The Rising Of The Lord Hero (1)

The Rising Of The Lord Hero (1)
Chapter 11 "Munafik"


__ADS_3

The Rising Of The Lord Hero


> Chapter 47 "Munafik"


'ROAAAARRRR'


"Wah, ternyata mereka sekumpulan Monster Singa gurun ya! Oho ho ho ho!"


"Kenapa kau malah tertawa?"


"Oho ho ho ho, Zef-kun, mereka ini hanyalah cecunguk saja. Kau lindungi adik mu, biar aku yang menangani mereka."


"Ba-baiklah!" balas ku.


"Dragon Aura"


'BLASSHH'


Edna-san meneriakkan nama jurusnya, seketika pula munculah aura emas disekitar tubuhnya. Aura itu terasa sangat dahsyat, membuat ku dan Faisya merasakan sebuah perasaan terintimidasi. Sedangkan para kawanan Singa Gurun itu langsung berlarian setelah merasakan Aura tersebut.


"Oho ho ho ho! Katakan pada pemimpin kalian jangan pernah berani mengusik kami lagi." kata Edna-san dengan bangga.


Setelah dia berucap, aura yang tadinya membuat kami merasa terintimidasi pun menghilang. Sebenarnya aura apa itu barusan?


"Kenapa mereka malah ketakutan? Apa karena aura mu tadi?" tanya ku.


"Ya Zef-kun, aku mengeluarkan aura naga milik ku, sehingga mereka takut."


Sudah kuduga sebelumnya, aura itu juga yang membuat Singa-singa itu takut. Aku tidak menyangka bahwa naga akan memiliki aura seperti itu. Pantas saja banyak orang tak kan berani macam-macam dengan para Naga.


"Edna-san, kau hebat! Kau bahkan tidak menyakiti mereka." kata Faisya.


"Tentu Faisya-chan, lebih baik menggunakan cara sederhana untuk mengusir mereka daripada harus membunuhnya."


"Tapi kenapa kau membiarkan mereka hidup? Bukankah mereka bisa sewaktu-waktu datang kemari dengan jumlah kawanan yang lebih banyak?" tanya ku.


"Oh, aku tak mau mengotori tangan ku yang lembut ini, aah malas!" balas Edna-san, lalu kembali rebahan diatas sebuah batu.


"DIAAA!" umpat ku dalam hati.


****


POV 3


"Oi, Penyihir Bukit! Katakan dimana Perisai Iblis?"


Pria yang barusan berucap adalah Azrael. Pada waktu lalu, mata-matanya berhasil mendapati Zef beserta rekannya, berada di Bukit Turas. Mendengar kabar dari mata-matanya tersebut, Azrael yang diperintahkan oleh raja, langsung menuju ke lokasi Zef berada.


Eilaria, bahkan tidak mengira kalau dirinya akan mendapat masalah seperti ini. Sebelumnya, Eilaria tahu kalau Zef dan adiknya sedang menjadi buron. Akan tetapi, Eilaria mengerti akan kondisi yang di alami Zef dan adiknya, membuat dia lebih membela mereka.


Rumah Eilaria sekarang sedang dikepung oleh satu peleton tentara kerajaan, sehingga membuatnya mungkin akan kesulitan untuk kabur.


Eilaria, di ikat pada sebuah bangku, sehingga membuat ia kesulitan bergerak. Mulutnya juga terlihat disumpal dengan kain, agar dia tidak mengucapkan mantra sihir.


"Cepat katakan Tua Bangka! Jangan sampai aku menyiksa mu lebih jauh!"


Tak salah jika Azrael menyebutnya tua bangka. Karena Eilaria sebenarnya berumur dua ratus tahun, namun masih terlihat awet muda karena tidak menua. Salah seorang prajurit melihat tingkah Azrael dengan heran, ia lantas berkata...


"Izin, Komandan. Bagaimana penyihir ini berucap kalau mulutnya disumpal oleh kain?" kata prajurit itu dengan berani.


"Diam kau! Apa Mau aku penggal?!" sembari Azrael menodongkan pedang besarnya kepada prajurit itu.


"Ti-tidaaak!"


"Dasar Bodoh!"


Azrael lantas mengambil kain tersebut dari mulut Eilaria. Melihat kesempatan tersebut, Eilaria langsung mengucapkan nama jurusnya.


"Sudah kubilang! Dia sudah pergi! 'Confundus'"


Sebuah lingkaran sihir terbentuk disekitar bangku yang didudukinya, membuat Azrael terlonjak kaget dibuatnya. Secara mengejutkan sihir Eilaria di gagal oleh karena sesuatu.


"Apa!?" kata Eilaria sambil mengerutkan dahinya.

__ADS_1


"Ha ha ha ha ha! Apa aku bodoh? Anak buah ku sudah membentengi tempat ini dengan Anti Magic Area. Kau tak kan bisa mengeluarkan ilmu sihir mu." kata Azrael dengan sombong.


"Jangan sombong dulu! Jurus anak-anak ini takkan mempan untuk ku. 'Egorea Magicae'."


Sekelipat cahaya muncul menyelimuti tubuh Eilaria. Seketika sebuah gelembung cahaya sihir mengelilingi tubuhnya.


Gelembung sihir itu berfungsi untuk menetralisir Anti Magic Area, sehingga Eilaria masih dapat menggunakan kembali teknik sihirnya, meskipun dalam area terbatas.


"Kurang ajar-"


"Lanuae!"


Sebelum Azrael bertindak lebih jauh, Eilaria berhasil kabur dengan berteleportasi.


"Sial, dia berhasil kabur... Cih, ini semua salah mu! Kemari kau!!"


"Ampuni hamba, Komandan!"


"Hueemhh"


'CKLAK'


"Arghh!"


Darah segar mengucur bak air mancur dari leher Prajurit malang itu. Tanpa pandang bulu, Azrael justru memenggal kepala bawahannya sendiri. Pemandangan tersebut, membuat para Prajurit lainnya semakin ketakutan terhadap dirinya.


Di lain sisi, Eilaria berhasil berteleportasi kedalam sebuah gua batu yang dimana menjadi tempat persembunyian kedua miliknya. Gua itu terletak sangat jauh dari wilayah kerajaan Elceria, yakni bertepatan di hutan Fluoran Florest.


Gua batu tersebut memang sudah lama disiapkannya, bilamana hal buruk akan menimpa dirinya pada suatu hari nanti.


Sementara itu, napas Eilaria menjadi tak beraturan, dia juga merasa kelelahan serta mengucurkan keringat dingin. Begitulah efek samping penggunaan sihir teleportasi, orang yang menggunakan teknik sihir terlarang itu akan dibuat kehabisan energi.


"Ah...ah..ah... Ya ampun! Seluruh energi ku sudah habis. Aku... haah... jurus ini terlalu beresiko! Tapi syukurlah, aku bisa kabur dari sana! Zef-kun, Faisya-chan, aku harap kalian baik-baik saja."


Tak banyak orang yang mampu menggunakan Ilmu sihir tersebut. Karena syarat menggunakan sihir teleportasi, haruslah menggunakan Ayna dalam jumlah yang tidak sedikit.


Banyak orang yang gagal dalam menggunakan sihir ini dan selalu berujung pada kematian. Beruntunglah, Eilaria yang memiliki jumlah pasokan Ayna yang besar dalam tubuhnya.


****


"Syukurlah, kemarin kita menemukan Oasis. Kalau tidak, mungkin kita akan kebingungan untuk beristirahat." kata ku.


"Iya kak Syukurlah!"


"AAHH! TETAP SAJA TEMPAT INI PANAS. YA AMPUN, KULI INDAH KU BISA MELEPUH KALAU BEGINI TERUS." kata Edna-san yang tengah terbang dengan kecepatan sedang.


"Melepuh kata mu!? Kulit mu sekeras batu kau bilang bisa melepuh? Sedangkan kau berwujud naga, bagaimana bisa melepuh?"


"JAHAT SEKALI KAU ZEF-KUN! KAU MENGATAI KULIT INDAH KU LAYAKNYA BATU. APA KAU KIRA AKU INI BENDA?"


"Iya, kakak. Kau jahat sekali! Bagi wanita kulit itu diibaratkan sebuah permata. Jadi jangan samakan dengan batu yang tidak ada nilainya."


"Iya maaf!"


****


Siang itu, kami mendapati sebuah tempat untuk berlindung dari teriknya sinar matahari, yakni sebuah bukit batu yang terdapat gua kecil didalamnya. Kami pun berteduh disana untuk beristirahat.


"Ah ya ampun! Benar-benar gurun yang sulit dilewati." eluh Edna-san.


"Habisnya, hanya ini rute tercepat!" kata ku.


"Kau salah Zef-kun, harusnya melewati jalur utama saja sudah lebih dari cukup. Aku dulu memang pernah ke T'hearus, tapi belum sekalipun pernah menyebrangi gurun ini untuk kesana."


"Bukankah itu akan memakan waktu yang lama?"


"Tidak juga, kita hanya perlu menghabiskan waktu sekitar delapan belas hari saja, jika kita melalui jalur utama. Aku lebih mending melewati jalur utama saja ketimbang melewati gurun tandus ini."


Ada benarnya yang dikatakan Edna-san, harusnya melintas rute utama melalui udara akan lebih mudah dan aman. Sialnya aku, kenapa hal semacam itu tak terpikirkan oleh ku. Seharusnya kemarin lewat jalur utama saja, tapi menyesalinya sekarang pun percuma.


"Iya sudahlah Edna-san, mau bagaimana lagi semua sudah terjadi. Maafkan kakak ku, dia memang kurang bisa memprediksi." bela Faisya.


"Iya tidak apa-apa, lagi pula aku belum sekalipun pernah menyebrangi gurun ini selama hidup ku. Aku memang sering keluar masuk wilayah ini tapi belum pernah untuk melintasinya. Ya, ini semua bisa saja ku anggap sebagai tantangan baru untuk ku."

__ADS_1


"Aku sebelumnya minta maaf, memang seharusnya aku berfikir panjang dahulu sebelum melewati gurun ini." kata ku sambil menundukkan kepala.


"Oho ho ho ho! tidak apa Zef-kun, kau memang masih muda jadi wajar saja."


"Ngomong-ngomong, umur anda berapa Edna-san?" tanya Faisya penasaran.


"Ouh, pertanyaan bagus! Uhum, tujuh belas tahun yey!"


"Oy berhentilah bercanda!" kata ku.


"Oho ho ho ho! Baiklah, yang jelas aku lebih tua dari buyut-buyut kalian. Aku sudah hidup sekitar lima abad lamanya dan juga sudah sering melihat berbagai macam karakter orang-orang di dunia ini."


"Lalu bagaimana tanggapan pribadi mu terhadap manusia, jika kau hidup selama itu?" tanya ku.


"Sebenarnya aku tidak mempermasalahkan tentang keberadaan kalian, memang sifat orang-orang itu beragam. Ada yang baik dan ada pula yang jahat. Semua itu tergantung kepada masing-masing individunya."


Edna-san, seketika mengubah ekspresinya.


"Beberapa hal yang ku benci dari Manusia adalah kalian itu adalah makhluk yang munafik, serakah dan bodoh. Kalian selalu menginginkan sesuatu yang lebih dan tak kan merasa puas. Manusia memang lihai dalam mengopinikan kebenaran, padahal itu semua hanyalah tameng-tameng yang menutupi kerakusan dan kerusakan yang telah kalian lakukan. Oleh sebab itu, banyak di antara kami sangat tidak menyukai keberadaan Manusia."


Mendengarkan hal itu dari Edna-san, membuat ku dan Faisya termenung. Memang sejatinya manusia diciptakan dengan hawa nafsu dan akal pikiran, jadi hal itu juga yang membuat manusia menjadi orang munafik.


Aku jadi teringat dengan kata-kata dari mendiang Almarhum Kakek ku. Beliau berkata


Ketika akal manusia tak mampu mengendalikan nafsunya, maka nafsunya lah yang akan mengendalikan akalnya.


Ketika nafsu sudah mengendalikan akal, maka manusia hanya akan bertindak atas nafsunya. Manusia harus belajar untuk menahan diri dari hawa nafsu, agar tidak berbuat maksiat sehingga menimbulkan kerusakan.


"Ara~ Kau tak perlu khawatir kalau aku akan membencimu karena kau manusia Zef-kun. Walaupun kau juga cuek pada ku, aku akan tetap terbuka untuk mu. Uhu hu hu hu."


Edna-san, memang terkadang selalu suka bercanda, tapi ada kalanya dia bisa serius. Aku memang agak risih dengan kelakuan konyolnya. Tetapi, ketika dia benar-benar masuk dalam mode serius, aku merasa tidak bisa bicara apa-apa dan bahkan takjub padanya.


"Lalu bagaimana dengan ku Edna-san? Apa kau membenciku hanya karena aku Manusia?" tanya Faisya.


"Ouh, tentu tidak Faisya-chan! Kau kan adik dari Si Tampan ini bagaimana aku bisa membenci mu sayang?"


"Ah sudahlah! Ayo kita lanjutkan perjalanan. Cepat kita harus menemukan tempat ideal untuk malam ini. Disini masih terasa panas!"


"Ara~Ara! Sepertinya ada yang kepanasan disini. Oke Zef-kun, 'Henshin'."


Edna-san, kemudian berubah kembali ke wujud naga nya. Kami pun segera meninggalkan tempat itu.


****


"ZEF-KUN, APA KAU MELIHAT SESUATU?"


"Lihat apa?" tanya ku.


"Sepertinya terlihat ada banyak bangunan disana!" kata Faisya mengacungkan jari telunjuknya ke depan ku.


"WAH, KAU HEBAT FAISYA-CHAN! KAU PUNYA PENGELIHATAN YANG TAJAM! TAK SEPERTI KAKAK MU INI!"


"Apa kau bilang?"


"AHA HA HA HA! BERCANDA, BAGAIMANA ZEF-KUN? APA KAU MAU MENCOBA UNTUK KITA MAMPIR KESANA? SEPERTINYA TEMPAT ITU COCOK UNTUK KITA BERISTIRAHAT MALAM INI."


Aku lantas mengamati tempat itu dengan jelas dari atas punggung Edna-san, memang benar seperti ada sebuah reruntuhan didepan kami. Melihat tempat itu cukup luas, sepertinya tempat itu adalah kota yang hilang.


"Baiklah, ayo kita pergi ke sana!"


Bersambung...


(Chapter berikutnya "Rencana Azrael")


Note :


Mampir juga ke Audiobook terbaru Senpai Ya dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, coment dan Votenya terimakasih.


- My Free Life In Another World


- Reinkarnasi : Kembali ke tahun milenium.


Follow juga Instagram author untuk mendapatkan informasi update dan perkembangan novel ini di @sapta_yudha.author

__ADS_1


__ADS_2