
Setelah sekitar lima belas menit Syira tak sadarkan diri akhirnya ia pun siuman. Sekarang ini posisi Syira sedang terbaring lemah di tempat tidur dengan aku yang sedang duduk di samping menemaninya.
Sanaya baru saja keluar memanggil Dokter kerajaan untuk memeriksa keadaan Syira yang saat ini sedang melemah.
"Emh? Aku dimana ini Yudha-sama?" ucap Syira sambil memegangi kepalanya.
"Syukurlah kau sudah siuman. Aku khawatir tahu!" balasku sembari mengelus tangannya yang lembut.
"Sebenarnya apa yang terjadi Yudha-sama?" tanya Syira yang merasa kebingungan dengan situasinya.
"Kau tidak ingat lagi ya?"
"Permisi Yudha-kun! Ah Syira sudah siuman yah!" ujar Sanaya yang tiba-tiba masuk ke kamar kami.
Sanaya datang dengan seorang Wanita Sepuh yang terlihat seperti seorang penyihir. Sekilas penampilan nenek itu tidak menunjukkan tanda-tanda kalau dia jahat.
"Kenalkan Nenek Zubir, beliau adalah tabib sekaligus seorang dokter terbaik kerajaan. Beliau sudah banyak berpengalaman dalam bidang kesehatan. Kau bisa mempercayakan penyembuhan Syira kepadanya." jelas Sanaya.
"Kalau begitu izinkan aku memeriksanya!" ujar nenek tabib.
"Baiklah silahkan!" kataku.
Tanpa basa-basi aku mengizinkannya. Nenek itu kemudian memeriksa tubuh Syira dengan metode yang belum pernah aku lihat di dunia ku sebelumnya.
Sepintas cara nenek ini memeriksanya seperti terlihat didalam cerita Anime dan Manga. Nenek itu memeriksa dengan cara mengeluarkan aura hijau muda di telapak tangannya dan seperti melakukan scan di sekujur tubuh Syira.
Sesaat memeriksa kondisi Syira, Nenek Zubir mengangkat alisnya tak percaya dengan temuannya pada tubuh Syira.
"Ini mengejutkan sekali!" ucap nenek itu terkejut.
"Ada apa nek?"
"Gadis Harimau Putih ini bukan gadis harimau biasa. Dia memiliki kekuatan yang besar didalam tubuhnya."
"Kekuatan besar?" tanya ku.
"Kekuatan apa itu nek?" tanya Syira.
"Kemungkinan kau pingsan setelah menggunakan kekuatan besar itu. Penyebab lainnya ada pada segel budak yang membatasi kemampuan mu." ucap nenek tabib menerangkan.
Intinya nenek itu menjelaskan tentang kekuatan besar yang kemungkinan tersegel dalam tubuh Syira. Akan tetapi Syira tak bisa mengendalikannya sehingga membuat emosinya tidak terkendali.
Oleh karena Syira memiliki segel budak di perutnya, segel tersebut membuat kekuatan besar itu tertahan didalam tubuhnya, sehingga segel tersebut menekan paksa kekuatan besar itu agar tidak keluar, dan pada akhirnya membuat Syira pingsan setelah emosinya tenang.
Hal semacam ini sudah sangat sering aku lihat pada Anime dan Manga. Aku tidak menyangka hal semacam ini juga ada di dunia nyata.
"Bisakah Ananda Yudha menjelaskan! Mengapa gadis ini pingsan? Supaya aku bisa mendiagnosisnya karena kasus ini langka sekali!" pinta Nenek Zubir.
Aku kemudian menceritakan kronologi kejadian yang sempat kami alami sebelumnya. Setelah aku bercerita Sanaya bertanya pada Nenek Zubir.
"Lalu apa pemicu kekuatan itu bisa bangkit?" tanya Sanaya.
"Setelah aku mendengar cerita itu. Aku menyimpulkan pemicunya adalah karena perasaan yang mendalam terhadap orang yang dia sayangi. Ketika orang yang dia sayangi dihina atau bahkan di sakiti, maka perasaan itu akan memicu pembangkitan dari kekuatan itu." kata nenek Zubir menerangkan.
Ya ampun jadi hanya karena itu. Tidak bisa ku pungkiri Syira memang sangat perhatian kepada ku.
Bahkan dia mungkin menganggap ku bukan hanya sebagai majikan tapi juga sebagai kekasih. Akan tetapi aku hanya menganggap Syira sebagai adik ku saja tidak lebih dari itu.
Kalau dipikir secara akal logika, semua hal ini tak masuk di nalar manusia. Kalaupun begitu semoga saja ada cara untuk mengendalikan kekuatan itu.
"Lantas adakah cara lain agar Syira bisa mengendalikan kekuatan itu?" tanya ku.
"Sepertinya dia tidak terikat kontrak budak dengan mu bukan!?" tanya Nenek Zubir memastikan.
"Ya begitulah!"
"Pantas saja! Sebaiknya kau segera mengikatkan kontrak mu dengannya. Aku menyarankan agar dia menjadi Budak petarung. Dengan demikian mungkin dia bisa mengendalikan kekuatannya itu." pungkas Nenek.
Sepertinya menjadikan Syira sebagai budak ku adalah jalan satu-satunya, agar Syira tidak banyak menderita. Tapi bukan ini sebenarnya yang aku mau, kalau bisa dia tidak harus menjadi budak ku. Karena terkesan kasar bagiku untuk memelihara budak.
"Baiklah sepertinya tidak ada pilihan lain!" kataku sambil memejamkan mata.
"Jadi, dia sakit apa nek dan bagaimana lukanya?" ujar Sanaya.
"Dia hanya kelelahan saja. Istirahat yang cukup dia pasti akan segera pulih. Untuk lukanya pasti akan sembuh."
"Tapi nek, Syira juga mengalami hilang ingatan sebagian!" kataku menimpali.
__ADS_1
"Itu kasus biasa yang dialami para budak yang notabene memiliki kekuatan yang besar. Mereka akan di hilangkan ingatannya sebagian. Bahkan ada budak yang dihilangkan ingatannya sama sekali." jelas nenek itu.
"Tapi kenapa harus seperti itu?" tanya ku kembali.
"Hal itu dilakukan agar si budak tidak dapat mengingat apapun tentang masa lalunya dan agar si budak melupakan kekuatannya."
Sistem yang aneh sekali, terlalu ribet untuk ku mengerti. Bukankah melakukan Nerf pada budak itu sudah cukup. Setelah lama berbicara mengenai kesehatan Syira, nenek itu lalu pergi.
****
"Baiklah Syira, kau istirahat saja di kamar dan jangan keluar seperti tadi, mengerti! Aku menyuruhmu agar kembali ke kamar tapi kau malah mengikuti ku."
"Maaf Yudha-sama, aku hanya khawatir dengan mu!"
"Kau pikir siapa aku ini, aku seorang Tentara dari dunia lain. Aku tahu apa yang harus aku lakukan dan apa yang tidak perlu. Aku juga bisa membela diri jika dalam keadaan seperti tadi. Tak usah terlalu mengkhawatirkan ku, kau cukup turuti saja mengerti!"
"Baiklah! Aku akan menuruti perintah mu." ucap Syira.
Setelah ini aku berencana untuk menanyai permasalahan Sanaya secara empat mata. Aku harap dapat menemukan solusi dalam permasalahan yang ruwet ini.
"Aku tinggal sebentar ya!"
"Yudha-sama mau pergi kemana?" tanya Syira.
"Ada sesuatu yang harus aku luruskan! Aku tak mau kau terlibat lagi, jadi biarkan saja aku yang menyelesaikannya. Sekarang tetap dikamar ini dan jangan kemana-mana ya!" jawabku.
"Emh, Baiklah aku akan tetap disini. Tapi."
"Tapi apa lagi?"
"Mendekat lah, aku mau bilang sesuatu!"
Aku lantas mendekat kan telinga ku ke arahnya. Tiba-tiba....
'Cup'
Syira mencium pipiku. Tentu saja itu membuat ku salah tingkah. Sanaya yang melihat itu juga terkejut dan terbelalak kaget, seakan-akan dia merasa cemburu. Ekspresinya bak air yang mendidih.
"Apaaaa!??" kata Sanaya malu-malu.
"Itu untuk mencegah dari marabahaya Yudha-sama!"
"Aahhh tidak usah mencium ku juga, ya ampun!!"
"Eheg, Ara~Ara, wajah mu memerah Yudha-sama!" sembari Syira memejamkan mata dan tersenyum.
"Ya ampun aura Onee-san nya keluar." gumamku dalam hati.
Oneesan (お姉さん) : Berasal dari bahasa Jepang adalah merupakan julukan nama untuk seorang kakak perempuan yang memiliki kedudukan formal dan mempunyai arti hormat. Karakter Oneesan biasanya sering muncul dalam serial Anime, Manga, Light Novel dan Story Game. Biasanya sifat dari karakter ini lebih cenderung kepada sifat penggoda yang membuat Main Character jatuh hati. Ciri-ciri karakter ini cenderung digambarkan memiliki tubuh yang seksi dan sering mengucapkan kalimat "Ara~Ara" dengan nada seksi yang artinya "Wah~Wah."
(Bagi yang tidak mengerti apa itu Oneesan yah)
"Yudha-kun beraninya kau pamer kemesraan didepan ku!" Sanaya tampak marah dengan matanya yang mulai memutih sebagian.
"KOROSSSSZZ"(BUNUH!!) kata Sanaya dengan nada mengintimidasinya.
"Ka-ka-kau kenapa?! hey yang mencium kan bukan aku."
Dia sepertinya cemburu dengan yang baru saja dilakukan Syira. Padahal kan seharusnya dia tak punya perasaan terhadap ku, kenapa harus cemburu? Apa mungkin dia...
"Baiklah cukup bercandanya aku serius! Sanaya aku ingin bicara dengan mu empat mata. Aku harap kau ceritakan semua masalah mu padaku, agar aku tahu inti dari seluruh kekacauan ini." kataku dingin sambil berbalik mengintimidasi, membuat Sanaya berbalik takut.
"Ba-baiklah!"
(tak ku sangka Yudha-kun akan segalak ini jika dia dalam mode serius) bisik Sanaya dalam hati.
****
Aku dan Sanaya, kemudian berada di ruangan khusus dan duduk di sofa saling bertatapan. Kami membahas semua perkara didalam internal kerajaan. Banyak pertanyaan yang belum sempat dijawab Sanaya sebelumnya.
Pertama kenapa dengan Pahlawan Perisai?
Kedua siapa sebenarnya Si Brengsek itu dan apa hubungannya dengan Sanaya sampai aku masuk dalam permasalahannya!?
Aku menanyakan itu semua pada Sanaya. Dia menjelaskan bahwa Pahlawan Perisai mengamuk karena ingin balas dendam. Pada hari dimana aku menjumpai Si bocah tameng itu dia baru saja kalah dari Azrael pada saat bertarung.
__ADS_1
Karena merasa kekuatannya masih kurang, dia akhirnya memutuskan untuk meninggalkan kerajaan. Belum diketahui keberadaannya sekarang dimana, yang jelas pada saat ini status Pahlawan Perisai dianggap menjadi ancaman bagi kerajaan.
"Lalu kenapa kau tidak coba untuk melerai?" protes ku ke Sanaya.
"Sebenarnya aku dilarang terlibat dalam permasalahan yang menimpanya. Terlebih aku tak punya kewenangan dalam hal ini, oleh sebab itu aku tidak bisa membantunya."
"Bukankah kau itu Pahlawan sama sepertinya. Seharusnya kau membantu dia sebagai sesama Pahlawan." kata ku lagi.
"Maaf Yudha-kun tidak semudah yang kau katakan. Selain seorang Pahlawan aku juga seorang Putri kerajaan yang tentunya tak bisa berbuat banyak. Aku harap kau paham posisiku, kau lihat sendiri kan karakter Ayah ku, dia orang yang tak bisa diajak kompromi."
Raja Sampah itu lagi kah, sepertinya memang dia berhasil membuat situasi ini berjalan sesuai kemauannya. Sebenarnya untuk apa dia melakukan semua hal ini.
Bukankah permasalahan dia dengan Pahlawan Perisai terdahulu itu sudah lewat. Kenapa dia justru juga menzolimi Pahlawan Perisai era ini? Aku tak habis pikir.
"Lalu bagaimana hubungan mu dengan Si Brengsek itu?"
"Si Brengsek?! Maksudnya Azrael kah?"
"Ya aku memanggilnya seperti itu karena kau juga mengatainya Brengsek kan waktu itu."
"Ah itu ya! ha ha ha ha!"
"Jadi bisa langsung ke intinya?"
"Baiklah uhum! Sebenarnya hubungan ku dan Brengsek hanya sebatas teman. Dia itu dulunya adalah teman masa kecil ku, kami waktu kecil sering bermain bersama..."
P.O.V Sanaya
Dulu Azrael adalah anak yang baik dan sangat berkarisma. Aku akui diriku pernah menaruh hati padanya. Tapi semua berubah ketika kami sudah beranjak remaja. Azrael berubah menjadi pria yang sombong dan suka semaunya.
Aku mulai tidak menyukai karakter dia yang berubah. Sekarang dia menjadi seorang yang arogan dan mau menang sendiri. Pada saat usia kami beranjak lima belas tahun, orang tua ku menjodohkan kami karena merasa kami sudah dekat sejak kecil.
Azrael tersenyum bahagia ketika aku akan di jodohkan dengannya. Sebaliknya aku tidak seperti itu, aku mulai tak suka dengan karakternya sekarang. Justru aku semakin membencinya ketika kami sudah di jodohkan.
"Baiklah, kau tahu kenapa dia bisa berubah?" kata Yudha.
Yudha menatapku serius, aku tak sangka dia akan menggali informasi perkara ini padaku.
"Mungkin semenjak ibunya meninggal di usianya yang masih sebelah tahun." jawabku.
Yudha tampak terdiam mendengar jawaban ku. Dia sepertinya memikirkan hal yang aku bilang barusan.
"Pantas saja, sepertinya dia merasa kehilangan dan jadi tak terkendali karena sosok ibu baginya sudah tiada." kata Yudha.
Argumen yang masuk akal jika kupikirkan ulang. Wanita yang menjadi sosok bagi Ibu Azrael sudah tiada, sehingga tidak ada lagi sosok yang dapat membimbingnya.
Walaupun Azrael masih punya sosok ayah, tapi ayahnya itu selalu mencurahkan waktunya untuk kerajaan. Jadi, ayahnya pun tidak punya peranan lebih terhadap pembentukan mentalnya.
"Sebenarnya bukan hanya itu saja yang membuat ku membencinya. Ada hal lain juga!" kata ku.
"Hal lain?" sahut Yudha.
Aku lalu menceritakan secara detail mengenai sifat busuk Azrael dihadapan Yudha. Selain juga bengis Azrael juga tipikal orang yang haus akan kekuasaan.
Dia bahkan tak segan untuk membunuh siapapun yang menentangnya bahkan termasuk anak buahnya sendiri.
Selain itu Azrael adalah orang yang temperamental, gampang marahan dan selalu bertindak berdasarkan emosinya, tidak berfikir dulu sebelum bertindak. Dari sebab itu aku benar-benar tidak menyukainya.
P.O.V Yudha.
"Lalu kenapa kau memasukkan aku dalam masalah mu? Dengan kau berkata padanya kalau aku calon suami mu!" tanya ku pada Sanaya.
"Soal itu sebenarnya hanya siasat ku saja Yudha-kun! Tapi justru berakhir seperti ini, maaf jika aku membawa mu dalam masalah ini. Aku pasti akan membayar semua ini pada mu nanti." jawab Sanaya.
"Apa yang ingin kau jadikan jaminan?"
"Aku akan memberikan mu harta yang berlimpah serta perlengkapan senjata yang bagus."
"Aku tak butuh semua itu sekarang. Aku hanya ingin kembali ke dunia ku dengan tenang. Tapi karena aku sudah disini, maka tak ada pilihan lain."
****
Bersambung...
(Chapter berikutnya "Kemampuan")
Follow juga Instagram author untuk mendapatkan informasi update dan perkembangan novel ini di @sapta_yudha.author
__ADS_1