.
"Muncul juga kau Putri la*ur! Sekarang aku bisa lebih mudah menghabisi nyawa mu! Kuharap kau tidak lupa dengan kejadian yang menimpa orang tua ku!"
"Maaf aku memang tidak lupa! Tapi aku tidak ada kaitannya dengan terbunuhnya para orang terdekat mu."
"Haaa!!! Ha ha ha ha ha ha lucu sangat lucu sekali! Kalian para anggota kerajaan memang sangat munafik dan naif. Aku tidak peduli dengan mu.
Aku bersumpah akan meruntuhkan kerajaan ini dan membunuh semua orang didalamnya. Aku juga akan memburu semuanya yang mencoba untuk kabur. Termasuk diri mu!" jawab Zef dengan ketus.
"Dan aku takkan membiarkan itu terjadi!" Sambil Sanaya memutar pedangnya ke arah wajahnya.
Sekarang aku sudah mengerti situasinya, jadi semua kekacauan ini terjadi karena dendam yang dimiliki oleh si Zef terhadap kerajaan. Itulah yang mungkin mengakibatkan terpicunya muncul seri kutukan pada tamengnya.
Sepertinya ini masalah serius, aku merasa kalau Zef sedang di kuasai oleh sesuatu. Melihatnya seperti dia sedang terpengaruh oleh sesuatu yang tak bisa dijelaskan.
"Kita lihat apakah kau akan sanggup bertahan dari ini. 'Dragon Shield'"
Zef mengucapkan nama jurusnya, seketika pula tameng miliknya berubah menjadi tameng berbentuk menyerupai desain kepala Naga.
Warna dari tameng itu di dominasi dengan warna merah dengan gradasi kehijauan di pinggirannya. Sekali lagi transisi perubahannya mirip dengan perubahan Transformers.
"Apa semua senjata Pahlawan ini berubah seperti itu yah?" gumamku yang melihat dari belakang kuda Sanaya.
Sepertinya Sanaya belum menyadari kehadiran ku. Seketika itu Sanaya mengerutkan dahinya, tak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Itu bukankah... itu Perisai suci legendaris Dragon Shield dari lembah Naga!"
Bersambung...
(Chapter terakhir "Amukan")
__ADS_1
Follow juga Instagram author untuk mendapatkan informasi update dan perkembangan novel ini di @sapta_yudha.author