
Sekarang aku sudah benar-benar siap bertarung. Saat ini aku berada di collusium bersama Sanaya. Nampak di tribun VVIP ada Raja yang menyaksikan beserta para petinggi kerajaan.
Sedangkan di tribun VIP ada beberapa petinggi militer dan beberapa orang bangsawan yang tengah duduk. Aku perhatikan mereka duduk dengan selisih jarak sekitar dua meter.
Yap, mengingat ada wabah, pertandingan digelar tanpa ada penonton dari warga sipil. Namun masih bisa disaksikan bagi orang yang memiliki artefak bola sihir yang dapat menampilkan hologram layar monitor.
"Baiklah Yudha-kun, seperti rencana kita sebelumya!"
"Ya, tentu saja!"
"Ingat jangan sampai lengah. Jika kalah maka kita akan dalam kerugian besar. Aku tidak mau menikahi Pria yang aku benci."
"Tenanglah, aku yakin pasti dapat menendang bokongnya."
"Hu hu hu iya, pokoknya jangan sampai kalah!"
Aku kemudian berjalan menuju gerbang yang dimana aku akan muncul. Posisiku berada di tribun barat dan berhadapan dengan gerbang tribun timur.
Si Brengsek rupanya sudah bersiap menunggu kedatangan ku di pinggir arena sebelah tribun timur. Di sebelah pinggir arena tribun selatan, juga terdapat seorang kesatria dengan penampilan fisik tinggi besar, terlihat berotot dan mengenakan armor besi.
Dialah yang akan menjadi pengadil lapangan. Pintu gerbang tribun barat dibuka dan aku berjalan menuju arena.
Si Berengsek melihat ku dengan tatapan sombong sambil menyeringai. Wasit, aku dan Si Brengsek berjalan menuju tengah arena. Aku kemudian berhadapan dengan Si Brengsek, jarak kami sekitar sepuluh meter.
"Akhirnya kau datang juga orang sialan! Aku kira kau akan bersembunyi dan lari dari ku, layaknya seorang pengecut." sembari menyeringai.
"Hegh!! Kau pikir siapa aku? Justru bukankah dirimu lari dari Sanaya layaknya anjing yang di usir majikannya. Kau hanya bisa menggonggong tanpa bisa berbuat apa-apa, sifat mu tidak lebih dari seekor anjing." sambil ku menyeringai dan balik me-roasting dirinya.
"Cihhh!!! Kurang ajar kau!! Kali ini kau pasti akan ku bunuh!!!"
"Membunuhku? Kau bahkan tak bisa menepuk seekor lalat. Kau ingin membunuh ku yang benar saja! ha ha ha ha!" balasku
"Akan aku sobek mulut mu yang sombong itu!"
Sembari Si Brengsek menodongkan Pedang besarnya ke arah ku.
"Hehg! Kita buktikan saja!"
"Baiklah kalian bersiaplah! Aku sebagai pengadil lapangan akan menjelaskan peraturannya."
Wasit kemudian menjelaskan peraturan dan pertarungan akan di mulai.
"Baiklah, sekarang aku akan menjelaskan peraturan pertarungan kali ini. Kalian akan bertarung sampai salah satu dari kalian pingsan atau menyerah. Jika pingsan dalam waktu sepuluh detik maka akan dianggap kalah.
Dalam pertarungan ini tidak ada peraihan poin, jadi bertarung lah secara bebas. Kalian boleh menggunakan teknik apapun yang kalian inginkan. Kalian boleh menggunakan sihir akan tetapi hanya boleh menggunakannya dalam intensitas rendah.
Pertarungan ini hanya boleh menggunakan jenis senjata yang sama yaitu pedang. Jika senjata yang petarung gunakan hancur atau patah maka petarung itu dianggap kalah.
Jika petarung kedapatan mengubah jenis senjatanya maka akan dikualifikasi dan dianggap kalah. Mengerti!!"
"Jangan terlalu banyak bicara Wasit! Aku sudah paham peraturannya." ucap Si Brengsek dengan sombongnya.
Wasit lalu menoleh ke arah ku.
"Aku mengerti." pungkas ku
Begitulah Wasit menjelaskan peraturan bertarung kali ini. Memang terdengar agak berbeda dengan pada saat ku latih tanding melawan Sanaya. Tapi apapun peraturannya yang jelas aku harus siap dengan itu.
Disisi lain Sanaya tampak memperhatikan ku di sebelah tribun VIP. Nampaknya Sanaya sengaja berada di tribun VIP, alasannya mungkin sepele yaitu hubungan dia dengan Raja sedang tidak baik, oleh sebabnya Sanaya memilih duduk di tribun VIP.
Raja yang juga melihat ku dan Si Brengsek hanya menyeringai, mungkin dia yakin akan memenangi pertaruhannya dengan Sanaya.
"Baiklah, mulailah keluarkan masing-masing pedang kalian dan bersiaplah."
'Sringg'
Aku mulai mencabut pedang yang berada di punggung ku. Tapi...
__ADS_1
"HA HA HA HA!! Kau pikir dengan pedang karatan itu bisa melawan kekuatan pedangku. Hegh! Besi rapuh itu tak akan mungkin sanggup menahan pedangku. Ha ha ha ha!" gelak tawa Si Brengsek dengan sombongnya.
Disisi lain Sanaya tampak dengan tenang mengamati ku dari kejauhan. Ia yakin kalau aku akan dapat memenangkan pertarungan ini.
Sebenarnya tanpa pedang pun aku masih bisa mengalahkan Si Brengsek. Namun kali ini berbeda dengan pertarungan ku melawan Sanaya, pertarungan ini memperbolehkan Petarungnya menggunakan sihir.
Walaupun sedikit tidak menguntungkan bagi ku tapi aku yakin bisa menyelesaikan pertarungan ini dan keluar sebagai pemenangnya.
"Hegh! Jangankan menggunakan pedang yang karatan ini. Aku bahkan bisa mengalahkan mu dengan sebuah ranting!" Aku menyeringai.
Sanaya mengerutkan dahinya.
"Pedang karatan dia bilang!?" gerutu Sanaya di tribun.
"Tch, Omong besar kau yah!!" Brengsek mengerutkan dahinya.
"Sudah cukup kalian... Baiklah aku mulai saja, ayo bersiap!!!" Wasit mulai memberikan aba-aba.
Aku pun bersiap dengan kuda-kuda silat, lalu mengangkat pedangku dengan tangan kanan seperti mengangkat sebuah Golok.
Si Brengsek yang melihat kuda-kuda ku yang terlihat tidak biasa baginya merasa bingung memperhatikannya. Wasit juga mungkin bergumam dihatinya.
"Orang ini! Aku belum pernah melihat kuda-kuda seperti itu." batin Wasit.
Bukan hanya Wasit yang heran, tapi para penonton yang hadir juga bingung melihatnya.
Wasit memberikan aba-aba dengan mengangkat tangannya, kemudian secara cepat menurunkan tangannya dan berteriak.
"MULAI!!!"
Si Brengsek kemudian melesat ke arah ku dengan pedang besarnya dan mulai menyerang ku. Aku berhasil menghindari tebasanya dengan sedikit kayang sehingga jarak pedang dan wajah ku hanya tinggal sekitar tiga sentimeter.
Secara cepat aku salto ke belakang sehingga aku jongkok dengan tumpuan kaki kanan ku. Tanpa ada jeda, Brengsek terus mengirim tebasannya dan aku berhasil menghindar dari setiap serangannya.
Aku tidak menangkisnya karena gerakan Brengsek tidak terlalu cepat, sehingga mudah ku baca dan menghindarinya. Melihat gerakan licahku Wasit dan penonton hanya terpana.
"Dia seperti menari dilapangan!"
"Gerakan apa itu?"
"Komandan Azrael, sepertinya kesulitan!"
Berbeda halnya dengan Brengsek yang sepertinya mulai kesal, karena tidak ada satupun serangan yang dapat mengenaiku.
"Kenapa kau hanya menghindar haaaa?!"
"Kenapa? Bukankah pertarungan ini boleh mengandalkan beragam teknik."
"Tch, memuakkan... 'GroundSplitter'"
Brengsek kemudian rolling ke arahku dan menghujamkan pedangnya.
'Blarrrrr'
Aku berhasil menghindar dari serangannya yang menghujam tanah. Serangan itu hanya berhasil menciptakan retakan di tanah. Tidak akan terbayangkan olehku jika terkena serangan langsung seperti itu.
"Lagi-lagi, dasar pengecut." gerutu Si Brengsek.
"Harusnya kau fokus...."
Aku lalu melesat ke arahnya dengan pedang di tangan ku. Si brengsek yang sama sekali tidak siap, namun berhasil menahan pedangku. Dia kemudian membalas serangan.
Aku berhasil berulang kali menahan tebasan demi tebasan, sehingga menciptakan percikan api di setiap gesekan pedang dengan Si Brengsek.
Aku dan Brengsek saling tahan menahan serangan membuat pedang kami saling bergesekan. Brengsek merasa frustasi karena setiap serangannya berhasil ku hindari dan aku tangkis.
Melihat pedang ku masih sanggup menahan semua serangannya, Brengsek mengerutkan dahinya.
__ADS_1
"Bagaimana pedang mu bisa sekuat itu!" Si brengsek keheranan.
"Hegh, baru tahu yah!" sambil ku tersenyum dingin.
Melihat ada kesempatan dan celah yang terbuka, aku lalu menyundul kepala Brengsek dengan kepalaku dengan sangat keras. Walaupun postur tubuh Brengsek sepuluh sentimeter lebih tinggi dari ku, aku masih bisa menggapainya.
Karena sundulan itu, Si Brengsek mundur beberapa langkah dan memegangi kepalanya yang kesakitan. Nampak juga darah segar mulai mengalir di keningnya.
Brengsek kemudian menyentuh cairan merah di keningnya, ia lalu menoleh kearah ku dan memperhatikan keningku yang sama sekali tidak tergores. Melihat aku baik-baik saja Si Brengsek mengerutkan dahinya.
"Apa ini bagaimana bisa?!" Si Brengsek menggeram.
"Apaa?! Kepalanya sekeras batu!" teriak salah satu penonton.
Seketika pertarungan kami terjeda beberapa saat, aku menatap Brengsek dengan dingin sebelum akhirnya Brengsek memulai jurus baru.
"Tidak akan ku biarkan, 'Fury!!!!!'"
'Blasss'
Secara mengejutkan aura keemasan muncul di sekitar tubuh Si Brengsek berkobar dengan hebat. Sehingga tekanan aura tersebut membuat tanah tempat ia berpijak menjadi retak.
Aku merasa tekanan kekuatannya menjadi beberapakali lipat dari sebelumnya. Wasit yang melihat itu mengerutkan dahinya dan tidak tinggal diam karena dianggapnya menggunakan energi sihir dengan intensitas tinggi.
"Azrael ini pertarungan satu lawan satu bukan di medan perang, simpan kekuatan itu!" wasit memperingatkan.
"Diam!!" Brengsek tidak menggubris.
Aku melihatnya dengan sedikit tidak percaya. Bagaimana dia bisa mengeluarkan kekuatan seperti itu, sedangkan Sanaya mengatakan kemampuan Brengsek jauh di bawah dirinya.
"Orang ini memang berniat membunuh ku!" gumamku.
"Aku peringatkan kau, jangan gegabah!" Wasit kembali memperingati.
"Wasit biar kan dia!!" Raja angkat bicara.
Wasit yang mendengar itu menelan ludahnya dan hanya bisa terdiam tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya. Aku cukup jengkel melihat tindakan semena-mena itu.
Seakan pertarungan jadi berat sebelah. Membuat pertarungan ini menjadi pertarungan hidup dan mati, maka tak ada pilihan bagi ku untuk menghadapinya.
Sanaya yang melihat tindakan itu hanya menggelengkan kepala dan mengerutkan dahinya. Apalah daya dirinya takkan bisa protes. Jika kemungkinan pertarungan diluar kendali, maka ia akan turun tangan, itu yang dipikirkannya.
"Tidak apa! Kekuatan itu masih belum bisa menandingi Yudha. Aku yakin Yudha-kun bisa bertahan dan dia pasti punya kejutan lainnya." ucap Sanaya dalam hatinya.
Brengsek lalu mengalirkan Ayna-nya ke pedang yang ia gunakan, sehingga muncul aura emas yang cukup bersinar. Melihat tindakan itu juga membuat ku memilih mengalirkan tenaga dalam ku ke pedang agar bisa mengimbanginya.
Secara tak terduga pedang yang aku gunakan mengeluarkan aura biru yang terasa kuat sehingga membuatku sendiri bingung melihatnya. Aku merasakan sensasi memegang pedang dengan ringan bahkan tak ada beban seperti sebelumnya.
"Apa semua pedang sihir seperti ini ya?" gumamku.
Sanaya yang melihat kejadian itu mengangkat alisnya dan terkejut sekaligus takjub. Dirinya tidak menyangka kalau aku akan dapat mengeluarkan aura pedang juga sepertinya.
"Sudah kuduga! Yudha-kun punya kejutan lain!"
Si Brengsek yang tak peduli dengan itu kemudian melesat ke arah ku dan untungnya aku berhasil menangkis serangannya.
Pertarungan semakin sengit, tak hanya memperkuat serangannya saja, tapi aura itu juga menambah kecepatan Brengsek menjadi sepuluh kali lebih cepat.
Aku sedikit dirugikan disini, aura pedang yang aku pancarkan ternyata hanya memperkuat serangan saja tidak dengan kecepatan. Walaupun aku lebih leluasa menggunakannya dari sebelumnya.
Dengan serangan beruntun dan cepat Brengsek berhasil membuat ku ke posisi bertahan. Brengsek berhasil melukai ku dan berhasil membuat jubah yang diberikan oleh Juragan Leonard menjadi sobek.
Seragam dan Vest dari duniaku yang aku pakai juga menjadi sobek dan rusak tak sanggup menahan tebasan serangan itu.
Aku lalu melihat bar status HP milikku yang kini berkurang 33% menjadi 67%. Selain itu aku juga dapat poin pengalaman sebanyak 15+.
Bersambung...
__ADS_1
(Chapter berikutnya "Pembuktian")
Follow juga Instagram author untuk mendapatkan informasi update dan perkembangan novel ini di @sapta_yudha.author